“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Kalian ..." Elara tak bisa melanjutkan kata-katanya karena begitu shock ketika bangun dia mendapati teman-teman Dreven berlutut sambil menyilangkan kedua tangannya dan menjepit kuping mereka masing-masing bak anak SD yang sedang dihukum.
Tak hanya itu, wajah mereka memerah seperti bekas tamparan seseorang.
"E-Elara, kami minta maaf. Tolong maafkan kami!" Ucap mereka dengan kompak sambil merengek seolah mereka telah dimarahi habis-habisan oleh seseorang.
Elara masih dalam keadaan setengah sadar, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi. Dia menatap ke arah Dreven yang duduk di kursi rodanya dengan santai, menyilangkan tangan di depan dada dengan ekspresi datar tapi penuh kemenangan.
"Apa yang terjadi?" Elara akhirnya bertanya, suaranya masih serak setelah kejadian semalam.
Leandro, yang masih dalam posisi dihukum, menundukkan kepalanya. "Kami hanya... ingin bercanda, tapi tidak menyangka efeknya akan separah itu..."
Kiera menghela napas panjang. "Dan akibatnya, kami dihajar oleh bodyguard-bodyguard si brengsek itu," ujarnya sambil melirik Dreven dengan kesal.
Andre, yang wajahnya masih terlihat memerah, ikut mengangguk. "Dan hukumannya belum selesai... katanya kami masih harus melakukan apa saja yang kau minta."
Elara memijat keningnya karena pusing, "Jika begitu, kalian pergi dan jangan dekat denganku. Itu permintaan yang paling aku inginkan."
Keempat orang yang masih dalam posisi hukuman itu langsung saling bertukar pandang, lalu menoleh ke arah Dreven dengan ekspresi meminta belas kasihan.
"Hei, ini terlalu berlebihan, kan?" keluh Andre dengan wajah penuh harap.
Dreven hanya mengangkat bahu tanpa sedikit pun niat membantu. "Permintaannya sudah jelas. Kalian yang menyinggungnya, jadi kalian yang harus menerima akibatnya."
Kiera mendecak kesal. "Sial, baru kali ini aku dihukum seperti ini oleh seorang wanita."
Leandro menghela napas panjang, lalu berdiri sambil menepuk bahunya sendiri. "Baiklah, kami akan menjauhi Nyonya Besar selama yang dia mau. Tapi jangan salahkan kami kalau suasana jadi membosankan."
Elara tidak menanggapi, dia hanya menggerakkan tangannya dengan gerakan mengusir mereka seperti lalat. "Kalian masih di sini? Aku pikir kalian sudah berjanji untuk menjauh."
Dengan berat hati, mereka semua akhirnya bangkit dan pergi satu per satu, meskipun Andre masih sempat berbisik pelan pada Rastha, "Kita cari cara buat balas dendam nanti."
Elara akhirnya menarik napas lega, lalu menatap Dreven dengan curiga. "Kenapa kau begitu menikmati ini?"
Dreven menyeringai, menggerakkan kursi rodanya mendekat lalu menundukkan wajahnya ke arah Elara. "Karena aku menyukai istriku yang galak."
Elara mendengus sinis dan langsung melempar bantal ke arahnya. "Pergi sana, jangan menggangguku!"
"Tentu saja aku akan terus mengganggumu."
Elara mendengus kesal, lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dreven dengan bingung.
"Pesan tiket pulang, aku tak menyukai teman-temanmu dan aku tak menyukai dirimu! Lebih baik aku di rumah dan menikmati ketenangan," ucapnya ketus.
Mata Dreven menyipit saat melihat Elara dengan santainya mengetik di ponselnya. Dalam satu gerakan cepat, dia meraih benda itu dari tangannya—meskipun dari kursi roda, refleksnya tetap cepat.
"Hey! Kembalikan!" Elara berusaha meraih ponselnya kembali, tapi Dreven dengan santai mengangkatnya tinggi-tinggi di luar jangkauan.
Pria itu memeriksa layar sebentar sebelum mendengus. "Kau benar-benar ingin kabur, huh?"
"Bukan kabur. Aku hanya tidak ingin berada di sini lebih lama lagi!" Elara mendelik marah, tangannya masih berusaha meraih ponselnya.
Dreven menyeringai dan dengan mudah menyelipkan ponsel itu ke dalam saku celananya. "Sayangnya, tiket pulangmu sudah hangus."
Elara melotot. "Kau pikir kau siapa? Kau tak bisa mengatur hidupku sesukamu!"
Dreven menatapnya santai dari kursi rodanya. "Oh, tapi aku bisa. Kau masih istriku selama setengah tahun ke depan, bukan?"
Elara menggeram kesal. "Menyesal sekali aku setuju dengan kontrak bodoh itu!"
Dreven tersenyum miring. "Terlambat. Sekarang, ayo kita makan siang. Aku tidak mau istriku kelaparan dan kehilangan energinya hanya karena kesal padaku."
"Kembalikan dulu ponselku."
Dreven mengembalikan ponselnya lalu Elara segera pergi ke kamar mandi.
Tanpa disadari oleh pria itu. Diam-diam Elara mengirim pesan pada Leo untuk memesankan tiket kepulangannya, dia benar-benar tak bisa menikmati liburan ini jika ada teman-teman Dreven. Satu saja sudah mengesalkan apalagi ada banyak.
Setelah selesai, dia menarik ponselnya di samping wastafel dan pergi mandi.
Tapi satu hal yang baru dia sadari. "Siapa yang mengganti bajuku kemarin?"
---
"Ini adalah makanan khas Dubai yang paling terkenal, Nyonya. Saya yakin anda akan menyukainya," kata sang koki yang secara khusus menyiapkan hidangan makan siang untuk Elara dan Dreven.
Elara menatap hidangan di depannya dengan ekspresi tak terbaca. Aroma rempah yang kaya langsung memenuhi hidungnya, membuat perutnya yang sebenarnya lapar sedikit bergejolak.
Dreven, yang duduk di seberangnya dengan kursi rodanya, mengamati reaksinya dengan senyum kecil. "Cobalah, kau tidak akan menyesal."
Elara mendesah, mengambil sendok dan mencicipi satu suapan kecil. Rasa daging yang lembut berpadu dengan bumbu khas Timur Tengah memenuhi mulutnya, membuat matanya sedikit melebar tanpa sadar.
Koki yang berdiri di samping tersenyum bangga. "Bagaimana, Nyonya? Apakah sesuai dengan selera Anda?"
Elara berdehem pelan, berusaha menutupi kekagumannya. "Lumayan."
Dreven tertawa kecil, jelas tidak percaya dengan jawaban datarnya. "Jangan pura-pura. Aku tahu kau menyukainya."
Elara mendelik tajam ke arahnya, tapi tetap melanjutkan makannya dengan lahap. Dreven menggeleng pelan, menyesap anggurnya dengan santai.
"Kau lihat? Ada manfaatnya juga tetap di sini dan tidak pulang," ujarnya sambil tersenyum miring.
Elara tersenyum tipis diam-diam, tanpa diketahui oleh Dreven jika tiketnya pulang malam nanti telah siap. Biarkan saja pria itu bermain dengan teman-teman anehnya itu, yang penting urusannya disini sudah selesai.
"Nanti malam aku ada urusan, jika kau bosan kau bisa berjalan-jalan dengan pengawal."
Mendengar hal itu sontak Elara langsung menoleh, wajahnya tampak bersemangat tapi dengan cepat dia merubahnya menjadi datar. "Kemana?"
"Aku ingin membeli tanah, bawahanku bilang jika pria itu sudah ditemukan. Jika ini berhasil aku akan membelikanmu pulau kecil," kata Dreven dengan tenang.
Elara hampir tersedak mendengarnya. Pulau kecil? Pria ini benar-benar gila.
Dia pura-pura tetap tenang, meletakkan sendoknya dan menatap Dreven dengan ekspresi datar. "Aku tidak butuh pulau."
Dreven menyeringai. "Tapi aku butuh. Mungkin akan bagus juga jika kita berbulan madu di sana."
Elara mendelik. "Aku tidak akan berbulan madu denganmu."
Dreven tertawa kecil, menyesap anggurnya lagi. "Kita lihat saja nanti."
Elara menahan keinginannya untuk melempari sesuatu ke wajah pria itu. Tapi mendengar tanah... apa pria itu juga tahu jika harga tanah di tempat tertentu akan bernilai tinggi nantinya?
Kenapa kebetulan sekali?
Tapi karena bukan urusannya Elara mengabaikannya, toh Dreven tak bisa mengganggu tanah yang sudah menjadi miliknya.
Hingga saat mereka selesai makan, Dreven mengajak Elara berjalan sebentar di pinggiran kota.
"Kau mau tas?"
"Tidak," tolak Elara dengan datar.
"Ada butik terkenal, kau mau dress?"
"Tidak."
"Sepatu?"
"Tidak."
Dreven berdecak, "Setidaknya mintalah sesuatu. Kau tahu? banyak wanita yang kencan denganku meminta banyak hal."
Namun Elara tak menanggapi ucapan pria itu, dia malah fokus pada anak yang tiba-tiba mengejar untuk mengambil bolanya. Dengan cepat dia berlari ke arah anak itu ketika melihat truk yang akan melintas.
"Elara!" Dreven refleks berteriak dari kursi rodanya, matanya membelalak melihat wanita itu berlari tanpa ragu.
Elara berhasil menarik anak itu ke pinggir jalan tepat sebelum truk melintas dengan kecepatan tinggi. Jantungnya berdetak kencang, napasnya memburu. Anak kecil di pelukannya menangis ketakutan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Elara lembut, mencoba menenangkan bocah itu.
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/