NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:217
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

apakah ini bisa jadi kesempatan kedua?

Malam itu, setelah melewati minggu-minggu yang padat dengan perkuliahan dan proyek kampus, Mira meluangkan waktu untuk minum santai bersama Taehyung di sebuah bar bernuansa hangat di kawasan Le Marais.

​Alunan musik jazz pelan menyatu dengan gemerincing es di dalam gelas. Mira, yang biasanya sangat membatasi konsumsi alkoholnya, malam ini membiarkan pertahanannya sedikit melarut. Rasa lelah dan tumpukan emosi dari masa lalu yang ia pendam secara dewasa perlahan menguar saat ia meneguk beberapa gelas koktail. Pipinya merona merah, dan pandangannya mulai sedikit sayu—gadis itu setengah mabuk, bersandar di bahu sang kakak seraya menggumamkan cerita-cerita kecil tentang kampusnya.

​Taehyung tersenyum mengelus puncak kepala adiknya. Namun, ketenangan itu mendadak terganggu ketika ponsel di saku jas Taehyung bergetar hebat.

​Nama yang tertera di layar adalah kawan lamanya yang kini menjadi investor berpengaruh. Begitu mengangkat telepon, wajah Taehyung berubah serius. Temannya tersebut mengabarkan bahwa calon klien krusial yang sudah berbulan-bulan diincar oleh perusahaan keluarga mereka mendadak berada di luar kota dan hanya punya waktu malam ini untuk berdiskusi.

​Taehyung melirik jam tangannya, lalu menatap Mira yang sudah setengah memejamkan mata di sampingnya.

​Ia tidak mungkin meninggalkan adiknya sendirian dalam keadaan mabuk di bar, tetapi kesempatan bisnis ini terlalu besar untuk dilewatkan. Meminta bantuan James atau Chloe rasanya kurang tepat karena hari sudah terlampau larut dan lokasi mereka cukup jauh.

​Dengan berat hati dan pertimbangan matang, Taehyung meraih ponselnya kembali dan menekan satu nama yang sangat ia percayai untuk urusan keselamatan adiknya.

​"Jungkook-ah... kau masih di Paris?" bisik Taehyung pelan begitu sambungan terhubung. "Bisakah kau menolongku? Aku ada urusan bisnis mendadak di luar kota malam ini, dan Mira... dia terlalu banyak minum. Bisakah kau membantuku mengantarnya pulang ke apartemennya dengan aman?"

Taehyung menghembuskan napas panjang, meremas ponselnya seraya menatap adiknya yang mulai terkulai lelah di meja bar. Dari seberang telepon, suara Jungkook terdengar ragu dan berusaha menolak.

"Tae, sebaiknya jangan aku..." potong Jungkook pelan di balik telepon, suaranya sarat akan rasa sungkan.

"Jungkook-ah, tolonglah," sela Taehyung tegas, memotong kalimat sahabatnya. "Ini sudah terlalu larut, dan tempat Chloe cukup jauh dari sini. Lagipula, aku cuma minta Mira diantar pulang malam ini."

Taehyung mengusap wajahnya yang tampak frustrasi, memisahkan diri beberapa langkah dari meja agar suaranya tidak mengganggu Mira.

"Urusan klien di luar kota ini bisa memakan waktu satu sampai dua hari. Mira sedang mabuk berat, dan aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di apartemen tanpa ada yang memastikan dia baik-baik saja besok pagi. Tolong jaga dia selagi aku pergi. Hanya kau orang yang paling aku percayai untuk keselamatan adiku, Jungkook-ah. Tolong."

Di ujung telepon, keheningan sempat tercipta cukup lama. Jungkook menahan napasnya, terjebak di antara batas yang telah ditetapkan Mira dan tanggung jawab besar atas permintaan sahabatnya. Rasa khawatir pada kondisi Mira akhirnya meruntuhkan seluruh keraguannya.

"Baiklah... aku ke sana sekarang," bisik Jungkook pasrah.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, sebuah sports sedan hitam berhenti di depan bar. Jungkook melangkah masuk dengan terburu-buru. Setelan jasnya sedikit kelimis tanpa dasi, dan raut wajahnya menyiratkan perpaduan antara rasa cemas dan beban emosional yang berat.

"Terima kasih banyak, Jungkook-ah," ujar Taehyung lega begitu melihat sosok sahabatnya tiba. Pria itu menepuk bahu Jungkook erat-erat. "Aku sudah membayar semua tagihan dan menaruh kunci apartemennya di saku mantel Mira. Tolong jaga dia."

"Pergilah, jangan sampai terlambat," balas Jungkook singkat.

Setelah Taehyung bergegas pergi meninggalkan bar, kini hanya tersisa Jungkook di sudut ruangan yang sepi itu. Ia melangkah pelan mendekati meja, lalu berlutut di samping kursi Mira agar pandangan mereka sejajar.

Mira terkulai lesu dengan kepala menempel di atas tangannya yang terlipat. Pipinya merona merah akibat pengaruh alkohol, dan helai rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.

"Mira-ya..." panggil Jungkook dengan suara yang teramat lembut dan berhati-hati, seolah takut merobek ketenangan di depannya.

Mira mengerjap pelan, mengumpulkan kesadarannya yang tersisa. Saat penglihatannya yang kabur perlahan menangkap bayangan wajah Jungkook di hadapannya, alisnya berkerut tipis.

"Oppa...?" gumam Mira seraya terkekeh pelan, suaranya parau dan sedikit serak khas orang mabuk. "Kenapa... kenapa wajah Jungkook-ssi ada di mana-mana..."

Mendengar kata 'Jungkook-ssi' keluar dari bibir Mira bahkan saat gadis itu setengah sadar membuat dada Jungkook berdenyut nyeri. Namun ia menelan pahit itu dalam-dalam.

"Ini aku," bisik Jungkook lembut. Dengan sangat hati-hati dan penuh rasa hormat, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Mira berdiri. "Ayo, aku antar pulang."

Dalam keadaannya yang dipengaruhi alkohol, dinding pertahanan dingin yang biasa Mira pasang rapat-rapat perlahan mengendur. Ia tidak berontak, hanya menurut saat Jungkook menuntun langkah limbungnya keluar menuju mobil—membawa mereka berdua ke dalam situasi yang tak terelakkan selama dua hari ke depan.

Langkah kaki Jungkook terasa berat dan berhati-hati saat menyusuri koridor lantai tiga apartemen. Di dalam dekapan lengannya, Mira terkulai lelah dengan kepala yang bersandar pasrah di ceruk leher Jungkook. Aroma alkohol yang menyengat bercampur lembut dengan harum tubuh Mira, membuat dada Jungkook berdebar tak karuan—sebuah debaran yang dipenuhi rasa rindu sekaligus ketakutan akan batas yang bisa ia langgar.

Setelah meraba saku mantel Mira untuk mengambil kunci akses, Jungkook membuka pintu apartemen dan melangkah masuk ke dalam kegelapan yang tenang.

Dengan perlahan, ia membimbing Mira menuju kamar utama. Jungkook membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur empuknya dengan sangat hati-hati, seolah gadis di hadapannya adalah barang porselen yang sangat mudah retak. Ia menarik napas panjang, berusaha menjaga jarak dan pandangannya agar tetap sopan.

Jungkook berlutut di samping tempat tidur, mengulurkan tangannya untuk melepas sepasang sepatu tumit tinggi yang masih melekat di kaki Mira. Ia menyisihkan helaian rambut yang menutupi wajah manis gadis itu, lalu menarik selimut tebal hingga menutup dada Mira agar ia merasa hangat dan nyaman.

Setelah memastikan semuanya aman, Jungkook memungut sepatu Mira dan bersiap berdiri untuk menaruhnya di rak depan.

Namun, sebelum tubuhnya berdiri tegak, sebuah jemari yang hangat dan agak gemetar mendadak meraih pergelangan tangannya dari atas kasur.

Cengkeraman itu mengejutkan Jungkook. Belum sempat ia memproses apa yang terjadi, Mira menarik pergelangan tangan Jungkook dengan sentakan yang cukup kuat. Tubuh Jungkook yang hilang keseimbangan seketika tertarik ke bawah, ambruk menindih tubuh Mira di atas ranjang.

Deg!

Wajah mereka beradu begitu dekat. Hanya tersisa jarak beberapa sentimeter di antara ujung hidung mereka. Napas hangat Mira yang terengah dan beraroma manis membelai permukaan kulit wajah Jungkook. Dalam keheningan kamar yang remang-remang, iris mata Jungkook membesar, terkunci rapat oleh pandangan sayu Mira yang setengah terpejam.

Dada Jungkook berhembus naik turun dengan cepat. Seluruh persendiannya mendadak kaku, tak berani mengambil pergerakan sedikit pun karena takut melampaui batas.

Dalam pengaruh alkohol yang menguasai kesadarannya, Mira meracau pelan. Bibirnya bergetar, menyuarakan isi hatinya yang lama terpendam dengan nada parau dan pilu.

"Kenapa... kenapa kau selalu muncul..." gumam Mira lirih, jemarinya yang mencengkeram pergelangan tangan Jungkook perlahan merambat naik, menyentuh rahang tegas pria di atasnya. "...kenapa kau selalu membuatku terlihat seperti orang bodoh, Jungkook-ssi...?"

Racauan itu meluncur jujur tanpa benteng pertahanan dingin yang biasanya Mira pasang. Tatapan matanya yang sayu memperlihatkan luka dan kelelahan mendalam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik kebebasannya di Paris.

Jungkook mematung, menelan ludah secara terasa sangat pahit. Mendengar nama dan ketakutan itu diucapkan tepat di depan wajahnya membuat separuh jiwanya rasanya hancur berantakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!