Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doain yang baik-baik!
...#••...
Pandangan Jay langsung menyapu sekeliling begitu ia membuka pintu gereja.
Yahh, kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dalam, termasuk perempuan yang ia cari. Jay pun langsung kembali menutup pintu itu.
“Kenapa nggak jadi masuk, Dek?” tanya petugas yang berjaga di dekat pintu.
Jay hanya menyengir lebar sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Perempuan itu kayaknya emang belum datang,” lanjut petugas itu. “Soalnya saya belum liat.
Mendengar itu, mata Jay langsung membelalak kaget. Apakah bapak petugas itu benar-benar menyadari keberadaannya selama ia datang ke gereja?
Damn! Gue malu banget!
“Oh,” Jay mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam gereja.
“Sial!” Jay terus saja merutuk dirinya.
Ia pun duduk di kursi biasa saat Minggu lalu. Selama beberapa menit lamanya, Jay hanya menatap altar tanpa melakukan apapun. Hingga suara deret pintu di belakangnya terdengar, membuatnya langsung menoleh ke belakang.
Seorang perempuan masuk dengan pakaian serba putih, dari atas sampai bawah. Namun, yang paling mencolok justru rambutnya.
Warna biru? Campuran putih dan abu-abu? Entahlah. Jay sendiri tidak yakin warna apa itu. Mungkin biru yang sudah memudar? Apa pun warnanya, rambut itu terlihat begitu cocok di kulitnya yang putih bersih.
Jay dan perempuan itu sempat bersitatap sekilas. Sebelum akhirnya perempuan itu duduk di deretan kursi yang biasa ia tempati.
Jay terus memperhatikannya, berusaha mengingat-ingat apakah perempuan itu memang orang yang sama? Tapi hatinya mengatakan iya, mungkin perempuan itu memang mengecat rambutnya.
Jay benar-benar merasa geram karena tidak bisa mengingat wajah perempuan itu dengan jelas.
“Kali ini, gue harus ngajak dia kenalan!” tekadnya dalam hati.
Masa bodoh kalau ternyata dia bukan perempuan yang sama. Setidaknya, Jay sudah berusaha mencoba.
...•••...
“Lo dengerin gue nggak sih?” gerutu Jay begitu melihat Sian yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
“Iya, gue dengerin.”
“Dengerin apanya?!” Sentak Jay. “Dari tadi sibuk liatin hp!” wajah Jay benar-benar sudah menunjukkan rasa kesalnya.
Bagaimanapun juga, Jay memang tidak suka kalau sedang diajak bicara, tetapi lawan bicaranya malah sibuk dengan ponsel. Ia benar-benar merasa tidak dihargai!
Sian menghela napas, lalu meletakkan ponselnya di atas meja sebelum menatap sahabatnya itu.
“Gue boleh jujur nggak?” tanya Sian akhirnya.
Melihat Jay yang mengangkat sebelah alisnya, Sian kembali menghela napas sebelum kembali berbicara.
“Menurut gue, ya. Lo udah di tahap obses.“ Sian berhenti sejenak, seakan membiarkan Jay menyela atau apalah, tapi ternyata Jay hanya diam menatapnya tanpa sepatah kata. “Gue cuma takut, kalau ekspektasi lo selama ini hancur sama realita. Sekaya apa pun lo, nggak ada yang tahu sama takdir kedepannya, ya kecuali lo Tuhan.”
“Sorry aja kalau omongan gue nyelekit,” lanjut Sian. “Gue ngomong gini sebagai sahabat lo sendiri. Nyadarin sama realita yang kadang nggak sesuai yang kita bayangin. Mungkin buat lo nggak ada yang nggak bisa lo miliki, tapi perasaan itu beda, Jay.”
“Gue cuma nggak mau lo makin jatuh terlalu dalem,” Sian mengalihkan pandangannya ke sekeliling kafe yang masih ramai meskipun jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Ia mengabaikan tatapan Jay yang begitu lekat pada dirinya.
Jujur saja, kalau sudah ditatap seperti itu dengan mata elang Jay, membuat Sian agak ngeri.
“Kesambet setan lo!” semprot Sian kesal begitu menyadari Jay masih saja menatapnya.
Jay menyibak rambutnya kebelakang. “Iye. Gue dengerin. Makasih buat nasihatnya, sahabatku tercinta,” katanya dengan senyum jahil.
“Tenang, aja. Gue masih waras,” lanjut Jay santai, lalu menyeruput kopinya yang sudah mendingin. “Kalau lo ngeliat gue udah nggak waras…” ia sengaja menggantungkan ucapannya.
Tangannya bergerak cepat membereskan barang-barangnya untuk dimasukkan kedalam tas.
Seakan paham dengan tindakan Jay, Sian pun memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Jay berdiri, lalu mendekati Sian yang juga sudah berdiri. Ia merangkul pundak sahabatnya itu dan berjalan bersama menuju parkiran.
“Bunuh gue aja,” bisik Jay di telinga Sian.
“Gila lo!” Sian langsung mendorong tubuh Jay menjauh.
“Ya makannya, doain yang baik-baik kek. Jangan malah ngasih skenario buruk,” Jay kembali merangkul Sian, kali ini sedikit lebih erat.
Jay merapatkan tubuh Sian kepadanya hingga kepala Sian seakan bersandar di pundaknya. “Ya, nggak?”
“Iya bangsat! Lepasin gue!” Sian berusaha memberontak. “Gara-gara lo nih, dikira kita pasangan homo, anjing!”
“Peduli amat kata orang.”
Cup.
Jay mencium pipi Sian sekilas.
“Bangsat! Gila, lo, ya?!"
Sian langsung meninju perut Jay sebelum berlari meninggalkannya.
Melihat tingkah sahabatnya, Jay hanya terkekeh. Di tengah kehidupan dan segala kemunafikan orang-orang, Sian menjadi salah satu orang yang begitu berharga baginya. Sama berharganya dengan perempuan yang ia cintai.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
Aku kasih tanda pembeda ya, teman-teman. Buat memudahkan kalian membedakan masa lalu dan masa sekarang.
SAY HI, DONGGG