NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Makan Malam Penuh Teka-Teki

Restoran yang dipilih Fajar untuk makan malam mereka jauh lebih mewah dari kedai kopi sederhana pertemuan sebelumnya—sebuah tempat elegan di lantai atas gedung pencakar langit dengan pemandangan kota yang menakjubkan. Kirana tiba dengan perasaan campur aduk, mengenakan pakaian formal yang membuatnya terlihat percaya diri meski hatinya dipenuhi kewaspadaan.

"Kau terlihat cantik malam ini," Fajar menyambut, berdiri untuk menarik kursi Kirana dengan sopan seperti kebiasaan lamanya yang masih Kirana ingat.

"Terima kasih," Kirana menjawab, duduk dengan sikap yang berusaha ia jaga tetap tenang. "Tempat yang bagus untuk makan malam."

"Aku ingin memberikan yang terbaik untuk pertemuan kita," Fajar tersenyum, memesan anggur untuk mereka berdua meski Kirana hanya mengambil sedikit sesuai saran Pak Wibowo untuk tetap menjaga kejernihan pikirannya.

Percakapan dimulai dengan hal-hal ringan—perkembangan karier, kabar keluarga masing-masing, kenangan-kenangan lama yang kini terasa seperti cerita dari kehidupan orang lain. Kirana berusaha menjaga sikapnya tetap alami, meski setiap kata yang keluar dari mulutnya dipertimbangkan dengan hati-hati.

"Aku senang kita bisa menghabiskan waktu seperti ini," Fajar berkata di sela hidangan utama. "Rasanya seperti kita mendapatkan kesempatan kedua untuk saling mengenal, meski dengan cara yang berbeda dari dulu."

"Aku juga menikmati ini," Kirana menjawab jujur, meski ada lapisan kewaspadaan yang tidak bisa ia lepaskan. "Tapi Fajar, aku ingin bicara sesuatu yang lebih serius."

Ekspresi Fajar berubah sedikit waspada. "Tentu, ada apa?"

"Aku tahu soal Meridian Capital Partners dan rencana mereka terhadap perusahaan keluargaku," Kirana berkata langsung, memutuskan untuk mengambil pendekatan yang lebih terbuka sesuai strategi yang telah mereka diskusikan. "Dan aku tahu Ratna terlibat sebagai penasihat di sana."

Wajah Fajar menunjukkan keterkejutan yang jelas, sebelum berusaha menguasai kembali ekspresinya. "Kirana, aku—"

"Aku hanya ingin tahu kebenarannya," potong Kirana, suaranya tegas namun tidak menuduh. "Apakah kau sengaja menghubungiku lagi karena tugas pekerjaanmu, atau apakah ada ketulusan lain di balik semua ini?"

Fajar terdiam lama, menatap gelas anggurnya sebelum akhirnya menjawab dengan jujur. "Keduanya benar, Kirana. Aku memang ditugaskan untuk melakukan riset mendalam soal PT Wijaya Sejahtera, termasuk mencari koneksi yang bisa membantu perusahaan kami memahami situasi internal kalian. Menghubungimu awalnya memang bagian dari strategi itu."

Kirana merasakan hatinya berat mendengar pengakuan itu, meski ia sudah menduganya.

"Tapi," Fajar melanjutkan, suaranya lebih pelan, "setelah bertemu denganmu lagi, aku menyadari perasaan lama itu masih ada. Aku tidak berbohong soal itu, Kirana. Meski aku juga tidak bisa menyangkal bahwa awalnya ada motif profesional di balik semua ini."

"Seberapa jauh keterlibatan Ratna dalam rencana ini?" tanya Kirana, mencoba tetap fokus pada tujuan utamanya meski pengakuan Fajar membuat emosinya semakin kompleks.

"Dia salah satu penasihat senior yang merekomendasikan PT Wijaya Sejahtera sebagai target akuisisi," Fajar menjelaskan, tampaknya memutuskan untuk lebih terbuka setelah pengakuannya tadi. "Dia punya akses informasi internal yang cukup detail, mengingat posisinya di keluarga besar kalian. Perusahaan kami berencana mengajukan tawaran resmi dalam waktu dekat, memanfaatkan situasi keuangan yang mungkin masih rentan setelah krisis kesehatan ayahmu."

Kirana merasakan amarah membara mendengar penjelasan itu—bukan hanya soal rencana bisnis yang licik, tapi juga fakta bahwa Ratna rela menggunakan informasi keluarga untuk kepentingan pribadinya sendiri.

"Kapan tawaran itu akan diajukan?" tanya Kirana, mencoba tetap tenang meski dadanya bergejolak.

Fajar ragu sejenak sebelum menjawab. "Dalam dua minggu, setelah laporan kuartalan perusahaan kalian dipublikasikan. Mereka berencana memanfaatkan momen itu untuk menekankan ketidakstabilan finansial akibat krisis kesehatan, sebagai alasan untuk mengajukan tawaran akuisisi dengan harga di bawah nilai pasar sebenarnya."

Informasi itu, meski menyakitkan untuk didengar, sangat berharga bagi strategi keluarga Wijaya untuk mengantisipasi serangan berikutnya. Kirana mencoba menyimpan detail itu dengan seksama dalam ingatannya, sambil tetap menjaga sikap tenang di hadapan Fajar.

"Kenapa kau memberitahuku semua ini?" tanya Kirana, sedikit heran dengan keterbukaan Fajar yang tiba-tiba. "Bukankah ini bertentangan dengan tugas profesionalmu?"

Fajar menghela napas panjang, menatap Kirana dengan mata yang menunjukkan pergolakan batin yang nyata. "Karena aku sadar, terlepas dari tugasku, aku tidak ingin menjadi bagian dari sesuatu yang menyakitimu lebih jauh, Kirana. Aku sudah cukup menyesal soal bagaimana hubungan kita berakhir dulu. Aku tidak ingin menambah penyesalan baru dengan menjadi alat untuk menghancurkan keluargamu."

Kata-kata itu, meski tidak sepenuhnya menghapus kekecewaan Kirana atas motif awal pertemuan mereka, memberi secercah harapan bahwa mungkin, di balik kerumitan situasi ini, masih ada ketulusan yang bisa mereka andalkan.

"Terima kasih sudah jujur, Fajar," Kirana berkata tulus. "Ini informasi yang sangat berharga bagi keluargaku."

"Aku hanya berharap ini cukup untuk menebus kesalahanku," Fajar menjawab lirih. "Dan Kirana, aku ingin kau tahu, apa pun yang terjadi dengan rencana bisnis ini, perasaanku padamu tidak sepenuhnya pura-pura."

Kirana tidak menjawab langsung, memilih untuk menyimpan respons emosionalnya untuk nanti, ketika ia bisa memprosesnya dengan lebih jernih jauh dari tekanan situasi saat ini.

Sisa makan malam berlalu dengan percakapan yang lebih ringan, meski keduanya menyadari bahwa sesuatu yang mendasar telah berubah di antara mereka. Fajar mencoba beberapa kali mengembalikan suasana ke nada yang lebih hangat, bercerita tentang pengalamannya bekerja di berbagai kota, namun Kirana bisa merasakan kecanggungan yang kini menyelimuti setiap kata yang mereka pertukarkan.

Ketika pelayan datang membawa tagihan, Fajar bersikeras membayar seluruhnya, sebuah gestur yang dulu akan membuat Kirana tersentuh, namun kini hanya menambah kerumitan perasaannya. "Aku harap kita bisa tetap berhubungan baik, apa pun yang terjadi dengan urusan bisnis ini," Fajar berkata saat mengantarnya ke pintu keluar restoran.

"Aku menghargai kejujuranmu malam ini, Fajar," Kirana menjawab, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Itu artinya banyak bagiku, meski situasinya rumit."

Mereka berpisah dengan pelukan singkat yang terasa canggung, jauh berbeda dari kehangatan pertemuan pertama mereka di kedai kopi beberapa minggu lalu. Dalam perjalanan pulang, Kirana segera menelepon Sari untuk melaporkan seluruh informasi yang berhasil ia kumpulkan, suaranya masih sedikit bergetar memproses seluruh pengalaman malam itu.

"Kau melakukannya dengan sangat baik," Sari memuji setelah mendengar laporan lengkap itu. "Informasi soal tenggat waktu dua minggu ini sangat berharga bagi strategi kita."

"Aku hanya berharap ini semua cepat berakhir," Kirana menjawab lelah, menyandarkan kepalanya ke jok mobil sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

"Kau melakukan hal yang tepat malam ini," Sari melanjutkan di telepon, suaranya penuh kehangatan yang menenangkan. "Aku tahu ini pasti sangat berat, secara emosional maupun mental. Istirahatlah dulu, kita bisa membahas strategi lebih lanjut besok pagi."

Sesampainya di rumah, Kirana mendapati lampu ruang tamu masih menyala. Ibu menunggunya dengan secangkir cokelat hangat, seolah sudah menduga putrinya akan pulang dengan beban emosional yang berat malam itu.

"Bagaimana malammu?" tanya Ibu lembut, menyerahkan cangkir hangat itu.

"Rumit," Kirana menjawab jujur, duduk di sofa sambil menerima kehangatan cangkir di tangannya. "Tapi setidaknya sekarang aku tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya kita hadapi."

Ibu duduk di sampingnya, tidak mendesak untuk mengetahui detail lebih lanjut, hanya memberikan kehadirannya sebagai bentuk dukungan diam yang selalu Kirana hargai sejak mereka memperbaiki hubungan mereka setahun terakhir. Malam itu, Kirana akhirnya tertidur dengan pikiran yang sedikit lebih tenang, meski masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

---

*Bersambung ke Bab 34...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!