NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Awal Panggung Sandiwara

Sensasi dingin di lorong lantai empat ICU Rumah Sakit Medika Utama perlahan melenyapkan sisa-sisa histeria yang sempat menguasai Naya. Di balik dinding kaca tebal, ia berdiri mematung menatap tubuh ibunya yang terbaring lemah.

Selang-selang medis dan irama konstan dari monitor detak jantung menjadi satu-satunya bukti bahwa napas Bu Retno masih berhembus.

Kelegaan yang menyeruak di dadanya berganti menjadi kesadaran tajam, harga dari kehidupan ibunya adalah kebebasannya sendiri. Uang dua miliar rupiah dan seluruh fasilitas medis mutakhir ini tidak datang secara cuma-cuma. Ada kontrak yang harus dilunasi, dan tenggat waktunya kian mengikis.

“Naskah kesepakatan dan press release sudah disetujui tim hukum Dirgantara Group,” suara Doni memecah keheningan dari balik punggung Naya. Asisten pribadi Arka itu berdiri anggun dengan tablet di tangannya.

“Besok pagi jam sembilan, pengumuman resmi pertunanganmu dan Pak Arka akan dipublikasikan ke seluruh media nasional.”

Naya membalikkan badan, merapikan kaus kusam yang dikenakannya. “Apakah ada yang perlu saya siapkan untuk besok?”

“Hanya mentalmu,” jawab Doni jujur.

“Dunia bisnis dan media tidak akan ramah pada kemunculan calon pengantin yang mendadak. Pak Arka memintamu beristirahat malam ini di suite rumah sakit yang sudah disiapkan. Besok jam tujuh pagi, tim stylist akan datang untuk mempersiapkanmu menghadapi konferensi pers.”

Sebelum Doni melangkah pergi, ia menyerahkan sebuah kotak makanan hangat dari kedai ternama beserta sebuah ponsel baru dalam kemasan segel.

“Nomor Pak Arka sudah tersimpan di dalamnya. Beliau berpesan agar kamu tidak mematikan ponsel ini sedetik pun.”

****

Malam berlalu lambat bagi Arka Dirgantara. Dari balik dinding kaca ruang kerjanya di lantai paling atas Dirgantara Tower, pemandangan lampu-lampu kota Jakarta tak mampu mengalihkan pikirannya. Berkas-berkas analisis pasar yang menumpuk di mejanya terabaikan sejenak.

Langkah ini berisiko, Arka menyadarinya. Membawa wanita tanpa latar belakang keluarga terpandang ke dalam lingkaran keluarga Dirgantara sama saja dengan mengundang badai di tengah rapat dewan komisaris.

Namun, dalam papan catur persaingan bisnisnya melawan kubu pamannya sendiri, pernikahan ini adalah benteng pertahanan terbaik untuk mengamankan posisi CEO-nya.

Ponsel di mejanya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor baru yang baru saja diaktifkan Doni.

Terima kasih untuk semuanya hari ini, Pak Arka. Ibu saya sudah aman di ICU. Saya akan mematuhi seluruh isi perjanjian sesuai jadwal besok. - Naya

Arka menatap layar ponsel itu selama beberapa detik. Jemarinya menari di atas layar, mengetik balasan dengan ritme dingin yang biasa ia gunakan.

Pastikan kamu tampil tanpa celah besok pagi. Kesalahan sekecil apa pun akan dimanfaatkan oleh media dan keluarga saya.

Pagi hari datang membawa atmosfer yang berbeda secara drastis. Ruang suite tempat Naya menginap mendadak disulap menjadi studio rias dadakan. Tiga orang penata busana dan penata rias bergerak cepat, mengubah penampilan Naya yang serba sederhana menjadi sosok calon menantu konglomerat yang elegan.

Gaun velvet berlengan panjang berwarna emerald green yang megah membungkus tubuhnya dengan sempurna. Potongan leher boatneck yang anggun dipadukan dengan aksen sabuk berhias permata halus di pinggang, memancarkan pesona berkelas tanpa terkesan berlebihan.

Rambutnya disanggul modern dengan rapi, dipadu riasan wajah natural yang menyamarkan rona lelah di matanya. Saat Naya menatap pantulan dirinya di cermin, ia hampir tidak mengenali wanita berwibawa yang berdiri di sana. 

“Luar biasa, Mbak Naya sangat memukau,” puji salah satu penata rias.

Pintu kamar terbuka, dan Doni masuk dengan wajah serius. “Sudah waktunya. Mobil Pak Arka sudah menunggu di lobi khusus. Konferensi pers akan dilaksanakan di Ballroom Utama Dirgantara Hotel.”

Naya menarik napas panjang, menepuk dada kirinya pelan untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Kemudian mengangguk mantap.

Begitu melangkah keluar dari lobi rumah sakit menuju bagian belakang sedan hitam yang pintu utamanya telah dibuka, Naya mendapati Arka sudah duduk di sana.

Pria itu mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap lengkap dengan dasi kupu-kupu, makin mempertegas kesan berwibawa dan tak tersentuh. 

Arka melirik Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang tajam.

”Lumayan. Gaun itu membuatmu tampak cukup meyakinkan untuk bersanding dengan saya.”

Naya mengabaikan sindiran halus itu dan duduk di sampingnya, menjaga jarak beberapa sentimeter. “Terima kasih atas bantuan dokter spesialis semalam.”

“Itu investasi, bukan kebaikan,” sahut Arka datar tanpa memalingkan wajah dari tablet di pangkuannya.

“Mulai detik ini, setiap tatapan, senyuman, dan gestur tubuhmu di depan kamera akan dinilai. Jika ada wartawan yang bertanya tentang asal-usulmu, gunakan jawaban yang sudah dihafal dari dokumen Doni.”

“Saya paham,” tegas Naya. “Saya tahu peran saya.”

Mobil mewah itu membelah kemacetan Jakarta menuju lokasi acara. Sepanjang perjalanan, keheningan yang sarat ketegangan menyelimuti mereka berdua.

Bagi Naya, ini adalah awal dari panggung sandiwara terbesar dalam hidupnya.

Saat mobil akhirnya berhenti di pintu masuk ballroom Dirgantara Hotel, karpet merah sudah terbentang menanti mereka. Kilatan lampu kilat kamera dari puluhan wartawan langsung menyambar kaca mobil yang gelap. Suara riuh jurnalis yang saling berebut posisi terdengar hingga ke dalam kabin. 

Arka merapikan kancing jasnya, lalu menoleh menatap Naya dengan mata tajamnya. Pria itu mengulurkan tangannya di depan Naya. 

“Pegang tangan saya, Naya. Pintu akan dibuka.”

Naya menatap telapak tangan Arka yang kokoh, lalu menyambut genggaman hangat itu.

Pintu mobil terbuka lebar, dan gelombang sorotan kamera serta pertanyaan media bertubi-tubi langsung menyapa mereka. 

*

*

Genggaman tangan Arka mengencang, memberikan tekanan yang tak terlihat oleh kamera, seolah menjadi pengingat tak bersuara agar Naya tetap tenang di bawah gempuran kilatan lampu kamera.

Arka melangkah keluar lebih dulu dengan gestur penuh wibawa, lalu membimbing Naya berdiri di sampingnya di atas karpet merah.

Kilatan lampu kamera kian bertubi-tubi, menyilaukan mata. Puluhan mikrofon dari berbagai media nasional mendadak menyodor ke arah mereka, diiringi teriakan pertanyaan yang saling bersahutan tanpa jeda.

“Pak Arka! Apakah pengumuman pertunangan mendadak ini untuk menepis isu disfungsi ereksi yang beredar di kalangan pengusaha belakangan ini?”

“Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor bahwa Anda sebenarnya seorang penyuka sesama jenis dan pernikahan ini hanya sekadar tudung kedok publikasi?”

“Apakah wanita di samping Anda ini sengaja disewa untuk menyelamatkan saham Dirgantara Group yang sempat goyah akibat rumor orientasi seksual Anda?”

Pertanyaan-pertanyaan tajam dan liar itu menggema di lorong ballroom, memancing kasak-kusuk dari para tamu undangan dan staf medis yang menyaksikan dari kejauhan. Wajah para pengawal di sekeliling mereka menegang, siap memasang barikade untuk menghentikan desakan jurnalis.

Namun, Arka sama sekali tidak menunjukkan riak terkejut. Ekspresinya tetap tenang, dominan, dan penuh kendali. Ia tidak menghindari satu pun lensa kamera. Sebaliknya, Arka justru melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Naya, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke sisinya dalam gestur posesif yang sangat natural.

Sentuhan mendadak itu membuat desir hangat menjalar di punggung Naya, namun ia segera menguasai diri. Naya menyunggingkan senyum tipis yang anggun dan tenang, persis seperti yang diinstruksikan dalam dokumen panduan Doni.

Arka sedikit memiringkan kepala ke arah mikrofon terdepan, lalu bersuara dengan nada bariton yang mantap dan menggema tajam.

“Rumor murahan yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang panik melihat pergerakan saham Dirgantara Group tidak membutuhkan panggung untuk dibantah,” ujar Arka dengan tatapan dingin yang mampu menembus kamera para jurnalis.

Arka menoleh menatap Naya lama, seakan-akan dunia di sekitar mereka menghilang. Tatapannya melelehkan kesan dingin untuk sekejap, menyisakan intensitas yang membuat napas Naya tertahan.

“Jika ada yang masih meragukan selera maupun kemampuan saya sebagai seorang pria,” lanjut Arka, kembali menatap barisan wartawan dengan senyum miring yang penuh percaya diri,

“kehadiran tunangan saya di samping saya pagi ini adalah jawaban paling mutlak. Saya tidak perlu membuktikan apa pun kepada media, cukup kepada wanita yang akan menjadi istri saya.”

Keheningan merayap sejenak di antara kerumunan jurnalis yang terpaku oleh jawaban tajam dan gestur intimidatif Arka. Sebelum mereka sempat melontarkan pertanyaan susulan, Doni bersama tim keamanan langsung mengambil alih panggung untuk memandu pasangan tersebut melangkah masuk menuju panggung utama Ballroom Dirgantara Hotel.

Saat pintu kaca raksasa ballroom tertutup dan mengunci suara bising di luar, Naya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Namun, genggaman tangan Arka di jemarinya masih belum terlepas.

“Akting yang tidak buruk,” bisik Arka di samping telinga Naya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

–tbc–

1
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Kecewa Arka tahu ada guling mati di ranjangnya 🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga acara yang kau tangani sukses,Naya.
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): amiiiiin......
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
paha oh paha 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): terbayang-bayang paha mulus ya😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lemes Arka ,emak suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 tidak bisa tidur,balas saja Naya seolah guling juga,impas
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Yakin benengmu tetep kokoh Nak Arka.
sunaryati jarum
Bener tuh kata Doni
sunaryati jarum
Mengapa gengsi Arka,emak sumpahin kau memanggilku perjanjian dan bucin pada istri kontrakmu 😂😂😂
sunaryati jarum
Benar dugaan emak ,kamu itu sarjana yang hanya kurang beruntung.Kamu beruntung punya sahabat yang tepat buat melaksanakan tantangan Oma Soraya.Semogs berhasil Dera,dan melebihi ekspektasi mereka yang meremehkan kamu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 bagaimana cara membuktikan Arka, jika burungmu bisa terbang?
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ya dikeluarin dari sangkarnya atuh kak🤭🤭🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Pilihan mendadak pada Naya ternyata tepat ,dia cerdas mungkin sarjana juga,cuma nasib yang kurang beruntung
Maseni Maseni
saatnya menunggu arka tersiksa dengan perasaannya sendiri.... sementara naya B aja dan enjoy dgn kerjaanya yg baru

buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): oke😉👌🏻
total 1 replies
Rian Moontero
mampir ah😄👍
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): thank you🙏
total 1 replies
Tiara Bella
kasian sekali km Naya.....Arka jangan galak² Napa km....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!