Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Evakuasi
Rasa khawatir yang menyelimuti diri seorang ayah untuk putrinya. Membuat Faza masuk terburu-buru ke rumah kepala desa.
“Alunar…!”
Suara penuh kekhawatiran Faza mengalihkan perhatian Alunar. Membuat Alunar berdiri sambil terus mengawasi Faza.
“Ayah.”
Faza berjalan cepat menghampiri Aluna yang juga menghampirinya. Merentangkan kedua tangannya untuk memeluk erat tubuh putri tercinta.
“Alunar, apakah kamu baik-baik saja, Nak?”
“Alhamdulillah, Alunar baik-baik saja, Yah.”
“Syukurlah,” jawab Faza sambil melepaskan pelukannya.
“Bagaimana keadaan kepala desa yang kamu tangani?”
“Sudah stabil dibandingkan keadaan sebelumnya. Namun, meskipun begitu beliau tetap harus mendapatkan penanganan lebih lanjut,” jelas Alunar tentang keadaan kepala desa.
Suara berat milik Faza yang mampu membuat anak buahnya tak berkutik. Justru kini terdengar bergetar menahan kekhawatiran.
"Sudah Ayah katakan sejak di Jakarta, perbatasan ini bukan tempat main-main, Sayang.”
“Maaf, membuat Ayah khawatir,” jawab Alunar sambil tersenyum. Menunjukkan dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
“Hari pertama kamu sudah terjebak di tengah kepungan sindikat bersenjata. Bagaimana jika sampai bundamu tahu? Ayah bis tidur diluar selama seminggu karena telah memberikanmu izin.”
Bukannya takut, justru Alunar tersenyum mendengar ucapan sang ayah yang tidak berdaya di hadapannya sang bunda. Meskipun jenderal bintang tiga. Namun, nyatanya kedudukan paling tertinggi di rumah tetap istri tercinta.
“Ayah tenang saja. Bunda tidak akan pernah tahu. Alunar pastikan apa yang terjadi hari ini tidak sampai ke telinga bunda. Percaya sama Alunar,” rayu Alunar dengan nada manja. Taktik lama yang selalu berhasil meluluhkan hati Faza.
“Kamu memang benar-benar sangat pandai merayu dan mengambil hati ayah,” ucap Faza menggelengkan kepala sambil menjitak pelan. Lalu mencium kepala Alunar yang tertutup hijab.
Kehangatan dan kedekatan antara Alunar dan Faza. Membuat amarah Faza kembali meluap. Lagi-lagi dendam dan tidak sukanya pada Faza naik ke permukaan.
Kedekatan dan kasih sayang antara Faza dan Alunar adalah mimpi yang selalu Sagara harapan dari sosok sang ayah saat dirinya kecil. Namun sayang mimpi itu harus kandas oleh laki-laki bernama Faza.
“Anda tampak sangat bahagia, Jenderal. Memiliki putri yang cantik dan keluarga harmonis,” batin Sagara memperhatikan kedekatan Alunar dan Faza dengan amarah yang kembali naik ke permukaan.
“Hingga membuat Anda lupa pernah menorehkan luka pada keluarga saya. Membuat ayah saya di buang di wilayah konflik hingga tewas dengan rentetan peluru kelompok bersenjata. Membuat kakak saya depresi hingga mengakhiri hidupnya,” lanjut Faza.
“Anda benar-benar luar biasa. Tapi, aku pastikan kebahagiaan Anda tidak bertahan lama. Karena Anda harus merasakan sama seperti yang aku rasakan,” batin Sagara meluapkan rasa benci yang dirinya pendam selama puluhan tahun.
“Ayah, kita harus membawa kepala desa ke fasilitas kesehatan secepatnya.”
Suara Alunar menyadarkan Sagara dari lamunannya. Karena tidak ingin pengaruh Faza terlalu mendominasi. Sagara buru-buru menghampiri Faza.
“Izin, Jenderal. Mengganggu waktu Anda.”
“Katakan!”
“Izin melanjutkan tugas kembali menyelamatkan kepala desa untuk dibawa ke poskotis, Jenderal.”
“Dengan cara apa kalian membawa kepala desa keluar dari hutan lebat ini?” tanya Faza memastikan.
“Anak buah saya yang akan membawa beliau dengan tandu menuju poskotis menembus gelapnya hutan,” jawab Sagara singkat menolak menunjukkan kelemahan atau keraguan di depan pria yang paling dia benci.
“Menembus hutan kembali?” tanya Faza memastikan. Karena keluar dari hutan tanpa perhitungan sama saja bunuh diri.
“Benar, Jenderal. Jembatan jalur utama terputus dan jalur tercepat yaitu melewati jalur tikus hutan.”
Sagara membalas tatapan Faza tanpa berkedip. Baginya hutan adalah rumah kedua. Jadi, keluar melintasi hutan Kalimantan di malam hari adalah hal yang sudah biasa ia lakukan setiap latihan intelijen tempur.
“Mungkin hutan ini rumah kedua Anda, Kapten. Tapi, Anda tidak berjalan seorang diri. Ada putriku dan juga kepala desa yang kondisinya kritis,” tolak Faza tidak setuju ide Sagara yang terdengar sangat berbahaya.
“Aku tidak akan pernah membiarkan putriku dalam bahaya, Kapten. Melewati hutan belantara tengah malam jelas bukanlah pilihan yang bijak.”
Kini suara Faza sedikit merendah dari sebelumnya. Dirinya paham posisi Sagara serba sulit dalam pengambilan keputusan.
Sedangkan di sisi lain Sagara mengepal kuat tangannya meluapkan amarah mendengar penolakan Faza. Baginya apa yang keluar dari mulut Faza sebuah kemunafikan.
“Ada Jaya pemuda Dayak asli sini yang tahu jalur tikus, Jenderal. Saya yang akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keselamatan tim,” balas Sagara tidak kalah sengit sambil menunjuk Jaya yang ada di sampingnya.
Senyum di sudut bibir Faza terangkat. Saat ini dirinya menghadapi pemuda yang memiliki pendirian sangat kuat.
“Tapi pilihan hutan belantara jalur bunuh diri, Kapten. Anda dan tim mungkin bisa sampai ke tempat ini selamat dengan bantuan pemuda Dayak asli,” ucap Faza dengan suara lebih rendah. Dirinya ingin menunggu reaksi lawan bicaranya.
“Namun, apakah Anda yakin bisa selamat saat kembali? Anda keluar bukan hanya seorang diri, Kapten. Tapi ada dua sosok yang menjadi tanggung jawab Anda.”
Faza memberikan tekanan pada Sagara. Kalimat terakhir Faza merujuk pada Alunar dan ketua adat masuk kondisi rentan.
“Jika pun ada pertolongan datang. Berada di tengah hutan lebat jelas sulit terdeteksi.”
Sagara kini yang justru terdiam. Pandangan matanya menatap Alunar dan ketua adat secara bergantian.
Puk…
Tepukan di pundak yang dilakukan Faza mengalihkan pandangan dan fokus Sagara. Kini Sagara menatap Faza dari jarak dekat.
"Musuh sudah mundur. Tapi jalur komunikasi kita masih lumpuh total akibat sisa jammer mereka. Risiko serangan balik masih tinggi. Saat ini kita buta informasi,” jelas Faza.
Hening, tidak ada perdebatan antara Faza dan Sagara. Mereka berdua sama-sama mencari jalur aman mengevakuasi kepala desa. Hingga suara berat kepala desa mengalihkan perhatian semua orang.
Jaya yang sebelumnya diam melihat perdebatan antara Sagara dan Faza. Memberanikan diri memberikan pilihan yang terbaik untuk menyelamatkan kepala desa.
“Izin Pak Jenderal, izin Pak Kapten. Saya ingin meminta maaf khususnya untuk tim Pak Kapten dan juga Bu dokter. Karena fokus menyelamatkan kepala desa kami. Membuat tim Pak Kapten dan juga Bu dokter dalam bahaya,” ucap Jaya menengahi. Suaranya terdengar bergetar namun terdengar tulus. Namun, mampu memecah keangkuhan suasana militer di ruangan itu.
“Karena berdasarkan keterangan Bu dokter, kepala desa kami sudah lebih stabil dari sebelumnya. Untuk jalur ke hilir bisa menggunakan aliran sungai. Meskipun airnya menyusut karena kemarau panjang. Tapi, masih bisa dilewati dengan menggunakan perahu ketinting,” saran Jaya.
“Apakah aman?”
“Aman, Jenderal. Meskipun nanti agak tersendat. Jalur ini lebih aman meskipun membutuhkan waktu lebih lama,” saran Jaya selaku warga Dayak asli.
Faza terdiam sejenak, menimbang saran dari Jaya dengan cermat. Sebagai seorang perwira yang kenyang dengan medan pedalaman. Jalur sungai memang menawarkan ruang pandang yang lebih terbuka jika dibandingkan dengan hutan lebat.
"Bagaimana, Dokter? Apakah kondisi pasien memungkinkan untuk evakuasi jalur air yang tersendat seperti yang dikatakan Jaya?" tanya Faza memecah keheningan dengan sikap serius dan profesional. Terdengar saat Faza menggunakan embel-embel dokter.
"Jalur sungai jauh lebih baik untuk kondisi kepala dan tulang belakang kepala desa saat ini, Ayah, Kapten," jawab Alunar tegas.
"Lagipula di atas perahu, saya masih bisa mengontrol sisa racun beliau. Jika lewat hutan, saya tidak menjamin detak jantung beliau bisa bertahan hingga fajar."
Mendengar penjelasan dari Alunar. Sagara menarik napas panjang dan melepaskan kepalan tangannya perlahan. Saat ini ego pribadinya harus ditekan sedalam mungkin. Keselamatan misi dan nyawa manusia di depannya adalah prioritas utama. Terlepas dari betapa besarnya dendam yang ia simpan terhadap Jenderal Bintang 3.
"Siap. Kalau memang seperti itu. Kita ambil jalur sungai dengan menggunakan ketinting," ucap Sagara memecah perdebatan. Lalu beralih pada Oka yang ada di ruangan tersebut.
"Oka, siapkan perlengkapan medis tambahan ke perahu.”
“Siap, Ndan.”
“Untuk Jaya, pimpin jalan ke dermaga ketinting. Kita bergerak sekarang sebelum efek penawar obatnya habis.
“Siap, Kapten.”
Sesuai perintah Sagara dengan berbagai pertimbangan. Oka bersama bawahan Sagara lainnya, bersiap mengevakuasi kepala desa menuju Poskotis melalui jalur sungai. Sangat berharap jika sinyal komunikasi kembali lancar dan bantuan helikopter penyelamat datang menjemput tepat waktu.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi