Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Yang Menyakitkan
Garis kerutan langsung muncul di kening Mona sekarang. "Apa maksudmu?"
Norman tak menanggapi, hanya matanya saja yang menatap tajam Mona sedari tadi. Tanpa mengucapkan satu kata pun, dia membalikkan badan lalu melangkah menuju pintu toilet.
Melihat hal itu, Mona tentu saja menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan sangat kesal. "Norman, kau mau ke mana?!"
Norman berpura-pura tuli. Dia pun mengayunkan kaki dengan cepat lalu menghilang di balik pintu.
Tak sampai lima menit, pria itu telah sampai di ruangan pribadinya. Pandangan Norman langsung jatuh kepada Grace yang saat ini beranjak dari sofa saat melihat kedatangannya.
Norman melempar senyum tipis, disambut dengan senyum terpaksa Grace.
"Di mana pakaiannya?"
Begitu Norman berdiri di dekatnya, Grace langsung bertanya. Tentu saja dia tahu ke mana Norman pergi.
Norman mendadak salah tingkah, melupakan alasan dia pergi meninggalkan Grace tadi. "Ya ampun, sepertinya ketinggalan tadi di atas meja. Aku tadi tak sengaja berpapasan dengan karyawan yang tiba-tiba mengajakku diskusi. Aku ambil dulu pakaiannya, tunggulah di sini sebentar."
"Tidak usah, Norman. Aku kembali ke butik saja sekarang."
Belum sempat Norman menggerakkan kaki, Grace sudah terlebih dahulu membuka suara.
"Kau yakin?" Norman lantas bertanya.
"Yakin, lagipula Carmen juga baru saja menghubungiku kalau ada klien yang ingin bertemu denganku. Oh ya, aku juga mau memberitahumu, malam ini aku tidak pulang, menginap di butik."
Grace berbohong. Sebenarnya dia dihubungi oleh Eva, salah seorang informan yang dia hubungi tadi pagi. Eva baru saja memberitahu tempat pertemuan mereka.
Norman tersenyum tipis. "Istriku memang orang rajin. Mau aku antar ke bawah?"
"Tidak usah, aku pergi." Setelah berkata demikian, Grace mengambil tas lalu melenggang pergi dari ruangan.
Meninggalkan Norman menghela napas setelah Grace menghilang dari pandangannya.
Sekitar pukul empat sore, sesuai dengan janji, Grace akan bertemu Eva di pusat perbelanjaan. Janji temu yang tidak biasa, bukan? Pertemuan ini bersifat rahasia.
Informasi yang akan diberikan tidak boleh sampai terdeteksi di ponsel.
Mengikuti arahan Eva, Grace masuk ke dalam supermarket itu sambil mendorong troli. Dia memakai masker dan kacamata hitam, sudah seperti akan melakukan sesuatu yang mencurigakan.
Grace berjalan pelan ke salah satu lorong tempat menjual makanan. Ia mulai menghentikan troli di tengah-tengah lorong sambil menghadap etalase snack di sebelah kanan.
"Ini aku, Eva," kata Eva tanpa menatap lawan bicara.
Grace terperanjat sekaligus gugup kala mendengar suara perempuan dari samping. Dengan cepat dia menoleh ke sumber suara, melihat seorang wanita bertubuh sedikit pendek darinya sedang menjangkau snack di atas.
Wanita itu tidak memakai masker dan kacamata seperti dirinya, lebih seperti orang yang benar-benar ingin berbelanja.
"Bersikaplah biasa saja, ada dua CCTV di lorong ini, lebih sedikit dari lorong lainnya. Jangan hadap ke samping, sekarang ambillah keripik di depanmu. Katakan apa yang kau inginkan," kata Eva dengan pelan, lebih seperti orang yang berbisik.
Grace lantas menuruti perkataan Eva.
"Aku perlu kau mencari semua informasi tentang Mona Francesca," kata Grace seketika sambil melirik ke kanan dan ke kiri, hendak memastikan tak ada orang yang mendengar mereka.
Sejauh mata memandang, tampak aman. Hanya ada satu orang di ujung lorong sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam troli.
Bukannya menanggapinya, Eva malah tertawa rendah. "Kaku sekali. Lain kali jangan pakai masker ataupun kacamata itu, penampilanmu terlihat mencolok."
Balasan Eva tentu saja membuat Grace mengerutkan dahi. Dia refleks menoleh ke samping sekilas. "Kau dengar aku, 'kan?"
"Iya, aku dengar. Ada lagi yang ingin kau cari tahu?" kata Eva sambil mengambil lagi snack berbentuk keripik di etalase.
Grace terdiam selama beberapa detik. "Norman Turner, sudah dua itu saja. Berikan informasi tentang hubungan mereka secepatnya."
"Baiklah, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Jangan mengangguk. Sampai jumpa lagi."
Grace tak mengangguk. Sesuai perintah Eva, dia tak menggerakkan kepala, tetap fokus mengambil satu per satu snack di hadapannya.
Tak lama kemudian, Grace pun keluar dari pusat perbelanjaan dan kembali ke butik. Dia pun menginap di situ.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sekitar pukul lima pagi, sebelum matahari menampakkan dirinya, Eva menghubungi dan mengajak Grace untuk bertemu di taman kota. Eva sudah mendapatkan apa yang diinginkan Grace.
Grace segera beranjak dari tempat tidur, memakai mantel dan pergi ke tempat yang dimaksud Eva. Sesampainya di sana, Grace melihat Eva dari kejauhan berdiri di dekat pohon dalam pencahayaan lampu taman yang agak remang-remang.
Jika di pagi hari, taman kota sepi pengunjung. Ditambah lagi, CCTV di sekitar sini hanya menjangkau beberapa tempat.
Grace pun melangkah, menghampiri Eva.
Dengan jarak satu meter, Grace pun segera membuka suara.
"Aku tidak menyangka kau akan mendapatkan informasi dalam waktu yang sangat cepat," kata Grace seolah memuji kemampuan Eva.
Kini Grace baru bisa melihat dengan jelas wajah Eva yang mungil. Meskipun begitu, diperkirakan Eva lebih tua dari Grace.
Eva tersenyum kecil. "Aku tidak ingin klienku ini mati penasaran. Informasi ini akan terus ter-update. Untuk saat ini, inilah yang aku dapatkan."
Eva tiba-tiba melangkah dan berhenti tepat di samping Grace. Setelah itu, dia menyelipkan sebuah kertas pada jari Grace.
Grace refleks menoleh sambil menggenggam erat kertas itu.
"Aku pergi." Tanpa mendengar balasan, Eva berlalu pergi dari situ.
Meninggalkan Grace yang mulai membuka kertas lalu membaca isinya.
Mata Grace seketika terbelalak. "Ini tidak mungkin ..."
"Tidak mungkin ..." Grace tak mampu berkata-kata saat membaca isi pesan tersebut.
"Norman bajingan!"
Bersambung ~
Guys, jangan lupa dilike bab-nya ya ^_^
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣