Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A tense morning
Suasana pagi di pelataran kampus terasa begitu hidup. Mahasiswa hilir mudik dengan berbagai kesibukan mereka, membawa buku, bercengkerama, atau sekadar menikmati udara pagi yang masih segar. Namun, ketenangan itu mendadak sirna bagi sekelompok pemuda yang baru saja melangkah turun dari
Motor sport hitam mengkilap. Mereka adalah inti dari Alaxtar—geng motor dan kelompok elite kampus yang terkenal dengan pelawak berkedok geng motor. Leo, Wain, Davin, dan Zayyan.
Langkah kaki mereka yang tadinya santai tiba-tiba terhenti di tempat. Pandangan keempat mata pemuda itu terkunci pada satu titik di dekat koridor fakultas utama.
Aera, gadis yang selama ini mereka kenal sebagai pusat perhatian dan seseorang yang memiliki ikatan emosional kuat dengan dunia mereka, tampak tengah berdiri berdua dengan seorang pria. Bukan mahasiswa biasa, bukan pula rekan seorganisasi. Sosok itu adalah Alfino.
Seketika, atmosfer di sekitar mereka berubah drastis menjadi dingin dan penuh ketegangan.
"Si Alfino kuliah di sini?" celetuk Davin dengan nada tak percaya, matanya menyipit tajam menatap punggung pria yang mengenakan jaket bomber hitam tersebut.
Zayyan mendengus pelan, rahangnya mengeras. "Sial, dia benar-benar kurang puas sama kekalahan dia beberapa bulan lalu. Belum cukup babak belur sepertinya."
Wain melipat kedua tangannya di dada, matanya menelisik gerak-gerik Alfino dari kejauhan dengan penuh perhitungan. "Sepertinya ada sesuatu yang direncanakan Alfino sampai dia rela masuk ke kampus ini. Orang licik kayak dia nggak mungkin gerak tanpa tujuan."
Di tengah analisis penuh curiga itu, mata Leo menangkap satu detail kecil yang langsung membuat darahnya mendidih seketika.
"Tapi btw, dia kenapa dekat banget sama Aera ya?" bisik Zayyan, mewakili pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepala mereka.
Jarak antara Alfino dan Aera memang tidak bisa dibilang jauh. Alfino tampak membungkuk sedikit, berbicara dengan senyum tipis penuh kemisteriusan di wajahnya, sementara Aera terlihat mendengarkan dengan ekspresi yang sulit diartikan—ada keraguan, namun juga ketegasan di wajah gadis itu.
Melihat pemandangan tersebut, Leo dibuat geram. Urat-urat di lehernya langsung mengeras, menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Kepalan tangannya di sisi tubuhnya bergetar hebat. Ingatan tentang bagaimana Alfino berbuat licik dan mencoba menghancurkan apa yang menjadi milik mereka beberapa bulan lalu kembali berkelebat di kepalanya. Dan sekarang? Pria itu berani mendekati Aera di wilayah kekuasaan mereka sendiri.
"Nggak usah banyak cincong," suara Leo keluar tertahan, berat, penuh penekanan yang mencerminkan kemusnahan kesabaran. "Ayo samperin."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut dari teman-temannya, Leo langsung melangkah dengan lebar, membelah kerumunan mahasiswa yang seketika langsung memberikan jalan karena aura intimidasi yang begitu kuat terpancar dari tubuhnya. Wain, Davin, dan Zayyan langsung mengikuti di belakang, siap menjadi benteng sekaligus algojo jika situasi mendadak tidak terkendali.
Di sisi lain, Aera baru saja hendak membalas ucapan Alfino ketika langkah beberapa pasang sepatu yang menghantam lantai ubin dengan cepat menarik perhatian mereka berdua.
"Aera."
Sebuah suara dingin yang sangat dikenalnya menginterupsi udara pagi itu. Aera menoleh, dan napasnya seketika tertahan. Di hadapannya kini, Leo berdiri dengan dada naik-turun menahan emosi, disusul oleh Wain, Davin, dan Zayyan yang memasang wajah garang bagai sekawanan serigala yang siap menerkam mangsa.
Alfino, alih-alih merasa gentar atau mundur, justru menegakkan tubuhnya perlahan. Senyum miring terukir di bibirnya, seolah kedatangan mereka berempat adalah sebuah tontonan gratis yang sangat ia nantikan sejak pagi.
"Wah, wah. Pagi-pagi udah disambut sama para pengawal setia rupanya," ucap Alfino dengan nada yang sengaja dibuat santai, penuh provokasi.
Leo tidak membuang waktu untuk basa-basi. Jarak yang tadinya hanya beberapa meter kini ia pangkas dalam sekejap. Tanpa aba-aba, tangan kekar Leo langsung mencengkeram kerah jaket Alfino dengan kuat, menariknya hingga tubuh kedua pria itu nyaris bersentuhan.
"Lo ngapain di sini, Fino?!" bentak Leo, suaranya menggelegar di koridor kampus yang sontak membuat seluruh mahasiswa di sekitar langsung membeku dan mundur beberapa langkah, tidak berani mendekat.
Alfino tidak melawan. Ia justru menatap mata tajam Leo dengan tatapan mengejek, kedua tangannya dibiarkan berada di saku celana seolah cengkeraman maut di kerahnya itu tidak ada apa-apanya.
"Santai, Leo. Kampus ini bukan milik nenek moyang lo. Siapa pun bebas kuliah di sini, termasuk gue," balas Alfino tenang, meski suaranya mengandung racun penyesatan.
"Bebas lo bilang?!" Wain ikut maju, menunjuk tepat di depan wajah Alfino. "Setelah apa yang lo lakuin beberapa bulan lalu, lo pikir kita bakal biarin lo berkeliaran dengan bebas di dekat Aera? Jangan main-main sama kita, Fino!"
Davin ikut menimpali, suaranya tajam seperti silet. "Kalau lo punya niat busuk buat nyari masalah lagi, lebih baik lo balik badan sekarang sebelum urusannya bukan cuma babak belur di jalanan."
Mendengar keributan yang semakin memancing perhatian orang banyak, Aera akhirnya bertindak. Ia melangkah cepat, menyusup di antara tubuh Leo dan Alfino, lalu mendorong pelan dada bidang Leo agar menjauh dari pria itu.
"Leo, cukup! Jangan bikin keributan di sini, ini kampus!" ucap Aera tegas, matanya menatap tajam ke arah Leo yang masih diliputi amarah membara.
Leo menatap Aera dengan sorot mata tak percaya. "Ra, lo nggak ngerti! Dia itu—"
"Aku ngerti, Leo!" potong Aera cepat. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Alfino, memberikan tatapan memperingatkan. "Dan buat kamu, Al... kalau kedatangan kamu ke sini cuma buat memancing emosi mereka dan bikin kekacauan, lebih baik kamu pergi sekarang."
Alfino terkekeh kecil, sebuah suara tawa rendah yang terdengar menyebalkan di telinga Leo dan yang lainnya. Ia merapikan kerah jaketnya yang sempat kusut karena cengkeraman Leo, lalu menatap Aera lekat-lekat.
"Gue serius mau kuliah di sini, Aera. Urusan masa lalu sama mereka... ah, itu cuma bonus kecil dari takdir," ujar Alfino penuh teka-teki. Ia kemudian melirik sekilas ke arah Leo yang mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sampai ketemu di kelas, Aera."
Tanpa menunggu balasan apa pun, Alfino melangkah pergi melewati kelompok Alaxtar begitu saja, meninggalkan jejak ketegangan yang masih pekat di udara pagi itu.
Zayyan mendengus kasar, meludah ke lantai pelataran sebagai bentuk kejengkelan. "Sumpah, itu orang bener-bener minta dibanting lagi."
Sementara itu, Leo masih terpaku di tempatnya. Matanya menatap tajam punggung Alfino yang semakin menjauh, lalu beralih menatap Aera dengan raut wajah penuh tuntutan dan kekhawatiran yang teramat sangat. Pagi yang seharusnya biasa saja kini telah berubah menjadi awal dari badai besar yang siap menghantam ketenangan kampus mereka.
Kepergian Alfino meninggalkan hawa panas yang seolah belum sepenuhnya lenyap dari koridor fakultas. Sepeninggal pria itu, keheningan canggung sempat melingkupi kelompok Alaxtar. Para mahasiswa yang sedari tadi menonton dari kejauhan mulai berbisik-bisik, namun tak satupun dari mereka yang berani mendekat karena aura intimidasi yang masih sangat kuat menguar dari tubuh Leo, Wain, Davin, dan Zayyan.
Leo masih berdiri di tempatnya, menatap lurus ke arah tempat Alfino tadi berdiri. Rahangnya mengetat, menciptakan garis tegas di wajahnya yang tampan namun terlihat menyeramkan saat marah. Napasnya masih memburu, menandakan bahwa adrenalin dalam tubuhnya belum sepenuhnya mereda.
Aera menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang akibat insiden barusan.
"Kalian ini apa-apan sih? Bikin malu diri sendiri aja bikin keributan di tengah kampus pagi-pagi begini," tegur Aera dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, meski tersirat ketegasan di dalamnya. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap keempat pemuda itu bergantian.
Davin mendengus pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya.
"Kita cuma nggak mau lo kenapa-napa, Ra. Lo tahu sendiri siapa Alfino. Dia bukan orang baik yang tiba-tiba mau tobat jadi anak kampus teladan. Pasti ada maksud licik di balik kedatangannya."
"Betul apa kata Davin, Ra," sambung Zayyan, mengangguk menyetujui. Matanya masih melirik ke arah lorong tempat Alfino hilang dari pandangan.
"Orang kayak dia tuh punya banyak muka. Bisa aja dia sengaja masuk sini buat deketin lo supaya bisa manfaatkan kita lewat lo."
Wain yang sejak tadi diam mengamati, melangkah mendekati Aera. Tatapannya jauh lebih tenang namun menyiratkan analisis yang tajam.
"Ra, kita nggak melarang lo buat berteman atau bergaul sama siapa pun di kampus ini. Tapi khusus buat Alfino, garis batasnya jelas. Lo sendiri lihat kan gimana sikap dia tadi? Dia sama sekali nggak ngerasa bersalah atas apa yang udah dia lakuin beberapa bulan lalu."
Mendengar ucapan teman-temannya, Aera terdiam sejenak. Ia tahu mereka tidak salah sepenuhnya. Masa lalu antara Alaxtar dan kelompok Alfino bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ada luka, ada pertarungan, dan ada harga diri yang dipertaruhkan di jalanan. Namun, di sisi lain, Aera juga merasa ada sesuatu yang janggal. Sikap Alfino tadi tidak sepenuhnya terlihat seperti orang yang ingin membalas dendam secara membabi buta, ada ketenangan dan rencana matang yang disembunyikan di balik senyum miringnya.
Namun, sebelum Aera sempat membuka mulut untuk membela diri atau menjelaskan sesuatu, sebuah tangan besar tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan lembut namun tegas.
Aera terkesiap kecil dan mendongak.
Itu Leo.
Pria itu sama sekali tidak menghiraukan perdebatan teman-temannya. Tatapan mata Leo kini sepenuhnya terkunci pada Aera, menyiratkan campuran antara rasa frustrasi, posesif, dan kekhawatiran yang mendalam. Cengkeraman di pergelangan tangannya tidak menyakitkan, tapi cukup membuat Aera mengurungkan niatnya untuk protes.
"Ikut aku," ucap Leo dengan suara rendah, nyaris seperti sebuah bisikan yang mutlak.
"Eh? Mau ke mana, Leo? Bentar lagi kelasku—"
"Biarkan kelasnya menunggu," potong Leo cepat, tanpa memberi kesempatan bagi Aera untuk menolak. Ia langsung menarik tangan Aera pelan, membawanya menjauh dari kerumunan koridor utama.
Wain, Davin, dan Zayyan sama sekali tidak berusaha menghentikan. Mereka paham betul tabiat ketua mereka. Jika Leo sudah mengambil sikap seperti itu, artinya ada hal serius yang harus segera diselesaikan secara empat mata dengan Aera.
"Dih, ditinggal gitu aja kita," gerutu Zayyan geleng-geleng kepala melihat punggung Leo dan Aera yang mulai menjauh menyusuri koridor samping.
"Udah, biarin aja. Biar si Leo sendiri yang ngurus kepala keras Aera itu," balas Wain santai, sementara Davin hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh sambil berjalan menuju kantin kampus untuk mendinginkan kepala.
Sementara itu, Leo membawa Aera menuju area taman belakang kampus yang cukup sepi dan rimbun oleh pepohonan besar. Tempat itu jarang dikunjungi mahasiswa di pagi hari, sehingga sangat cocok untuk berbicara tanpa ada gangguan dari orang lain.
Begitu sampai di dekat sebuah bangku taman kayu yang dinaungi pohon rindang, Leo melepaskan genggamannya perlahan. Ia berbalik badan, menghadap langsung ke arah Aera yang kini melipat tangan sambil mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
"Kenapa dibawa ke sini sih, Leo? Kalau kelasku keburu mulai gimana?" protes Aera, meski suaranya tidak setegas tadi karena ia bisa melihat sorot mata serius di wajah Leo.
Leo tidak langsung menjawab. Ia meraup wajahnya dengan kedua tangan, menghela napas berat seolah sedang menahan beban yang sangat besar di pundaknya, lalu menatap Aera tajam.
"Ra... sebenarnya apa yang dibicarain sama Alfino sebelum kita dateng tadi?" tanya Leo to the point. Suaranya terdengar berat, mencerminkan rasa penasaran sekaligus kecurigaan yang menggerogoti hatinya.
Aera terdiam sejenak. Ia menggigit bibirnya bagian bawah, menimbang-nimbang apakah ia harus jujur sepenuhnya atau tidak. "Nggak ada apa-apa, Leo. Dia cuma nanya soal ruang administrasi pendaftaran mahasiswa baru, terus kebetulan aja ngobrol sedikit."
Mendengar jawaban itu, sebelah alis Leo terangkat tinggi. Tatapannya berubah menyelidik. "Nanya ruang administrasi? Ra, jangan bohong sama aku. Muka dia pas ngobrol sama kamu tadi bukan muka orang linglung yang nyari ruangan. Dia sengaja nungguin kamu, kan?"
Aera mendengus pelan, merasa risih sekaligus tersentuh karena Leo begitu memerhatikan gerak-geriknya. "Tuh kan, kalau kamu udah nuduh duluan, buat apa aku ngasih tahu yang sebenarnya? Pokoknya dia cuma bilang mau kuliah di sini, titik. Udah itu aja."
"Cuma itu?" Leo melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Aera mau tidak mau harus mendongak untuk menatap mata pria itu.
"Ra, kamu nggak tahu seberapa liciknya dia. Beberapa bulan lalu, dia hampir hancurahin semuanya. Dan sekarang, dia muncul tiba-tiba di kampus tempat kamu kuliah, di dekat kamu... Kamu pikir aku bisa diam aja dan nganggep ini kebetulan?"
Nada suara Leo mulai meninggi, menunjukkan betapa besar rasa khawatirnya. Bagi Leo, Aera adalah kelemahan sekaligus benteng terkuatnya. Kehadiran Alfino di lingkungan yang sama dengan Aera dirasakannya sebagai ancaman nyata yang bisa meledak kapan saja.
Aera yang melihat kilatan cemas di mata Leo perlahan melunakkan ekspresinya. Ia menghela napas, lalu mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pelan lengan Leo yang ada di samping tubuh pria itu.
"Leo... dengarin aku," kata Aera dengan suara yang jauh lebih lembut. "Aku bukan anak kecil yang nggak bisa jaga diri sendiri. Kalaupun Alfino punya niat busuk, aku tahu batasan buat jaga jarak sama dia. Kampus ini luas, pengawasannya ketat, dan keamanan di sini nggak bakal biarin ada keributan besar terjadi."
Leo menatap tangan Aera di lengannya, lalu beralih menatap manik mata gadis itu. Ada ketulusan dan keyakinan di sana, namun tetap saja, ketakutan kehilangan sosok Aera membuat rasionya terkadang tertutup oleh emosi.
"Bukannya aku nggak percaya sama kamu, Ra," ucap Leo lirih, suaranya melembut, kontras dengan bentakan kasarnya di koridor tadi.
"Tapi aku takut. Aku takut kalau kehadiran dia di sini cuma buat nyakitin kamu demi bales dendam ke aku dan anak-anak Alaxtar."
Aera tersenyum tipis. Ia merapatkan jaraknya, membawa sebelah tangannya naik untuk merapikan kerah jaket Leo yang sedikit berantakan.
"Makanya, kita hadapi sama-sama. Kalau dia main-main, bukan cuma kamu dan anak-anak Alaxtar yang bakal turun tangan. Aku juga nggak bakal tinggal diam."
Mendengar kata-kata itu, ketegangan di wajah Leo sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia menghembuskan napas panjang, lalu tanpa sadar membawa kedua tangannya untuk merengkuh pinggang Aera, menarik gadis itu pelan hingga bersandar di dadanya. Aera tidak melawan, ia justru memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan yang diberikan oleh pria itu di tengah pagi yang penuh dengan drama menegangkan.
"Janji sama aku, jangan pernah temuin dia sendirian," bisik Leo tepat di dekat telinga Aera, suaranya penuh permintaaan mutlak.
"Iya, janji," jawab Aera pelan, mengangguk di dalam dekapannya.
Namun, di dalam hati kecil mereka masing-masing, keduanya tahu betul bahwa kedatangan Alfino bukanlah sekadar angin lalu. Ini adalah babak baru dari perseteruan lama yang tertunda, dan kampus mereka yang tadinya tenang, kini bersiap menjadi medan pertempuran yang jauh lebih berbahaya.