NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Aku Harus Manggil Para Senior dengan Nama Depan?

Setelah berdiskusi bersama di ruangan bos, semuanya dipersilakan untuk kembali mempersiapkan interior kafe sesuai tema event sebelum kafe dibuka pukul sembilan nanti.

Masih ada waktu satu jam sebelum kafe dibuka, dan mereka semua menjadi cukup sibuk.

Setelah melakukan penghiasan pada ruangan, mereka pun beristirahat di ruang istirahat para maid sembari ngobrol santai mengenai bagusnya ruangan yang didekor oleh mereka. Beberapa dari mereka juga mengistirahatkan suasana hati dengan meminum teh hijau yang nikmat.

Mereka duduk melingkari meja persegi panjang yang di atasnya ada pakaian pelayan natal. Di sana, Genki selalu menatap pakaian itu dengan mata berbinar.

Saat itu, Moiro merasa canggung dan tegang. Bagaimana tidak? Hanya dirinya seorang laki-laki di ruangan itu. Tentu saja pikirannya jadi terbang ke mana-mana.

Sini kutemenin.

Sora menyeruput teh miliknya. Bulu mata lentiknya terbuka setelah meneguk air dari gelasnya. Sorot matanya yang tajam perlahan terangkat, menatap ke arah Moiro yang ada di dekatnya sedang duduk tegang dan diam sedari tadi.

Sora dengan tenang meletakkan tehnya kembali ke atas meja, lalu berkata pelan dan datar, "Moiro Asahi. Kamu baik-baik aja?"

Moiro tersentak ketika namanya tiba-tiba disebut. Seniornya yang lain langsung menoleh karena Sora yang biasanya jarang bicara tiba-tiba berucap demikian.

Moiro menoleh pada Sora yang menatapnya datar dan tajam, namun tidaklah terasa mencekam atau mengancam.

"A-Aku tidak kenapa-kenapa..." jawab Moiro tersenyum canggung.

"Begitu, ya?" balas Sora. Dia kembali mengambil teh miliknya di atas meja, "Kalau ada sesuatu, beritahu saja."

"B-Baik..."

Mendapat jawaban itu, Sora kembali meminum tehnya dengan tenang.

Moiro hanya diam menatapnya, pikirannya heboh, "Kok dia bisa tau aku lagi kenapa-kenapa?! Dari kemarin-kemarin, dia selalu tau ada yang terjadi padaku...! Ngeri juga!"

Sarasara yang duduk di samping Moiro tiba-tiba memegang pundaknya lembut dan membuat Moiro terkejut.

"Kamu beneran gak kenapa-kenapa kan, Moiro~?" tanyanya pelan dengan lembut. Ekspresi wajahnya terlihat khawatir.

"I-Iya. Aku tidak kenapa-napa," jawab Moiro sambil tersenyum kaku. Masih cukup terkejut karena tiba-tiba bahunya dipegang.

Genki mencondongkan tubuhnya ke depan sambil bertumpu pada meja dengan ekspresi cemas, "Kalau ada masalah, ceritakan saja pada kami!"

Hikari melanjutkan, matanya terpejam dan suaranya terdengar enggan tapi sebenarnya cukup panik, "B-Benar. Soalnya kami ini seniormu."

Shizuka yang duduk di samping Moiro mendongak sedikit dan mengepalkan kedua tangannya ringan di depan dada, "K-Kami... Kami akan berusaha membantu...!"

Moiro seketika bingung. Semua seniornya tiba-tiba khawatir padanya. Wajahnya kaku seketika saat menatap ke depan.

Ia sedikit menunduk, merasa canggung, "Nganu..."

Para seniornya menatap ke arahnya.

"Kenapa kalian semua tiba-tiba khawatir begini...?" tanyanya pelan sambil sedikit mengangkat wajahnya.

Genki membalas cepat, "Karena Sora sudah khawatir padamu!"

Moiro tersentak,, matanya menatap ke arah Sora yang sedang minum, "Senior Shirogane...?"

"Kalau Sora sampai seperti itu," ujar Sarasara pelan, menimpali Genki sebelumnya, "itu berarti kemungkinan ada suatu masalah. Meski datar dan dingin begitu, dia orang yang paling perhatian."

Moiro akhirnya ingat dan menyadarinya, "Benar juga. Kalau dipikir-pikir, senior Tomoda pernah mengatakannya juga."

Tomoda? Shizuka Tomoda?

Moiro kembali teringat saat dirinya kelelahan di hari pertama bekerja dan Sora memberinya minuman dingin. Itu juga me jadi bukti tambahan kalau seniornya yang dingin itu sangatlah perhatian. Berbanding terbalik dengan ekspresinya.

Tiba-tiba, kepalanya diusap lembut oleh Sarasara.

Moiro terkejut, tapi Sarasara langsung mendekap dan tetap mengusap pelan kepalanya.

"Se-Senior? Kenapa tiba-tiba—?!" sentak Moiro panik. Wajahnya memerah seketika saat berusaha menoleh ke arahnya.

"Karena ini cara paling ampuh menenangkan seseorang~" balas Sarasara lembut, tak berniat melepaskan dekapannya.

"Ini mah bikin panik!" seru Moiro dalam benaknya.

Enak kali! Tukeran lah sini!

Sarasara menatap Moiro yang dipeluknya, lalu tersenyum lembut, "Meski kamu belum dandan, tapi tetap kelihatan menggemaskan~!"

"Saraa! Kamu curaang!" seru Genki sebal, pipinya sedikit menggembung, "Aku juga pengen meluk diaa!"

Sarasara semakin erat memeluk Moiro, "Tidak boleh~ Aku duluan~"

Pipi Genki makin membulat, "Dasar...!"

Aku juga pengen dipeluk...!

Moiro mulai memberontak kecil dari pelukan Sarasara.

"Se-Senior Nakamura... lepasin dulu... Aku sulit bernapas..." ucap Moiro sedikit tersedak.

Sarasara spontan melepaskan pelukannya, dan Moiro pun kembali bisa bernapas lega.

Sarasara memegang kedua pundak Moiro, menatapnya dekat lalu bertanya pelan, "Tadi kamu masih manggil saya pakai marga?"

Moiro tersentak. Ia tak sengaja mengucapkan itu. Memang benar ia masih sulit memanggil seniornya dengan nama, namun itu ia usahakan untuk ditutupi.

Sarasara tersenyum saat melihat ekspresi panik di wajah Moiro, "Coba dong, panggil pake nama~"

Bibir Moiro bergetar, "T-Tapi..."

"Moiro~!" balas Sarasara sedikit lebih tegas, sambil terus tersenyum lembut. Dia sengaja memberikan penekanan agar Moiro tidak mencari alasan.

Moiro terdiam. Bibirnya merapat dan terlihat bergetar halus.

Pipinya memerah tipis, sedikit menunduk, "Ba-Baiklah..."

Pandangannya diangkat, lalu berkata dengan malu, "Senior Sarasara..."

Sarasara tersenyum lebih lebar, dan memegang sebelah pipinya sendiri, "Itu lebih baik~!"

"Eeeh?! Moiroo! Aku juga mau dipanggil begituuu!" potong Genki tiba-tiba. Satu tangannya diangkat tinggi.

Moiro menoleh ke arahnya, bibirnya kembali merapat, pipinya masih memerah, "Se-Senior Genki..."

Genki tersenyum semringah, "Ahaa! Terima kasiiih!"

Sarasara kembali berucap pada Moiro, suaranya terdengar lembut, "Sekarang, coba panggil yang lain juga."

Moiro menoleh cepat, "Se-Semuanya...?"

Sarasara mengangguk, "Semuanya."

Moiro terdiam.

Perlahan, ia mulai menoleh, pada Hikari.

Hikari tersentak, mengira sekarang gilirannya untuk dipanggil dengan nama.

Hikari melipat tangannya lalu membalikkan wajahnya enggan, "H-Hmph! Bukan berarti aku mau dipanggil begitu, ya!"

Sarasara menepuk pelan sebelah pundak Moiro lalu berbisik pelan, "Itu tandanya dia mau."

Moiro melirik ke sembarang arah, lalu menatap pada Hikari, "Senior... Hikari..."

Hikari tersentak. Wajahnya menunduk cepat. Kedua pipinya yang memerah langsung dipegang panik olehnya sendiri.

Shizuka di samping Moiro kemudian mencolek-coleknya, pelan sambil tersenyum halus.

Moiro segera menoleh.

Shizuka memainkan kedua telunjuknya pelan, pipinya semakin memerah saat menatap wajah Moiro, "Mo... Mohon kerjasamanya..."

Batin Moiro berseru seketika saat melihatnya, "Imut bangeet...!"

Moiro tersenyum tipis, "Senior Shizuka."

Mendengar itu, senyuman Shizuka semakin lebar, diikuti wajahnya yang juga makin memerah. Dia mengangguk pelan, tanda terima kasih tak terucap.

Moiro kemudian menatap ke arah Sora, yang masih terlihat dingin seperti biasanya.

Sora meletakkan gelas tehnya—yang kebetulan sudah habis lalu mengangguk pelan pada Moiro, pertanda dirinya memperbolehkannya.

Moiro membalas anggukannya, sambil tersenyum tipis, "Senior Sora."

Ujung bibir Sora sedikit terangkat setelahnya, menampilkan senyuman samar yang sangat jarang muncul.

Moiro terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat senyuman senior dinginnya.

Tak hanya Moiro, senior yang lain juga terkejut melihat senyuman di bibir Sora. Itu adalah pemandangan yang sangat langka.

Genki tiba-tiba menghampiri lalu memeluknya erat-erat, "Kamu imut banget, Soraaa!"

Pipi Sora merona samar, merasa senang mendengar hal itu, "Terima kasih."

"Ternyata," gumam batin Moiro, ikut tersenyum melihat para seniornya yang saling tersenyum, "Memanggil nama orang yang terasa dekat... memang tidak seburuk itu."

Weeee! Manis kali bab bagian ini...!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!