NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6 — Kacung Numpang dan Tatapan dari Kejauhan

Janji kepada gadis kecil itu belum menemukan jalan hukum, tetapi Raka tidak membiarkannya menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

Dua hari setelah membuat laporan, ia mendatangi Graha Utama dengan kemeja terbaik yang dimilikinya, map portofolio di satu tangan, dan nomor perkara cerai yang baru terdaftar di ponsel. Dinas Sosial belum memberi izin kunjungan. Mereka hanya mengabarkan bahwa sang anak berada di tempat aman dan proses asesmen sedang berjalan.

Setidaknya, untuk hari ini, tidak ada sabuk yang terangkat di atas kepala kecil itu.

Atrium Graha Utama dipenuhi stan furnitur, dekorasi kamar anak, produk ibu dan bayi, serta panggung presentasi rumah ramah keluarga. Spanduk besar menggantung tiga lantai. Para pemilik merek bertukar kartu nama sementara pengunjung memotret ruang contoh yang dibuat seperti apartemen sungguhan.

Raka tidak punya stan.

Ia membeli tiket pengunjung, memotret dinding contoh yang kosong, lalu mencatat nama perusahaan yang mungkin membutuhkan mural atau relief untuk gerai mereka.

Di sebuah stan dekorasi kamar anak, seorang manajer pemasaran melihat sketsa pada mapnya.

"Ini karya Anda sendiri?" tanyanya.

"Ya. Saya juga mengerjakan relief timbul, bukan hanya lukisan datar."

"Punya dokumentasi proyek terbaru?"

Pertanyaan itu mengenai kelemahannya. Sebagian besar proyek besar Raka sudah berusia lebih dari lima tahun. Foto-fotonya masih bagus, tetapi klien selalu ingin melihat bukti bahwa tangan seorang seniman belum berkarat.

"Belum untuk proyek komersial baru," jawab Raka jujur. Ia membuka video uji di ponsel. "Saya sedang mendokumentasikan proses dari awal. Saya bisa membuat sampel panel kecil berdasarkan identitas merek Anda. Jika tidak sesuai, Anda tidak perlu membayar."

Manajer itu menimbang tawarannya. "Kirim rancangan dalam tiga hari. Nomor saya ada di kartu ini."

Raka menerima kartu tersebut dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bu."

Satu peluang. Belum kontrak, tetapi lebih nyata daripada menunggu belas kasihan.

Ia baru menutup map ketika suara tawa yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

"Lihat siapa yang datang mencari makan."

Sulastri berdiri beberapa meter darinya dengan tas bermerek di lengan. Larasati dan Ratna berada di kedua sisinya. Mereka rupanya datang sebagai tamu undangan salah satu merek perlengkapan panggung. Beberapa penari muda Balet Larasati berjalan di belakang mereka.

Tatapan Larasati turun dari kemeja Raka ke map portofolio, lalu kembali ke wajahnya.

"Mas, apa yang kamu lakukan di sini?"

"Bekerja."

"Bekerja?" Sulastri mendekat. Suaranya sengaja ditinggikan hingga dua orang di stan sebelah menoleh. "Baru beberapa hari keluar rumah sudah mengemis proyek di pameran? Kukira kau punya rencana hebat."

Raka menutup ritsleting map. "Menawarkan jasa bukan mengemis, Bu Sulastri."

"Jasa apa? Lima tahun terakhir kau cuma memasak dan mencuci pakaian." Sulastri tersenyum kepada orang-orang di sekitar, seolah sedang membagikan lelucon. "Maaf, semuanya. Dia mantan menantu saya. Dulu tinggal gratis di rumah kami. Kacung numpang yang sekarang berpura-pura jadi pengusaha."

Beberapa kepala berputar. Ponsel mulai terangkat.

Ratna memiringkan kepala. "Jangan-jangan kau datang karena tahu Laras punya acara di sini. Mau membuat keributan supaya dia kasihan?"

"Saya tidak tahu Bu Larasati akan hadir."

Sapaan formal itu membuat Larasati mengerutkan alis. "Jangan memanggilku seperti orang asing."

"Kita sedang berada di tempat kerja, Bu Laras. Saya menghormati batas yang Anda minta sendiri."

Sulastri mendengus. "Dengar gaya bicaranya. Belum resmi cerai saja sudah sombong."

"Benar, belum resmi," kata Raka. "Permohonan baru terdaftar. Masih ada mediasi dan sidang. Itu sebabnya saya tidak pernah mengaku sudah menjadi mantan suami."

Kalimat tersebut memotong tuduhan sebelum sempat dibesarkan. Orang-orang yang merekam saling pandang. Raka tidak memberi mereka satu kebohongan pun yang bisa dipelintir.

Larasati melangkah mendekat dan menurunkan suara. "Tarik permohonan itu. Pulanglah sebelum masalah keluarga menjadi tontonan."

"Masalah keluarga menjadi tontonan saat ibu Anda meneriakkan urusan rumah tangga di tengah atrium, bukan saat saya membawa portofolio."

Seorang pengunjung menahan senyum.

Wajah Sulastri menegang. "Kurang ajar! Kau bisa berdiri di tempat seperti ini karena lima tahun kami beri makan."

Raka menatapnya tanpa naik nada. "Kalau Bu Sulastri ingin menghitung, mari kita hitung."

Ia mengangkat satu jari.

"Lima tahun saya memasak tiga kali sehari, mengantar dan menjemput Keisha, membersihkan rumah, mengurus belanja, mendampingi latihan Bu Larasati, dan menangani kebutuhan tamu keluarga. Saya tidak menerima gaji."

Jari kedua terangkat.

"Ketika pergi, saya tidak mengambil mobil, uang, perhiasan, atau barang rumah. Isi koper diperiksa Mbak Ratna dan kondisi rumah direkam."

Jari ketiga.

"Dalam perkara cerai saya menyatakan tidak menuntut harta keluarga Prawira, tetapi tetap akan memenuhi nafkah Keisha lewat jalur yang tercatat."

Raka menurunkan tangan. "Jadi, bagian mana yang membuat saya kacung numpang? Tinggal tanpa gaji setelah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, atau pergi tanpa mengambil satu rupiah pun?"

Suasana atrium berubah.

Seorang ibu muda di dekat stan stroller berbisik cukup keras, "Kalau semua itu benar, justru keluarganya yang dapat pekerja gratis."

Pria di sampingnya mengangguk. "Dan dia tetap mau menanggung anak."

Sulastri memandang sekeliling. Dukungan yang ia harapkan tidak datang. Orang-orang justru menunggu jawabannya.

"Itu kewajiban suami!" serunya.

"Tanggung jawab rumah tangga memang kewajiban bersama," kata Raka. "Namun kewajiban bukan alasan untuk menghina orang yang menjalankannya."

Manajer pemasaran yang tadi berbicara dengan Raka keluar dari stan. Ia memandang Sulastri, kemudian map di tangan Raka.

"Pak Raka datang menawarkan desain kepada kami," katanya. "Ia menunjukkan karya dan menawarkan sampel, bukan meminta uang. Kami sedang bicara bisnis sebelum Ibu memotong."

Satu kalimat dari pihak netral merobohkan sisa cerita Sulastri.

Ratna segera maju. "Anda tidak tahu siapa dia. Karya lama bisa saja milik orang lain."

Raka membuka map dan mengeluarkan salinan sertifikat lomba, beberapa foto proses, serta sketsa yang masih bertanggal. "Silakan periksa nama, tanggal, dan dokumentasi proses. Kalau klien memerlukan verifikasi, saya akan memberikannya."

Manajer itu melihat sekilas, lalu menyerahkan kembali dokumen tersebut. "Cukup untuk tahap sampel. Tiga hari, Pak Raka. Saya tunggu."

"Saya kirim sebelum tenggat."

Raka menyimpan kartu nama di dalam map. Di depan mata keluarga Prawira, penghinaan yang dimaksudkan untuk mengusirnya justru berakhir dengan seorang calon klien menegaskan kepercayaannya.

Larasati menatap kartu itu seolah benda kecil tersebut telah mengkhianatinya.

"Kamu serius mau hidup dari gambar lagi?"

"Saya hidup dari kemampuan saya. Itu tidak pernah memalukan."

"Dan kalau gagal?"

"Kegagalan saya bukan lagi beban Anda."

Raka mengangguk sopan kepada manajer stan, lalu berjalan melewati Sulastri tanpa menyentuh bahunya. Para penonton membuka jalan. Ponsel yang semula diarahkan untuk merekam seorang menantu dipermalukan kini menangkap keluarga Prawira berdiri tanpa jawaban.

Di sisi lain atrium, seorang perempuan mengenakan blus krem dan celana hitam menyaksikan semuanya dari dekat pilar. Tidak ada logo mewah pada pakaiannya. Hanya jam tangan tipis dan postur yang membuat orang tanpa sadar menjaga jarak.

Seorang perempuan muda di sampingnya bertanya, "Perlu saya cari tahu siapa manajer stan itu?"

"Tidak."

"Tapi kalau proyeknya bisa kita—"

"Dia baru saja menolak dinilai dari keluarga yang memberinya tempat tinggal." Tatapan perempuan berbaju krem tetap mengikuti langkah Raka. "Jangan menghina dia dengan membuat kemenangan pertamanya menjadi hadiah rahasia."

Pendampingnya terdiam.

Raka berhenti di pintu atrium untuk memeriksa kartu nama, lalu memasukkannya dengan hati-hati ke dompet. Ia tidak melihat perempuan di dekat pilar. Ia juga tidak melihat jari perempuan itu mencengkeram tali tas ketika wajahnya tersapu cahaya siang.

Lima belas tahun tidak menghapus cara Raka berdiri saat melindungi seseorang.

Perempuan itu mengenalinya bahkan sebelum mendengar nama dari mulut orang lain.

Saat Raka menghilang di balik pintu kaca, bibirnya bergerak dalam bisikan yang hampir tenggelam oleh riuh pameran.

"Raka. Akhirnya aku menemukanmu lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!