NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Evakuasi di Bawah Guyuran Hujan

Suara gemuruh angin badai dan dentuman air hujan yang menghantam atap logam Bus dua terdengar kian memekakkan telinga.

Lumpur merah pekat mengalir deras menyusuri celah roda bus, sementara tumpukan tanah longsor di depan sana setinggi dua meter menutup akses jalan sepenuhnya.

Rombongan kelas B dan D berada dalam posisi sangat berbahaya, terisolasi di jalur sempit lereng Lembang dengan ancaman tebing yang masih rawan runtuh di sisi kiri.

Jeritan panik dan isak tangis beberapa mahasiswi di barisan belakang terus bersahutan.

"Pak Reyhan! Gimana kalau tebing di samping kita longsor lagi?!" teriak seorang mahasiswa kelas D dengan wajah pucat pasi.

"Dengarkan instruksi saya dengan cermat," ujar Reyhan.

"Kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Bus ini dalam posisi stabil dan rem tangan darurat sudah terkunci sempurna. Jangan ada satu pun yang melonggarkan sabuk pengaman atau berdiri dari kursi tanpa perintah."

Reyhan mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Menggunakan tombol darurat, ia mencoba menghubungi ponsel Bu Citra yang berada di Bus satu di seberang tumpukan longsoran, lalu menyambungkannya ke tim SAR serta kepolisian daerah Lembang.

"Sinyal di kawasan ini melemah akibat badai, namun sambungan darurat telah terhubung," jelas Reyhan seraya memasukkan kembali ponselnya.

"Tim penyelamat dan alat berat sedang dalam perjalanan menuju lokasi. Estimasi tiba tiga puluh menit. Tugas kalian sekarang adalah tetap tenang dan menghemat cadangan energi."

Di barisan tengah, Nadhira menggenggam jemari Kania yang gemetar hebat. Nadhira sendiri bisa merasakan jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan, namun tatapan matanya yang terkunci pada sosok suaminya di depan lorong yang secara perlahan memberi rasa aman bagi Nadhira.

Reyhan mulai melangkah menyusuri lorong bus, memeriksa kondisi setiap mahasiswa satu per satu. "Kamu, pastikan jaket kamu terpasang rapat," tegurnya pada seorang mahasiswa yang kedinginan. "Kamu, minum air dulu biar tenang."

Saat langkah Reyhan tiba di samping barisan kursi Nadhira dan Kania, pria itu menghentikan langkahnya sejenak.

Secara formal, Reyhan menatap Kania terlebih dahulu. "Kania, kontrol napas kamu. Kamu aman di dalam bus ini."

"I-iya, Pak Reyhan..." bisik Kania seraya mengangguk pelan.

Lalu, mata cokelat gelap Reyhan beralih menatap Nadhira. Di balik lensa kacamatanya yang sedikit berembun, tatapan dingin sang dosen mencair sepenuhnya menjadi pancaran kepedulian.

Tanpa ucapan puitis atau gerakan dramatis yang bisa memicu kecurigaan mahasiswa lain, Reyhan merogoh ke dalam tasnya. Pria itu mengeluarkan sebuah botol minum thermal berbahan stanless steel milik pribadinya yang berisi teh jahe hangat.

Reyhan meletakkan botol itu di atas pangkuan Nadhira.

"Suhu di dalam kabin akan menurun seiring matinya mesin bus untuk menghindari kebocoran gas," tutur Reyhan menyusun alasan keselamatan di hadapan Kania. "Bagi minum hangat ini dengan Kania. Pastikan suhu tubuh kalian tidak turun ke tingkat hipotermia ringan."

Nadhira menatap botol hangat di pangkuannya, lalu mendongak menatap mata suaminya. Jemari kecil Nadhira tersentuh jemari Reyhan selama sepersekian detik saat Reyhan melepaskan pegangan pada botol tersebut, sebuah sentuhan hangat di antara riuhnya ketakutan di dalam bus.

"Terima kasih, Pak Reyhan," bisik Nadhira pelan, suaranya mantap suaminya itu.

Reyhan mengangguk kaku. "Tetap di posisi kamu."

Tiga puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap lambat. Hujan mulai mereda menjadi gerimis tebal, meski angin dingin masih bertiup kencang menembus celah jendela.

Dari balik kegelapan jalur bawah, raungan sirine mobil kepolisian dan dua unit truk pemadam kebakaran bersama tim SAR akhirnya terdengar. Cahaya lampu rotator merah dan biru menembus kabut tebal, menyinari Bus dua yang terisolasi.

Seorang petugas SAR berpakaian jingga tebal mengetuk pintu bus yang kemudian dibuka oleh Reyhan dari dalam.

"Selamat siang, Pak! Saya Komandan Tim Evakuasi," ujar petugas itu berteriak menyaingi suara angin.

"Jalur depan tertutup total oleh material tebal dan tidak bisa dilalui kendaraan selama enam jam ke depan. Kita harus memindahkan seluruh penumpang berjalan kaki menyusuri jalan setapak darurat di samping tebing menuju area aman di mana bus pengganti sudah menunggu!"

Mendengar kata 'berjalan kaki menyusuri tebing', kepanikan kecil kembali berdesir di antara para mahasiswa. Jalanan di luar penuh dengan lumpur licin dan bebatuan lepas.

Reyhan menepuk bahu petugas SAR itu singkat. "Saya mengerti. Saya akan memimpin barisan evakuasi dari dalam."

Reyhan kembali membalikkan tubuhnya menghadap mahasiswa. "Perhatian! Evakuasi akan dilakukan secara bertahap. Utamakan keselamatan langkah kaki. Tidak ada yang saling mendahului atau membawa koper besar. Cukup bawa tas punggung berisi barang berharga."

Reyhan membagi mahasiswa menjadi kelompok-kelompok kecil berisi lima orang. Ia menempatkan dua petugas SAR di barisan paling depan dan paling belakang.

"Kelompok pertama, silakan turun!" perintah Reyhan.

Satu per satu mahasiswa mulai melangkah turun membelah jalanan berlumpur di bawah pengawasan ketat. Reyhan berdiri tepat di tangga pintu bus, memberikan instruksi dan bantuan teknis pada setiap siswa yang melangkah keluar.

Kini giliran barisan Nadhira dan Kania untuk turun.

Kania berjalan lebih dulu dengan langkah gemetar, dibantu oleh petugas SAR menuju jalur setapak batu. Saat Nadhira tiba di tangga pintu bus, ia melihat betapa licinnya pijakan besi yang sudah terlapisi tanah lumpur merah dari sepatu mahasiswa sebelumnya.

"Hati-hati," tegur suara berat Reyhan yang berdiri tepat di samping tangga pintu.

Nadhira melangkah ragu. Dan benar saja, saat telapak sepatu ketsnya menyentuh anak tangga kedua yang licin, kakinya tergelincir.

"Aah!" Nadhira memekik pelan, tubuhnya hilang keseimbangan dan terlempar ke depan.

Sebelum tubuh Nadhira menyentuh tanah berlumpur yang basah, sebuah lengan kokoh dan tegap menyambar pinggangnya dengan kecepatan refleks luar biasa.

Reyhan menarik tubuh Nadhira mendekat ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan kokoh. Lengan kiri Reyhan melingkar erat di pinggang istrinya, sementara tangan kanannya berpegangan pada besi pintu bus, menahan beban tubuh mereka berdua tanpa goyah sedikit pun.

Kehangatan dan detak jantung Reyhan yang berdegup cepat seketika menyapa seluruh indra Nadhira. Wajah Nadhira terbenam di ceruk leher suaminya untuk beberapa detik yang terasa begitu intens.

Di tengah guyuran gerimis dan lalu lalang petugas SAR di luar yang sibuk menyorotkan senter, Reyhan menundukkan kepalanya tipis.

Bibirnya berbisik tepat di samping telinga Nadhira. "Saya memegang kamu," bisik Reyhan.

Nadhira meremas kerah jaket Reyhan dengan jemarinya yang dingin, menghirup kehangatan tubuh suaminya dalam-dalam sebelum perlahan mendongak. "Makasih... Pak Reyhan..."

Reyhan menegakkan kembali tubuh Nadhira dengan sangat hati-hati, membalikkan posisi tangannya secara formal untuk memegang siku Nadhira, mengubah dekapan intim itu menjadi pegangan bantuan profesional seorang dosen dalam sekejap mata.

"Pijak bagian tengah anak tangga yang tidak tertutup lumpur," ujar Reyhan dengan suara kaku dan datarnya yang kembali terpasang sempurna. "Jalan perlahan bersama Kania."

"Baik, Pak," sahut Nadhira menyengir tipis di balik sisa ketakutannya.

Dengan bantuan Reyhan, Nadhira berhasil melangkah turun ke jalanan setapak dengan selamat. Ia bergabung bersama Kania dan kelompok mahasiswa lain yang menunggunya di bawah naungan tenda darurat tim SAR.

Satu jam kemudian, seluruh mahasiswa kelas B dan D berhasil dievakuasi dengan selamat menyusuri jalur darurat menuju posko utama di kaki lereng. Tidak ada korban luka berat, hanya beberapa pakaian yang kotor terkena cipratan lumpur.

Dua bus pengganti dari armada pariwisata telah siap menyambut mereka di posko. Bu Citra yang menyambut rombongan dari Bus dua langsung memeluk beberapa mahasiswi seraya menangis lega.

"Terima kasih banyak, Pak Reyhan!" ujar Bu Citra penuh rasa syukur saat Reyhan melangkah tiba paling akhir di posko bersama tim SAR. "Kalau bukan karena kepemimpinan Pak Reyhan yang tenang di Bus dua, saya gak tahu gimana anak-anak menghadapi situasi longsor tadi."

Reyhan merapikan lengan jaketnya yang sedikit basah oleh air hujan. Wajahnya tetap tenang dan tanpa ekspresi berlebihan.

"Ini adalah bagian dari tanggung jawab dan kewajiban saya sebagai dosen pendamping, Bu Citra," jawab Reyhan datar dan lugas.

"Yang terpenting seluruh mahasiswa berada dalam kondisi lengkap dan selamat."

Dari jarak lima meter, Nadhira berdiri berselimutkan kain sarung tebal yang dibagikan petugas posko, menyesap teh hangat dari botol termos milik Reyhan. Ia menatap sosok suaminya yang sedang berbicara resmi dengan polisi dan Bu Citra.

...Bersambung... ...

1
Hajjah Mahniati
lanjut
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!