Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Rumah Yang Aneh
Alea menghela nafas panjang. Ia kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layar ponselnya menyala.
Ada beberapa pesan dari Jihan.
Jihan :”Al, kalau kamu sudah bangun? kabarin aku kalau kamu sudah bangun.”
Jihan :”Dan satu lagi… Maaf banget soal semalam.”
Baru saja Alea mau membalas pesan itu, suara ketukan dari pintu mengalihkan perhatiannya
Tok…
Tok…
Tok…
“Masuk.” ucap Alea setelah refleks menoleh ke arah pintu.
Tidak lama… pintu kamar pun terbuka. Seorang wanita paruh baya terlihat masuk dengan membawa nampan berisi segelas air putih dan semangkuk bubur hangat.
“Selamat pagi, Nona Alea.” sapanya, ramah dan sopan.
Alea menatapnya bingung. Padahal, semalam jelas-jelas dia pulang dalam keadaan mabuk.
Akan tetapi, suasana di dalam rumahnya tampak biasa saja. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“Pagi juga, Bi.”
“Ini saya bawakan sarapan, Non. Kata Ibu, Non sebaiknya sarapan dulu sebelum minum obat.”
“Iya, Bi. Terima kasih.” jawab Alea mengangguk kecil.
Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja. Alea masih menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Bi…”
“Iya, Non?”
“Semalam… aku pulang jam berapa, ya?” tanya Alea. Bibi itu tampak berpikir sebentar, lalu menjawab,
“Kalau tidak salah sekitar tengah malam, Non.”
“Terus?”
“Terus apa, Non?”
Jawaban dari Bibi membuat Alea semakin kebingungan. Ini pertama kalinya ia pulang dalam keadaan mabuk. Tidak mungkin kalau orang tuanya tidak marah.
“Tidak ada yang marah?” tanya Alea lagi, namun Bibi itu malah tersenyum kecil.
“Tidak, Non.”
“Bibi yakin?”
“Tentu saja Bibi yakin, Non.”
Jawaban itu justru membuat Alea semakin tidak mengerti. Situasi ini terlalu tenang untuk orang yang baru saja melakukan kesalahan besar.
“Kalau tidak ada yang bisa Bibi bantu. Bibi izin pamit, ya, Non.”
“Iya, Bi. Silahkan dan terima kasih sarapannya.”
Sang Bibi pun berlalu pergi, meninggalkan Alea dengan kebingungannya.
Tidak biasanya, kedua orang tuanya bersikap tenang seperti ini. Jika mereka tahu dirinya pulang dalam keadaan mabuk, sudah pasti akan ada kemarahan yang sangat besar.
Bukan hanya kemarahan saja, namun ceramah panjang akan terus diucapkan oleh Ayah. Bahkan, bisa sepanjang hari dia diceramahi.
Namun sekarang? Keadaan tampak sangat tenang. Seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
Alea akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia turun ke lantai bawah.
Begitu sampai di ruang makan, langkahnya kembali terhenti.
Ayah dan Bundanya sedang sarapan seperti biasa.
Bunda bahkan terlihat sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir milik Ayah.
“Pagi, Sayang. Sudah bangun?” sapa Bunda dengan senyum hangat.
“Pagi juga, Bun.”
Alea duduk di kursinya. Matanya bergantian memperhatikan Ayah dan Bundanya.
Keduanya masih bersikap tenang. Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada wajah kecewa ataupun marah. Tidak ada juga pertanyaan mengenai kejadian semalam.
Semuanya benar-benar terlihat normal. Seperti kejadian semalam, tidaklah pernah terjadi.
Hingga akhirnya Alea merasa tidak tahan dan memberanikan diri untuk bertanya perihal semalam.
“Bun…”
“Hm?”
“Semalam…”
Tangannya berhenti memainkan sendok. Lalu menatap kedua orang tuanya silih berganti.
“Aku pulang tengah malam, kan?” tanyanya membuat Bunda Ratna akhirnya menoleh.
“Iya.”
Alea menelan ludah. Mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan apa yang terjadi semalam.
“Semalam… aku pergi sama Jihan.”
“Iya, Bunda tahu.”
“Terus…”
Ia ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Bunda nggak marah?”
Bunda justru tersenyum kecil. Namun, kali ini, Bunda Ratna tidak bisa lagi menyembunyikan raut wajah kekecewaannya kepada sang putri.
“Bohong kalau Bunda tidak marah. Tapi… Bunda menyadari, mungkin akar dari semua kejadian semalam, bermula dari Ayah dan Bunda. Maafkan kami, ya. Kami terlalu gegabah mengambil keputusan.”
Deg.
Alea terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sampai akhirnya, tatapannya beralih kepada sang Ayah.
Namun ekspresi pria paruh baya itu sama tenangnya dengan sang Bunda. Tidak ada kemarahan. Tidak ada bentakan. Tidak ada ceramah panjang kali lebar.
Alea sampai mengerjapkan mata beberapa kali. Berusaha meyakinkan penglihatannya. Takut jika ia salah lihat.
“Ayah… tidak marah?” tanyanya membuat Ayah mengangkat alis.
“Memangnya kamu ingin Ayah memarahimu?” tanya balik Ayah, semakin membuat Alea bingung dan cemas.
“Bukan begitu…” jawab Alea lirih.
Alea menundukkan wajahnya.
Justru sikap santai kedua orang tuanya membuatnya semakin merasa aneh.
Melihat wajah Alea yang tampak merasa sangat bersalah, Bunda Ratna pun akhirnya menghampiri sang putri, kemudian menyentuh tangan putrinya itu.
“Bohong jika kami tidak marah dan kecewa. Tapi… yang terpenting buat kami, kamu pulang ke rumah dalam keadaan selamat.”
Alea terdiam. Perasaan bersalah kian menyelimuti, menghimpit dada hingga menimbulkan rasa sesak.
“Ma-maafkan, Alea, Bun.” ucapnya lirih.
“Ayah sama Bunda sudah memaafkan kamu. Tapi, jangan pernah lakukan hal itu lagi. Mengerti?”
“Iya, Bun. Alea janji, tidak akan mengulanginya lagi.” jawab Alea mengangguk pelan.
Namun ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikirannya.
Bagaimana ia bisa sampai rumah? Siapa yang membawanya? Bisakah Jihan membawanya pulang seorang diri dalam keadaan tidak sadarkan diri?
Alea bergegas mengambil ponselnya kembali. Jarinya langsung mengetik pesan untuk sahabatnya itu.
Alea :”Han, sebenarnya apa yan terjadi semalam?”
Pesan itu baru saja terkirim ketika sebuah notifikasi lain muncul. Bukan dari Jihan.
Sebuah pesan yang datang dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya membuat dahi Alea mengernyit.
Ia membuka pesan tersebut. Lalu membacanya secara perlahan.
Agam :”Selamat pagi, Al. Ini Agam. Maaf mengganggu pagi kamu. Namun, ini untuk yang terakhir kalinya. Sebelum itu, izinkan aku minta maaf. Aku tidak tahu jika kehadiranku sudah membuat kamu kesulitan dan merasa tidak nyaman. Sumpah, aku tidak bermaksud seperti itu. Namun, setelah ini. Anggap kalau kita tidak pernah bertemu dan anggap juga, kalau kamu tidak pernah mengenalku. Sekali lagi… aku minta maaf sebesar-besar, Alea. Semoga setelah ini, kamu bisa bahagia kembali. Salam, Agam.”
Deg.
Jantung Alea seketika berdegup sangat kencang. Tangannya membeku di atas layar ponsel.
Ia masih belum mengingat semuanya. Namun, setelah membaca pesan dari Agam.
Ada satu hal yang Alea sadari, jika Agam terlibat dengan kejadian semalam. Atau mungkin, Agam lah yang membawanya pulang ke rumah.