NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Menyusup Gua Perlindungan Perang

Malam itu, Hendra menerbangkan helikopter musuh kembali ke sarangnya.

Ia tidak terbang tinggi.

Helikopter merah bergerak rendah di antara punggung bukit, lampu luar mati, radio diam, badan tertutup garis putih dari salju yang sengaja ia biarkan menempel. Rotor memukul udara beku dengan ritme yang belum sepenuhnya ia sukai, tetapi tangannya sudah tidak kaku di kontrol.

Ia bukan pilot ahli.

Belum.

Tetapi Pilot Ongky sudah mati setelah memberi pelajaran pertama, dan pelajaran kedua sedang berlangsung di langit.

Blacky terikat aman di kursi samping dengan harness kecil, rompi termal, dan pelindung telinga. Anak Corgi itu tidak terlihat senang, tetapi ia tidak panik. Matanya mengikuti tangan Hendra, lalu sesekali menatap kegelapan di luar kaca.

"Kau benar," kata Hendra pelan. "Ini memang berisik."

Blacky mendengus pendek.

Di bawah mereka, Taman Hutan Utara berubah menjadi hamparan hitam putih. Pohon beku, bukit batu, jalan tua yang tertutup es, dan beberapa garis cahaya redup yang tidak seharusnya ada di dunia mati.

Markas Herman.

Eks-gua perlindungan perang itu dibangun menempel di tubuh bukit. Dari udara, pintu utamanya hampir tidak terlihat, tertutup tebing dan pohon. Tetapi Ongky sudah menggambar arah. Sarno sudah memberi tanda. Dan indra Hendra yang baru membuat kegelapan lebih jujur.

Ia melihat asap tipis keluar dari celah batu.

Ia mendengar mesin generator berdetak rendah di bawah bukit.

Ia mencium solar, asap batu bara, keringat manusia, dan logam senjata yang dipakai terlalu sering.

Indra Kayu belum lengkap. Ia belum bisa menembus dinding batu seperti mata dewa.

Tetapi untuk orang-orang yang merasa aman hanya karena bersembunyi di gua, ini sudah cukup.

Hendra mendaratkan heli merah di balik punggung bukit kecil, sekitar enam ratus meter dari pintu belakang yang disebut Ongky sebagai jalur servis lama. Rotor dimatikan perlahan. Keheningan datang seperti kain tebal.

Ia menunggu satu menit.

Tidak ada alarm.

Tidak ada lampu sorot naik.

Mereka belum tahu heli mereka sudah pulang sebagai mayat merah.

Hendra membuka pintu. Udara -50°C masuk. Blacky mengangkat kepala.

"Kita jalan pendek. Dekat padaku."

Blacky turun ke salju dengan sepatu pelindung kecil. Ia menggoyang tubuh sekali, lalu mengikuti kaki Hendra. Di punggungnya ada lampu kecil yang ditutup filter merah redup, hanya cukup untuk Hendra melihat posisinya saat ia tidak ingin memakai kamera.

Hendra membawa pistol berperedam, pisau, tali tipis, dan beberapa magasin di luar. Sisanya berada di Ruang Penyimpanan, siap muncul di telapak kapan pun ia memanggil.

Rahasia terbaik bukan senjata yang paling kuat.

Rahasia terbaik adalah senjata yang tidak terlihat sebelum membunuh.

Mereka bergerak menuruni lereng.

Pos luar pertama berada di bawah pohon tumbang. Dua penjaga duduk di balik dinding seng bekas, memeluk senapan, menghadap jalan utama. Mereka tidak melihat ke belakang karena tidak percaya ada orang waras datang dari lereng beku tanpa lampu.

Hendra mendengar gigi salah satu penjaga beradu.

Yang lain sedang mengunyah sesuatu.

Blacky berhenti dua meter di belakang Hendra. Tidak bersuara.

Bagus.

Hendra mengangkat pistol.

Dua tembakan pendek.

Kepala pertama jatuh ke bahu. Kepala kedua menghantam seng. Suara tertahan oleh angin dan peredam.

Hendra menangkap tubuh sebelum senapan mereka menabrak batu. Dua mayat ditarik ke balik salju. Senjata, radio, dan senter masuk ke Ruang Penyimpanan. Tubuh tetap tinggal, ditutup lembar putih.

Ia tidak membawa jenazah ke dalam ruang cincin.

Yang mati cukup menjadi beban dunia luar.

Pos kedua lebih dekat ke jalur servis. Tiga orang. Satu berdiri, dua duduk di dekat drum api kecil yang asapnya dialirkan ke pipa rendah. Mereka lebih waspada. Salah satu memegang radio dan beberapa kali melirik ke langit.

"Bang Ongky lama," gumamnya.

"Mungkin ambil perempuan dari pos hijau," jawab yang duduk.

Hendra berhenti.

Di sampingnya, Blacky menggeram hampir tanpa suara.

Kalimat itu cukup.

Tidak perlu bukti tambahan untuk tahu tempat ini lebih busuk daripada dingin di luar.

Hendra memasukkan pistol ke Ruang.

Tangan kosong.

Lalu dari Ruang, tiga pisau tipis muncul di sela jarinya.

Ia bergerak saat angin naik.

Pisau pertama masuk ke tenggorokan penjaga berdiri.

Pisau kedua menancap di dada orang yang memegang radio.

Yang ketiga sempat bangun dan membuka mulut. Hendra sudah berada di depannya. Satu tangan menutup mulut, satu tangan mematahkan leher.

Drum api masih menyala kecil.

Hendra mematikan api itu dengan salju. Pos luar tidak boleh terlihat berubah terlalu cepat.

Lima penjaga luar hilang.

Masih tidak ada alarm.

Jalur servis lama berada di balik tumpukan batu. Pintu bajanya berkarat, tetapi baru-baru ini diberi pelumas. Ada kabel alarm sederhana di bagian dalam, tertarik ke kaleng berisi baut yang akan berbunyi jika pintu dibuka paksa.

Murahan.

Tetapi di lorong gelap, suara kecil bisa membangunkan banyak senjata.

Hendra berjongkok. Dengan penglihatan super, ia melihat garis kabel dari celah pintu. Dengan pendengaran, ia menangkap getaran kecil logam. Dengan kendali Logam, ia menahan baut di kaleng agar tidak bergerak, lalu membuka pintu perlahan.

Tidak ada bunyi.

Blacky masuk setelahnya, badan rendah, kaki kecil menapak hati-hati.

Lorong servis itu sempit dan turun. Dindingnya beton tua. Udara di dalam lebih hangat daripada luar, tetapi baunya buruk: batu bara, minyak, sup basi, pakaian basah, darah lama, dan manusia terlalu banyak dalam ruang tertutup.

Hendra menutup pintu di belakangnya.

Gelap menelan mereka.

Ia tidak menyalakan senter.

Mata barunya cukup.

Di tikungan pertama, satu penjaga berdiri sambil buang air ke ember. Hendra mencium alkohol murah dari napasnya sebelum melihat wajahnya. Orang itu menoleh karena Blacky menggeser serpihan beton sangat kecil.

Terlambat.

Tangan Hendra keluar dari kegelapan dan menekan mulutnya. Pisau pendek muncul dari Ruang, masuk, keluar, hilang lagi.

Tubuh penjaga diturunkan tanpa suara.

Di tikungan kedua, ada pintu kayu. Dari baliknya terdengar empat napas. Dua tidur. Satu mendengkur. Satu memainkan korek.

Hendra tidak masuk.

Ia mengambil granat gas air mata dari Ruang, membuka pin, menahannya satu detik, lalu menyelipkannya lewat celah bawah pintu. Begitu asap mulai keluar, ia menahan kenop dari luar dengan kendali Logam.

Di dalam, orang-orang terbatuk, jatuh dari ranjang, menabrak dinding.

"Pintu! Buka pintu!"

Hendra menunggu sampai suara mereka lemah, lalu masuk.

Empat tembakan berperedam.

Selesai.

Gas dibuang ke lorong ventilasi kecil. Pintu ditutup lagi. Dari luar, ruangan itu tampak seperti barak yang masih dikunci.

Blacky menatapnya.

"Aku tahu," Hendra berbisik. "Cepat dan bersih."

Mereka terus turun.

Markas Herman lebih besar daripada pos Sarno. Bukan sekadar gua. Ini benar-benar bekas perlindungan perang: lorong beton, pintu baja, ruang samping, kabel darurat, pipa ventilasi, dan jalur yang dirancang agar orang bisa bertahan saat dunia di luar hancur.

Ironis.

Tempat yang dulu dibuat untuk melindungi manusia sekarang dipakai menimbun manusia seperti barang.

Di lorong ketiga, Hendra menemukan peta kasar di dinding. Coretan merah menunjukkan pintu utama, gudang batu bara, ruang genset, ruang makan, ruang bos, dan area yang hanya diberi tanda X.

X itu berada lebih dalam.

Dari arah sana, penciuman Hendra menangkap bau yang membuat rahangnya mengeras.

Darah beku.

Obat penenang.

Keringat ketakutan yang tertinggal di kain.

Ia tidak butuh Indra Batin untuk memahami peta itu.

Lorong menuju X dijaga dua orang. Mereka tidak menghadap luar. Mereka menghadap ke dalam, seolah menjaga agar sesuatu tidak keluar.

Hendra memilih senyap.

Satu baut kecil di engsel pintu baja bergerak oleh kendali Logam, jatuh ke lantai di sisi kiri.

Kedua penjaga menoleh bersamaan.

Hendra muncul dari sisi kanan.

Pistol berperedam menyalak dua kali.

Dua tubuh jatuh.

Blacky tidak menggonggong, tetapi bulu di punggungnya berdiri.

Hendra melangkahi mereka dan membuka pintu X.

Di balik pintu itu bukan ruang tahanan utama.

Itu ceruk samping.

Lampu kuning kecil berkedip di langit-langit. Udara lebih dingin daripada lorong, mungkin karena ventilasi rusak. Di lantai, di bawah kain terpal kotor, ada bentuk-bentuk panjang yang disusun tanpa hormat.

Hendra menarik satu sudut terpal.

Wajah-wajah perempuan yang membeku muncul dalam cahaya kuning.

Beberapa masih muda. Beberapa sudah sulit dikenali. Semua diam dengan cara yang membuat lorong seolah berhenti bernapas.

Blacky mundur setengah langkah, lalu menggeram rendah.

Hendra melepaskan terpal itu perlahan.

Tidak ada lagi keraguan.

Sarno hanyalah cabang busuk.

Akar kebusukan ada di dalam gua ini.

Dari lorong lebih dalam, suara pria tertawa terdengar samar.

Hendra berdiri, memasukkan pistol kosong ke Ruang, lalu memanggil senjata baru ke telapak tangannya.

Malam ini ia tidak datang untuk bernegosiasi.

Ia datang untuk membersihkan sarang.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!