NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku tak pantas untuk kecewa

Mendengar suaranya adalah penjagaan paling tenang. Rencana yang tak tau kapan dimulainya cukup dengan melihatnya tak menjauh. Aku menghormati semua yang telah dia ciptakan. kami adalah hubungan dalam diam tanpa merusak jeda yang dia jaga.

Putri duduk menggeser tubuhnya kebelakang lalu aku mendengar suaranya yang pelan seperti berbisik "Kak Aldrian cidera bukan karena nolongin Aya kan?"

Aku dengan jantung yang berdetak kencang menunggu jawaban Aldrian yang tak kunjung menjawab pertanyaan Putri

"Enggak ada hubungannya dengan Soraya"

Deg... Jawabanya membuatku terpaku "Enggak ada hubungannya dengan Soraya" aku mencermati kata kata penuh penekanan yang baru saja terdengar ditelingaku.

Entah aku harus bahagia, merasa lega atau aku harus berfikir ulang "Enggak ada hubungannya dengan Soraya" dia enggak ada hubungannya denganku, saat ini itulah yang dapat aku cerna dikepalaku.

Rasa ingin tauku mengalahkan segalanya, aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus memastikan sendiri dengan mataku. Aku memutar badanku perlahan, menatapnya berlahan hingga sepasang mata kami bertemu. Dahinya mengerut, tatapnya teduh, aku mengunci pandangannya dengan ucapan yang sangat pelan aku memastikan perkataannya "Enggak ada hubungannya dengan Soraya? Betul begitu kak Aldrian??"

Aldrian masih menatapku dalam diam, tak ada kata, tak ada senyum dan tak ada ekspresi hanya menganggukan kepalanya.

"Oke terimakasih" seketika aku mengalihkan pandanganku, membuang muka jauh jauh darinya dan kembali ketempatku semula.

Jawaban yang sudah dapat kutebak, apalagi yang aku harapkan dari seorang Aldrian... Kata kata dari mulutnya terlalu mahal diucapkan untukku. Tak apalah aku sudah terbiasa dengannya seperti itu. Aku tak pantas untuk kecewa.

Aku berpindah duduk lebih kedepan didekat pintu lapangan, melihat ke arah lapangan, tapi pandanganku kosong.

Putri menyusulku kembali duduk disampingku sangat dekat bahkan tak ada jeda lalu berbisik "Kamu tau?? tadi waktu aku tanya kak Aldrian dia enggak langsung jawab tapi malah ngelihat ke arah kamu lalu menghembuskan nafas berat baru dia jawab pertanyaanku dan... aku tanyanya pelan biar enggak didengar yang lain tapi kak Aldrian seperti sengaja menjawab keras biar kamu dengar"

Tanpa menoleh ke Putri aku masih memandang kearah lapangan "Iya aku percaya sama kamu Put, tapi apa pentingnya aku denger? kembali lagi biarkan saja apa katanya terserah yang penting dia bahagia. Ujung ujung nya akan sama, kalau sama aku balik lagi cuma diem kayak patung"

"Tapi kak Aldrian kalau dilihatin kamu pipinya merah tau Ya... Jangan jangan diemnya karena malu enggak sih? Kalian tuh lucu tau, saling ngasih tanda tapi sama sama enggak peka, sama sama jual mahal"

"Sok tau banget, udah mulai lagi jadi peramal, lama lama aku bukain praktek betulan mau?!"

Kami mulai tertawa tanpa suara bersama, Enggak tau Putri punya ilmu apa, dia selalu bisa membaca pikiranku yang sudah sangat rapat kusembunyikan.

"Aku aja ngerti bahasa rahasia kalian, masa kalian sendiri enggak ngerti sih? Kan lucu"

"Kalau lucu ketawa aja Put! Jangan ditahan!"

"Mau sampai kapan kalian kayak gini?"

"Sampai kapanpun"

Team cowok telah selesai melakukan pertandingan, saatnya team cewek memulai bersiap masuk kelapangan, Aku berjalan kedalam lapangan menuju para pelatih.

Sebelum keluar dari lapangan Arya melihatku, dia datang kearahku "Enggak usah buru buru Ay, kamu lagi marah?"

"Enggak"

"Tapi wajahnya kayak orang marah"

"Ayo buruan jangan kebanyakan ngobrol" Teriak mas Alan dari dalam lapangan.

Aku menghela nafas panjang mencoba membuang semua isi dikepalaku dan beban dihati. Aku berlari meninggalkan Arya menuju suara mas Alan.

Semua pemain cewek telah berkumpul di pinggir lapangan mendengarkan penjelasn strategi dari pak Wisnu.

Kami sudah bersiap menjadi 2 team. Latihan ini sangat penting, aku akan mencoba menjadi profesional. Disaat dilapangan aku hanya akan fokus dipertandingan dan menambah point. Berpura pura semuanya baik baik saja, menjalani semua yang akan membuat kesuksesan dipertandingan.

Kami memulai pertandingan dengan sangat bersemangat, kaki menjadi ringan melangkah begitu saja. Aku akan memberikan penampilan terbaikku. Ini bukan hanya sekedar pertandingan tetapi pembuktian bahwa aku adalah orang yang pantas terpilih disini.

Pertandingan berlangsung sangat sengit, aku melihat papan skor team kami tertinggal tipis tapi sangat berarti di menit menit terakhir. Fisikku sudah hampir melemah, nafas sudah mulai tersengal sengal. Aku terlalu bersemangat beberapa kali hilang keseimbangan karena kontak fisik yang keras.

Akhirnya Aku terkapar berbenturan keras dengan pemain lawan. Aku tidak menyerah begitu saja, mencoba bangkit dan mendapatkan bola. Waktu tinggal 10 detik, aku mulai fokus ke ring lawan. Aku menusuk ke dalam, dua pemain Putri dan Tamiya melompat menutup ruang. Hampir saja terjatuh, dengan insting yang kuat aku melepaskan tembakan melewati Putri dan Tamiya yang saat ini menjadi team lawan.

Bola bergulir memutar di ring meluncur mulus melewati jaring. Tubuhku menghantam lantai dengan keras lalu pertandingan selesai.

Kapten team tersenyum bangga lari kerahku membantu bangun lalu memelukku "hebat".

Kami istirahat berkumpul dipinggir lapangan.

Putri meneguk minumnya sambil marah marah "Kalau emosi ke orangnya dong, jangan kita buat sasaran! Sakit tau badanku ditabrak mulu"

Tamiya setuju membenarkan omongan Putri "Kita lagi latihan bukan pertandingan betulan, tabrakannya jangan kasar kasar dongs sakit semua ini badan"

Aku hanya diam saja duduk dengan pandangan kosong. Membuka minumku yang susah sekali dibuka, dengan emosi aku melempar botol ke arah belakang dipembatas lapangan.

Dengan nafas yang mebara masih tersengal sengal aku menerima botol yang tutupnya sudah terbuka, tanpa memperhatikan orang tersebut aku mengucapkan "Terimakasih"

Nafasku mulai teratur, aku meminum air dari botol yang aku pegang "Lah ini botol siapa Put Tam?"

Putri berbalik tanya "Kamu enggak liat tadi yang ngasih siapa?"

"Emang siapa?" Aku masih merasa kebingungan tadi siapa ya yang ngasih, kenapa aku jadi linglung begini...

Arya datang duduk disampingku memperhatikan aku dari kepala sampai kaki "Ay badan kamu enggak kenapa kenapa? Kamu kenapa sih? Lagi emosi sama siapa?"

"Apa aku kelihatan lagi emosi? Dari tadi kamu nanya aku lagi emosi?"

"Mainnya kamu kasar banget tau Ay, kasihan yang jadi musuh kamu"

"Apa iya? Perasaan biasa saja, mungkin aku terlalu bersemangat"

"Aku liat kamu tadi lempar minuman kamu kebelakang, untungnya enggak kena tangan aldrian yang lagi cidera"

"Aldrian?"

"Iya dia dari tadi duduk disitu tu, belakang kamu. Dia ngasih minum ke kamu trus keluar, kenapa?"

"Oh.. Enggak, enggak kenapa kenapa sih?" kepalaku berputar ke kanan, kekiri mencari keberadaan Aldrian"

"Kenapa, kamu nyari Aldrian?"

"Siapa???"

Prrittttt... Peluti pelatih berbunyi panjang pertanda kami harus berkumpul bersama.

Kami duduk menghadap pelatih yang memberikan evaluasi pertandingan.

Pak Wisnu membaca papan yang dinerikan oleh mas Alan "Pertandingan ini masih belum maksimal tapi kerja keras kalian perlu diapresiasi, pelajaran yang dapat kita ambil dari pertandingan tadi adalah kurangnya komunikasi, rata rata transisi menyerang masih lambat jadi memberikan kesempatan lawan. Jangan terburu buru sehingga akurasi tembakan menurun. Kita masih punya banyak waktu longgar, besok kita tingkatkan lagi kita perbaiki bersama..."

Mas Alan, kak Cristian sepertinya sedang berdiskusi, memberikan coretan dipapan yang di pegang pak Wisnu. Entah apa yang mereka bicarakan dengan sangat serius dan pelan.

Pak Imam dan Pak Herman mendekat ke arah kami.

Pak Herman menyemangati kami "Kalian semua sudah hebat, di cermati tadi evaluasinya biar besok lebih bagus lagi dan lebih bersemangat!"

Pak Imam meminta kami untuk pendinginan "Tetap semangat jangan menyerah, tadi udah Oke. Sekarang pendinginan dulu!"

Kami berdiri jalan santai dilapangan, lalu melakukan peregangan.

Putri berkatan pelan disebelahku "Gimana rasanya habis pertandingan dibukain minum sama pangeran?"

"Biasa aja, udah biasa dikasih minum dibukain pula, enggak ada yang spesial"

"Cie... Cie... Yang udah lama diperhatiin? kamu harus berterimakasih karena dia kamu mainya kasar, eh bukan kasar tapi ber...se...ma...ngat"

"Apa hubungannya sama dia?"

"Tadi kamu emosikan? gara gara dia diem aja kalau ditanyain kamu, trus kamu bawa emosimu dilapangan, aku nih apes hari ini jadi musuh kamu, remuk sudah badanku"

"Kata siapa??? segala sesuatu tentang dia enggak pernah kumasukan dalam hati, apalagi sampai emosi dan kecewa. Soal pertandingan aku memang bagus kok kalau main basket udah terbuktikan dilapangan, kemampuanku enggak usah diragukan lagi"

Aku memandang Putri dengan wajah yang paling sombong lalu Putri tersenyum dan berkata "Dasar tukang bohong!"

Aldrian terlalu sulit untuk dimengerti, aku berusaha sekuat mungkin menyembunyikan rahasia dari Aldrian dari orang orang bahkan dari hatiku sendiri.

Tidak seharusnya didekati karena dia pasti akan menjauh tetapi jika aku menjauh dia akan mendekat. Tidak terlalu dekat namun tidak jauh. Aku sudah merasa di jarak yang aman tak ingin memaksakan apapun.

1
MyRed
oke siap, terimakasih bnyk ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!