Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 — Keputusan yang Belum Bulat
Beberapa hari setelah kunjungan ke gerbang, Kaito masih belum bisa mutusin apa-apa. Setiap malem dia login, ngobrol sama tim, tapi topik soal "buka identitas ke publik" selalu berujung diskusi panjang tanpa kesimpulan jelas.
"Kalo dari sisi PR, mengungkap yang terkontrol biasanya lebih aman daripada dibiarin bocor sendiri. Tapi kita butuh timing yang tepat, dan platform yang bisa kita kendaliin narasinya."
"Maksudnya?" tanya Souma.
"Maksudnya, kita nggak asal posting di forum, kita perlu pikirin siapa yang bakal denger duluan, gimana reaksinya bisa kita antisipasi, dan gimana caranya biar Kaito tetep punya kendali atas cerita yang keluar, bukan orang lain yang nentuin narasinya." jelas Amagi.
Mei ngangguk-ngangguk, walau keliatan masih agak bingung sama istilah-istilah strategis yang dipake Amagi. "Yang penting Kaito nggak kenapa-napa aja intinya kan?"
"Intinya gitu," Amagi senyum tipis.
"Gue ngerti risikonya, tapi gue juga mikirin hal lain. Kalo gue buka soal LUK gue ke publik, orang-orang bakal mulai nyari tau siapa gue sebenernya. Nama asli, kerjaan, semuanya. Gue nggak yakin siap buat itu." kata Kaito sambil natap semua orang satu-satu.
Rin yang duduk di sampingnya ngangguk paham. "Itu kekhawatiran yang valid. Privasi lo penting. Tapi mungkin nggak harus se-ekstrem itu. Ada cara buat 'buka' tanpa harus bongkar identitas asli lo."
"Kayak gimana?"
"Gue belum tau persis, tapi itu yang perlu kita pikirin bareng-bareng. Bukan cuma soal iya atau enggak, tapi soal gimana caranya." kata Rin.
Kaito ngangguk, ngerasa sedikit lega walau pertanyaan besarnya masih ngambang. Diskusi malem itu berakhir tanpa keputusan final, tapi minimal ada kerangka pikir yang lebih jelas buat mereka semua.
Minggu itu di hari libur, Kaito mutusin buat pulang sebentar ke rumah orang tuanya di pinggiran kota, sesuatu yang udah lama nggak dia lakuin saking sibuknya sama kerjaan dan, belakangan ini sama dunia game yang makin lama makin nyerap waktunya.
Ibunya nyambut dia di depan pintu dengan pelukan hangat yang biasa. "Kaito! Nggak nyangka kamu pulang, biasanya cuma telepon doang."
"Kangen aja, ada waktu senggang kebetulan." kata Kaito, senyum.
Rumah itu masih sama kayak yang dia inget, foto-foto keluarga di dinding ruang tamu, bau masakan ibunya yang khas, suara TV yang selalu nyala walau nggak ada yang beneran nonton.
Ayahnya yang lagi baca koran di kursi malas, ngangkat tangan nyapa tanpa nengok, kebiasaan lama yang nggak pernah berubah.
Mereka duduk di ruang tamu, ngobrol ringan soal kerjaan, soal tetangga, soal hal-hal kecil yang biasa jadi obrolan keluarga.
Ibunya di tengah obrolan itu, sempet berhenti sebentar natap Kaito dengan ekspresi yang agak heran.
"Kamu keliatan beda, lebih cerah. Ada apa?" katanya.
Kaito ketawa kecil, nggak yakin harus jelasin sejauh mana. "Banyak hal berubah belakangan ini, Bu. Kerjaan lebih lancar, aku juga... yah, aku lagi deket sama seseorang."
Mata ibunya langsung berbinar. "Serius?! Kok nggak bilang-bilang!"
"Baru juga Bu, namanya Rin. Orangnya keren, tegas, tapi baik banget sama aku." Kaito ketawa.
"Kapan-kapan bawa ke rumah dong, bapak kamu juga pasti seneng banget ketemu." kata ibunya semangat.
Kaito ngangguk, ngerasa hangat denger antusiasme ibunya. Mereka ngobrol lebih lama, dan di tengah obrolan itu, ibunya sempet nyeletuk sesuatu yang bikin Kaito diem sejenak.
"Kamu inget nggak waktu kecil, kamu sering banget nanya kenapa kamu selalu apes? Kayak kenapa semua orang dapet hal baik, kamu enggak?"
"Inget, gue bahkan sempet mikir gue dikutuk." gumam Kaito.
"Bapak sama Ibu dulu khawatir banget, takut kamu tumbuh jadi orang yang pesimis, gampang nyerah tapi kamu nggak. Kamu tetep jalan terus, walau kadang keliatannya berat banget buat kamu." lanjut ibunya.
Kaito diem, ngerasa kata-kata itu ngena dalem, lebih dalem dari yang dia sangka sebelum pulang ke rumah ini.
"Sekarang liat kamu, akhirnya dapet kesempatan yang kamu pantas dapetin. Ibu bangga banget sama kamu Kaito. Apa pun yang bikin hidup kamu berubah, syukurin aja." kata ibunya senyum sambil ngelus punggung tangan Kaito pelan, gesture yang udah lama nggak dia lakuin sejak Kaito dewasa.
Kaito ngerasa matanya berkaca-kaca, nggak nyangka obrolan santai kayak gitu bisa ngena sedalem itu. Dia inget lagi semua kekhawatirannya soal buka identitas ke publik, takut kehilangan privasi, takut jadi bahan omongan, takut orang-orang natap dia beda gara-gara "keberuntungan aneh" yang dia punya.
Tapi di sisi lain, dia juga inget rasanya jadi orang yang selalu diabaikan, selalu ngerasa nggak dianggep. Dan sekarang, ada kesempatan buat bener-bener dilihat, bukan cuma sebagai orang sial atau orang beruntung, tapi sebagai dirinya sendiri, dengan segala kompleksitasnya.
Sore itu sebelum pulang, Kaito duduk sebentar di kamar lamanya, ngeliatin barang-barang kenangan yang masih tersimpan rapi, piala partisipasi dari lomba sekolah yang nggak pernah dia menangin, foto keluarga yang udah agak pudar warnanya, dan buku harian lama yang penuh sama catatan-catatan kecil soal hari-hari sialnya dulu.
Dia buka buku harian itu, baca beberapa halaman acak, ketawa kecil ngeliat tulisan tangannya sendiri yang masih berantakan waktu SMP, curhat soal ketinggalan bis, soal nilai ujian yang anjlok gara-gara pensil patah pas lagi hitung penting.
Ada juga halaman soal lomba menggambar yang dia ikutin kelas lima SD, di mana gambarnya yang paling bagus di kelas malah nggak sengaja keinjek temennya sendiri sebelum sempet dikumpulin.
Dia ketawa kecil ngebaca ulang semua itu, ngerasa aneh gimana hal-hal yang dulu kerasa kayak akhir dunia, sekarang cuma jadi cerita lucu yang bisa dia tertawain.
Di halaman terakhir yang pernah dia isi, sebelum buku itu berhenti dia pake, ada satu kalimat yang dia tulis waktu kelas tiga SMA:
"Mungkin gue emang bukan orang yang beruntung. Tapi mungkin, itu bukan hal terburuk yang bisa terjadi. Mungkin ada gunanya juga, entar."
Kaito natap kalimat itu lama, ngerasa ada semacam ironi pahit-manis ngeliat tulisan versi dirinya yang lebih muda, yang bahkan di tengah keputusasaan masih nyisain sedikit harapan.
Dia nutup buku itu, naro balik ke tempatnya, dan mutusin sesuatu di dalem hati.
Dia bakal buka identitasnya. Bukan sekaligus, bukan sembarangan, tapi pelan-pelan, dengan cara yang dia kontrol sendiri, bareng tim yang dia percaya.
Malemnya, begitu dia login lagi dan ketemu Rin di markas, dia langsung nyampein keputusannya.
"Gue mau ngelakuinnya, buka soal LUK gue ke publik. Tapi dengan cara kita sendiri, bukan sembarangan." katanya.
Rin natap dia lama, ngerasa keseriusan di suaranya. "Lo yakin?"
"Nggak sepenuhnya, tapi gue capek terus-terusan sembunyi. Dan gue mikir, kalo ini emang jalan buat nyelesain apa yang udah kita mulai, gue nggak mau lari lagi." kata Kaito.
Rin senyum, genggam tangannya erat. "Kalo gitu, ayo kita rencanain bareng-bareng. Kita bakal panggil Souma, Mei, sama Amagi buat mikirin strategi paling aman."
"Makasih Rin, buat selalu dukung apa pun keputusan gue." kata Kaito.
"Selalu, kita tim, inget?" kata Rin dengan senyumnya yang tulus.
Souma, Mei, dan Amagi login nggak lama kemudian, dan begitu Kaito nyampein keputusannya, reaksi mereka campuran antara excited dan waspada.
"Akhirnya! Gue udah nunggu-nunggu lo bikin keputusan. Tenang aja, kita bakal bantu semaksimal mungkin." seru Souma.
"Aku bakal siapin daftar hal-hal yang perlu diantisipasi, biar nggak ada yang kelewat." kata Mei serius.
Amagi ngangguk, udah mulai buka panel catatannya lagi. "Kita perlu waktu buat nyusun strategi yang matang. Nggak usah buru-buru, tapi juga jangan ditunda-tunda terus. Aku saranin kita mulai riset minggu ini, target eksekusi paling cepat sebulan dari sekarang."
"Sebulan," gumam Kaito, ngerasa campuran antara lega ada timeline jelas dan deg-degan mikirin apa yang bakal kejadian setelahnya.
"Kita bakal bantu lo tiap langkah, nggak ada yang harus lo hadepin sendirian." kata Rin sambil natap dia dengan mata penuh keyakinan.
Kaito ngangguk, ngerasa satu langkah besar baru aja dia ambil, meski jalan di depannya masih penuh ketidakpastian. Tapi buat pertama kalinya dalam hidupnya, dia nggak takut buat dilihat.
Dia siap akhirnya, buat jadi dirinya sendiri sepenuhnya, di depan siapa pun yang mau liat.
Malem itu sebelum logout, dia sempet natap sekali lagi ke arah panel resonansi yang masih nempel di sudut matanya, angka 94% yang belum berubah sejak kunjungan terakhir mereka ke gerbang.
Enam persen lagi. Enam persen yang sekarang kerasa jauh lebih dekat dari yang dia bayangin beberapa hari lalu.