NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.

Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.

Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.

Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.

"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."

Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.

"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 33

Di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Rena sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper besar dengan tangan bergetar. Wajahnya sangat pucat, dan matanya terus melirik ke arah pintu depan.

Kematian Dokter Alibie benar-benar menghancurkan sisa keberaniannya. Meskipun Arga meyakinkannya bahwa itu ulah Pak Darmawan, insting Rena mengatakan sebaliknya. Ia harus kabur malam ini juga. Ia tidak peduli lagi pada uang atau karirnya. Ia hanya ingin hidup.

Ting tong!

Suara bel apartemen berbunyi nyaring, membuat Rena melompat kaget hingga beberapa helai pakaian jatuh ke lantai.

"S-siapa?!" teriak Rena dengan suara bergetar dari dalam kamar.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.

Rena menelan ludah, berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Ia mengintip dari lubang kunci. Tidak ada siapa-siapa di lorong.

Dengan sangat pelan, Rena membuka pintu sedikit. Matanya langsung tertuju pada sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak di atas keset.

Rena cepat-cepat mengambil amplop itu, kembali mengunci pintu rapat-rapat, lalu merobeknya di ruang tamu. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat isi amplop tersebut.

Selembar kertas berisi tangkapan layar koordinat GPS. Titik merah menyala tepat di atas gedung Rumah Sakit Medika. Di bawahnya, tertera waktu kedatangan dan kepergian kendaraan: tepat lima belas menit sebelum Dokter Alibie ditemukan tewas. Dan di sudut kertas itu, terdapat plat nomor mobil SUV hitam milik Arga.

"B-brengsek... Kamu bohongin aku, Arga..." bisik Rena, air matanya tumpah membasahi kertas itu. "Kamu yang bunuh dia... Kamu pembunuhnya!"

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu balkon apartemennya yang terhubung dengan tangga darurat.

Tok. Tok. Tok.

Rena menoleh perlahan. Darahnya seakan membeku. Di balik tirai kaca balkon yang tipis, siluet seorang pria tinggi tegap berdiri dalam kegelapan.

"Buka pintunya, Rena. Ini aku." Suara bariton Arga terdengar merambat menembus kaca.

Rena mundur beberapa langkah, kakinya lemas hingga ia menabrak sofa. "A-Arga?! Ngapain kamu lewat balkon?! Pergi kamu!"

"Aku bilang buka pintunya, Sayang," suara Arga tidak meninggi, tapi justru terdengar jauh lebih mengerikan. "Atau aku harus pecahin kaca ini?"

Dengan gemetar, Rena meraih sebuah pisau buah dari atas meja ruang tamu, lalu berjalan perlahan membuka kunci pintu geser balkon.

Arga melangkah masuk dengan santai, mengabaikan pisau yang diacungkan Rena ke arahnya. Pria itu menatap koper besar yang terbuka di tengah ruang tamu.

"Mau liburan ke mana, Sayang? Kok tengah malam begini packing-nya?" sapa Arga sambil tersenyum manis.

"Jangan mendekat! Keluar dari apartemenku sekarang juga, Arga! Atau aku teriak!" ancam Rena, mengacungkan pisaunya dengan tangan yang bergetar hebat.

Arga tertawa kecil, berjalan santai menghampiri sofa dan duduk di sana. "Pisau? Buat apa kamu nodongin pisau ke partner kerjamu sendiri, Rena? Kamu pikir aku mau bunuh kamu?"

"Kamu emang pembunuh! Kamu yang bunuh Dokter Alibie kan?! Jangan bohong lagi! Aku udah lihat bukti GPS mobilmu!" Rena melempar kertas dari dalam amplop itu ke wajah Arga.

Arga menangkap kertas itu, membacanya sekilas, lalu membuangnya ke lantai. Ekspresinya sama sekali tidak berubah.

"Jadi... pengacara tua itu udah ngirim paketnya ke sini ya?" Arga menyandarkan punggungnya, menatap Rena dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "Kamu ini gampang banget dimanipulasi ya, Rena. Kamu pikir Darmawan itu orang suci?"

"Itu bukti nyata, Arga! Kamu ke rumah sakit siang tadi!"

"Iya, aku memang ke sana," jawab Arga tenang. "Aku ke sana buat nebus obat penenang rutin Kirana. Tapi begitu aku sampai di lorong ruang praktik, aku lihat ada dua orang suruhan Darmawan keluar dari ruangan Dokter Alibie. Aku sembunyi, dan lima menit kemudian perawat teriak nemuin mayatnya."

Rena mengerutkan kening, pisaunya sedikit turun. "K-kamu... kamu lihat orangnya Darmawan?"

"Iya, Sayang. Darmawan sengaja mancing aku ke sana siang itu, terus dia nyuruh orangnya bunuh Alibie saat aku ada di gedung yang sama. Tujuannya apa? Buat bikin bukti GPS palsu kayak yang kamu pegang sekarang ini, biar kamu makin benci sama aku dan ngelaporin aku ke polisi!"

"Bohong! Kamu pasti ngarang cerita!" bantah Rena, tapi nada suaranya mulai dipenuhi keraguan.

Arga berdiri perlahan, melangkah mendekati Rena. "Kalau aku yang bunuh Alibie, kenapa aku nggak bunuh kamu sekarang juga? Kenapa aku malah masuk lewat balkon buat ngindarin CCTV apartemenmu biar kita nggak ketahuan ketemuan sama polisi?"

Arga menempelkan dadanya tepat di ujung pisau yang dipegang Rena.

"Tusuk aku, Rena, kalau kamu emang percaya sama bukti murahan dari pengacara tua itu," tantang Arga dengan suara yang sangat dalam dan menghipnotis. "Tusuk pria satu-satunya yang lagi berusaha nyelamatin kamu dari jeratan hukum penggelapan dana."

Tangan Rena bergetar hebat. Ia menatap mata Arga, mencari kebohongan, tapi pria psikopat di hadapannya ini adalah aktor yang terlalu sempurna.

"Arga... aku takut... Aku nggak mau masuk penjara..." isak Rena. Pisaunya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke karpet.

Arga langsung memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Tangannya membelai rambut Rena, sementara di atas kepala wanita itu, wajah Arga menyeringai sangat lebar dan mematikan.

"Sst... Kamu nggak akan masuk penjara, Sayang. Asal kamu nurut sama aku, Darmawan nggak akan bisa nyentuh kita. Besok, kamu tetap masuk kantor seperti biasa. Kita harus bersikap seolah-olah nggak ada yang terjadi."

"B-baik, Arga..."

"Bagus. Anak pintar."

Keesokan paginya, di rumah keluarga Larasati.

Kirana duduk di ruang makan, mengaduk-aduk teh hangatnya dengan pelan. Marni sedang membersihkan debu di sudut ruangan dengan wajah yang terus menunduk, masih trauma akibat kejadian beberapa hari lalu.

Arga menuruni tangga dengan setelan jas rapi, bersiap untuk pergi ke kantor. Pria itu menghampiri Kirana, mengecup pipinya.

"Pagi, Sayang. Gimana tidurmu semalam? Nggak mimpi buruk lagi kan?" sapa Arga ramah.

"Pagi, Sayang. Tidurku nyenyak kok, nggak mimpi apa-apa," jawab Kirana sambil tersenyum polos. "Kamu mau langsung ke kantor?"

"Iya, banyak berkas yang harus aku tanda tangani hari ini gara-gara krisis kemarin."

"Hati-hati di jalan ya, Sayang."

Begitu Arga berjalan keluar dan suara mobilnya menjauh, Kirana langsung menghentikan senyumannya. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar.

'Paman Darmawan bilang Rena nggak jadi kabur semalam. Arga pasti udah berhasil nyuci otaknya lagi,' batin Kirana kesal. 'Pria itu emang licin kayak belut.'

Kirana berdiri, berjalan pelan menggunakan ingatan letak perabotannya, menuju ruang kerja Arga di lantai dua. Ia harus membuat Arga merasa rumah ini tidak lagi aman. Ia harus memicu paranoia Arga lebih jauh lagi.

Kirana masuk ke ruang kerja itu, membuka laci meja bagian bawah tempat Arga biasa menyimpan dokumen-dokumen pribadinya. Ia tidak mencuri apa pun. Ia hanya memindahkan letak beberapa map, membiarkan satu laci sedikit terbuka, dan menjatuhkan sebuah penjepit kertas di atas karpet.

Lalu, Kirana mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya. Sebuah modul speaker dari radio rusak tua yang ia bongkar diam-diam dari kamar mandi pembantu. Bentuknya kecil, bundar, dan memiliki kabel-kabel tipis. Sekilas, benda itu terlihat persis seperti sebuah alat penyadap profesional.

Kirana menyelipkan benda itu di bawah meja kerja Arga, menempelkannya menggunakan sedikit plester tepat di bagian yang mudah terlihat jika seseorang membungkuk.

'Silakan nikmati jebakan kecilku ini, Sayang. Kalau kamu pikir Darmawan menyerangmu dari luar, aku akan membuatmu percaya bahwa ada pengkhianat lain di dalam rumah ini,' gumam Kirana dengan senyum mematikan, lalu segera beranjak keluar dari ruangan itu sebelum Marni curiga.

Pembalasan dendam ini belum akan berakhir dengan cepat. Kirana akan memastikan Arga hancur dari akal sehatnya terlebih dahulu.

1
Cheng Nyo
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Muft Smoker
sesama pengkhianat saling membuka aib dan saling membunuh😏😏
Ma Em
Masa orang banyak kalah hanya dgn Arga seorang seberapa pintarnya Arga masa tdk ada yg bisa melawan Arga .
Muft Smoker
skraaang si agar2 yg ketakutan sendriii
Muft Smoker
awas nnti malah jd km yg gilaaa arga
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah ternyata rencana kirana ,,
Muft Smoker
ayoo kirana gerak cepat sebelum semua aset mu berpindah tangan,, ni gx da bantuan buat kirana apa kak???
Muft Smoker
aaaaa deg2an ,, semoga bukan arga
Muft Smoker
aduuuh kirana jgn ceroboh doonk ,,
Ma Em
Kirana terlalu ceroboh hrs nya pelan2 saja jgn sampai menimbulkan kecurigaan Arga kalau Kirana sdh bisa melihat , semoga tdk terjadi hal yg tdk di inginkan pada Kirana .
Muft Smoker
aduuuuh semoga kirana gx knp2 ,,
Ma Em
Kirana kamu jgn ceroboh si Arga ini licik ada perubahan sedikit saja dari Kirana Arga langsung curiga , makanya jgn melakukan yg akan membahayakan , Kirana .
Muft Smoker
akhirny kirana pura2 pingsan ,,
🤭🤭
Ma Em
Kirana hati hati jgn ceroboh dan hrs pintar berpura pura msh buta jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat , Kirana hrs cari akal agar bisa bebas dari Arga mokondo .
Muft Smoker
duuh jgn sampai deeh si arga tau kalo kirana udh bisa lihat ,,
Muft Smoker
duuuh aq yg deg2an iikh ,,
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,
Ma Em
Kirana hrs hati2 jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat lagi , jgn gegabah dlm bertindak Kirana hrs cerdik balas semua perbuatan Arga dan gundiknya .
Muft Smoker
perlahan ,, perlahan ,, akhirny penglihatan kirana kembali ,,
Sishrye
astaga nggragas🤣
한스 |HANSEN| Is Back: 😭🔥wwk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!