Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Andriana berjalan mondar mandir di depan Devan saat sedang bekerja, membuat dokter muda dan tampan itu tidak tahan lagi, ia bangkit meraih tubuh wanita itu dan merebahkannya di atas meja kerjanya lalu mengangkat kedua kakinya.
"Devan, apa yang kamu lakukan! Jangan gila kamu kalau ada yang masuk bagaimana! Lepaskan!" Gertak Andriana dengan serius.
"Tidak ! Kamu sudah memancingku, dan sekarang kamu harus tanggung jawab" Jawab Devan kemudian meletakkan kedua tangan Andriana di atas kepalanya dan mulai mencium lembut bibir merahnya, melumatnya dengan mesra, tangan nakalnya pun mulai bergerak menyusuri bagian bagian yang membuatnya melayang, dan hari itu akan terjadi lagi adegan panas berbagi peluh di ruangan kerja.
Setelah selesai satu ronde di pagi hari sebelum mulai bekerja, mereka berdua duduk bersebelahan sambil terengah engah mengatur nafasnya. Keduanya telah berhasil mencapai puncak himalaya bersama di pagi hari.
"Devan, kamu memang gila!" Umpat Andriana sambil merapikan kembali kemejanya yang nyaris terlepas semua beserta dalamannya.
Devan tersenyum miring penuh rasa puas lalu merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya
" Kamu tidak mau aku nikahi, hanya menganggapku selingkuhanmu, ya aku nikmati saja setiap waktu yang tersisa ini bersamamu".
Andriana terdiam sejenak, ia menunduk lalu meraba perutnya perlahan sebelum mendongak dan kembali menatap Devan.
" Van, selalu itu yang kamu katakan, aku tidak mau kamu nikahi karena banyak pertimbangan".
"Karena mama mertuamu terkena serangan jantung makanya kamu membatalkan balas dendammu! Atau kamu enggan bercerai dari Arnold?"
"Ih apaan sih, siapa juga yang mau sama cowok brengsek kayak dia, tapi Van mama mertuaku sangat baik padaku, ia memungutku dari jalanan saat aku terpisah dari orang tuaku, ia merawat dan menganggapku anaknya sendiri hingga saat aku sudah dewasa mama menikahkanku dengan Arnold, meskipun akhirnya aku sadar Arnold tidak pernah mencintaiku".
Devan mengangkat kedua alisnya berjalan ke arah Andriana mengusap pipinya dengan lembut, menempelkan keningnya.
"Andriana, sebagai selingkuhanmu seumur hidup pun aku rela, Cinta dan kasih sayangku hanya untukmu".
Andriana tidak kuasa lagi dan berhambur memeluk tubuh Devan dengan kuat.
"Maafkan aku Van, maaf".
***
Adit masih duduk di ruang tengah mengaduk aduk cangkir kopinya yang mulai dingin.
"Tuan Adit, anda tidak berangkat bekerja?" Tanya Lena dengan lembut.
Adit menoleh dan menatap lekat wajah Lena yang selalu mengganggu pikirannya.
Lena yang sadar sedang ditatap dengan lekat oleh majikannya pun hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
"Saskia sudah berangkat?" Tanya Adit.
"Sudah tuan bersama tuan Arnold" Jawab Lena gugup.
"Lalu Diego dan Andriana?"
"Mereka juga sudah berangkat, nona Andriana berangkat pagi pagi sekali" Jawab Lena lagi.
Adit bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Lena yang ikut berjalan mundur hingga tubuhnya terkunci di dinding.
"Lena, malam itu?"
"Tuan Adit, lupakan malam itu! Aku hanya baby suster yang butuh uang untuk bertahan hidup, tidak lebih, biarkan aku bekerja dengan baik" Lena mendorong tubuh Adit lalu berlari ke kamar mandi karena rasa mual yang sudah tidak tertahan lagi.
Di kamar mandi ia muntahkan semua yang ada di dalam perutnya.
Adit ikut berlari mengejar Lena dan terdiam melihat kejadian itu, Lena memutar tubuhnya menatap Adit yang juga menatapnya.
Wajah Lena semakin pucat sebelum akhirnya ia jatuh pingsan di dalam pelukannya.
Adit membopongnya ke kamar dan memberikan minyak putih di ujung kaki dan hidungnya.
Tak lama kemudian Lena pun sadar,ia bergegas bangun setelah tahu Adit duduk di sampingnya, namun Adit menahannnya dengan memegangi bahunya.
"Jangan banyak bergerak Len?"
"Tapi tuan, saya tidak apa apa" Jawab Lena gemetar.
"Lena jujurlah padaku apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu hamil?" Tegas Adit.
Lena membulatkan matanya lalu mengalihkan pandangan perlahan, ia menggeleng penuh ketakutan tak berani menatap mata Adit yang tajam penuh tekanan.
"Sekali lagi aku tanya padamu, apakah anak yang kamu kandung adalah anakku?" Tanya Adit memastikan setelah ia menemukan sebuah alat tes kehamilan di tempat sampah yang bergaris dua.
Lena tidak bisa lagi mengelak, ia pun mengangguk dengan berurai air mata.
Adit pun terdiam entah senang atau sedih yang pasti ia merasakan dadanya berdebar kencang setelah tahu Lena hamil.
"Apa itu anakku?"
Lena mengangguk dengan ragu ragu.
Adit pun tersenyum tanpa sadar dan memeluk tubuh Lena yang masih terbaring lemah.
"Maafkan aku Lena, aku akan bertanggung jawab, tapi berikan aku waktu agar aku menyelesaikan urusanku dengan Saskia, tapi ku mohon jaga anak kita baik baik ya" Ucap Adit setelah melepaskan pelukannya dan menatap wajah sayu Lena yang masih pucat, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dan memberikannya kepada Lena.
Lena menggeleng perlahan " Tuan aku tidak bisa menerima ATM ini".
"Tidak Len, uang ini untuk anakku" Jawab Adit terus memaksa Lena agar mau menerima ATM darinya yang berisi saldo beberapa ratus juta rupiah.
Setelah itu Adit pergi meninggalkan Lena di kamarnya.
Ia menghubungi orang kepercayaannya agar menyelidiki siapa ayah Diego sebenarnya.
'Saat menikah denganku Saskia masih sangat muda, dan punya anak Diego setelah satu tahun menikah.Berarti dia selingkuh di dalam pernikahan bukan hanya sekali, sial bisa bisanya aku dibohongi '.
Sementara itu di tempat jauh di tengah kota di sebuah bangunan megah berlantai 3, tampak sepasang manusia sedang bergulat di atas ranjang dengan peluh kebahagiaan.
"Arnold, apakah kita akan begini terus?" Tanya wanita cantik sambil memeluk tubuh Arnold yang polos tanpa sehelai benang.
"Tentu sayang, kita akan menikah setelah aku selesaikan urusanku dengan wanita tua itu dan istriku yang bodoh" Ucap Arnold sambil tersenyum miring.
Wanita itu membenarkan selimut di dadanya dan mendongak ke arah Arnold " Maksudmu apa sayang?".
"Hh bagaimana tidak bodoh, sudah tahu tidak dicintai masih saja mau dijodohin, coba saja kalau dulu mamaku tidak memaksaku menikahinya, pasti kamu yang menjadi nyonya Arnold Wijaya saat ini" Jawab Arnold sambil mencubit hidung wanita itu yang tersenyum manja.
"Kalau dilihat lebih dekat Andriana itu sebenarnya cantik, seksi, tubuhnya bagus masasih kamu tidak ada perasaan sama sekali padanya?"
"Enggak sayang, kalau aku benar benar mencintainya mana mungkin aku mencarimu hampir setiap Malam" Jawab Arnold kemudian menyambar bibir merah wanita itu dan mereka kembali bergulat dalam kenikmatan untuk yang kesekian kalinya.
Tak lama kemudian terdengar suara samar dari TV yang mereka biarkan menyala, sebuah berita mengejutkan.
Seorang wanita ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah kamar hotel. Dugaaan sementara akibat dendam pribadi, karena tidak ada satupun benda berharga milik korban yang dibawa pelaku.
Arnold yang mendengarkan pun terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan aktifitasnya mendaki puncak himalaya bersama wanita yang sejak sekolah telah menjadi kekasihnya.