"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapang Dada
"Kamu gila Jess! Papa enggak akan izinkan kamu bertunangan dengan Arnold di rumah ini."
"Tapi, Pa. Hanya itu yang bisa buat Kak Arnold mau melamar Jess." rengek Jessica manja.
"Jessica Bramantyo!" desis Pak Raka yang membuat Jessica menjauhkan hapenya dari telinganya.
Ya, mereka sedang bertukar kabar lewat ponsel setelah Arnold keluar dari ruangannya, Jessica langsung menghubungi Papanya sebelum bagian yang akan terlibat dalam malam lamarannya dengan Arnold.
Jessica pun menjelaskan pada Papa Raka kalau Arnold meminta venue lamaran itu di rumahnya di Kemang.
Sesuatu yang bagi Jessica sangat gampang, karena rumah di Kemang itu milik Papanya yang otomatis bakal jadi miliknya.
Namun, Jessica pun tidak menyangka kalau Papanya akan semarah ini saat ia menjelaskan syarat dari Arnold.
"Papa! Please turutin permintaan Jess. Bukannya Papa udah berjanji kan bakalan nurutin apapun permintaan Jess." Jessica pura-pura menangis tapi tidak mengeluarkan air mata, "Hikhikhik! Jess enggak minta aneh-aneh kok, Pa. Jess cuman mau lamaran di Kemang. Bukan minta aset Papa."
"Jessica!" geram tertahan Pak Raka, gigi-giginya saling beradu dan menimbulkan suara gemeretuk yang membuat Jessica bergidik ngeri.
Dari kecil sampai ia sebesar ini, baru kali ini ia mendengar Papanya marah sampai begini.
"Pa!" Jessica kembali merengek, "Boleh ya, Pa?" pintanya.
"Jessica!" teriak Raka akhirnya dan membuat seluruh pengawalnya seketika mendekat namun tidak berani bertanya. "Arnold sudah menikah."
"Jess tau Pa. Kan kemarin kita hadir di pernikahan Kak Arnold." jelas Jessica yang membuat Pak Raka mengusap wajahnya kasar.
"Kalau kamu tau, kenapa kamu mau dilamar sama dia?"
"Karena Jess mencintai Kak Arnold, Pa." jawab Jessica manja, "Papa dari dulu udah tau kan kalau Jess mencintai Kak Arnold."
"Istri kedua tidak berhak apapun, Jess."
"Enggak apa-apa. Jess sudah kaya kok. Jess punya segalanya. Jadi, Jess cukup punya kak Arnold udah senang banget."
"Arnold mencintai kamu?"
"Akan aku buat dia mencintaiku, Pa."
"Hahahaha! Itu hanya akan jadi khayalan mu, Jess." Pak Raka tertawa keras, namun Jessica juga tetap bersikeras.
"Enggak, Pa. Bakalan jadi kenyataan kok. Jess yakin itu." ujar Jessica serius. Tidak ada suara manja dan membuat Pak Raka memijit pelipisnya.
"Di ballroom hotel saja. Apa di rumah Papa yang lain, terserah kamu mau di Jakarta sebelah mana tapi jangan di Kemang."
"Pa!" rengek Jessica manja, "Kak Arnold maunya di Kemang, Pa."
"Papa tidak izinkan." kekeh Pak Raka dan membuat Jessica resah serta gelisah.
"Pa! Papa sayang Jessica enggak sih?" tuntut Jessica manja, "Kalau Papa sayang sama Jessica pasti Papa bakalan kasih izin. Lagian ini cuman di rumah Papa lho, seharusnya enggak susah kan Pa?"
"Suruh Arnold menyewa ballroom hotel buat melamar kamu." Pak Raka kembali menolak.
"Pa!" teriak Jessica, "Papa dengerin Jessica enggak sih dari tadi? Kan Jessica bilang kalau Kak Arnold kasih syarat ke Jessica kalau lamarannya harus di Kemang. Papa ngertiin Jessica dong!" desaknya.
"Tunggu keputusan Papa satu jam lagi." putus Pak Raka lalu mematikan sambungan telponnya saat Jessica akan kembali menyanggahnya.
***
Usai bertelepon dengan Jessica, Pak Raka pun naik ke lantai tiga rumahnya melalui lift yang sekarang ia masuki menuju kamar yang ditempati Arini.
"Arini!" panggil Pak Raka saat ia masuk ke dalam kamar Arini.
Terlihat Arini tengah duduk di kursi dekat jendela, karena balkon kamar Arini diblok dengan kayu dan duri agar Arini tidak berusaha membebaskan diri.
Arini sedang melukis di kanvas, hobi yang masih bisa Arini kerjakan disaat ia berada dalam sangkar emas Ayah biologisnya.
Kemarin, Arini sempat meminta ponselnya, namun tidak diberikan oleh Pak Raka.
Dan Arini pun berganti meminta laptop agar pekerjaan ia sebagai CEO kantor redaksi bisa dikerjakannya dari jarak jauh tentu juga bisa berkabar dengan Devano bahkan Eve yang ia percaya mengurus kantor redaksinya.
Namun lagi-lagi permintaan Arini itu kembali ditolak oleh Pak Raka karena ia tidak mau menanggung resiko jika Arini punya koneksi nantinya yang bisa membebaskannya.
"Lagi melukis apa, Nak?" tanya Pak Raka seraya mengusap hijab Arini dan Arini sempat mendelik saat diusap kepalanya.
Ia tidak terbiasa diusap hijabnya oleh laki-laki dewasa, karena Ayah Darius sangat menjaga jarak dengannya setelah ia mendapatkan menstruasi pertama sewaktu duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Pun Devano, walaupun mereka sepupu, tapi Devano sangat menghargai Arini yang memakai hijab, paling hanya Uncle Chandra, itu saja hanya sesekali saat ia merasa sedih.
"Melukis pemandangan balkon berduri." jawab Arini pelan seraya terus melukis.
"Kenapa kamu melukis balkon berduri? Apa tidak ada pemandangan lain yang bisa kamu lukis, Sayang?" Pak Raka mengambil kursi lalu duduk dekat Arini yang jarang mau menatapnya.
Pak Raka cukup senang, karena walaupun Arini masih belum mau menerimanya, tapi anak biologisnya itu mau makan sehari tiga kali tanpa dipaksa.
"Tidak ada. Pemandangan di depanku hanya ini. Yang bisa aku lukis hanya ini." jawab Arini dengan maksud lain di dalamnya.
Pak Raka menganggukkan kepalanya, "Sebentar lagi Papa akan memberimu buku yang harus kamu pelajari."
"Buku apa? Novel saja, biar saya tidak bosan." pinta Arini.
"Buku tentang Diamond Grup. Dari sekarang kamu harus mempelajarinya karena kamu pewaris sesungguhnya."
"Pewaris! Pewaris! Pewaris!" Arini mengulang tiga kali kata yang sama, "Anda tidak usah terlalu berpikir seperti itu, Pak. Belum tentu saya mau. Saya punya kantor redaksi yang harus saya perjuangkan."
"Dan lagi, Anak Anda sesungguhnya itu Nona Jessica. Saya dan Anda hanya terikat hubungan darah. Jadi, saya tidak berhak mewarisi harta Anda."
"Kamu berhak Arini." kekeh Pak Raka dan Arini mendengus kasar.
"Belajarlah agama lagi supaya Anda tau kalau hubungan anak dan ayah biologis tidak berhak mewarisi harta ayah biologisnya kecuali Ayah biologisnya memberinya hibah."
"Baiklah. Saya akan menghibahkan seluruh harta saya buat kamu." ujar Pak Raka spontan, tapi Arini tertawa getir.
"Anda akan jatuh miskin kalau harta Anda dihibahkan ke saya seluruhnya." ujar Arini mengingatkan.
"Tidak apa-apa. Kamu anakku."
"Tapi saya tidak memerlukan itu." bantah Arini.
"Perlu tidak perlu aku akan tetap memberikannya kepadamu karena itu hak kamu, Arini."
"Terserah Pak Raka saja." Arini menatap nanar Ayah biologisnya, "Mau saya ngomong apapun, Pak Raka akan tetap melakukan apa yang diinginkan Bapak sendiri."
"Besok malam, Arnold akan melamar Jessica." Pak Raka terus menatap Arini untuk melihat reaksi anak biologisnya.
Arini terlihat menunduk sekilas seperti berpikir, lalu menganggukkan kepalanya tanpa kepedihan.
"Kamu enggak sedih?" tanya Pak Raka.
"Buat apa saya sedih?" Arini berbalik tanya.
"Arnold suami kamu." Pak Raka memberitahu.
"Benar."
"Dan kamu enggak marah?" tanya Pak Raka lagi.
"Sesuatu yang ditakdirkan bakal jadi milik kita, bakalan jadi milik kita kok. Jadi, saya enggak mau memaksa apapun dan saya tidak mau marah soal itu, kalau memang Arnold melamar Nona Jessica, berarti memang dia tidak layak untuk saya." jawab lugas Arini dan sukses membuat Pak Raka merasa dirinya kecil.
Anak biologisnya begitu tangguh, bahkan begitu lapang dada atas apapun yang terjadi di hidupnya, sangat berbeda dengan dirinya yang penuh obsesi bahkan tidak gampang menerima apapun yang tidak sesuai kehendak dirinya.
Bersambung...