NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babi dan Hukuman Mati

Tidak lama kemudian, Eve akhirnya tiba di depan ruang kerja Lucien. Cecil mengetuk pintu dua kali, lalu menunggu sampai suara dari dalam terdengar.

"Masuk," terdengar suara Lucien dari balik pintu.

Cecil membuka pintu dan mempersilakan Eve masuk. "Saya tunggu di sini, Nona."

Eve mengangguk sambil menggenggam gambar buatannya erat-erat. Dia melangkah masuk, pintu kemudian tertutup kembali. Vins yang berada di dalam ruangan segera menghampiri Eve. Tatapannya turun kepada kotak kecil yang dibawa gadis tersebut, lalu kepada kertas gambar di tangannya.

"Biar saya bawakan, Nona," ujar Vins sambil mengambil kotak kue dari tangan Eve.

Eve membiarkannya, lalu berjalan mendekati meja kerja Lucien. Seperti biasa, Duke tersebut masih sibuk dengan tumpukan laporan. Beberapa lembar dokumen terbuka di hadapannya, sementara pena bergerak cepat di antara jemarinya.

Lucien tidak langsung mengangkat kepala.

"Kali ini mau apa?" tanyanya dingin.

Eve berhenti di depan meja. Dia sama sekali tidak keberatan dengan nada bicara tersebut. Malah wajahnya terlihat semakin bersemangat karena sudah memiliki alasan yang cukup bagus untuk datang.

"Papa kan udah janji cama Ape," kata Eve sambil mengangkat gambar di tangannya. "Papa mawu main, Ape datang."

Pena Lucien berhenti, dia mengangkat wajah dan menatap Eve. Eve kemudian tersenyum lebar sambil menunjukkan kertas tersebut.

"Ape bawa hadiah juga."

Lucien mengalihkan pandangan kepada Vins.

Vins segera maju untuk mengambil gambar, dia meletakkan kotak kue di sisi meja terlebih dahulu, kemudian melihat gambar yang baru saja diterimanya.

Matanya berpindah dari gambar kepada Eve, kemudian kembali lagi kepada gambar. Sudut bibirnya mulai bergerak, tetapi dia segera menahannya. Dengan wajah yang berusaha terlihat profesional, Vins menyerahkan kertas tersebut kepada Lucien.

"Hadiah dari Nona Aveline, Yang Mulia," katanya.

Lucien menerima gambar tersebut.

Tatapannya langsung tertuju pada permukaan kertas.

Ada sebuah rumah dengan atap miring, pohon yang bentuknya tidak beraturan, bunga-bunga warna-warni, sosok kecil yang kemungkinan besar adalah Eve, lalu dua gambar hewan dengan ukuran yang cukup besar.

Lucien mengerutkan kening.

"Apa maksud gambar ini?" tanyanya serius. Lucien mengangkat sedikit kertas tersebut. Tatapannya tertuju pada dua hewan yang tergambar di sana.

"Kau memberiku gambar hewan?"

Eve langsung mendengus.

"Itu Papa."

"Apa?" Lucien tampak tidak mempercayai jawaban anak angkatnha itu.

"Itu Papa," ulang Eve sambil menunjuk gambar hewan yang mengenakan pakaian merah muda dan pakaian coklat.

Lucien menatap gambar tersebut cukup lama. Kemudian dia mengalihkan pandangan kepada Eve.

"Aveline, jelas-jelas aku melihat babi dan anjing di sini."

Vins yang berdiri di samping meja langsung menundukkan kepala.

"Butan." Eve mengerucutkan bibir.

"Kalau bukan, lalu apa?" tanya Lucien.

"Papa." Eve menunjuk gambar babi berbaju merah muda.

"Papa juga." Kemudian jarinya berpindah kepada gambar anjing.

Bahu Vins kembali bergetar. Dia menutup mulut dengan tangan, berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa di depan majikannya.

Lucien memperhatikannya sekilas sebelum kembali melihat gambar.

"Kenapa aku menjadi babi dan anjing?" tanyanya dengan nada yang mulai terdengar tidak puas.

Eve menjawab tanpa ragu, "Papa gemuk."

"Aku tidak gemuk." Lucien langsung mengangkat wajah.

Jawabannya keluar begitu cepat sampai Eve berkedip. Dia menatap Lucien dari kepala sampai kaki, seolah sedang memeriksa ulang pernyataannya sendiri.

Memang benar, Lucien tidak gemuk. Tubuh pria tersebut tinggi dan tegap dengan bahu lebar. Bahkan pakaian formal yang dikenakannya membuat posturnya terlihat semakin kokoh.

"Tapi Papa babi." Eve menggaruk pipinya.

"Kenapa babi?" Lucien bertanya lagi, kali ini benar-benar ingin mengetahui alasan anak kecil tersebut.

"Papa pake baju walna pink." Eve menunjuk pakaian merah muda pada gambar.

Lucien terdiam, tatapannya beralih ke gambar kemudian kembali mengalihkan pandangan nya pada Eve.

"Jadi karena pakai warna merah muda, aku menjadi babi?"

"Papa bagus." Eve mengangguk mantap.

Vins akhirnya tidak mampu menahan tawanya. Suara tawa pendek lolos dari mulutnya sebelum buru-buru dia tutup dengan tangan.

"Vins." Lucien langsung melirik tajam.

Vins segera berdiri tegak. "Maaf, Yang Mulia."

Eve menatap keduanya dengan wajah bingung. Menurutnya, tidak ada bagian yang lucu dari gambar tersebut. Lucien kembali menatap kertas di tangannya. Dia menghela napas pelan, lalu mengusap pelipisnya.

"Baiklah. Aku mengerti."

Eve langsung tersenyum. Lucien meletakkan gambar tersebut di atas meja, lalu matanya beralih kepada kotak kecil di sebelahnya.

"Kalau begitu, apa yang kau bawa?"

"Kue!" jawab Eve cepat.

Vins membuka kotak tersebut. Aroma manis langsung menyebar di sekitar meja. Beberapa kue kecil berbentuk bunga tersusun rapi dengan lapisan krim dan buah beri di atasnya.

"Kau membuatnya?" Lucien menatap kue tersebut.

"Koki." Eve menggeleng.

"Kenapa membawakanku kue?"

Eve menjawab dengan wajah polos, "Papa halus maam."

Lucien menatapnya beberapa detik, Lalu mengambil satu kue.

'Nah. Berhasil.'

Setidaknya rencananya berjalan lebih baik daripada yang dia bayangkan. Eve kemudian menarik kursi kecil di dekat meja dan duduk. Lucien meliriknya sekilas sebelum kembali mengambil penanya.

"Kau masih mau di sini?"

"Papa janji Ape kemalin," Eve mengangguk.

Lucien terdiam sebentar, lalu mengembuskan napas.

"Aku masih harus menyelesaikan laporan."

"Dakpapa," jawab Eve sambil menopang kedua pipinya. "Ape temenin Papa bekelja."

Lucien tidak menjawab lagi. Dia kembali menulis, sementara Eve duduk tenang di dekat meja.

Namun baru beberapa menit berlalu, mata Eve mulai bergerak menuju tumpukan dokumen di hadapan Lucien.

'Kalau gue mau cari informasi lebih banyak soal keluarga Valois, ini kesempatan bagus.'

Eve duduk di kursi kecil di sisi meja, kedua kakinya bergoyang pelan karena belum menyentuh lantai. Awalnya dia masih memperhatikan kotak kue yang sudah terbuka, tetapi setelah beberapa menit, perhatiannya beralih kepada Lucien.

Pria tersebut kembali tenggelam dalam pekerjaannya seolah percakapan mengenai gambar babi dan anjing tadi tidak pernah terjadi. Pena bergerak di atas dokumen, sesekali berhenti ketika dia membaca laporan dengan teliti sebelum tangannya berpindah ke lembar berikutnya. Wajahnya terlihat serius, tetapi tidak seperti gambaran Lucien yang Eve ingat dari novel.

Di dalam The Rose and Crown, Lucien hampir selalu digambarkan sebagai Duke yang kejam, dingin, dan sulit didekati. Sosok yang bahkan membuat para bangsawan lain berhati-hati ketika menyebut namanya. Namun sekarang Eve melihatnya dari jarak dekat. Rambutnya sedikit berantakan setelah berjam-jam bekerja, beberapa helai jatuh di dekat dahinya. Lengan kemejanya tergulung sampai siku, memperlihatkan bagian lengannya ketika dia bergerak menulis. Sesekali dia mengusap pelipis atau menyandarkan punggung sebentar sebelum kembali membaca laporan.

Tidak ada aura mengerikan seperti yang sering digambarkan dalam novel. Lebih mirip seorang pria yang terlalu banyak bekerja dan kurang tidur.

'Gimana bisa orang kayak gini dicap sebagai penjahat?'

Eve menopang dagunya dengan kedua tangan. Dia memang belum mengenal Lucien cukup lama untuk menyimpulkan seperti apa sifat pria tersebut sebenarnya, tetapi selama beberapa hari berada di mansion, dia belum pernah melihat Lucien melakukan sesuatu yang pantas disebut kejam. Meskipun kemarin Lucien sempat hampir membunuhnya. Bahkan pria tersebut masih mengingat janjinya kepada Eve meskipun sedang dibebani pekerjaan.

Pikiran tersebut baru saja muncul ketika Vins kembali memasuki ruangan membawa sebuah map tebal. Langkahnya berhenti di depan meja, kemudian dia menyerahkan dokumen tersebut kepada Lucien.

"Yang Mulia, ada laporan dari penjaga," ujar Vins dengan nada lebih serius. "Seseorang tertangkap mencuri di kediaman Duke."

Lucien menerima laporan tersebut dan membukanya.

Eve masih memperhatikan dari kursinya. Dia tidak terlalu tertarik pada urusan pencurian, sampai melihat perubahan kecil pada wajah Lucien. Pria tersebut membaca beberapa lembar dengan tenang, lalu menutup map.

"Yang Mulia," Vins bertanya sambil menunggu keputusan, "tindakan apa yang harus kita lakukan?"

Lucien bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.

"Potong saja kepalanya," katanya datar. "Lalu gantung di gerbang depan. Biar semua orang tahu tidak sepantasnya mencuri di wilayahku."

Tangan Eve yang semula menopang pipi langsung turun. Sementata Vins tidak menunjukkan keterkejutan. Dia hanya menundukkan kepala sedikit.

"Baik, Yang Mulia."

Eve menatap Lucien dengan mata membesar.

'Gila.'

Beberapa detik sebelumnya dia masih berpikir bagaimana pria seperti Lucien bisa dianggap sebagai penjahat.

Sebagai dokter forensik, Eve sudah bertahun-tahun berhadapan dengan kematian. Dia pernah melihat tubuh dengan luka yang sulit dibayangkan, memeriksa korban kekerasan, dan mempelajari bagaimana tubuh manusia berubah setelah kematian. Kekejaman manusia bukan sesuatu yang asing baginya.

Namun mendengar seseorang menjatuhkan hukuman mati dengan nada sedatar orang yang sedang memutuskan menu makan siang tetap membuat tengkuknya terasa dingin.

Lucien sama sekali tidak terlihat terganggu oleh keputusan yang baru saja dibuatnya. Bagi pria tersebut, seorang pencuri yang tertangkap di kediamannya mungkin memang sesederhana sebuah masalah yang harus diselesaikan.

1
Nisa Nisa
Hahahha lucu terperangkap di tubuh anak kecil, mana ngomong nya lucu lagi tubuh nya kemasan sachet pula 🤣
Nisa Nisa
jadi batu? cuma bisa nunggu aja kalau ada yang tertarik buat nahat nya, enggak ada niatan jadi yang lain kau kaya ratu? dokter? ratu mafia kah? atau ratu gengster kah? 🤣
Nisa Nisa
what the hell? seperti cacing? mulut nya itu loh yang sabar yah eve😭
-Thiea-
jauh banget lompatnya.
-Thiea-
pantes ngomongnya masih cadel. baru empat tahun ternyata 😅
Nisa Nisa
pasti bangswan itu pilih kau mel Karana kau lucu gemesin kaway lagi 🤭
Filan
Hati-hati jangan sampai terlalu kenyang. perutmu kecil 🤣
Filan
anak kelaparan... kasihan... ☺
Filan
nanti juga akrab. Tenang saja.
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!