NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mediasi yang Menentukan Segalanya

Jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika sebuah jendela kamar terbuka perlahan. Seorang pria berpakaian serba gelap masuk dengan hati-hati, kemudian menutup kembali jendela itu tanpa menimbulkan suara berarti.

Bastian berdiri beberapa saat, memastikan perempuan yang tertidur di atas ranjang tidak terbangun.

Diandra.

Istrinya.

Atau mungkin, sebentar lagi hanya akan menjadi mantan istrinya.

Bastian melangkah mendekat. Ia duduk di sisi ranjang dan menatap wajah Diandra yang terlihat tenang dalam tidurnya. Cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai menerangi sebagian wajah perempuan itu.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dada Bastian.

Selama ini, ia terlalu sering menganggap keberadaan Diandra sebagai sesuatu yang pasti. Ia pergi sesuka hati, sibuk dengan pekerjaannya, sementara Diandra tetap berada di rumah mengurus keluarga dan anak-anak mereka.

Tidak pernah menuntut.

Tidak pernah meminta banyak.

Bahkan ketika Bastian lebih sering memberikan perhatian kepada orang lain, Diandra masih berusaha mempertahankan rumah tangga mereka.

Sampai Sean datang ke dalam hidup mereka dan semuanya berubah.

Bastian mengangkat tangannya, lalu mengusap rambut Diandra dengan lembut.

"Apa kabar, Sayang?"

Suaranya nyaris hanya berupa bisikan.

"Kamu kelihatan baik-baik saja tanpa aku."

Bastian tersenyum pahit.

"Jadi, apa sekarang kamu benar-benar bahagia?"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara napas Diandra yang teratur.

Bastian menatapnya cukup lama sebelum kembali berbicara.

"Aku tahu aku terlambat menyadarinya. Selama ini aku pikir kamu akan selalu menungguku."

Jari-jarinya menyentuh pipi Diandra.

"Aku salah."

Ia menarik napas panjang.

"Sebentar lagi kita mungkin benar-benar berpisah. Tapi aku belum siap kehilangan kamu."

Bastian meraih tangan Diandra. Tatapannya jatuh pada jari manis perempuan itu.

Cincin pernikahan mereka sudah tidak terpasang.

Dadanya seketika terasa kosong.

Bastian menoleh ke nakas. Ketika melihat cincin itu tergeletak di sana, ia mengambilnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Kamu benar-benar ingin melepaskanku, ya?"

Ia memasangkan kembali cincin tersebut ke jari manis Diandra.

Bastian tersenyum tipis.

"Seharusnya cincin ini selalu ada di sini."

Ia mengecup punggung tangan Diandra.

Namun saat wajahnya mendekat, Diandra tiba-tiba bergerak.

"Eughh... Mas Bastian."

Bastian langsung membeku.

Mata Diandra perlahan terbuka.

Untuk beberapa detik, keduanya saling menatap.

Jantung Bastian berdegup kencang.

Ia takut Diandra terbangun sepenuhnya. Takut perempuan itu berteriak. Takut Diandra kembali menatapnya dengan kebencian yang selama ini pantas ia terima.

Namun Diandra justru tersenyum kecil.

"Sebentar lagi kita bercerai..." gumamnya dengan mata setengah terpejam.

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Bastian seolah pria itu hanya bagian dari mimpinya.

"Tapi kenapa aku masih memimpikan kamu?"

Senyum Diandra perlahan berubah menjadi getir.

"Mas Bastian..."

"Aku ingin melupakan kamu."

Bastian terdiam.

"Kita akan berpisah. Jadi tolong jangan datang lagi ke hidupku. Bahkan dalam mimpi pun jangan."

Suara Diandra semakin lirih.

"Aku sudah terlalu lelah."

Bastian menahan napas.

"Tolong berhenti menyakitiku."

Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Pergilah jauh-jauh dari hidupku."

Diandra menarik napas, lalu berbisik dengan suara yang membuat hati Bastian terasa hancur.

"Aku membencimu, Mas Bastian."

Bastian menundukkan kepala.

"Aku benar-benar membencimu."

Diandra kembali memejamkan mata dan tak lama kemudian tertidur.

Sementara Bastian masih duduk di sisi ranjang.

Matanya memerah.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa dalam luka yang telah ia tinggalkan di hati istrinya.

"Aku pantas dibenci," bisiknya.

Ia menatap Diandra dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

"Tapi aku belum bisa melepaskanmu."

Bastian mengusap rambut Diandra sekali lagi.

"Aku akan memperbaiki semuanya. Entah berapa lama waktunya."

Ia berdiri dari sisi ranjang dan menatap perempuan itu untuk terakhir kalinya malam itu.

"Kali ini aku yang akan berusaha membuatmu memilihku lagi."

Dengan langkah berat, Bastian kembali menuju jendela.

Namun sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.

"Maafkan aku, Diandra."

Lalu ia menghilang dalam gelapnya malam, meninggalkan Diandra yang masih terlelap tanpa mengetahui bahwa pria yang selama ini berusaha ia lupakan baru saja datang menemuinya.

Pukul 01.20 dini hari.

Sean berdiri seorang diri di rooftop gedung Bagaskara Group. Sebatang rokok terselip di antara jarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memejamkan mata.

Sudah cukup lama Sean tidak merokok. Ia bukan perokok berat. Biasanya, ketika pikirannya terlalu penuh, rokok hanya menjadi pelarian sesaat.

Namun malam ini berbeda.

Ada terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya.

Sean mendongak, menatap langit malam yang luas.

"Diandra..."

Nama itu keluar lirih dari bibirnya.

Perempuan yang dicintainya.

Perempuan yang ingin ia perjuangkan.

Perempuan yang selama ini ia bayangkan akan menjadi teman hidupnya.

Tapi sekarang, semua keyakinan itu seakan runtuh dalam satu malam.

Sean mengepalkan tangan.

Belum tentu Diandra adalah kakaknya.

Belum tentu.

Bisa saja kemiripan wajah Diandra dengan Ayunda hanyalah kebetulan. Bisa saja kalung berliontin biru yang dimiliki Diandra tidak ada hubungannya dengan masa lalu Ayunda. Bisa saja kecelakaan yang terjadi puluhan tahun lalu sama sekali tidak berkaitan dengan semua ini.

Semuanya mungkin hanya kebetulan.

Namun semakin Sean berusaha menyangkalnya, semakin banyak potongan fakta yang justru terasa saling terhubung.

"Kenapa harus begini?"

Sean tertawa hambar.

"Gue cinta sama lo, Diandra."

Suaranya bergetar.

"Gue bahkan udah ngebayangin kita hidup bareng."

Ia mengusap wajah dengan kasar.

"Terus sekarang gue harus percaya kalau orang yang gue cintai mungkin kakak gue sendiri?"

Dada Sean terasa semakin sesak.

"ARGHH!"

Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi.

"Bangsat!"

Matanya mulai memerah.

Sean menunduk, berusaha menahan air mata yang sejak tadi memenuhi pelupuk matanya.

"Gue nggak bisa terima ini..."

Satu tetes air mata akhirnya jatuh.

Sean tertawa getir.

"Sial. Gue sampai nangis gara-gara beginian."

Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Setelah beberapa detik menimbang, Sean akhirnya mencari satu nama yang ia percaya.

Angga.

Panggilan tersambung setelah beberapa kali berdering.

"Lo belum tidur?" suara Angga terdengar dari seberang.

Sean menarik napas.

"Belum, Bang. Gue mau nanya sesuatu."

"Apaan?"

"Kalau saudara seayah itu boleh menikah nggak?"

Hening sesaat.

"Ya jelas nggak boleh. Saudara seayah tetap saudara kandung."

Sean memejamkan mata.

Jawaban itu terasa seperti vonis.

"Kalau... misalnya mereka tetap memaksa menikah?"

"Sean, kenapa lo tiba-tiba nanya begitu?"

"Jawab aja, Bang."

Nada suara Sean terdengar tegas, meski sebenarnya ia sedang berusaha keras agar suaranya tidak pecah.

Angga menghela napas.

"Secara agama nggak diperbolehkan. Dalam hukum perkawinan juga ada larangan menikah dengan saudara sedarah. Kalau hubungan darah itu benar, ya mereka nggak boleh menikah."

Sean terdiam.

Tangannya mencengkeram ponsel semakin erat.

Angga kembali bertanya, "Kenapa? Jangan bilang bokap lo punya anak lain, terus lo jatuh cinta sama orang itu?"

Sean tidak menjawab.

"Sean?"

"Ada kemungkinan seperti itu."

Hening.

"Lo sekarang di mana? Gue samperin."

"Nggak usah."

"Sean, jangan sok kuat. Cerita sama gue."

Sean menatap kosong ke arah lampu-lampu kota.

"Gue bisa menyelesaikan masalah gue sendiri, Bang."

"Lo yakin?"

Sean tersenyum pahit.

"Gue udah gede. Gue bukan anak SMA lagi."

Sebelum Angga sempat menjawab, Sean memutuskan panggilan.

Beberapa detik ia hanya diam.

Kemudian emosinya meledak.

Ponsel di tangannya dilempar keras ke arah dinding pembatas rooftop.

BRAK!

Suara benturannya terdengar di tengah sunyinya malam.

Sean mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kenapa harus gue?"

Ia menengadah.

"Kenapa dari sekian banyak perempuan di dunia ini, gue malah jatuh cinta sama seseorang yang mungkin adalah kakak gue sendiri?"

Suaranya semakin parau.

"Kenapa, Tuhan?"

Sean menjatuhkan tubuhnya ke lantai rooftop. Ia menatap langit dengan mata yang mulai basah.

"Kalau Diandra memang kakak gue..."

Suaranya nyaris tak terdengar.

"Terus gue harus berhenti mencintainya bagaimana?"

Satu tetes air mata mengalir dari sudut matanya.

Untuk pertama kalinya, Sean berharap semua kenyataan yang baru diketahuinya hanyalah sebuah kesalahpahaman.

Karena jika semuanya benar...

Maka cinta yang selama ini ia perjuangkan mungkin memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjadi miliknya.

"Ih, kesel banget!"

Serly menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah kesal. Sejak pagi, bibirnya terus mengerucut karena memikirkan satu hal.

Aretha yang baru saja keluar dari dapur menghampiri putrinya.

"Kenapa pagi-pagi sudah cemberut?"

Serly langsung menatap ibunya.

"Mas Bastian belum menghubungiku sejak kemarin, Ma."

Ia mengembuskan napas kesal.

"Masa aku terus yang datang ke rumahnya? Aku juga capek kalau harus mengejar-ngejar dia. Harusnya dia yang mengejarku."

Aretha duduk di samping putrinya.

"Dulu waktu kami masih pacaran, Mas Bastian bahkan nggak mau aku jauh darinya. Dia selalu ingin aku berada di dekatnya. Tapi sekarang..." Serly mendengkus. "Dia malah sibuk mencari istrinya yang pergi."

Serly mendadak tersenyum sinis.

"Aku malah berharap Diandra nggak pernah ditemukan."

Aretha terkekeh.

"Kamu bilang Diandra itu mainanmu. Kalau dia benar-benar hilang selamanya, nanti kamu kehilangan hiburan."

Serly terdiam sejenak.

"Iya juga."

Ia menyandarkan kepala ke sofa.

"Sekarang Diandra pergi, aku jadi nggak punya bahan untuk membuat Mas Bastian kesal."

"Kalau begitu, justru sekarang kesempatanmu semakin besar."

Serly menoleh.

"Maksud Mama?"

"Diandra sedang jauh dari Bastian. Bukankah itu kesempatan bagus untuk mendekatinya?"

Serly menghela napas.

"Bisa saja, Ma. Tapi aku merasa Mas Bastian sudah berubah."

"Berubah bagaimana?"

"Dia seperti sudah nggak terlalu peduli sama aku."

Serly memainkan ujung rambutnya.

"Mas Bastian mengizinkanku datang ke rumahnya mungkin hanya karena anak-anak. Kalau bukan karena mereka, mungkin dia sudah menyuruhku pergi."

Aretha mengangkat alis.

"Jadi kamu mau menyerah?"

Serly langsung menggeleng.

"Enggak!"

"Atau jangan-jangan kamu sudah menemukan CEO lain yang lebih kaya dan lebih tampan?"

Serly tertawa kecil.

"Belum ada, Ma."

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

"CEO kaya memang banyak. Tapi yang masih muda, sukses, dan tampan seperti Mas Bastian itu jarang."

Aretha tersenyum puas.

"Nah, kalau begitu jangan mudah menyerah. Kalau kamu memang menginginkannya, perjuangkan."

Serly mengangguk.

"Benar juga."

Senyumnya perlahan kembali mengembang.

"Pagi ini aku mau ke rumah Mas Bastian. Mama mau ikut?"

"Untuk apa?"

"Sekalian ketemu Azzam dan Azzura. Mama mau ikut?"

Aretha menggeleng.

"Maaf, Sayang. Mama punya urusan pagi ini."

"Urusan apa?"

"Urusan pekerjaan."

Serly mengangguk.

"Ya sudah. Aku ke kamar dulu. Mau bersiap."

"Iya."

Saat Serly bangkit, Aretha tersenyum sambil memperhatikannya.

"Semangat. Mama yakin kamu masih bisa membuat Bastian kembali mengejar kamu."

Serly berhenti di tangga dan menoleh.

"Semoga saja."

"Jangan cuma berharap. Buat dia kembali menginginkanmu."

Serly tersenyum penuh percaya diri.

"Aku nggak sabar menunggu hari itu."

Beberapa waktu kemudian, Serly keluar dari kamarnya dengan penampilan yang jauh lebih rapi. Ia mengenakan pakaian yang sengaja dipilih untuk menarik perhatian Bastian.

Setelah berpamitan, Serly langsung pergi menuju rumah Bastian.

Sementara itu, Aretha juga bersiap meninggalkan rumah.

Namun tujuannya berbeda.

Ia masuk ke mobil dan segera melaju meninggalkan kediamannya.

Beberapa saat kemudian, Aretha membuka map yang berada di kursi sebelahnya.

Matanya membaca alamat yang tertera di sana.

Panti Asuhan Kasih Bunda.

Aretha menarik napas panjang.

Sejak Sean mengatakan bahwa dirinya mengenal Ola, Aretha merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia tidak bisa mengabaikannya.

Selama ini, ketika ingin mengetahui sesuatu, Aretha selalu mengandalkan orang-orang kepercayaannya. Namun kali ini ia memilih datang sendiri.

Ada terlalu banyak pertanyaan yang ingin dijawab.

Siapa sebenarnya Ola?

Seberapa dekat hubungan Ola dengan Sean?

Dan yang paling penting...

Apa hubungan anak itu dengan Ayunda?

Aretha kembali melihat map di tangannya.

Ia ingin mengetahui kapan Ayunda meninggalkan Ola di panti asuhan tersebut dan bagaimana kehidupan Ola selama berada di sana.

"Kalau Sean benar-benar dekat dengan Ola, aku harus tahu alasannya."

Aretha menatap lurus ke depan.

"Dan kalau ada sesuatu yang disembunyikan selama bertahun-tahun, aku akan menemukannya."

Ia menambah kecepatan mobil.

Hampir satu jam perjalanan, akhirnya sebuah papan nama terlihat dari kejauhan.

Panti Asuhan Kasih Bunda.

Aretha memperlambat kendaraan dan memasuki halaman panti asuhan.

Sebelum turun, ia melihat beberapa kotak makanan yang sudah disiapkan di bagasi.

Ia sengaja membawakan makanan untuk anak-anak panti.

Namun kedatangannya hari ini bukan sekadar untuk memberikan bantuan.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Aretha ingin mengetahui kebenaran tentang Ola.

Dan ia tidak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban.

Anak-anak panti langsung berkerumun ketika melihat kotak-kotak makanan yang dibawa Aretha. Beberapa dari mereka bahkan berebut ingin mendapatkan bagian lebih dulu.

Aretha tersenyum melihat tingkah mereka.

"Pelan-pelan. Semuanya kebagian, kok."

Ia kemudian menyapa anak-anak yang berdiri di sekitarnya.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Tante!"

Suara riang anak-anak membuat suasana panti terasa hangat.

Tak lama kemudian, seorang perempuan yang tampaknya sebaya dengan Aretha keluar dari dalam bangunan utama dan menghampirinya.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Aretha menjabat tangan perempuan itu.

"Saya Aretha. Saya datang ingin memberikan donasi untuk panti ini."

"Saya Liliana, pengurus panti. Mari, silakan masuk."

Liliana mempersilakan Aretha menuju sebuah meja yang berada di teras samping bangunan.

"Duduk dulu, Bu. Saya ambilkan minuman."

"Jangan repot-repot."

"Nggak merepotkan."

Liliana tersenyum lalu masuk ke dalam.

Aretha mengedarkan pandangan.

Entah kenapa, tempat ini terasa begitu familiar.

Pemandangan anak-anak yang berlarian, suara tawa mereka, serta bangunan sederhana itu tiba-tiba menariknya kembali ke masa lalu.

Dulu, ia juga pernah hidup di tempat seperti ini.

Saat usianya baru lima tahun, kedua orang tua Aretha meninggal dunia akibat kecelakaan. Tidak ada kerabat yang bersedia merawatnya sehingga ia akhirnya dititipkan di sebuah panti asuhan.

Dua tahun kemudian, hidupnya berubah.

Aretha diadopsi oleh pasangan kaya raya yang belum memiliki anak.

Ia dibawa tinggal di sebuah kompleks mewah. Di sanalah Aretha bertemu dengan dua anak yang kelak menjadi bagian penting dalam hidupnya—Ayunda dan Abian.

Mereka bertiga tumbuh bersama dan menjadi sahabat sejak kecil.

Hidup Aretha sempat terasa sempurna.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.

Ketika orang tua angkatnya akhirnya memiliki anak kandung, perhatian mereka perlahan berubah. Aretha mulai merasa tersisihkan.

Yang paling menyakitkan, orang tua angkatnya bahkan pernah berniat mengembalikannya ke panti asuhan.

Beruntung, keluarga Ayunda datang dan mengambil alih hak asuhnya.

Orang tua Ayunda membesarkan Aretha dengan penuh kasih hingga ia dewasa.

"Silakan."

Suara Liliana membuat Aretha tersadar dari lamunannya.

Ia menoleh dan tersenyum.

"Terima kasih."

Liliana meletakkan secangkir teh di hadapannya, lalu duduk di kursi sebelah.

Setelah menyesap teh beberapa kali, Aretha meletakkan cangkirnya.

"Saya ingin bertanya. Bagaimana prosedur untuk menjadi donatur tetap di sini?"

Liliana tersenyum.

"Sebenarnya cukup mudah. Siapa pun bisa menjadi donatur. Bisa dalam bentuk uang, barang, bahkan tenaga."

"Untuk donasi uang, apakah ada nominal tertentu?"

"Tidak ada batas khusus. Ibu bisa memberikan sesuai kemampuan."

Liliana melanjutkan, "Kalau barang, biasanya kami membutuhkan pakaian anak-anak, perlengkapan sekolah, buku, atau mainan. Kalau Ibu memiliki waktu, bisa juga datang menemani mereka belajar atau memberikan keterampilan tertentu."

Aretha mengangguk.

"Saya tertarik melakukan semuanya."

Ia mengambil sebuah amplop cokelat dari tasnya.

"Tapi untuk saat ini saya hanya membawa uang tunai. Jadi saya mulai dari donasi ini."

Aretha menyerahkan amplop tersebut.

Liliana menerimanya dengan kedua tangan.

"Terima kasih banyak, Bu Aretha. Bantuan seperti ini sangat berarti untuk anak-anak."

"Sama-sama."

Aretha tersenyum.

Namun setelah itu, ekspresinya berubah seolah baru mengingat sesuatu.

"Oh ya, Bu Liliana. Saya sebenarnya datang bukan hanya untuk berdonasi."

Liliana menatapnya.

"Ada yang ingin saya tanyakan."

"Tentu. Kalau saya tahu jawabannya, saya akan membantu."

Aretha menarik napas pelan.

"Saya memiliki seorang putra bernama Sean."

Liliana mengangguk.

"Sean adalah teman dekat Ola."

Mendengar nama itu, wajah Liliana sedikit berubah.

Aretha melanjutkan dengan nada hati-hati.

"Sejak Ola meninggal secara tragis setelah kejadian di rooftop gedung tiga puluh ketika menghadiri acara di sebuah Club, Sean sangat terpukul. Dia merasa kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya."

Aretha menundukkan pandangan sejenak.

"Saya ingin membuat sebuah film dokumenter sederhana tentang kehidupan Ola. Bukan untuk membuka luka lama, tetapi supaya Sean bisa mengenang sahabatnya dengan cara yang lebih baik."

Liliana terdiam beberapa saat.

"Saya baru tahu kalau Ola memiliki teman bernama Sean."

Aretha tersenyum tipis.

"Memangnya selama ini Ola tidak pernah bercerita tentang Sean?"

Liliana menggeleng.

"Kalau soal laki-laki, biasanya Ola cukup terbuka kepada saya. Terakhir kali dia bercerita, dia sedang dekat dengan seseorang bernama Richard."

"Richard?"

"Iya."

Liliana mengangguk.

"Mereka saling mencintai dan bahkan pernah membicarakan rencana untuk menikah."

Aretha mempertahankan senyumnya meskipun dalam hati mulai merasa tidak nyaman.

Informasi itu tidak menjawab apa pun yang ingin diketahuinya.

Ia justru semakin yakin bahwa Liliana mungkin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Ola daripada yang dikatakannya.

"Mungkin..." Aretha berkata perlahan, "di mata Ola, Sean memang bukan seseorang yang perlu dia ceritakan."

Liliana mengangguk.

"Mungkin saja."

Aretha menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau begitu, saya ingin meminta bantuan Ibu."

Liliana menatapnya penuh perhatian.

"Tentu. Apa yang ingin Ibu ketahui?"

Senyum kecil muncul di wajah Aretha.

Akhirnya.

Inilah kesempatan yang ia tunggu.

"Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang Ola."

Aretha menatap Liliana lekat-lekat.

"Terutama tentang masa kecilnya. Siapa yang membawanya ke panti ini, kapan dia datang, dan apakah ada keluarga yang pernah mencarinya."

Jantung Aretha berdegup lebih cepat.

Jika kecurigaannya benar, jawaban Liliana mungkin akan menjadi kepingan terakhir yang selama ini mereka cari.

Dan Aretha bertekad tidak akan melewatkan satu informasi pun.

"Bagaimana sebenarnya Ibu menemukan Ola?"

Pertanyaan Aretha terdengar tenang, tetapi matanya terus memperhatikan ekspresi Liliana.

Liliana menarik napas sebelum menjawab.

"Sekitar dua puluh lima tahun lalu. Ada seorang pemulung yang membawa seorang bayi ke panti ini."

"Bayi?"

"Iya. Katanya dia menemukan bayi itu di dekat tempat pembuangan sampah."

Aretha terdiam.

Pikirannya langsung berkelana.

Dua puluh lima tahun yang lalu...

Jika semua perkiraannya benar, mungkin saat itu Ayunda melahirkan dalam keadaan sendirian. Mungkin karena ketakutan, Ayunda meninggalkan bayinya begitu saja.

Namun satu pertanyaan terus mengganggu Aretha.

Di mana Ayunda sekarang?

Apakah perempuan itu masih hidup?

Atau sudah tidak ada?

Diam-diam Aretha berharap Ayunda tidak pernah kembali.

Selama bertahun-tahun ia berusaha mempertahankan kehidupannya. Ia tidak ingin masa lalu datang menghancurkan semuanya.

Aretha kemudian mengambil ponsel dari tasnya.

"Bu Liliana, saya ingin memastikan sesuatu."

Ia membuka sebuah foto, lalu memperlihatkan gambar kalung berlian biru kepada Liliana.

"Apakah Ibu pernah melihat kalung ini?"

Liliana memperhatikan foto tersebut cukup lama.

"Kalung ini?"

"Iya."

Liliana menggeleng.

"Bukan. Kalung itu bukan milik Ola."

Alis Aretha langsung berkerut.

"Kalau begitu, milik siapa?"

Liliana terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Diandra."

Nama itu membuat tubuh Aretha menegang.

"Diandra?"

"Iya. Ola pernah mengambil kalung itu dari Diandra."

Aretha menatap Liliana dengan tidak percaya.

"Malam ketika Ola pergi ke acara di sebuah Club, saya melihat dia mengenakan kalung tersebut. Saya sempat menegurnya dan meminta agar dikembalikan."

Liliana menghela napas.

"Ola bilang setelah acara selesai, dia akan mengembalikannya. Tapi malam itu justru menjadi malam terakhirnya."

"Dan kalung itu?"

"Hilang."

Aretha menelan ludah.

"Diandra siapa?"

Liliana menjawab tanpa curiga.

"Diandra. Istri Bastian."

Dunia Aretha seakan berhenti berputar.

Tangannya perlahan mengepal di atas meja.

"Bagaimana... bagaimana mungkin?"

Liliana mengerutkan dahi.

"Ada apa, Bu Aretha?"

Aretha bahkan hampir tidak mendengar pertanyaan itu.

Kalung tersebut...

Diandra...

Semuanya tiba-tiba terasa seperti kepingan puzzle yang selama ini salah ia susun.

Liliana melanjutkan penjelasannya.

"Setahu saya, kalung itu sudah bersama Diandra sejak dia masih bayi. Waktu ditemukan dulu, kalung tersebut ada di dalam bedong yang membungkus tubuh bayi Diandra."

Aretha membeku.

Bayi.

Bedong.

Kalung biru.

Ingatan tentang Ayunda langsung memenuhi kepalanya.

Selama ini Aretha mengira Ola adalah anak Ayunda.

Ia bahkan sudah mengambil keputusan berdasarkan keyakinan itu.

Namun sekarang semuanya berubah.

Ola bukan pemilik kalung tersebut.

Diandra-lah pemilik sebenarnya.

Dan jika kalung itu memang sudah bersama Diandra sejak bayi...

Maka kemungkinan yang selama ini Aretha takutkan justru berada tepat di depan matanya.

"Jadi... selama ini..."

Bibir Aretha bergetar.

Diandra.

Perempuan yang selama ini berada begitu dekat dengan keluarganya.

Perempuan yang memiliki hubungan dengan Bastian.

Dan yang paling mengerikan, ada kemungkinan hubungan Diandra dengan masa lalu Ayunda jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.

Aretha menggenggam tasnya erat-erat.

Tidak.

Ia tidak boleh kehilangan kendali.

Jika panik sekarang, Liliana bisa mencurigai sesuatu.

"Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Liliana.

Aretha segera mengangkat wajah dan memaksakan senyum.

"Saya baik-baik saja."

Ia berdiri.

"Saya baru teringat ada urusan yang sangat penting. Sepertinya saya harus pergi sekarang."

Liliana ikut berdiri.

"Tentu. Terima kasih banyak atas donasinya, Bu Aretha."

Aretha mengangguk.

"Sama-sama."

Ia segera meninggalkan ruangan.

Begitu sampai di mobil, Aretha masuk dan menutup pintu dengan cepat.

Tangannya langsung mencengkeram kemudi.

"Tenang..."

Ia mengatur napas.

"Tenang, Aretha."

Namun semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin pikirannya dipenuhi ketakutan.

Jika Diandra benar-benar anak Ayunda, maka semua yang selama ini ia sembunyikan bisa terbongkar.

"Ini nggak boleh terjadi."

Aretha menatap kosong ke depan.

"Bastian nggak boleh mengetahui kebenarannya."

Ia mengusap wajahnya.

Selama ini Bastian memang tidak menyukai Diandra seperti seharusnya seorang suami mencintai istrinya. Aretha harus mempertahankan keadaan itu.

Ia harus memastikan hubungan Bastian dan Diandra semakin jauh.

Karena jika Bastian mulai memperhatikan Diandra lebih dalam, bukan tidak mungkin ia akan menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi.

"Sial..."

Aretha menghantam kemudi dengan telapak tangannya.

"Kenapa Ola harus mengambil kalung itu?"

Kalau malam itu kalung tersebut tidak berpindah tangan, mungkin semua rahasia ini tidak akan pernah muncul ke permukaan.

Namun sekarang semuanya sudah terlambat.

Aretha menatap layar ponselnya.

Diandra masih menghilang.

Serly pernah mengatakan bahwa Diandra pergi dari rumah.

"Di mana kamu sekarang, Diandra?"

Ada kecemasan yang mulai merayap dalam dirinya.

Jika Diandra ditemukan sebelum Aretha bisa memastikan keadaan, kemungkinan besar rahasianya akan terbongkar.

Dan bukan hanya itu.

Bagaimana jika Ayunda ternyata masih hidup?

Bagaimana jika suatu hari perempuan itu kembali?

Aretha memejamkan mata.

Ia mengenal Ayunda sejak dulu.

Di balik wajahnya yang lembut, Ayunda bukan seseorang yang mudah ditaklukkan ketika sudah mengetahui kebenaran.

"Kalau Ayunda masih hidup..."

Aretha membuka mata dengan sorot penuh kekhawatiran.

"Semua yang sudah kubangun selama ini bisa hancur."

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa lalu yang selama ini ia kubur mulai mengetuk pintunya kembali.

Dan kali ini, Aretha tidak yakin masih bisa menghindarinya.

"Tidak... aku harus lebih berhati-hati."

Aretha masih berada di dalam mobil. Jemarinya mencengkeram kemudi, sementara pikirannya bekerja cepat mencari jalan keluar.

"Tenang, Aretha. Jangan sampai panik."

Ia mengambil ponsel dari dalam tas, membuka sebuah foto Diandra, lalu mengirimkannya kepada seseorang.

 Cari perempuan ini sampai ketemu. Aku ingin tahu keberadaannya, apa pun caranya. Kalau berhasil menemukannya, aku akan memberikan imbalan satu miliar.

Aretha meletakkan ponselnya.

Masalah uang bukan sesuatu yang perlu ia khawatirkan. Selama ini suaminya selalu memberikan apa yang ia butuhkan. Selain itu, ia juga memiliki saham di perusahaan sang suami.

Namun ada satu hal yang tidak pernah diketahui banyak orang.

Sebagian aset yang berada di tangannya bukanlah hasil kerja kerasnya sendiri.

Itu adalah bagian dari masa lalu yang pernah ia rebut dari Ayunda.

Dan Aretha tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya kembali.

Pagi harinya, Diandra terbangun dengan perasaan aneh.

Ia langsung memperhatikan tangan kirinya.

"Cincin ini..."

Diandra mengangkat tangan dan menatap cincin pernikahan yang kembali terpasang di jari manisnya.

"Perasaan semalam aku sudah melepasnya."

Ia mencoba mengingat kejadian malam sebelumnya.

Namun semakin ia mengingat, semakin jelas bayangan Bastian muncul dalam pikirannya.

Ia bermimpi bertemu suaminya.

Anehnya, mimpi itu terasa begitu nyata.

Diandra bahkan masih bisa mengingat sentuhan lembut di pipinya dan kecupan singkat yang seolah benar-benar terjadi.

Ia menyentuh bibirnya sendiri.

"Mungkin aku terlalu merindukan Mas Bastian."

Senyum tipis muncul, tetapi segera berubah menjadi kesedihan.

Hari ini bukan hari biasa.

Hari ini ia harus menghadiri mediasi perceraian.

Diandra menarik napas panjang.

Victor sebelumnya sudah berkomunikasi dengan pihak Bastian. Keduanya sepakat mengikuti proses mediasi di Pengadilan Agama.

"Aku harus kuat."

Diandra menatap dirinya di depan cermin.

"Aku nggak boleh berubah pikiran."

Ia sudah terlalu lama terluka.

Keputusan ini bukan dibuat dalam semalam.

"Semoga perceraian ini memang menjadi jalan terbaik untuk kami."

Ia tersenyum getir.

"Semoga setelah semuanya selesai, aku dan Mas Bastian bisa menemukan kebahagiaan masing-masing."

Pagi itu Diandra mengenakan dress bermotif bunga dengan panjang selutut, dipadukan dengan outer putih. Rambutnya ditata sederhana dan wajahnya dirias secantik mungkin.

Bukan karena ingin menggoda Bastian.

Ia hanya ingin datang dengan kepala tegak.

Jika hari ini adalah akhir dari pernikahannya, ia ingin menutupnya dengan sebaik mungkin.

"Oke, Diandra."

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Kamu kuat. Kamu pasti bisa melewati hari ini."

Diandra kemudian keluar dari kamar.

Di ruang tengah, Victor, Angga, dan Elsa sudah menunggunya.

Elsa langsung tersenyum ketika melihat Diandra.

"Sudah siap?"

"Sudah, Tante."

Diandra membalas senyumnya.

Namun pandangannya justru berkeliling mencari seseorang.

Sean tidak terlihat.

"Kamu mencari Sean?" tanya Victor.

Diandra mengangguk.

"Sean di mana, Bang?"

"Katanya ada urusan penting. Dia bilang akan langsung menyusul ke pengadilan."

Diandra menunduk.

Sejak tadi malam Sean tidak bisa dihubungi. Pesan-pesannya tidak dibalas, teleponnya pun tidak diangkat.

Entah kenapa, hal itu membuat Diandra merasa tidak tenang.

"Kamu kelihatan cemas," ujar Elsa lembut. "Kamu memikirkan Sean atau mediasi dengan Bastian?"

Diandra tersenyum kecil.

"Tante bisa membaca pikiranku, ya?"

Elsa tertawa.

"Kamu nggak perlu menjawab. Wajahmu sudah menjawab semuanya."

Diandra menghela napas.

"Aku nggak apa-apa, Tante."

Elsa kemudian mengusap rambutnya.

"Hari ini adalah tahap awal proses perceraianmu. Kalau nanti bertemu Bastian, bicarakan semuanya dengan tenang. Dengarkan juga apa yang ingin dia katakan."

Diandra mengangguk.

"Aku sudah memikirkan semuanya, Tante."

Ia tersenyum.

"Keputusanku sudah bulat."

"Yakin?"

"Yakin."

Diandra mengangguk mantap.

"Sebulat tahu bulat."

Elsa tertawa.

Victor ikut terkekeh, sedangkan Angga hanya menggeleng geli.

Meski hatinya sedang kacau, Diandra masih mampu bercanda.

Itulah caranya menyembunyikan kesedihan.

Ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya ikut merasakan luka yang sedang ia bawa.

"Kalau begitu, kita berangkat sekarang," ujar Victor.

Diandra berpamitan kepada Elsa.

Perempuan itu langsung memeluknya erat.

"Semangat."

Diandra membalas pelukan tersebut.

"Terima kasih, Tante."

Angga tersenyum kepadanya.

"Jangan takut. Hadapi saja."

Diandra mengangguk.

"Aku pergi dulu."

Ia kemudian mengikuti Victor menuju mobil.

Setelah duduk dan memasang sabuk pengaman, Victor menoleh.

"Sudah siap?"

Diandra menarik napas.

"Sudah."

"Kalau begitu kita berangkat."

Mobil pun meninggalkan halaman rumah menuju Pengadilan Agama.

Di tempat lain, Bastian sedang bersiap.

Ia baru saja mengancingkan kemejanya ketika terdengar suara dari pintu.

"Daddy."

Bastian menoleh.

Azzam berdiri di ambang pintu dengan wajah polos.

"Kenapa, Azzam?"

Azzam masuk beberapa langkah.

"Mommy kapan pulang?"

Bastian terdiam sesaat.

"Sebentar lagi."

"Tapi kata Mama Serly, Daddy hari ini pergi ke Pengadilan Agama."

Bastian langsung mengernyit.

"Terus?"

"Katanya Daddy sama Mommy mau pisah."

Bastian menatap putranya.

"Serly bilang begitu?"

Azzam mengangguk.

"Tadi Mama Serly sarapan sama Azzura. Azzura malah senang karena katanya Daddy sama Mommy mau pisah."

Bastian menghela napas panjang.

Ia sudah berkali-kali meminta Serly untuk tidak datang ke rumahnya tanpa izin. Namun perempuan itu tetap saja datang.

Yang paling membuatnya kesal, Serly sudah membicarakan masalah rumah tangganya di depan anak-anak.

Selama ini Bastian memang sengaja merahasiakan proses perceraian tersebut.

Ia tidak ingin Azzam dan Azzura ikut terluka.

Apalagi Azzam sangat dekat dengan Diandra.

Namun Bastian juga tidak pernah menganggap perceraian itu sebagai hasil akhir.

Ia sudah menyiapkan semuanya.

Hari ini ia akan bertemu Diandra.

Dan ia tidak berniat membiarkan perempuan itu pergi begitu saja.

Bastian menghampiri putranya, lalu berjongkok agar posisi mereka sejajar.

"Azzam."

"Iya, Daddy?"

"Hari ini Daddy dan Mommy memang pergi ke Pengadilan Agama."

Wajah Azzam langsung berubah cemas.

"Tapi bukan untuk berpisah."

"Terus untuk apa?"

"Untuk berdamai."

Azzam mengerjapkan mata.

"Berdamai?"

Bastian mengangguk.

"Iya."

Ia mengusap kepala putranya.

"Daddy akan berusaha supaya Mommy pulang."

"Ke rumah kita?"

Bastian tersenyum tipis.

"Mungkin tidak langsung ke rumah ini."

Ia menatap mata putranya.

"Tapi Daddy akan membawa Mommy kembali."

Azzam langsung tersenyum.

"Janji?"

Ia mengangkat kelingkingnya.

Bastian menatap jari kecil itu, kemudian mengaitkan kelingkingnya.

"Janji."

Azzam tersenyum lega.

Bastian ikut tersenyum, tetapi jauh di dalam hatinya ia tahu satu hal.

Mediasi hari ini mungkin akan menjadi awal dari pertarungan terbesarnya untuk mendapatkan kembali Diandra.

Dan kali ini, ia tidak akan menyerah.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!