Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Luka Lama, Hubungan Baru
Dalam satu minggu, tiga kelopak pertama Peony Agung mulai terbentuk.
Keira bekerja paling lama dua jam setiap sesi. Alarm dari ponsel menghentikannya untuk minum, makan, dan mengistirahatkan mata. Warna wajahnya belum sepenuhnya pulih, tetapi lingkar hitam di bawah matanya berkurang.
Pada hari ketujuh, pembayaran tahap pertama masuk ke rekening baru atas namanya sendiri. Bagian legal mengirim rincian jam kerja, biaya desain, dan hak cipta. Tidak ada potongan untuk kamar, makanan, keamanan, atau perawatan.
Keira meminta koreksi pada satu baris yang menyebut seluruh bahan akan dibayar Hartono. Ia ingin bahan tambahan yang dipilih sendiri dipotong dari upahnya, lalu meminta bukti transaksi.
Rayhan membaca revisi itu. "Kamu tidak perlu membuktikan bahwa kamu bukan beban."
"Aku sedang membuktikan bahwa ini pekerjaanku."
"Baik."
Hari itu juga, kontrak yang diperbaiki masuk ke surelnya. Keira mencetak satu salinan dan menyimpannya bersama kartu ATM. Untuk pertama kalinya, uang hasil tangannya tidak melewati rekening Edmond atau loket lapas.
Setiap pulang kerja, Rayhan mampir ke ruang sulam.
Ia tidak pernah bertanya berapa banyak yang selesai. Pertanyaannya selalu sama.
"Sudah makan?"
Jika Keira menjawab belum, lima belas menit kemudian Bi Sari akan muncul membawa sup. Jika jawabannya sudah, Rayhan duduk di sofa dekat pintu, membaca laporan sambil mendengarkan bunyi jarum menembus sutra.
Pada malam ketiga, Keira keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah. Empat jari kirinya tidak kuat menggenggam pengering rambut lama-lama. Alat itu jatuh dua kali ke kasur.
Rayhan yang mengantar obat berhenti di pintu. "Boleh kubantu?"
Keira ragu, lalu menyerahkan pengering itu.
Rayhan menjaga jarak alat dari kulit kepalanya. Tangannya tidak menarik rambut atau menyentuh leher. Ia mematikan alat setiap Keira mengangkat satu jari, seperti aturan yang sudah mereka sepakati tanpa banyak kata.
Malam berikutnya, nyeri di kaki kiri membuat Keira terbangun. Ryan telah memberi salep untuk jaringan parut yang sering menegang. Keira bisa mengoles bagian depan betis, tetapi sulit mencapai sisi belakang tanpa memutar lutut.
Rayhan mengetuk setelah melihat lampu masih menyala.
"Aku bisa memanggil Tante Mira."
"Dia baru tidur."
"Amanda?"
"Besok ada kelas pagi."
Rayhan berlutut dengan jarak satu lengan. "Kalau kamu mengizinkan."
Keira menyerahkan tube salep. Rayhan mengoleskannya hanya pada garis luka yang ditunjuk, lalu berhenti saat ototnya menegang. Tidak ada rasa memiliki dalam sentuhannya. Hanya ketelitian orang yang mengingat enam patahan tulang itu pernah dibiarkan tanpa pengobatan.
Pagi berikutnya, Keira membutuhkan benang sutra merah dengan kilau kebiruan. Persediaan vila tidak memiliki warna yang tepat. Ia memutuskan pergi ke toko sulaman di Glodok.
Tangga vila masih memperlambatnya. Saat turun, kaki kirinya kehilangan tumpuan pada anak tangga keempat. Rayhan menangkap pinggangnya sebelum tubuhnya jatuh.
"Aku bisa turun sendiri," kata Keira.
"Bisa. Tapi akan sakit."
Rayhan menunggu. Ketika Keira tidak menolak lagi, ia mengangkatnya. Satu tangan menyangga punggung, satu lagi berada di bawah lutut tanpa menekan bagian yang nyeri. Di lantai bawah, ia langsung menurunkannya ke kursi dan mengembalikan tongkat.
Brandon pura-pura sibuk memeriksa kunci mobil.
"Kalau tertawa, gajimu dipotong," kata Rayhan.
"Saya hanya terharu melihat Bos akhirnya menggunakan otot untuk hal selain golf."
Keira menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.
Toko sulaman di Glodok sempit dan penuh rak kayu. Gulungan benang tergantung dari langit-langit, memantulkan cahaya merah, emas, dan hijau. Pemilik toko mengenali pola contoh yang dibawa Keira dan membuka kotak persediaan lama dari Suzhou.
Keira membandingkan tiga warna di bawah cahaya jendela. Rayhan berdiri di dekatnya, membiarkan ia memilih tanpa menyebut harga.
"Keira."
Suara itu membuat empat jarinya berhenti di atas benang.
Daniel berdiri di dekat meja teh di bagian belakang toko. Perban tipis membungkus pergelangan tangannya, bekas malam ketika Keira menggigitnya di rumah sakit. Di tangan satunya ada cangkir porselen.
Tatapannya berpindah dari benang ke tangan Keira yang sedang memegang lengan Rayhan untuk menjaga keseimbangan.
"Kamu memilih laki-laki ini?" tanya Daniel.
"Aku memilih tempat yang tidak menyiksaku."
"Hartono tidak melakukan sesuatu tanpa tujuan."
"Kamu juga tidak. Bedanya, tujuanmu mematahkan kakiku."
Daniel menahan napas. "Aku salah tentang Evelyn. Aku akan memperbaikinya."
"Dengan apa?"
"Memindahkannya ke tempat yang tidak bisa dijangkau Selena. Evelyn hampir dibunuh di rumah sakitnya sendiri."
Keira menatapnya. "Pemeriksaan kesaksiannya harus didampingi tim independen. Bukan disembunyikan oleh orang yang merasa paling berhak atas hidupnya."
"Dia adikku."
"Dan aku orang yang kamu siksa atas namanya. Hubungan darah tidak membuat keputusanmu selalu benar."
Daniel memandang sekeliling toko, memastikan tidak ada orang yang cukup dekat untuk mendengar. "Kalau lokasi Eve diketahui, Vanessa akan mencoba lagi. Jangan mencarinya. Aku akan membawa dokter terbaik."
"Kalau begitu berikan lokasi itu kepada penyidik dan pengacara independen."
Daniel diam. Diamnya adalah jawaban.
"Tulangku tidak kembali lurus karena kamu mengatakan salah."
Ia maju satu langkah.
Keira refleks merapat pada Rayhan. Rayhan menatapnya, menunggu. Ketika Keira mengangguk kecil, lengannya melingkari bahu Keira dan menariknya ke sisi tubuhnya.
"Ini tunanganku," katanya dingin. "Kalau kau berani mendekatinya satu langkah lagi, aku akan menganggapnya ancaman."
Daniel menatap lengan itu. Cangkir porselen di tangannya retak. Pecahannya melukai telapak, dan darah menetes di lantai toko.
Pemilik toko hendak mengambil kotak obat, tetapi Daniel meletakkan pecahan cangkir di meja.
Ia tidak mengatakan apa pun. Ia berbalik dan pergi.
Keira memandang darah yang tertinggal. Daniel dahulu adalah lawan yang menunggu nilainya di papan kompetisi. Kemudian ia menjadi orang yang membayar agar tubuh Keira dihancurkan. Perasaan di matanya barusan bukan penyesalan yang sehat. Itu sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang ingin memiliki apa yang telah ia sakiti.
Ia teringat satu kompetisi matematika saat berusia enam belas tahun. Daniel meraih juara dua dan mematahkan pensilnya di belakang panggung. Namun ketika hujan turun dan Keira tidak dijemput keluarga Pratama, laki-laki itu berdiri di seberang jalan sampai bus terakhir datang. Ia tidak menawarkan payung. Ia hanya memastikan tidak ada murid lain mendekatinya.
Dulu Keira mengira itu kebencian. Sekarang pola itu tampak lebih buruk. Daniel selalu menyamakan perhatian dengan pengawasan dan perlindungan dengan kepemilikan.
Rayhan melepaskan pelukannya segera setelah pintu menutup.
"Aku memakai kata yang dilarang perjanjian kita," katanya.
"Aku mengizinkannya untuk menghentikan Daniel. Hanya kali ini."
"Baik."
Keira mengangkat gulungan benang pilihannya. "Dan aku membayar bahan ini dari upahku."
Rayhan menyerahkan keranjang belanja kepadanya. "Baik."
Malamnya, Keira kembali bekerja di ruang sulam. Rayhan berada di ruang kerja ketika Brandon masuk membawa tablet dan menutup pintu.
"Bos, Daniel Adiputra sudah memindahkan Evelyn dari rumah sakit. Dokumen keluarnya memakai rujukan rehabilitasi neurologis, tetapi fasilitas tujuan tidak tercantum."
"Kapan?"
"Dua jam setelah kejadian di Glodok. Orang kita mengikuti ambulans sampai bandara kargo. Setelah itu, jejaknya hilang."
"Daftar penerbangan pribadi?"
"Sedang diperiksa. Ada tiga pesawat medis lepas landas dalam rentang waktu itu. Satu menuju Kuala Lumpur, satu Singapura, satu tercatat kembali ke hanggar tanpa rute terbuka."
"Cari izin imigrasi semua tenaga medis yang mendampingi. Jangan dekati Daniel sebelum lokasi Evelyn pasti."
Rayhan meletakkan cangkir tehnya.
"Dia menyembunyikan saksi."