NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alur 1

Sambil makan, Evelyn beberapa kali melamun. Sendok di tangannya bergerak pelan sementara pikirannya sibuk memikirkan satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada tagihan makanan mahal di depannya.

Kuliah.

Atau lebih tepatnya-universitas tempat dirinya akan masuk minggu depan. Evelyn menopang dagu sambil menatap kosong dessert di depannya.

"Kalau nggak salah..." Ia mencoba mengingat isi novel.

"Altair bukan dari kampus yang sama deh..." Dan kalau ingatannya benar- Universitas Asterion tempat Evelyn Adreena kuliah memang berbeda dengan universitas Psikopat itu.

Artinya... mereka seharusnya tidak akan sering bertemu. Pikiran itu sedikit membuat dadanya lega.

"Syukurlah...”

Ia memasukkan potongan cake ke mulut sambil menghela napas. "Minimal gue nggak bakal ketemu psikopat itu tiap hari."

Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali muram. "...tapi."

Di novel itu, Altair bukan manusia normal. Dia terlalu pintar. Terlalu licin. Dan terlalu ahli menyembunyikan identitas.

Bahkan ada beberapa chapter di mana dia bisa berpindah identitas hanya dalam hitungan hari tanpa dicurigai siapa pun.

Mulai dari mahasiswa biasa...

sampai pekerja medis.

Semua bisa dia lakukan.

Evelyn langsung menyandar lesu di kursi. "Authornya pasti habis nonton kriminal dokumenter tiga hari tiga malam..."

Ia menatap langit-langit restoran. "Kenapa skill set dia lengkap banget sih..."

Pembunuh. Manipulatif. Pinter.

Ganteng lagi katanya.

"Fix ini favorit author."

Setelah selesai makan dan sedikit menenangkan pikirannya, Evelyn akhirnya memutuskan pulang. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tiga sore.

Tanpa terasa, ia hampir seharian mengelilingi mall itu.

Dan anehnya... selama beberapa jam tadi, ia sempat lupa kalau dirinya sedang berada di dunia novel thriller. Namun rasa tenang itu perlahan kembali muram. "...tapi."

Di novel itu, Altair bukan manusia normal. Dia terlalu pintar. Terlalu licin. Dan terlalu ahli menyembunyikan identitas.

Bahkan ada beberapa chapter di mana dia bisa berpindah identitas hanya dalam hitungan hari tanpa dicurigai siapa pun.

Mulai dari mahasiswa biasa...

sampai pekerja medis.

Semua bisa dia lakukan.

Evelyn langsung menyandar lesu di kursi. "Authornya pasti habis nonton kriminal dokumenter tiga hari tiga malam..."

Ia menatap langit-langit restoran. "Kenapa skill set dia lengkap banget sih..."

Pembunuh. Manipulatif. Pinter.

Ganteng lagi katanya.

"Fix ini favorit author."

Setelah selesai makan dan sedikit menenangkan pikirannya, Evelyn akhirnya memutuskan pulang. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tiga sore.

Tanpa terasa, ia hampir seharian mengelilingi mall itu.

Dan anehnya... selama beberapa jam tadi, ia sempat lupa kalau dirinya sedang berada di dunia novel thriller. Namun rasa tenang itu perlahan kembali hilang saat ia berjalan menuju lift.

Area mall mulai sedikit lebih sepi dibanding tadi siang.

Lampu-lampu hangat menyala lembut sementara suara langkah kaki menggema pelan di koridor.

Evelyn masuk ke lift menuju Basement 1. Di dalam lift hanya ada dirinya seorang. "Enak juga sepi..."

Ia bersandar santai sambil melihat angka lantai terus turun.

TING.

Lift berhenti di lantai tujuh.

Pintu terbuka perlahan. Dan seseorang masuk. Evelyn langsung berkedip beberapa kali. "...oh."

Pria yang tadi ia bayari makan. Masih memakai hoodie hitam, masker, dan topi rendah yang menutupi sebagian wajahnya. Auranya tetap sama. Dingin. Tenang.

Dan entah kenapa membuat suasana lift langsung terasa lebih sempit. Pria itu berdiri di sudut lift tanpa bicara apa pun. Sedangkan Evelyn yang merasa mereka sudah "kenal sedikit" mencoba ramah. "Hehe... ketemu lagi."

Pria itu hanya melirik sekilas. Tidak menjawab. Tidak mengangguk. Bahkan tidak terlihat tertarik mengobrol.

Hening.

Lift kembali bergerak turun. Evelyn berkedip pelan."...oh."

Ia berdiri canggung beberapa detik. Lalu dalam hati mulai mengomel sendiri.

'Sombong amat dah, Padahal tadi gue tolongin.'.

Namun karena suasana terlalu sunyi, Evelyn malah jadi tidak tahan diam. Ia melihat angka lift yang turun perlahan.

"Mall ini gede juga ya..."

Tidak ada jawaban. "...dari lantai delapan ke basement lama banget."

Tetap diam.

Pria itu bahkan tidak menoleh sedikit pun. Evelyn langsung manyun di balik masker. "Fix introvert akut." gumamnya tapi masih bisa terdengar orang.

Beberapa detik kemudian— ia malah menguap lebar tanpa malu. "Huaaaah..." dan bersandar santai di lift.

Lift masih terus turun. Dan karena terlalu capek keliling mall seharian, Evelyn mulai ngomel sendiri pelan. "Besok kaki gue pasti pegel. Belanja ternyata olahraga juga..."

Ia melirik pria itu sebentar. Tetap diam seperti patung mahal. Evelyn langsung memalingkan wajah lagi. "Oke serem."

Akhirnya setelah beberapa menit yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya-

TING.

Basement 1.

Pintu lift terbuka. Pria itu langsung berjalan keluar begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Cepat. Tenang. Dan anehnya... langkah kakinya hampir tidak bersuara. Evelyn memperhatikannya beberapa detik sebelum mendecakkan lidah pelan. "...yaudah sih. Gue juga nggak pengen kenal."

Ia keluar lift lalu berjalan menuju area parkir. Basement mulai lebih sepi sekarang. Suara mesin mobil sesekali terdengar menggema di kejauhan. Evelyn akhirnya sampai di mobil sport hitam miliknya.

Namun sebelum masuk-ia sempat melirik sekilas ke arah lorong parkiran. Pria tadi sudah tidak terlihat lagi. "Cepet banget ilangnya..."

Namun Evelyn tidak terlalu memikirkan itu. Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, lalu mulai keluar dari basement menuju jalan raya. Di tengah perjalanan pulang, Evelyn menyetir santai sambil mendengarkan siaran radio mobil.

Langit sore mulai berubah jingga keemasan, sementara jalanan kota masih cukup ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang.

Salah satu tangan Evelyn mengetuk setir mengikuti irama lagu yang sedang diputar. "... lagunya enak juga."

Untuk sesaat... ia hampir lupa kalau dirinya sedang hidup di dunia novel thriller psikopat. Namun lagu itu perlahan selesai.

Dan suara penyiar radio kembali terdengar.

"Berita hari ini..." Nada suara penyiar terdengar formal.

"...telah ditemukan seorang korban tewas di pusat perbelanjaan Grand Velmora Mall sekitar pukul dua siang tadi."

Senyum kecil di wajah Evelyn langsung menghilang. Tangannya yang tadi santai di setir perlahan menegang.

Penyiar melanjutkan. 66

Korban ditemukan di lantai tujuh dalam kondisi mengenaskan..."

Napas Evelyn langsung tertahan. "...dengan luka tusuk di beberapa bagian tubuh dan cedera parah di area kepala."

Dunia seakan mendadak hening. Hanya suara radio itu yang terdengar jelas di telinganya. "Pihak kepolisian menduga kasus ini merupakan pembunuhan berencana..."

Jari Evelyn mulai mencengkeram setir lebih kuat. “...dan pantauan cctv, sebelum kejadian terdapat seorang pria mencurigakan yang terlihat berada di sekitar lokasi."

Penyiar mulai menyebutkan ciri-ciri pelaku. Pria tinggi. Hoodie hitam. Masker. Topi gelap.

Tubuh Evelyn langsung membeku. "...hah?" Matanya perlahan melebar. Itu... sama persis. Dengan pria yang tadi satu lift dengannya.

Suara reporter lapangan kemudian terdengar menyambung siaran. "CCTV terakhir merekam pria tersebut menuju area lift lantai tujuh, namun beberapa menit setelah itu seluruh kamera di area tersebut mendadak mati..."

Deg.

CIIITTT!!

Evelyn langsung menginjak rem mendadak. Mobil sport hitam itu berhenti tiba-tiba di tengah jalan. Klakson langsung bersahutan dari belakang.

"WOI GILA LO?!"

"MOBIL MAHAL BAWA NYA YANG BENER!"

"NYETIR APA TIDUR?!"

Evelyn bahkan nyaris tidak mendengar teriakan mereka.

Napasnya memburu. Tangannya dingin. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia buru-buru menyalakan lampu sein lalu meminggirkan mobil ke trotoar.

Tangannya gemetar saat membuka kaca mobil sedikit.

"Maaf! Maaf!" Beberapa pengendara masih mengomel kesal sebelum akhirnya pergi lagi. Dan setelah jalan sedikit tenang... Evelyn langsung menyandarkan tubuh ke kursi.

Dadanya naik turun cepat. "Enggak mungkin..."

Tangannya perlahan menutupi mulut. Baru sekarang ia sadar.

Adegan ini.

Semua ini...

adalah adegan pembuka novel. Korban pertama. Seorang pengacara terkenal. Kasus pembunuhan brutal yang membuat seluruh kota geger.

Dan pelakunya- Altair Varellion.

Tubuh Evelyn langsung merinding. "Anjir...” Ia memegangi kepalanya. "Gue... gue baru aja satu lift sama pembunuh berantai?"

Ingatan tentang pria tadi langsung memenuhi kepalanya. Tatapan matanya. Sikap dinginnya. Cara dia diam. Cara langkah kakinya nyaris tanpa suara. Dan sekarang semuanya terasa jauh lebih menyeramkan.

Evelyn menelan ludah susah payah. "Ya Tuhan...Harusnya tadi gue diem aja..." Ia mulai mengingat ulang kejadian di restoran.

Dan semakin diingat... semakin aneh. Karena ada satu hal yang mengganjal. Altair di novel adalah orang kaya. Sangat kaya malah.

Keluarganya punya pengaruh besar. Uangnya tidak akan habis bahkan kalau dipakai hidup mewah seumur hidup.

Namun pria tadi... bahkan tidak bisa membayar makanannya sendiri.

Evelyn mulai berpikir keras. "...apa itu bukan Altair?"

Namun detik berikutnya-kepalanya langsung membantah sendiri. "Enggak... Ciri-cirinya terlalu sama."

Dan yang paling mengerikan-kejadian pembunuhan itu terjadi tepat setelah pria itu naik lift. Lift yang sama dengannya. Evelyn langsung menoleh pelan ke kursi penumpang kosong di sebelahnya.

Bulu kuduknya berdiri. Karena tiba-tiba ia teringat satu hal. Saat di lift tadi... pria itu sempat beberapa kali menatapnya diam-diam. Bukan seperti orang penasaran.

Melainkan... seperti sedang mengingat wajahnya.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!