NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN MANIS

Pintu kamar mandi tertutup.

Bandung mengambil sikat gigi dan pasta gigi dari rak kecil di dekat wastafel. Setelah mengoleskan pasta gigi secukupnya, ia mulai menyikat giginya sambil menatap bayangan sendiri di cermin.

Rambutnya masih berantakan. Wajahnya tampak kusut, sisa-sisa kantuk masih melekat di matanya.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya berhenti menyikat gigi.

Bayangannya di cermin seperti sedang tersenyum.

Bandung mengernyitkan dahi.

Ia memiringkan kepala, mencoba memastikan apakah dirinya memang tersenyum atau hanya perasaannya saja.

Lalu, di dalam cermin, muncul sosok seorang perempuan yang berdiri di sampingnya.

Luna.

Perempuan itu tersenyum lembut. Di tangannya terdapat selembar tisu. Dengan gerakan yang begitu alami, Luna mengangkat tangannya dan membersihkan ujung bibir Bandung yang dipenuhi busa pasta gigi.

Bandung tersentak.

Matanya membelalak. Ia mengecap-ngecapkan mata, mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Namun, ketika ia kembali menatap cermin, Luna sudah menghilang.

Yang tersisa hanya wajahnya sendiri.

“Wah, gila! Sepertinya gue benar-benar kerasukan.”

Bandung meletakkan sikat giginya, lalu berjalan menuju bak mandi.

Tanpa berpikir panjang, ia membenamkan kepala ke dalam air dan menahannya selama beberapa saat.

Ketika akhirnya mengangkat kepala, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Udah. Sekarang pasti normal.”

Ia kembali menatap permukaan air.

Dan di sana, bayangan wajah Luna justru muncul lagi, tersenyum kepadanya.

Bandung buru-buru mengangkat kepala.

“GILA! GUE UDAH GILA!”

Ia meraih handuk, mengeringkan tubuh, lalu buru-buru mengenakan pakaiannya. Setelah memastikan tak ada lagi bayangan aneh di kamar mandi, ia keluar menuju galeri.

Namun, persoalan itu ternyata belum selesai.

Begitu tiba di ruang lukis, Bandung langsung mengambil gambar referensi yang digunakannya semalam.

Ia memperhatikan gambar tersebut dengan saksama.

“Ini kan gambar Miss Arnelia.”

Ia mendekatkannya ke wajah, kemudian menjauhkannya lagi.

“Perasaan nggak ada mirip-miripnya sama Luna.”

Bandung menatap gambar itu beberapa saat, seolah berharap ada jawaban yang tiba-tiba muncul dari sana.

“Jangan-jangan gue benar-benar kerasukan?”

Ia menggelengkan kepala, lalu meletakkan gambar referensi tersebut.

Tatapannya beralih ke sebuah lukisan yang berdiri di dekat dinding.

Lukisan wajah Luna.

Bandung mendekat dengan langkah hati-hati. Ia menatap wajah perempuan di atas kanvas itu, memperhatikan senyum tipis yang terlukis di bibirnya.

Semakin lama ia memandang, semakin terasa seolah-olah perempuan dalam lukisan itu sedang tersenyum kepadanya.

Bandung mundur selangkah.

“Nah, lo! Dia malah senyum ke gue.”

Ia menunjuk lukisan itu dengan telunjuk.

“Awas, ya! Gue buang lo!”

Benar saja, Bandung langsung mengangkat lukisan tersebut dan membawanya ke belakang galeri. Ia meletakkannya di dalam kotak sampah, lalu berjalan pergi dengan wajah penuh kemenangan.

Baru beberapa langkah, ia berhenti.

Rasanya seperti mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Bandung...”

Ia menoleh.

Tak ada siapa-siapa.

Bandung mengerutkan dahi, lalu mencoba melanjutkan langkahnya.

“Bandung!”

Kali ini suara itu terdengar lebih jelas.

Bandung langsung berbalik.

Ternyata Jessica sedang berdiri di dekat kotak sampah sambil memegang lukisan yang baru saja ia buang.

Perempuan itu menatapnya dengan wajah tak percaya.

“Dasar lo, duda kolot!”

Jessica mengangkat lukisan tersebut.

“Lukisan bagus-bagus kayak gini malah lo buang. Lo nggak tahu, kalau dijual bisa laku berapa?”

Bandung segera menghampirinya.

Ia memandangi lukisan itu sekali lagi, lalu mengangguk pelan.

“Bener juga. Ini kan mahakarya gue. Kenapa gue buang?”

Jessica menatapnya lama.

Kemudian ia mendekat dan mengetuk kepala Bandung dengan buku-buku jarinya.

“Makanya, gue bilang, kalau emang suka ya buruan bilang.”

Bandung mengusap kepalanya.

“Apaan, sih?”

“Kalau nggak, nanti semua lukisan lo jadi wajah Luna. Gimana coba?”

Bandung langsung terdiam.

Ia memandang lukisan di tangan Jessica, kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

“Sebentar, Jessica. Coba deh lo bantu gue berpikir.”

Jessica mengangkat alis.

“Menurut lo, apa gue emang benar-benar suka sama Luna, atau otak gue yang lagi terganggu?”

Jessica memandangnya beberapa detik sebelum menghela napas panjang.

“Ngapain lu tanya gue? Semua anak basecamp juga udah tahu, kali. Cuma masalahnya, emang lo aja yang terlalu kolot.”

Bandung mengerutkan dahi.

Jessica melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih serius.

“Waktu Luna terluka, lo panik bukan main. Anak-anak lihat. Waktu lo berpelukan sama dia di galeri, mereka juga lihat. Bahkan waktu lo mengunggah video dia lagi ngajar, orang-orang di luar sana ikut lihat.”

Ia menunjuk dada Bandung.

“Jadi, kenapa sekarang lo malah nanya ke gue?”

Bandung menggeleng cepat.

“Nggak mungkinlah. Gue kan udah berjanji nggak akan jatuh cinta lagi.”

Jessica terdiam sesaat.

Entah kenapa, kali ini ia tak langsung melontarkan lelucon.

Ia tahu Bandung bukan sekadar laki-laki yang takut menghadapi perempuan. Ada sesuatu dari masa lalunya yang membuatnya memilih menjaga jarak, seolah membuka hati lagi hanya akan mengundang sesuatu yang ingin ia hindari.

Namun, Jessica juga tahu satu hal: janji yang dibuat seseorang ketika hatinya terluka tidak selalu mampu mengendalikan apa yang tumbuh setelahnya.

Jessica mengambil beberapa kardus, lalu berjalan melewati Bandung.

“Makan tuh janji,” katanya ringan. “Nanti tahu-tahu Luna dikawinin orang. Baru deh lo nyesel.”

“Eh, gue belum selesai ngomong! Lu malah kabur begitu aja. Nggak sopan!”

Jessica hanya mengangkat tangan tanpa menoleh.

Bandung mendengus.

Ia berjalan menuju mesin espresso, mengambil secangkir kopi, lalu kembali ke meja kerjanya.

“Gue bakal buktiin kalau gue nggak jatuh cinta,” gumamnya. “Gue selesain pesanan lukisan Miss Arnelia. Kalau hasilnya normal, berarti semalam gue cuma kecapekan.”

Ia meneguk kopinya, mengambil kuas, lalu berdiri di depan kanvas yang masih kosong.

Kali ini, ia bekerja dengan sungguh-sungguh.

Selama hampir dua jam, jemarinya menari di atas kanvas. Kuas bergerak mengikuti warna, membentuk garis demi garis, mempertegas lekukan wajah, rambut, mata, dan bibir sang model.

Bandung tenggelam dalam pekerjaannya.

Untuk beberapa saat, ia bahkan lupa pada percakapannya dengan Jessica.

Ketika akhirnya selesai, ia meletakkan kuas dan mundur beberapa langkah.

Senyum puas muncul di wajahnya.

“Nah, kan! Apa gue bilang?”

Ia menunjuk lukisan itu dengan bangga.

“Hasilnya sama persis sama gambar referensinya.”

Bandung mengambil gambar Miss Arnelia, membandingkannya sekali lagi dengan hasil lukisannya.

Benar-benar sesuai.

Ia mengangguk mantap.

“Berarti semalam cuma efek ngantuk. Jessica aja yang sok tahu.”

Ia menyandarkan tangan di pinggang, lalu mengembuskan napas lega.

“Nggak mungkin gue jatuh cinta sama Luna. Luna itu lebih pantas jadi anak gue Daripada jadi pacar gue.”

Kalimat itu terdengar meyakinkan.

Setidaknya, bagi dirinya sendiri.

Bandung mulai mencari tempat untuk memajang lukisan pesanan tersebut sementara waktu. Pandangannya menyusuri dinding galeri, mencari bagian yang masih kosong.

Namun, ketika matanya tertuju pada bagian tengah ruangan, langkahnya mendadak terhenti.

Tempat itu mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.

Saat dirinya dan Luna jatuh bersama gara-gara kecoa.

Bandung tak sadar tersenyum.

“Dasar bocah kerempeng. Gara-gara kecoa aja sampai meluk tubuh gue.”

Ia terkekeh sendiri.

“Untung badan gue kekar. Kalau nggak, bisa-bisa kita nggak cuma jatuh, tapi—”

Kalimatnya terputus.

Bandung terdiam.

Ada sesuatu yang terasa aneh. Ia tadi hanya mengingat kejadian itu, tetapi entah kenapa, ingatan tersebut membuat dadanya terasa hangat.

Ia buru-buru menggeleng.

“Udah, ah. Jangan dipikirin.”

Bandung mengambil sebuah kanvas kosong dan mulai mencampurkan warna di palet.

Awalnya, ia hanya berniat membuat sketsa sederhana untuk mengisi waktu.

Namun, tangannya kembali bergerak dengan sendirinya.

Kuas menyentuh kanvas. Garis demi garis mulai terbentuk. Sosok seorang laki-laki dan perempuan muncul di tengah ruangan, dengan posisi tubuh yang saling bertumpuk setelah terjatuh.

Bandung terus melukis.

Ia menambahkan detail pada pakaian, memperjelas ekspresi, lalu memperindah latar belakangnya.

Hampir satu jam berlalu sebelum akhirnya ia meletakkan kuas.

Ia memandangi hasil karyanya.

Lalu wajahnya berubah.

“Lah...”

Ia mendekat.

Matanya bergerak dari satu bagian ke bagian lain, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.

Lukisan itu menggambarkan dirinya dan Luna.

Adegan saat mereka terjatuh bersama di tengah galeri.

Bandung menepuk keningnya keras-keras.

“GILA! GUE BENAR-BENAR KERASUKAN!”

Ia berjalan mondar-mandir sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Kenapa harus Luna lagi? Kenapa bukan gambar pemandangan? Atau kucing? Atau apa kek!”

Ia berhenti di depan kanvas, menatapnya dengan kesal.

“Kenapa malah gambar dia?”

Belum sempat ia menemukan jawaban, terdengar suara pintu depan dibuka.

“Bandung?”

Suara perempuan memanggil dari arah depan.

Bandung langsung membeku.

Ia mengenali suara itu.

Luna.

“Waduh!”

Ia menoleh ke arah lukisan yang baru selesai dibuat.

“Luna datang! Gue harus ngumpetin ini ke mana?”

Dengan gerakan tergesa-gesa, Bandung mengambil kain penutup lukisan dan menyelubungkannya ke atas kanvas. Ia merapikan bagian bawah kain, memastikan tak ada sedikit pun gambar yang terlihat.

Setelah itu, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Biasa aja. Bersikap biasa aja.”

Ia berjalan menuju ruang depan dengan langkah yang sengaja dibuat santai.

Namun, begitu melihat Luna berdiri di sana, wajahnya justru mengembangkan senyum yang sulit ditahan.

Luna memandangnya dengan heran.

“Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Salah minum obat, ya?”

Bandung langsung tersentak.

Ia baru menyadari bahwa sejak tadi bibirnya memang terus menyunggingkan senyum.

“Siapa yang senyum?” elaknya. “Wajah gue emang dari dulu kayak gini.”

Luna memandangnya beberapa detik, lalu menggeleng kecil.

“Ya udah. Terserah lo.”

Ia tidak memperpanjang persoalan. Sebaliknya, Luna langsung menarik lengan Bandung dan mengajaknya menuju ruang belakang.

“Ayo, duduk dulu.”

Bandung mengikuti tanpa banyak bertanya.

Luna meletakkan bungkusan nasi Padang yang dibawanya di atas meja. Ia mengambil dua piring, membuka kulkas untuk mengambil sebotol air dingin, kemudian membagi makanan ke dalam kedua piring.

Satu piring diletakkannya di depan Bandung.

“Makan, yuk.”

Bandung memandang makanan itu, lalu menatap Luna.

“Lah, ini buat gue?”

“Iya, buat siapa lagi?”

“Kenapa repot-repot bawain makanan?”

Luna duduk di seberangnya.

“Tadi Jessica telepon gue. Katanya lo baru bangun tidur, jadi pasti belum makan.”

Bandung menggaruk pipinya.

“Oh...”

Ada rasa hangat yang muncul di dadanya, meskipun ia berusaha menganggapnya sebagai hal biasa.

Luna membuka bungkus sambal, lalu mulai makan. Beberapa saat kemudian, ia mengambil sesendok nasi beserta lauk dan mengarahkannya ke mulut Bandung.

“Nih, makan.”

Bandung tertegun.

Ia sempat menatap sendok itu, kemudian wajah Luna.

Tanpa sadar, mulutnya terbuka dan ia menerima suapan tersebut.

Luna sendiri baru menyadari apa yang dilakukannya setelah Bandung selesai mengunyah.

Keduanya saling pandang sesaat.

Luna buru-buru menarik sendoknya.

“Eh... makan aja. Dari tadi bengong.”

Bandung menelan makanannya, lalu tersenyum kecil.

“Wah, kayaknya kalau tiap hari lo kayak gini, gue bisa salah tingkah, nih, Luna.”

Luna terkejut.

Wajahnya sedikit berubah. Ia segera menunduk, pura-pura sibuk merapikan bungkus makanan.

“Apaan, sih. Makan aja, deh.”

Bandung tertawa pelan.

Untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa begitu sederhana. Tidak ada perdebatan, tidak ada lelucon dari anak-anak basecamp, tidak ada Jessica yang menggodanya.

Hanya dua orang yang duduk berhadapan, berbagi makanan di sebuah ruangan yang tenang.

Dan Bandung, yang biasanya tak pernah memikirkan hal-hal kecil seperti ini, mendapati dirinya ingin menikmati suasana tersebut sedikit lebih lama.

Ia segera mengusir pikiran itu.

Jangan aneh-aneh, Bandung.

Luna mengangkat wajahnya kembali.

“Oh iya, Jessica bilang lo baru bikin lukisan bagus banget. Gue boleh lihat?”

Bandung hampir tersedak.

“Lukisan?”

“Iya. Katanya bagus banget.”

Bandung buru-buru mengambil gelas air dan meneguknya.

“Mana ada lukisan baru? Gue aja baru bangun tidur.”

Ia menunjuk rambutnya sendiri.

“Lo nggak lihat rambut gue masih basah habis mandi?”

Luna memperhatikannya dari atas sampai bawah.

Kemudian matanya menyipit.

“Bandung, lo tuh nggak jago bohong.”

“Siapa yang bohong?”

“Wajah lo aja masih belepotan cat.”

Bandung refleks menyentuh pipinya.

Luna tertawa kecil.

“Nah, kan! Pasti lo habis bikin lukisan.”

Bandung menggaruk kepalanya, lalu melirik ke arah lain, berusaha mencari alasan.

Namun, gerakan matanya justru berhenti pada dinding di seberang ruangan.

Di sana, lukisan wajah Luna yang sempat ia buang tadi sudah terpajang.

Bandung membeku.

Waduh.

Ia lupa bahwa setelah mengambil kembali lukisan itu dari Jessica, ia akhirnya membawanya masuk dan menggantungnya di dinding.

Luna mengikuti arah pandangannya.

Senyumnya perlahan menghilang.

Di hadapannya terpampang sebuah lukisan yang begitu jelas menggambarkan wajahnya sendiri.

Wajah yang tersenyum lembut.

Wajah yang selama ini mungkin hanya sesekali ia lihat melalui pantulan cermin atau layar ponsel, kini hadir dalam goresan kuas seseorang yang duduk tak jauh darinya.

Luna bangkit perlahan.

Ia melangkah mendekati lukisan itu, memperhatikan setiap detailnya.

Sementara Bandung tetap duduk di tempatnya, mendadak kehilangan seluruh kemampuan untuk mencari alasan.

“Bandung...”

Suara Luna terdengar pelan.

Bandung tak langsung menjawab.

Luna menoleh kepadanya.

Bandung akhirnya mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Di luar galeri, kendaraan terus melintas. Suara mesin, klakson, dan percakapan orang-orang di jalan tetap memenuhi udara siang itu.

Namun, di dalam ruangan tersebut, tak satu pun dari mereka segera berbicara.

Ada begitu banyak pertanyaan yang mungkin ingin Luna ajukan.

Dan ada begitu banyak alasan yang mungkin ingin Bandung sampaikan.

Tetapi untuk pertama kalinya, kata-kata terasa tidak cukup untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan belum berani ia akui kepada dirinya sendiri.

Dua pasang mata saling menatap.

Di antara mereka, sebuah lukisan menyimpan rahasia yang tak mampu lagi disembunyikan.

Dan Bandung mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang tak bisa ia kendalikan hanya dengan menyangkalnya.

Terutama ketika hal itu menyangkut seseorang yang wajahnya kini telah memenuhi kanvas—dan perlahan-lahan, tanpa ia sadari, memenuhi pikirannya juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!