Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Episode 1

Bab 001: Tanda Tangan Sebelum Kiamat

"Tanda tangani."

Suara Om Rusli Wijaya terdengar lembut, tetapi map hitam yang ia dorong ke depan Hendra seperti pisau di atas meja rapat.

Di dalam map itu ada dokumen pengalihan wewenang operasional PT Wijaya Sentosa.

Satu tanda tangan, dan Hendra akan berubah dari ahli waris menjadi pajangan.

Tiga bulan lagi, orang-orang di ruangan ini akan mengais makanan basi dengan tangan gemetar.

Pagi ini, mereka masih merasa sedang menang.

Hendra menatap pulpen perak di atas kertas.

Ujung pulpen itu menunjuk ke garis kosong di bawah namanya.

Hendra Wijaya.

Nama yang dulu ia tulis dengan tangan bergetar.

Di kehidupan lalu, ia marah. Ia membanting meja. Ia berteriak bahwa Om Rusli mencuri kuasa keluarga, bahwa Handoko bukan penyelamat perusahaan, bahwa kecelakaan ayah dan ibunya terlalu bersih untuk disebut musibah.

Hasilnya?

Ruang rapat menertawakannya.

Dokter perusahaan menyebutnya stres.

Media menyebutnya ahli waris muda yang tidak stabil.

Lalu satu per satu, saham, vila, rekening, dan nama keluarganya jatuh ke tangan orang lain.

Setelah itu dunia runtuh.

Panas ekstrem membakar Jakarta. Hujan besar menelan jalan-jalan pesisir. Lalu badai putih datang, menutup langit, membekukan kota, gudang, mayat, dan hati manusia.

Empat tahun Hendra bertahan.

Empat tahun ia menimbun makanan, merebut obat, menjaga api kecil di bunker, dan tidur dengan pisau di dekat tangan.

Ia tidak mati karena dingin.

Ia mati karena percaya.

Di lantai beton suaka penyintas, racun membakar tenggorokannya. Orang-orang yang ia selamatkan membongkar gudangnya, mengambil stok terakhirnya, lalu menutup pintu dari luar.

Sebelum napasnya putus, ia mendengar seseorang berkata, "Maaf, Bang. Dunia sudah berubah."

Lalu Hendra membuka mata di ruang rapat ini.

Tiga bulan sebelum kiamat.

Sebelum semua pengkhianat punya alasan untuk membuka taring.

Sebelum setiap rupiah di dunia lama berubah menjadi kertas sampah.

"Pak Hendra?" Sekretaris rapat menunduk canggung. "Dokumennya sudah ditandai. Bapak tinggal tanda tangan di tiga halaman."

Beberapa komisaris saling pandang.

Salah satu pria berjas abu-abu mendengus. "Kalau keputusan sekecil ini saja lama, bagaimana mau memegang perusahaan sebesar Wijaya Sentosa?"

Tawa kecil menyebar.

Handoko duduk di samping Om Rusli. Jasnya rapi, cangkir kopinya belum tersentuh, senyumnya sabar seperti orang tua yang sedang menghadapi anak keras kepala.

"Hendra," kata Handoko, "ini bukan perebutan. Ini perlindungan. Ayahmu pasti ingin perusahaan tetap stabil."

Nama ayahnya keluar dari mulut Handoko.

Ruang rapat terasa lebih dingin.

Jari Hendra berhenti di atas pulpen.

Kalau ini kehidupan lalu, ia sudah berdiri dan menghantam wajah pria itu.

Tapi kali ini, ia hanya mengangkat mata.

"Perlindungan?" tanya Hendra.

Om Rusli segera tersenyum. "Ya. Sementara saja. Om tetap keluargamu. Kau masih muda. Biarkan orang yang berpengalaman mengurus bagian beratnya."

"Bagian berat," ulang Hendra pelan.

Ia melihat tangan Om Rusli.

Tangan itu pernah menepuk bahunya di pemakaman.

Tangan itu pernah memeluknya di depan kamera.

Tangan itu juga yang, di kehidupan lalu, menyerahkan dokumen palsu ke notaris dan membuatnya terusir dari perusahaan ayahnya sendiri.

Kebencian naik dari dada Hendra.

Tebal. Panas. Hampir membuat napasnya berat.

Namun tepat saat amarah itu menyentuh tenggorokan, cincin tembaga di jari manis kanannya terasa dingin.

Hendra menunduk sedikit.

Cincin pusaka keluarga Wijaya.

Kusam. Tua. Tidak berharga di mata orang lain.

Tapi dalam kehidupan lalu, benda inilah yang membuatnya bertahan lebih lama daripada manusia biasa.

Ruang Penyimpanan.

Ruang gelap tanpa waktu. Makanan tetap panas. Obat tidak rusak. BBM tidak menguap. Selama benda itu mati, ia bisa disimpan di sana.

Di akhir kehidupan lalu, ruang itu sudah cukup besar untuk menelan truk dan kontainer.

Kalau cincin ini ikut kembali...

Mata Hendra perlahan menjadi tenang.

Om Rusli salah membaca ketenangan itu sebagai menyerah.

"Bagus," katanya cepat. "Tanda tangani sekarang. Setelah itu kita lanjutkan proses notaris dan RUPS."

Hendra mengambil pulpen.

Semua orang menunggu.

Ujung pulpen menyentuh kertas.

Lalu berhenti.

"Saya ke toilet sebentar."

Wajah Om Rusli membeku sekejap. "Sekarang?"

"Sekarang."

Handoko menatapnya lebih tajam. "Jangan terlalu lama, Pak Hendra. Semua orang punya jadwal."

Hendra meletakkan pulpen kembali di atas dokumen.

"Kalau hanya menunggu tanda tangan saya," katanya, "Anda semua pasti sanggup menunggu beberapa menit."

Suaranya pelan, namun ruang rapat mendadak sunyi.

Hendra berdiri dan berjalan keluar.

Di belakangnya, seseorang berbisik, "Anak itu mulai berlagak."

Hendra hampir tersenyum.

Berlagak?

Tidak.

Ia baru saja berhenti menjadi mangsa.

Toilet eksekutif kosong.

Begitu pintu terkunci, Hendra membuka keran, lalu menatap wajahnya di cermin.

Wajah itu masih muda. Belum ada bekas luka di pelipis. Belum ada mata merah karena kurang tidur berbulan-bulan. Belum ada bau asap, darah, dan salju busuk yang menempel di kulit.

Tapi mata itu sudah pernah melihat manusia memakan harapannya sendiri.

"Kali ini," bisik Hendra, "aku yang memilih siapa yang hidup nyaman."

Ia masuk ke bilik paling ujung.

Pintu terkunci.

Hendra mengangkat tangan kanan.

Cincin tembaga itu tetap diam.

Ia menggigit ujung telunjuk.

Rasa sakit menusuk. Darah keluar.

Setetes darah jatuh ke cincin.

Satu detik.

Dua detik.

Ukiran tua di permukaan cincin menyala seperti garis emas yang baru bangun dari tidur panjang.

Napas Hendra berhenti.

Kesadarannya jatuh ke dalam gelap.

Kosong.

Luas.

Sunyi.

Ruang Penyimpanan.

Belum besar. Jauh lebih kecil daripada yang ia miliki sebelum mati.

Tapi cukup.

Lebih dari cukup.

Hendra menatap tempat sampah logam kecil di sudut bilik.

Dalam satu niat, benda itu lenyap.

Di dalam kesadarannya, tempat sampah itu berdiri diam di ruang gelap, utuh seperti saat lenyap.

Hendra mengeluarkannya lagi.

Tempat sampah muncul di lantai dengan bunyi pelan.

Terakhir, ia menekan telapak tangan ke dada sendiri dan memerintahkan tubuhnya masuk.

Tidak ada reaksi.

Aturan lama tetap sama.

Makhluk hidup tidak bisa masuk.

Hendra menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia tertawa pelan, seperti orang yang baru menemukan kunci gudang senjata saat musuh masih sibuk menghitung uang receh.

Tiga bulan.

Dalam tiga bulan, ia bisa mencairkan aset, menjual saham, membeli pangan, obat, bahan bakar, generator, baja, kendaraan, senjata, dan membangun bunker yang tidak akan terbuka hanya karena seseorang menangis di depan pintunya.

Dalam tiga bulan, ia bisa membuat Om Rusli dan Handoko membantunya tanpa sadar.

Dokumen di ruang rapat itu memang ingin mengambil kuasanya.

Tapi kuasa dunia lama tidak ada artinya saat langit berubah putih.

Yang ia butuhkan sekarang bukan jabatan.

Ia butuh uang cepat.

Ia butuh mereka percaya bahwa ia kalah.

Semakin mereka serakah, semakin cepat mereka membuka jalan baginya.

Hendra membasuh darah di jarinya. Air mengalir merah tipis, lalu hilang ke saluran.

Di cermin, cincin itu kembali kusam.

Seperti benda tua biasa.

Seperti Hendra yang akan kembali ke ruang rapat sebagai pemuda yang tampak tunduk.

Ia mengeringkan tangan.

Lalu ponselnya bergetar.

Notifikasi berita muncul di layar.

Gelombang panas ekstrem diprediksi melanda beberapa kota besar dalam beberapa pekan ke depan, kata judul itu.

Hendra menatap kalimat tersebut.

Di kehidupan lalu, berita kecil seperti ini lewat begitu saja. Orang-orang mengeluh, membeli minuman dingin, lalu lupa.

Kali ini, bagi Hendra, itu bukan berita.

Itu hitungan mundur.

Ia memasukkan ponsel ke saku, membuka pintu toilet, dan berjalan kembali menuju ruang rapat.

Map hitam masih di sana.

Om Rusli masih menunggu.

Handoko masih tersenyum.

Mereka mengira tanda tangan Hendra akan mengakhiri perlawanan.

Hendra mengambil pulpen.

Kali ini tangannya tidak gemetar.

Setiap goresan namanya akan menjadi umpan.

Setiap rupiah yang mereka dorong keluar dari tangannya akan berubah menjadi persediaan.

Dan ketika badai putih turun, orang-orang yang hari ini menyuruhnya menyerah akan berdiri di luar pintu bunkernya.

Hendra menunduk ke dokumen, lalu berkata dengan suara tenang, "Baik. Saya tanda tangan."

Mereka tidak tahu, tanda tangan yang mereka tunggu adalah langkah pertama Hendra untuk membeli masa depan sebelum dunia sadar bahwa masa depan itu sudah dijual.

Terpopuler

Comments

Alia Chans

Alia Chans

Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/

2026-08-10

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!