NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Ternyata Wei tidak menjemput Nismara. Wei hanya memberitahu nama dan alamat sebuah hotel yang harus Nismara datangi untuk bertemu dengan Mister Thrang. Sebuah hotel yang sering kali Nismara masuki dulu, ketika masa remajanya bersama Gerald.

Hotel Mahkota. Tempat kejadian perkara di mana Sherin telah melompat pada salah satu balkonnya.

Di luar perkara itu, perasaan Nismara menjadi semakin yakin bahwa semua informasi si Peduli Kamu memang benar adanya. Ada sebuah keterkaitan antara foto-foto panas Sherin yang pernah dia kirim bersama dengan info kematiannya. Apakah sebentar lagi Nismara akan mengetahui kebenarannya atau malah dia yang akan menjadi korban seperti Sherin?

Nismara sudah berada di lobby hotel Mahkota jam sembilan kurang sepuluh menit. Sesuai dengan perintah Wei. Tak berapa dari waktu itu, perempuan dengan celana jeans dan jaket kulit mendekati Nismara.

"Kamu yang bernama Sofia?" katanya dengan nada seperti satpam mengintrogasi maling.

"I-iya...."

"Ikut aku!"

Perempuan berjaket kulit itu berbalik badan dan melangkah pergi. Namun dia berhenti ketika merasa tidak ada langkah kaki yang mengikutinya. Dia pun kembali balik badan untuk melihat Nismara. Alisnya bertaut kesal saat mendapati gadis yang dia kenal bernama Sofia itu masih terbengong tidak bergerak di sofa yang dia duduki.

Dia menarik nafas panjang. Terpaksa perempuan itu kembali mendekat pada Nismara. "Kenapa masih di sini? Aku bilang kan ikuti aku, ayo!'

"Mana Wei?" Jawab Nismara takut takut, bayangan Sherin jatuh dari balkon tiba-tiba saja memenuhi kepalanya.

" Wei tidak di sini. Kau mau ikut aku ketemu Mister Thrang atau mau balik saja?" suara perempuan itu kentara kalau lagi kesal.

Nismara berdiri, melirik dengan gelisah. Dia menenangkan hatinya sendiri bahwa pertemuan dengan lelaki yang dipanggil Mister Thrang itu hanyalah formalitas sebelum dia bekerja menjadi model Wei, seperti yang Tina ceritakan.

Perempuan itu kembali mendahului Nismara. Baru satu langkah dia menoleh ke belakang, memastikan gadis bernama Sofia mengikutinya. Senyum nya miring ketika Nismara benar-benar menuruti perintahnya.

Perempuan berjaket kulit itu menuju sebuah pintu, sekira enam meter ke kanan dari lobby hotel, Nismara tidak punya pilihan lain selain mengekor saja. Begitu dibuka terlihat lorong lurus satu arah, yang berakhir dengan sebuah pintu lift lagi.

"Naiklah!" kata perempuan itu begitu pintu lift terbuka.

"Aku naik sendiri?" spontan Nismara membelalakkan mata.

"Di atas sudah siap orang yang mengantarmu ke mister Thrang."

"Okey. Lantai berapa?"

"Jangan banyak tanya, cukup ikuti perintah!"

Nismara masuk live, sedetik kemudian pintu itu tertutup dan benda itu mulai bergerak ke atas. Tak ada angka yang bisa dia pilih seperti lift biasa yang sering dia pakai. Kemungkinan live ini memang menjadi jalan satu-satunya ke sebuah ruang dan bergerak otomatis atau gerakan dari suatu ruang.

Tak lama lif terbuka. Seorang lelaki kurus dan berambut gondrong mengukir senyum segaris melihat Nismara. Dia menunjuk pada pintu tak jauh dari pandangan mata mereka.

"Itu ruang Mister Thrang."

Nismara hanya mengangguk kecil. Kali ini dia mengikuti ucapan perempuan tadi tidak banyak bertanya cukup ikuti perintah saja.

Kaki Nismara terasa begitu berat untuk melangkah. Sesekali dia menoleh pada si gondrong, tetapi laki-laki itu sedang menatap arah lain.

Sampai di depan pintu yang ditunjuk si gondrong, Nismara mengangkat tangannya. Tiga kali mengetuk, tiga kali pula tak ada suara dari dalam. Dengan hati bergetar, tangan Nismara memberanikan diri untuk membuka.

Ternyata pintu tak terkunci.

Nismara melangkahkan kakinya masuk dan terbeliak dengan keadaan di dalamnya. Pantas lah tidak ada yang menyahut. Ternyata ruangan ini begitu luas, ada sebuah kolam ikan dan air terjun buatan yang suara gemerciknya memenuhi syarat telinga siapapun yang ada dalam ruangan ini. Di sebelah kolam itu persis ada taman anggrek berbagai rupa.

"Masuk, dan tutuplah pintunya!"

Suara laki-laki berhasil membuat Nismara terperanjat. Tanpa menunggu perintah kedua, penjelmaan Sofia Elena itu mematuhi suara yang barusan dia dengar. Saat Nismara berbalik, seorang laki-laki pendek sudah ada di belakangnya. Lagi-lagi Nismara kaget.

Laki-laki itu tertawa. "Maaf kalau membuatmu terkejut."

Nismara mengangguk. Hatinya tiba-tiba berdentung keras sekali.

"Duduklah!" katanya sembari menuju sebuah meja kerja tak jauh dari situ.

"An- anda mister Thrang?" Nismara bertanya takut-takut.

"Ya, duduklah!"

"Oh." Entah mengapa kata itu terceplos dari bibir Nismara. Sejujurnya dia membayangkan seorang lelaki tinggi besar dengan wajah kejam khas mafia. Kenyataan nya yang duduk di depannya, orang yang mengaku bernama Mister Thrang adalah lelaki kecil, mungkin tingginya hanya satu setengah meter. Wajah nya sangat Indonesia, dengan pipi chubby dan mata bulat. Mister Thrang terlihat seperti pria jenaka daripada orang yang memegang bisnis haram.

"Sofia aku sudah melihat foto-foto mu." Mister Thrang memecah kesunyian. Nismara mengangguk.

"Jawab jujur, apa yang membawamu sampai ke mahkota Gym?"

Nismara menelan ludah, tetapi dia sudah mempersiapkan jawaban atas pertanyaan seperti itu. "Gedung nya mewah jadi saya berpikir orang-orang di dalamnya pasti juga bukan orang sembarangan, tapi saya kecewa..... ternyata mahkota Gym hanya untuk anak-anak sekolah."

Mister Thrang mengangkat alisnya. Nampak dia tidak paham arah pembicaraan Nismara.

Nismara berakting sedang tersipu dengan cara menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, tak lupa dia membuat sedikit gerakan menunduk yang dibuat kemayu. "Sa- saya cari om-om genit di gym, Mister."

Seketika tawa lelaki pendek itu membahana. Suara gemericik air terjun buatan di sebelah Mereka pun seperti bisa dia imbangi.

"Untuk apa kau lakukan itu?"

"Uang. Saya seperti sebatang kara di dunia ini. Mama saya entah kabur ke mana, Papa Saya sibuk sendiri. Saya bosan mengemis uang pada Papa saya." sahut Nismara. Cerita karangan ini sudah Nismara rancang saat dia masih berada di Swiss.

Mister Thrang mengangguk.

"Kau tahu resiko pekerjaan yang akan kau jalani?"

"Pekerjaan apa?" tukas Nismara. Keberanian nya telah tumbuh sedikit demi sedikit.

"Pemotretan kemarin dengan Wei. Kudengar Tina sudah bercerita sedikit kepadamu kan?" Mister Thrang bertanya sambil menarik lagi meja di sebelah kanannya.

"Oh, iya. Apakah yang foto kemarin aku langsung dibayar?" Nismara sengaja bertanya seperti itu, agar alasan soal uang yang tadi dia kemukakan menjadi semakin kuat.

Lelaki di hadapannya menyungging senyum kecil. Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari laci yang kini telah terbuka.

"Bacalah ini dulu!" ujarnya seraya mendorong kertas-kertas itu menjadi lebih dekat pada Nismara.

Nismara mulai membaca tulisan yang diketik rapi dalam kertas tersebut. Isinya seputar peraturan jika dia ingin bekerja pada lelaki pendek itu. Bahasa nya yang cukup berbelit-belit, padahal intinya setiap model harus menjaga kerahasiaan dan menurut pada semua perintah yang diberikan.

"Oh, aku sampai lupa. Kamu mau minum apa Sofia?"

Nismara tersenyum kecil tanpa menjawab.

"Kenapa? Kau takut aku memberimu obat perangsang di minumanmu?" tanyanya sambil terkekeh.

Nismara ikut terkekeh. "Mister tidak perlu bersusah payah seperti itu, asal harga deal dengan sukarela saya melayani anda."

"Good girl!" teriaknya membahana sambil bertepuk tangan. "Kamu mengingatkan aku pada seorang gadis cantik, Sofia."

"Maksud ada gadis yang bernama Sherin?"

Mister Thrang terkesiap, tapi buru-buru dia terkekeh untuk menutupinya. "Siapa yang memberitahumu? Tina?"

Seketika Nismara memucat. Dia menyadari kebodohannya. Seharusnya dia tidak mencoplos nama Sherin, apakah ini akan membahayakan Tina?

1
Ar-Rasyid Fikri
ada pesan sebagai orang tua kallau anak adalah titipan walau hadir nya dari sebuah kesalahan, harus di perhatikan, di rawat di sayang, biar GK nyesel. nyesel kan kalau anak sudah salah jalan.

teka teki nya dapat. suka banget.
Ar-Rasyid Fikri
wah bisa-bisa nya muncul ide gitu tho Nis?
Rahma Wati
hayo lho Nis, gimana kalau gk mau dikasih uang. wah berabe ini
Rahma Wati
kasian Sherin dr kcl tdk diharapkan.
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!