"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2. Desir-desir pandangan dingin
Fitri menahan gejolak emosi di dadanya. Ia tersenyum tipis, sorot matanya tetap tenang. "Ini bukan repot, Mas. Selama aku masih tinggal di rumah ini dan memegang status sebagai istri kamu, ini sudah jadi kewajibanku. Tolong hargai itu."
Adam mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ada kilat ketidaknyamanan di matanya saat mendengar penekanan kata 'istri'. Tanpa membantah lagi, ia duduk dan mulai menyantap masakan Fitri dalam hening yang canggung.
"Baiklah, aku akan menghargai kerja keras kamu buat sarapan ini." Ucap Adam seraya duduk di meja makan.
Sedang fitri menyajikan sarapan, tiba-tiba, ponsel milik Adam yang tergeletak di atas meja bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak 'Rosa' disertai emotikon hati merah.
Secara refleks, mata Fitri tertuju pada layar tersebut. Namun adam dengan cepat meraih ponselnya, menggeser tombol hijau, dan menjauhkannya dari jangkauan pandang Fitri.
"Halo, Sayang? Iya, aku baru bangun," ucap Adam dengan nada suara yang seketika berubah lembut dan penuh kasih sayang. Suara yang sama sekali tak pernah Fitri dengar ditujukan untuknya.
"Oh ya? Ya kamu beli saja lah." Ucap Adam lagi asik mengobrol dengan kekasih nya itu.
Fitri menundukkan kepala, pura-pura sibuk merapikan apron yang membalut pinggangnya. Rasanya seperti ada jarum halus yang ditusukkan bertubi-tubi ke dalam hatinya. Suaminya sedang bertelepon mesra dengan wanita lain tepat di hadapannya, hanya beberapa jam setelah akad nikah mereka.
"Iya, nanti siang aku jemput ya. Kita makan siang bareng," lanjut Adam sembari melirik singkat ke arah Fitri. "Aku ingat kok, janji beliin kamu tas yang kemarin kamu minta."
Fitri menghembuskan napas pelan. Ia melepas apronnya lalu berbalik menatap Adam yang baru saja menutup telepon. "Mas, ingat janji kamu semalam," ujar Fitri datar. "Di luar rumah, terserah kamu mau berhubungan dengan siapa pun. Tapi jangan pernah bawa urusan itu atau menghadirkan sosoknya secara terang-terangan di depan Ibu."
Adam mendengkus pelan, merasa terganggu. "Kamu tidak usah mengajari aku, Fitri. Aku tahu batasannya. Ibu tidak akan tahu apa-apa."
"Bagus kalau mas selalu ingat itu," balas Fitri tenang. "Aku berangkat koas dulu. Baju dinas kamu sudah aku setrika di walk in closet kamu. Bubur ibu juga udah siap, nanti beri saja ke perawat buat suapin ibu" Ujar Fitri.
Tanpa menunggu balasan dari Adam, Fitri melangkah pergi membawa tas dan melangkah keluar rumah menuju ke rumah sakit. Di balik punggung tegak yang diperlihatkannya pada Adam, Fitri meremas tali tasnya erat-erat. Ia tahu, perjalanan 365 hari ke depan akan menjadi masa-masa paling berdarah dalam hidupnya.
Tak lama dari rumah, 15 menit kemudian Fitri sampai di parkiran Rumah sakit.
Langkah kaki Fitri terasa berat saat menyusuri koridor rumah sakit tempatnya menjalani masa koas. Shift jaga dari pukul 7 pagi hingga 7 malam dengan suasana IGD yang ramai, membuat rasa lelah fisik akibat ramai dan riweh nya rumah sakit kala itu. Sehingga kini, akibatnya terakumulasi dengan rasa sesak di dadanya.
Selesai Shift, Rekan nya Hani tiba-tiba menyenggol Fitri.
"Fitri.. Gimana? Ciee nikah.." Ucap rekan seperjuangan Fitri, Hani.
"Apa jawaban yang kamu harap han?" Jawab ku menggeleng kan kepala.
"Yaa gimana gitu rasa nya"
"Menurut mu? Apa aku akan beritau kamu han? Aneh sekali pertanyaan nya." Jawab Fitri.
"Ah kan hanya menggoda kamu saja Fitri.. jangan sensitif dong.."
Andai dia tau, malam pertama ku menjadi luka yang melukai ku amat dalam. Pasti dia kan berhenti menanyakan nya.
"Sudah lah.. nanti kamu juga tau. Sudah.. ku pulang dulu ya.. pegel banget nih.. semangatt.." Ucap Fitri santai lalu dia mengambil tas nya dan berjalan menjauh dari rekan seperjuangan nya itu.
"Asik, engga sabar tuh pulang.." Ujar Hani masih menggoda Fitri.
Fitri pun berjalan menuju parkiran motor nya setelah sampai rumah, ia belum menemukan mobil mas Adam berada di garasi artinya dia masih berada di luar. Aku tak menghiraukan itu dan memarkirkan motorku dalam garasi. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Fitri memaksakan senyum terbaiknya. Di ruang keluarga, tampak Ibu mertuanya Bu Rahma sedang duduk lemah di atas kursi roda, ditemani seorang perawat jaga yang di bayar oleh mas Adam merawat ibu nya.
"Lho, menantu Ibu sudah pulang dari rumah sakit? Adam tidak nakal kan?" sapa Bu Rahma dengan suara serak, namun matanya memancarkan kehangatan yang begitu tulus.
Fitri mendekat, berlutut pelan di samping kursi roda Bu Rahma lalu mencium punggung tangan tua itu dengan lembut. "Iya, Bu. Fitri ada shift jaga. Mas Adam baik kok bu. Ibu gimana kondisinya hari ini? Sudah minum obat?"
"Sudah, Nak. Tadi dibantu Mbak Suster," Bu Rahma mengelus kepala Fitri yang terbalut jilbab instan. "Ibu senang sekali Adam akhirnya memilih kamu. Dari dulu Ibu selalu berdoa supaya Adam dapat istri yang salehah, telaten, dan sabar seperti kamu."
Kalimat itu bagaikan jarum yang menusuk tepat di jantung Fitri. Ada rasa bersalah yang teramat sangat menyusup ke relung hatinya. Ibu mertuanya sangat menyayanginya, tanpa tahu sedikit pun bahwa pernikahan ini tak lebih dari sekadar panggung sandiwara berdurasi satu tahun.
"Iya bu, Pokoknya yang terpenting sekarang ibu harus kembali sehat ya" Ujar Fitri.
"Iya Bu dokter.."
Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Adam yang baru pulang kerja. Kemeja kerjanya sedikit kusut, dan wajahnya menyiratkan kelelahan. Namun saat matanya bertatapan dengan sang ibu, raut wajah Adam seketika berubah ramah.
"Adam... sini, Nak. Kasihan istri kamu baru pulang capek-capek," panggil Bu Rahma.
Adam mendekat, merangkul pundak ibunya pelan, lalu pandangannya beralih pada Fitri. Ada jeda canggung selama beberapa detik sebelum Adam memaksakan senyum tipis dan mengusap pelan bahu Fitri di depan ibunya.
"Kamu capek ya, Fit? Tadi mas mau jemput tapi kerjaan di kantor lagi numpuk banget," ucap Adam dengan nada lembut yang terasa begitu buatan di telinga Fitri.
Fitri menelan ludah pait-pait. Ia tahu betul, Adam bukan sibuk di kantor, melainkan baru saja selesai menemani Rosa berbelanja barang mewah, sesuai unggahan cerita media sosial yang tak sengaja Fitri lihat tadi siang. Meski begitu, Fitri tetap memainkan perannya dengan sempurna demi menjaga perasaan mertuanya.
"Gak apa-apa, Mas. Aku kan pakai motor," sahut Fitri manis, membalas senyuman palsu itu.
Bu Rahma tersenyum lega melihat keharmonisan anak dan menantunya. "Nah, begitu dong. Saling pengertian. Ya sudah, kalian masuk kamar sana, istirahat."
Begitu pintu kamar tidur mereka tertutup rapat dan terkunci dari dalam, atmosfer hangat itu lenyap seketika. Seperti sihir yang sirna, keramahan Adam menguap tanpa sisa.
Adam menghembuskan napas kasar, melepas ikatan dasinya dan melemparkannya ke atas kasur. Ia berjalan menjauhi Fitri tanpa melirik sedikit pun.
"Terima kasih sudah tidak bikin ulah di depan Ibu," ujar Adam dingin, membalikkan badannya membelakangi Fitri.
Fitri berdiri mematung di dekat pintu, menatap punggung suaminya yang begitu asing. "Aku pegang janji aku, Mas. Aku gak akan bikin Ibu kepikiran. Tapi aku mohon, jangan sampai ketahuan Ibu kalau kamu sering jalan sama Rosa."
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.