Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAMPAI DI TANJUNG PRIOK DAN KAMAR BARU DI CAKUNG
Setelah 20 jam terombang-ambing menaiki kapal laut lepas di lautan.
20 jam yang panjang, 20 jam yang penuh dengan goyangan, goyang... goyang... ombak Samudera Hindia dan Selat Sunda yang besar, yang membuat perut mual, yang membuat tikar plastik kasar di palka ekonomi bergeser-geser.
Kapal Motor Tampomas yang besar itu, yang mesin diesel raksasanya berbunyi dug... dug... dug... terus menerus di bawah kaki selama 20 jam, yang asap hitamnya mengepul dari cerobong asapnya yang tinggi, akhirnya, pada hari Rabu sore, tanggal 3 Agustus 1977, jam empat sore, sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Tuut... tuuuut... tuut... Klakson kapal dibunyikan panjang sekali, tiga kali, tanda kapal akan merapat ke dermaga. Suara klakson itu berat dan dalam, menggema di seluruh pelabuhan Tanjung Priok yang luas dan ramai dan penuh dengan asap.
Dari jendela bulat kecil di kamar palka anjungan, Andi Rajo Alam Sikumbang yang 19 tahun calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba dan Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun calon pewaris bengkel karoseri Cakung, yang semalam belajar mekanisme kerja kapal laut, piston dan baling-baling dan hukum Archimedes di atas tisu restoran kapal bersama Kapten Haji Daeng Mattoa keturunan Bugis Makassar yang menawari Arya jadi Nakhoda, melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat seumur hidupnya di Pande Sikek.
Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta tahun 1977. Besar sekali, luas sekali, ramainya 100 kali ramainya Pelabuhan Teluk Bayur Padang kemarin sore. Ratusan kapal besar bersandar, kapal barang, kapal kontainer, kapal tanker minyak, kapal pelni, semuanya hitam dan putih dan merah, cerobong asapnya mengepul. Ribuan orang di dermaga, buruh-buruh pelabuhan yang kulitnya hitam legam mengangkut karung-karung besar di atas kepala, sopir-sopir truk besar yang berteriak-teriak, calo-calo tiket yang berteriak-teriak, pedagang-pedagang asongan yang menjajakan rokok dan kacang dan air minum. Bau solar yang sangat menyengat, bau laut yang asin, bau besi karat, dan bau sampah pelabuhan, semua bercampur jadi satu. Langit Jakarta sore itu agak kelabu, bukan biru bersih seperti langit di atas Gunung Singgalang di Pande Sikek.
Kapal KM Tampomas merapat pelan ke dermaga, dengan bantuan dua kapal tunda kecil yang mendorong dari samping. Goyangannya semakin keras, guduk... guduk... lalu berhenti dengan hentakan pelan, jedug... Tali-tali besar dilemparkan dari kapal ke dermaga, diikat ke tiang besi besar.
Mereka akhirnya sampai di Jakarta.
Setelah kapal benar-benar berhenti dan tangga besi kapal diturunkan, tangga yang tinggi dan curam dan bergoyang, Uwo Ali Bin Rais Payobadar dan istrinya, Etek Upik, beserta kedua keponakan kesayangannya, Andi Rajo Alam Sikumbang dan Arya Arsyad Sikumbang, turun dari kapal.
Andi Rajo Alam Sikumbang yang baru bangun dari tidur siang di kamar palka anjungan setelah 20 jam di atas lautan, masih mengantuk, masih mengucek matanya yang sembab karena kurang tidur dan karena angin laut yang asin. Kemeja putih bersihnya yang baru dibelikan Uwo Ali di Pasar Baso kini sudah kusut, sepatu Bata hitam mengkilapnya sudah berdebu dan kena muntahan orang di palka ekonomi. Tapi amplop cokelat besar berisi surat lulus UMPTN Fakultas Hukum UI Salemba dan ijazah NEM 52 aslinya masih ia peluk erat di dadanya, tidak hilang selama 20 jam di lautan. Jam Seiko di tangannya berdetak tik... tik... tik... kencang karena jantungnya berdebar melihat Jakarta untuk pertama kalinya.
Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun juga baru bangun, ia masih mengantuk sekali. Ia masih memegang erat truk kayu surian kecil pemberian Arlan kakaknya yang kemarin ngambek main truk kayu di teras, truk kayu itu basah karena keringat tangannya selama 20 jam di kapal. Jam Seiko kebesarannya yang diikat karet gelang masih di tangannya.
Uwo Ali dan Etek Upik yang juga lelah, Etek Upik yang masih mabuk laut dan wajahnya pucat pasi karena 20 jam di atas kapal yang bergoyang, berjalan di depan, menuntun kedua keponakannya turun dari kapal yang besar itu, melewati ratusan orang yang berdesak-desakan di tangga kapal.
Setelah sampai di dermaga Tanjung Priok yang ramai dan bau solar itu, setelah melewati calo-calo dan pedagang asongan, mereka kembali ke tempat penitipan kendaraan pelabuhan di Teluk Bayur? Tidak. Mobil kijang kotak pick-up plat B hijau tua milik Uwo Ali itu tidak ditinggal di Teluk Bayur. Mobil itu ikut naik kapal KM Tampomas, diangkut di dek bawah kapal, di antara truk-truk besar dan mobil-mobil lain yang akan dikirim ke Jakarta. Itulah enaknya punya pick-up, bisa ikut kapal.
Di halaman pelabuhan Tanjung Priok yang luas dan berdebu dan penuh dengan truk-truk kontainer besar, pick-up plat B hijau tua milik Uwo Ali itu sudah diturunkan dari kapal oleh buruh pelabuhan. Bentuknya masih sama, berdebu, tapi plat B hijau tuanya mengkilap terkena matahari sore Jakarta.
Uwo Ali Bin Rais Payobadar dan istrinya beserta kedua keponakan kesayangannya kembali berkendara menggunakan mobil kijang kotak pick-up itu menuju kediamannya di Cakung, Jakarta Timur.
Perjalanan dari Tanjung Priok menuju Cakung tahun 1977 itu memakan waktu hampir dua jam, karena jalanan Jakarta tahun 1977 sudah macet, penuh dengan becak, bemo, bus kota PPD yang tua, dan truk-truk besar. Jalanannya belum ada tol, masih jalan raya biasa yang berlobang-lobang dan berdebu.
Andi Rajo Alam Sikumbang yang baru bangun dan masih mengucek matanya, duduk di kabin depan bersama Uwo Ali yang menyetir dan Etek Upik. Ia melihat Jakarta untuk pertama kalinya seumur hidupnya, kota yang hanya ia dengar dari cerita Uwo Ali di Pande Sikek di bawah petromaks. Gedung-gedung tinggi, walaupun belum setinggi sekarang, tapi sudah jauh lebih tinggi dari rumah papan beratap seng berkarat di Pande Sikek. Lampu neon warna-warni mulai menyala karena hari sudah sore. Orang-orang Jakarta ramai sekali, berpakaian bagus-bagus, tidak seperti orang Pande Sikek yang pakai sarung.
Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun, karena terlalu lelah setelah 20 jam di atas kapal laut lepas yang bergoyang, dan karena guncangan pick-up plat B hijau tua yang kembali berbunyi dong... dong... dong... di atas jalan Jakarta yang macet dan berlobang-lobang, akhirnya terlelap di bak mobil belakang, di atas tikar pandan yang masih ada di bak itu, tikar pandan buatan Siti Aminah yang halus, yang sudah menemani mereka dari Pande Sikek, di atas kapal, sampai Jakarta. Ia tertidur pulas, dengan truk kayu surian kecil di genggamannya, dengan jam Seiko kebesaran di tangannya, dengan mulut sedikit terbuka, mengorok pelan, ngorok... ngorok... seperti waktu ia bayi 3 bulan dulu.
Pick-up itu terus melaju, dong... dong... dari Tanjung Priok, lewat Jalan Enggano, lewat Jalan Yos Sudarso yang masih sepi, lewat Pulo Gadung yang masih banyak sawah, menuju Cakung.
Akhirnya, jam enam sore, matahari Jakarta sudah hampir terbenam, langit Jakarta oranye kehitaman karena polusi, pick-up plat B hijau tua itu sampai di kediaman Uwo Ali di Cakung.
Kediaman Uwo Ali di Cakung tahun 1977 itu bukan rumah mewah seperti rumah-rumah di Pondok Indah. Itu adalah rumah dan bengkel karoseri yang jadi satu, di pinggir jalan raya Cakung yang besar dan berdebu. Halaman depannya luas sekali, tidak ada taman bunga seperti rumah orang kaya, yang ada adalah bengkel karoseri.
Etek Upik yang duduk di kabin depan, yang sudah mulai baikan dari mabuk lautnya karena sudah mencium bau bengkel suaminya, meminta satpam untuk membukakan gerbang menuju rumahnya, kediamannya.
"Pak Satpam... Pak Jono... tolong bukakan gerbang... kami pulang dari Pande Sikek... kami bawa kemenakan-kemenakan dari kampung... Uda Andi calon Hukum UI dan Buyuang Arya..."
Satpam tua, Pak Jono, seorang lelaki Jawa umur 50 tahun dengan kumis tebal dan baju satpam yang sudah pudar, yang sudah 10 tahun bekerja menjaga bengkel karoseri Uwo Ali di Cakung, langsung berlari, membukakan gerbang besi besar yang tinggi dan berat dan berkarat itu.
Krieeet... Gerbang besi itu terbuka, berderak keras karena karat.
Pick-up plat B hijau tua itu masuk ke dalam halaman rumah yang penuh dengan truk besar, bus Kopaja, bus Metromini, dan truk kontainer yang mesinnya masih terbongkar dan belum rampung dikerjakan oleh anak buah Uwo Ali Bin Rais Payobadar.
Halaman itu luas sekali, seluas dua kali lapangan bola kaki di Pande Sikek, tapi penuh sesak dengan truk-truk besar yang sedang dikaroseri, yang baknya belum jadi, yang pintunya belum dipasang, yang mesinnya masih terbongkar, yang oli hitamnya menetes-netes ke tanah. Bau oli, bau solar, bau las karbit, bau cat besi, bau besi karat, semua bercampur menjadi satu, bau khas bengkel karoseri Cakung. Suara gerinda masih terdengar dari sudut bengkel, ngeng... ngeng... walaupun hari sudah sore, anak buah Uwo Ali masih bekerja lembur.
Andi Rajo Alam Sikumbang yang baru pertama kali melihat bengkel karoseri sebesar itu, yang di Pande Sikek hanya melihat gerobak kayu yang rodanya goyang, mulutnya terbuka lebar, takjub, matanya berbinar-binar. Ia yang calon mahasiswa Hukum UI, kini melihat dunia mesin yang akan menjadi dunia adiknya.
Uwo Ali memarkir mobilnya di sudut halaman, di antara dua bus Metromini yang mesinnya masih terbongkar dan belum rampung. Ia mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya yang sempit karena halaman penuh dengan truk besar.
Setelah mendapatkan tempat sempit di dekat gudang besi, Uwo Ali mematikan mesin mobilnya, dong... dong... dong... mati. Hening seketika setelah hampir 30 jam mesin pick-up itu menyala terus dari Pande Sikek sampai Teluk Bayur dan dari Tanjung Priok sampai Cakung.
Hening. Hanya suara gerinda dari anak buah yang masih lembur, ngeng... ngeng... dan suara azan maghrib dari masjid jauh di Cakung.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Sang Uwo Ali Bin Rais Payobadar menoleh ke belakang, ke bak mobil belakang, tempat tikar pandan buatan Siti Aminah masih digelar.
Di atas tikar pandan itu, di antara koper kayu cokelat dan rantang seng gulai ayam dan bekal keripik singkong balado dan botol Fanta orange kosong dan dua plastik Es Teh Melati Manis yang sudah tidak dingin, Arya Arsyad Sikumbang yang terlelap di bak mobil. Ia tertidur pulas sekali, sangat pulas, karena terlalu lelah 20 jam di atas kapal laut lepas yang terombang-ambing dan 11 jam di atas pick-up di jalan lintas Sumatera yang berlobang-lobang. Mulutnya terbuka sedikit, air liurnya menetes sedikit ke tikar pandan. Truk kayu surian kecil pemberian Arlan masih digenggam erat di tangan kanannya, tidak lepas selama 20 jam di lautan. Jam Seiko kebesaran di tangan kirinya berdetak tik... tik... pelan, seirama dengan napasnya yang naik turun.
Uwo Ali Bin Rais Payobadar melihat pemandangan itu, melihat keponakan kesayangannya yang 12 tahun yang baru lulus SMP Danem 42 di atas rata-rata, yang baru saja ia angkat sebagai anak pewaris bengkel karoseri 30 karyawan, yang baru saja ditawari jadi Nakhoda kapal laut lepas oleh Kapten Haji Daeng Mattoa keturunan Bugis Makassar di atas restoran kapal, yang tertidur pulas di bak mobil pick-up plat B hijau tuanya di halaman bengkelnya yang penuh dengan truk besar dan bus Kopaja dan Metromini yang mesinnya masih terbongkar.
Hati seorang Uwo, hati seorang ayah yang tidak punya anak laki-laki, yang rumah gadangnya di Cakung sepi karena Khairina sudah di Arab Saudi dan Annisa akan ke Solo, hati itu terenyuh, meleleh.
Uwo Ali Bin Rais Payobadar segera turun dari kabin depan, berjalan pelan ke bak belakang. Ia naik ke atas bak mobil, tidak peduli kemeja batiknya yang mahal kena oli hitam di bak mobil. Ia jongkok di samping Arya yang terlelap.
Dengan pelan, dengan hati-hati, seperti menggendong bayi 3 bulan, Uwo Ali Bin Rais Payobadar segera menggendong tubuh kecil keponakan kesayangannya, Arya Arsyad Sikumbang, dengan pelukan sayang, dengan pelukan seorang ayah kepada anak kandungnya.
Arya yang terlelap itu tidak bangun, ia hanya menggeliat pelan di gendongan Uwo Ali, ngorok... ngorok... kepalanya bersandar di bahu Uwo Ali yang bidang dan keras karena las karbit. Truk kayu surian kecilnya masih di genggaman.
Uwo Ali menggendong Arya turun dari bak mobil, berjalan melewati truk-truk besar dan bus Kopaja dan Metromini yang mesinnya masih terbongkar dan belum rampung dikerjakan anak buahnya. Anak buah bengkel yang masih lembur melihat bos mereka menggendong seorang anak kecil dengan jam Seiko kebesaran, mereka tersenyum, mereka tahu itu kemenakan bos mereka dari kampung Pande Sikek.
Mereka pun memasuki toko peralatan bengkel dan komponen mesin sebelum masuk ke rumah utama. Toko itu adalah toko kecil di depan bengkel, penuh dengan baut-baut besar, mur-mur, kunci pas, kunci ring, las karbit, gerinda, oli-oli, dan komponen mesin truk yang besar-besar. Bau oli dan bau besi sangat menyengat di toko itu. Itu adalah jalan masuk menuju rumah utama Uwo Ali di belakang bengkel.
Di dalam toko itu, di dekat pintu masuk rumah utama, sudah disambut oleh dua orang perempuan setengah baya, pembantu rumah tangga Uwo Ali Bin Rais Payobadar, yang sudah 10 tahun bekerja di rumah itu.
Mereka adalah Mak Ijah dan Mak Iyah, dua orang perempuan Jawa umur 45 tahun, Sepupu Satu Kampung Dari Daerah Pasuruan Jawa Timur, yang memakai baju daster batik dan kerudung kecil. Mereka sudah diberitahu oleh Etek Upik lewat telepon dari Kantor Pos Pasar Baso tiga hari lalu, bahwa Uwo Ali akan pulang membawa dua kemenakan dari Pande Sikek, satu calon mahasiswa Hukum UI Salemba dan satu calon pewaris bengkel.
"Alhamdulillah, Pak Ali pulang... Ibu Upik pulang..." kata Mak Ijah dan Mak Iyah bersamaan, dengan bahasa Jawa logat Cakung.
Uwo Ali yang masih menggendong Arya yang terlelap di bahunya, mengangguk pelan.
"Mak Ijah, Mak Iyah... tolong siapkan air hangat untuk Etek Upik yang masih mabuk laut... dan tolong siapkan makan malam untuk Uda Andi calon Hukum UI... dan tolong jangan berisik, Buyuang Arya tertidur pulas di pundak Uwo..."
Mak Ijah dan Mak Iyah mengangguk, mereka melihat Arya yang terlelap di gendongan Uwo Ali dengan kasih sayang, seperti melihat cucu mereka sendiri.
Ali Bin Rais Payobadar segera berjalan ke arah kamar tidur kosong yang tertata rapi di rumah utama, di belakang toko peralatan bengkel dan komponen mesin. Rumah utama Uwo Ali di Cakung itu bagus, lantainya keramik, bukan papan seperti rumah di Pande Sikek, ada lampu neon terang benderang, bukan petromaks yang harus dipompa ces... ces..., ada kipas angin besar yang berputar, bukan kipas sate dari tikar pandan.
Kamar tidur kosong yang tertata rapi itu adalah kamar yang sudah disiapkan Uwo Ali dan Etek Upik selama dua minggu terakhir, sejak musyawarah warisan bengkel di Pande Sikek, untuk merebahkan tubuh Arya Arsyad Sikumbang.
Kamar itu kecil tapi rapi sekali. Ada tempat tidur single dari kayu jati yang baru, dengan seprai baru warna biru bergambar kapal laut, ada bantal baru, ada lemari kayu jati baru yang masih bau kayu, ada meja belajar baru dari kayu jati dengan lampu belajar neon kecil, dan di atas meja belajar itu ada sebuah kotak perkakas baru, kotak perkakas berisi kunci pas, kunci ring, obeng, dan tang, untuk Buyuang Arya belajar bongkar pasang mesin truk di bengkel.
Itu adalah kamar tidur baru milik Arya Arsyad Sikumbang, calon pewaris bengkel karoseri Cakung 30 karyawan.
Uwo Ali masuk ke kamar itu dengan menggendong Arya yang masih terlelap, ia merebahkan tubuh kecil Arya yang 12 tahun itu dengan pelan, dengan hati-hati, di atas tempat tidur single kayu jati baru dengan seprai biru bergambar kapal laut itu. Ia meletakkan Arya dengan pelan, seperti meletakkan harta karun yang paling berharga.
Arya yang terlelap itu masih tidak bangun, ia hanya menggeliat pelan, truk kayu surian kecil pemberian Arlan masih digenggam erat di tangan kanannya, tidak lepas, bahkan dalam tidur pulas di kamar baru di Cakung.
Uwo Ali menyelimuti tubuh kecil Arya dengan selimut biru baru, selimut yang masih bau toko.
Disusul Etek Upik yang sudah agak baikan dari mabuk lautnya setelah minum air hangat pemberian Mak Ijah, masuk ke kamar tidur baru milik Arya itu. Etek Upik yang sudah 45 tahun, yang tidak punya anak laki-laki, yang anak perempuannya Khairina sudah di Arab Saudi dan Annisa akan ke Solo, melihat Arya yang terlelap di atas tempat tidur baru itu, hati seorang Etek, hati seorang ibu, meleleh.
Etek Upik duduk di tepi tempat tidur kayu jati baru itu, ia mengusap rambut Arya yang berdebu karena 30 jam perjalanan dari Pande Sikek, rambut yang masih bau angin laut Teluk Bayur dan Selat Sunda, rambut yang masih ada pasir lautnya sedikit.
Etek Upik lalu mencium pipi dan kening Arya Arsyad Sikumbang kecil yang terlelap itu dengan kasih sayang, dengan sayang seorang ibu kepada anak kandungnya, ciuman yang lama dan dalam.
"Selamat datang di Cakung, Buyuang Arya... selamat datang di rumah baru ang, Nak... di kamar baru ang... di bengkel Uwo Ali dan Etek Upik..."
Arya yang terlelap itu tersenyum dalam tidurnya, senyum polos anak 12 tahun yang mimpi indah, mungkin ia mimpi tentang mesin diesel kapal yang pistonnya naik turun, atau mimpi tentang bengkel karoseri Cakung yang penuh dengan truk besar, atau mimpi tentang tikar pandan dan petromaks di Pande Sikek.
Lalu pasangan suami istri ini, Uwo Ali Bin Rais Payobadar dan Etek Upik, pengusaha bengkel karoseri 30 karyawan di Cakung yang tidak punya anak laki-laki, yang rumah gadangnya sepi, menutup pintu kamar tidur baru milik Arya Arsyad Sikumbang itu dengan pelan, dengan hati-hati, biar tidak berisik, biar Arya tidak terbangun.
Kletek... Pintu kamar kayu jati baru itu tertutup pelan.
Di luar kamar, di halaman bengkel yang penuh dengan truk besar, bus Kopaja, Metromini yang mesinnya masih terbongkar dan belum rampung dikerjakan anak buah Uwo Ali, suara gerinda masih terdengar, ngeng... ngeng... anak buah masih lembur. Lampu neon bengkel terang benderang, jauh lebih terang dari dua lampu petromaks di rumah papan Pande Sikek yang harus dipompa setiap jam.
Di dalam kamar baru yang tertata rapi itu, di atas tempat tidur kayu jati baru dengan seprai biru bergambar kapal laut, Arya Arsyad Sikumbang, 12 tahun, Danem 42 di atas rata-rata, calon pewaris bengkel karoseri Cakung, calon Nakhoda yang menjawab "Mungkin, Om..." kepada Kapten Haji Daeng Mattoa keturunan Bugis Makassar di atas restoran kapal laut lepas, terlelap pulas dengan truk kayu surian kecil pemberian Arlan kakaknya yang kemarin ngambek main truk kayu di teras, masih digenggam erat di tangannya, dengan jam Seiko kebesaran di tangannya yang masih berdetak tik... tik... tik... seirama dengan mesin diesel kapal KM Tampomas yang masih terngiang di telinganya, dug... dug... dug...
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam 12 tahun hidupnya, Arya Arsyad Sikumbang tidur bukan di atas tikar pandan buatan ibunya, Siti Aminah Sikumbang, di bawah petromaks yang harus dipompa ces... ces..., tapi tidur di atas tempat tidur kayu jati baru, di bawah kipas angin yang berputar, di bawah lampu neon yang terang benderang, di dalam kamar baru miliknya di Cakung, Jakarta Timur, di rumah Uwo Ali dan Etek Upik, Uwo dan Etek yang menyayanginya seperti anak kandung sendiri.
Di kamar sebelah, Andi Rajo Alam Sikumbang, 19 tahun, calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba, yang baru bangun dan masih mengucek matanya, juga sudah berbaring di kamar barunya yang juga tertata rapi, dengan amplop cokelat surat lulus Fakultas Hukum UI Salemba masih dipeluk di dadanya, bersiap untuk daftar ulang tanggal 15 Agustus di Salemba, 12 hari lagi.
Perjalanan 30 jam dari halaman becek Pande Sikek, lewat jalan lintas Sumatera yang berlobang-lobang, lewat warung Padang pinggir jalan dengan Gulai Kepala Ikan Kakap Merah dan Es Teh Melati Manis, lewat antrian padat tiket kapal laut di Teluk Bayur, lewat 20 jam terombang-ambing di atas kapal laut