elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Pertengkaran Besar Pertama
Kertas bertuliskan pendamping pasien tergeletak di samping laptop ketika Cheng An masuk ke kamar.
Nan Shin baru selesai mencatat tiga hal yang ia ingat dari percakapan di gerbang sekolah: memahami alur rumah sakit, menemani pasien lanjut usia, dan mencatat penjelasan dokter. Ia belum tahu apakah pekerjaan semacam itu cocok untuknya, tetapi untuk pertama kalinya layar laptop tidak menampilkan daftar penolakan.
“Besok sore aku perlu dua jam tanpa diganggu,” katanya. “Aku mau mencari informasi tentang pekerjaan ini dan menyelesaikan CV.”
Cheng An melepas jam tangan. “Besok Mama ada janji ke salon.”
“Aku tahu. Belanja mingguan bisa dilakukan pagi. Tolong jemput Yi Ming sekali saja.”
“Besok ada rapat unit.”
“Rapatmu selesai pukul tiga menurut pesan yang kamu kirim.”
“Aku baru diangkat. Aku tidak mungkin pulang begitu rapat selesai.”
Nan Shin menutup laptop perlahan. “Kalau begitu, minta Mama menjemput. Aku cuma butuh dua jam.”
“Kenapa semua harus diubah hanya karena kamu mendengar satu pekerjaan dari orang asing?”
Pertanyaan itu membuat Nan Shin berdiri. Tumpukan pakaian kerja Cheng An yang sudah dilipat memenuhi setengah tempat tidur.
“Karena aku perlu mulai dari sesuatu.”
“Mulai boleh, tapi lihat keadaan rumah.”
“Aku sudah melihat keadaan rumah sejak bangun pukul empat lewat tiga puluh setiap hari.”
Cheng An meletakkan jam tangannya lebih keras daripada perlu. “Aku juga bekerja. Sekarang tanggung jawabku bertambah.”
“Tanggung jawabmu bertambah di kantor, lalu tanggung jawabku bertambah di rumah. Kapan aku boleh membangun pekerjaan baru?”
“Aku tidak melarang kamu.”
“Kalau setiap jam yang kupakai harus menunggu izinmu, itu tetap larangan.”
“Jangan membuatnya seolah aku mengurungmu.”
“Kalau begitu buktikan dengan menjemput anakmu satu kali.”
“Dan setiap tanggung jawabmu bertambah, tanggung jawab rumah dipindahkan kepadaku.”
“Kamu sedang tidak bekerja.”
Empat kata itu jatuh di antara mereka. Nan Shin menatap seragam putih yang telah ia setrika satu per satu. Di saku salah satunya terpasang bordir nama dr. Kho, rapi dan tegas.
“Aku sedang mencari kerja. Itu juga pekerjaan.”
“Mencari informasi di internet tidak sama dengan membayar kebutuhan keluarga.”
“Aku membayar kebutuhan keluarga selama dua belas tahun.”
“Dan sekarang penghasilan itu tidak ada.”
Nan Shin menarik napas sampai tulang rusuknya terasa sakit. “Justru karena tidak ada, aku harus punya waktu untuk mendapatkannya lagi.”
Cheng An berjalan ke lemari, mengambil kaos rumah, lalu menutup pintunya. “Kita perlu realistis. Cicilan rumah, sekolah anak, listrik, belanja, semuanya sekarang dari penghasilanku. Kamu ingin aku meninggalkan rapat demi urusan yang bahkan belum jelas.”
“Satu kali menjemput anak bukan meninggalkan keluarga.”
“Aku bilang rapat, bukan keluarga.”
“Aku tahu. Rumah ini selalu dianggap urusanku. Rumah sakit selalu dianggap hidupmu.”
Ponsel Cheng An bergetar di meja. Nama pengirim tidak terlihat dari tempat Nan Shin berdiri karena layar segera dibalik menghadap kasur.
“Jangan bawa hal lain ke percakapan ini,” katanya.
“Aku tidak membawa hal lain. Aku sedang bicara soal waktu.” Nan Shin menunjuk pakaian di tempat tidur. “Aku mencuci bajumu, menyiapkan makananmu, mengurus anak-anak saat kamu rapat, operasi, dan belajar. Semua itu membuatmu punya waktu untuk naik jabatan. Sekarang aku minta dua jam, dan kamu bertingkah seolah aku merampas kariermu.”
Wajah Cheng An mengeras. “Jadi kenaikanku salah?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kamu tidak perlu bilang. Sejak surat pengangkatan keluar, mukamu seperti orang yang dirugikan.”
“Karena semua orang merayakan waktumu, sementara waktu milikku dibagi-bagi tanpa bertanya.”
“Jangan membuat dirimu sebagai korban setiap saat.”
Nan Shin meremas ujung kaos di tangannya. “Kalau aku tidak mencatat apa yang terjadi, mungkin aku sendiri akan percaya aku cuma kurang bersyukur.”
Cheng An menoleh cepat. “Mencatat apa?”
“Jam kerja rumah. Berapa kali CV-ku terputus. Tugas apa yang ditambahkan.”
“Kamu mencatat keluargamu seperti pasien?”
“Tidak. Pasien justru tahu kalau waktu perawat ada batasnya.”
Rahang Cheng An bergerak. Ia mengambil ponsel dan dompet dari meja.
“Aku tidak mau bicara saat kamu seperti ini.”
Nan Shin berdiri di antara tempat tidur dan pintu. Ia tidak menghalangi, tetapi juga tidak menyingkir dengan cepat seperti biasanya.
“Kapan kamu mau bicara? Setelah aku menyerah mencari kerja? Setelah uangku habis untuk kebutuhan yang tidak pernah kita bicarakan bersama?”
“Kamu terlalu sensitif soal uang sejak pesangon masuk.”
“Karena itu satu-satunya uang atas namaku sekarang.”
“Nah, akhirnya keluar juga.” Cheng An tertawa pendek tanpa kehangatan. “Semua yang kubayar untuk rumah ini tidak pernah kamu hitung. Tapi begitu punya uang sendiri, kamu bicara seolah kami mau mengambilnya.”
“Aku sedang bicara soal kesempatan bekerja.”
“Aku sedang bicara soal kenyataan ekonomi.”
“Kenyataannya, kamu hanya bisa punya karier seperti sekarang karena seseorang menjaga rumah ini.”
Cheng An membuka pintu kamar.
“Kalau kamu sangat membenci hidup di rumah ini, jangan paksa aku mendengarnya malam ini.”
“Aku tidak membenci rumah ini. Aku membenci dianggap tidak bekerja hanya karena pekerjaanku tidak dibayar.”
Pintu dibanting sampai bingkai foto keluarga di dinding bergoyang.
Nan Shin tetap berdiri dengan kaos terlipat di tangan. Dari lorong terdengar langkah Cheng An menuruni tangga, bunyi notifikasi kendaraan pesanannya, lalu pintu depan ditutup keras.
Ia melihat jam. Pukul sembilan lewat dua puluh.
Pada pukul sepuluh, ia mengirim pesan singkat.
Kamu di mana?
Centang dua muncul tanpa jawaban.
Pukul sebelas lewat tiga belas, ia menelepon. Sambungan berdering sampai terputus sendiri. Nan Shin duduk di tepi ranjang, sementara laptop dan catatan pendamping pasien masih terbuka di meja.
Tengah malam berlalu. Ia memeriksa kamar anak-anak, membetulkan selimut Yi Chen, lalu kembali ke kamar yang terasa terlalu luas. Tidak ada pesan dari Cheng An.
Pukul dua, Nan Shin menelepon sekali lagi. Ponselnya langsung masuk ke pesan suara.
Ia tidak tidur. Ia hanya berganti posisi sampai azan subuh dari kejauhan terdengar di antara dengung pendingin ruangan.
Cheng An baru pulang pukul enam lewat dua belas. Kemejanya kusut dan matanya merah, tetapi langkahnya tidak goyah.
Nan Shin menunggu di ruang makan dengan segelas air yang sudah tidak dingin.
“Kamu dari mana?”
“Makan dengan teman kantor. Terlalu malam untuk pulang, jadi aku tidur di tempat teman.”
“Teman siapa?”
“Kamu tidak kenal.”
“Kamu bisa mengirim satu pesan.”
Cheng An meletakkan ponsel. “Aku butuh tenang.”
“Aku semalaman tidak tahu kamu hidup atau tidak.”
“Sekarang kamu sudah lihat.” Ia berjalan ke tangga. “Aku mandi. Ada rapat pagi.”
Nan Shin tidak mengejarnya. Setelah Cheng An masuk kamar mandi, ia mengambil jas tipis yang dilempar di atas kursi agar tidak dilihat Ibu Kho saat turun nanti.
Sesuatu berdesir di saku bagian dalam.
Nan Shin mengira itu kartu parkir. Ia memasukkan dua jari dan menarik selembar kertas yang terlipat. Logo restorannya tidak pernah ia lihat. Alamatnya berada di kawasan Kuningan, jauh dari rumah teman yang biasa disebut Cheng An.
Di bawah waktu transaksi pukul sembilan lewat empat puluh tujuh, tercetak dua paket makan malam.