Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Tempaan Sang Legenda
Langkah demi langkah menuruni anak tangga melingkar membawa mereka semakin dalam ke perut bumi. Suasana dingin dan lembap di dalam labirin perlahan sirna, berganti dengan hawa hangat yang membakar kulit. Bau arang tempaan yang khas, bau besi panas, dan getaran listrik pekat menyergap indra penciuman Zass. Aroma ini begitu familiar—aroma yang persis sama dengan gubuk kecil tempat ia menghabiskan masa kecilnya bersama almarhum ayahnya.
Di ujung tangga batu, sebuah pintu besi raksasa berukirkan garis-garis petir belah ketupat berdiri megah. Begitu Zass mendekat dan menempelkan telapak tangannya pada permukaan pintu tersebut, liontin ungu di dadanya bergetar hebat. Pintu besi raksasa itu memancarkan kilatan Petir Ungu yang silau, lalu perlahan terbuka dengan suara gemuruh yang menggetarkan fondasi ruangan.
Di balik pintu tersebut, terhampar sebuah ruangan raksasa berbentuk lingkaran. Di tengah ruangan, berdiri sebuah landasan tempaan besi raksasa (anvil) buatan batu kristal hitam yang dikelilingi oleh kolam lahar dingin berselimut arus listrik ungu murni. Di atas landasan tempaan itu, melayang sebuah bola energi petir berwarna ungu gelap yang berputar lambat, memancarkan tekanan aura yang amat dahsyat.
"Luar biasa..." gumam Okta dengan mata berbinar takjub. Bahkan Petir Biru di tubuhnya meredup secara alami di hadapan kemurnian energi di ruangan ini.
"Ini bukan sekadar ruangan latihan," kata Ryu seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling dinding ruangan yang dipenuhi ukiran garis-garis teknik tempaan. "Ini adalah laboratorium sekaligus tempat tempaan pribadi milik Paman Lion."
Zass melangkah perlahan mendekati landasan tempaan batu kristal hitam itu. Begitu kakinya memijak area tengah, bola energi petir yang melayang di atas anvil mendadak bereaksi! Bola energi itu membesar, merembet lurus menuju landasan, lalu memunculkan sebuah bayangan kiasan (hologram) berkilau emas dan ungu.
Sesosok pria bertubuh tegap berambut pendek dengan wajah tegas muncul di hadapan mereka. Pria itu mengenakan celemek kulit penempa besi di atas pakaian lusuhnya, dengan sebuah belati dan palu tempa terikat di pinggang.
"Ayah..." bisik Zass lirih. Tenggorokannya terasa tersumbat saat melihat bayangan sosok yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun.
Ryu, Ken, Okta, dan Kayla seketika menundukkan kepala mereka sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sang legenda pendiri party mereka.
Bayangan Lion mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan seolah-olah ia sudah tahu bahwa suatu hari nanti putranya akan berdiri di tempat ini.
"Jika kau membaca pesan sihir yang kutinggalkan di tempat ini," suara Lion bergema berat namun penuh kehangatan, membentur dinding-dinding batu ruangan tempaan. "Maka itu artinya kau telah tumbuh dewasa, Zass. Kau telah membawa liontin ungu peninggalanku dan berhasil menembus labirin ini bersama rekan-rekan yang dapat kau percayai."
Zass menggenggam liontin di dadanya erat-erat, mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan oleh bayangan ayahnya.
"Zass, Petir Ungu bukanlah elemen yang diciptakan untuk menghancurkan atau mendominasi orang lain," lanjut Lion, tatapannya memancarkan kebijaksanaan seorang penempa sejati. "Petir Ungu adalah elemen penempaan. Ia adalah petir yang lahir dari ketahanan jiwa, dari kemurnian niat untuk melindungi hal yang kau cintai. Selama ini, kau mungkin mengira bahwa kekuatan terbesarmu terletak pada tajamnya tebasan pedangmu. Namun, penempa sejati tahu bahwa kekuatan pedang ditentukan oleh kebersihan jiwanya saat ditempa."
Bayangan Lion melangkah mendekati bola energi ungu di atas anvil, lalu mengarahkan tangannya pada bola tersebut.
"Di atas landasan ini, kutinggalkan Inti Mahakarya Petir Ungu—pengetahuan dan wujud murni dari teknik tempaan pemungkas yang belum sempat kuajarkan padamu di gubuk kita. Untuk menyatukannya ke dalam jiwamu, kau harus mengheningkan amarahmu, melepaskan rasa dendam atas masa lalumu, dan menerima takdirmu sebagai seorang pelindung."
Bayangan Lion tersenyum bangga, menatap Zass untuk terakhir kalinya sebelum figurnya perlahan memudar menjadi pendar-pendar cahaya emas. "Tunjukkan pada dunia, Putraku... bahwa seorang penempa besi biasa sanggup mengukir takdir paling agung di daratan ini."
Suara itu menghilang, meninggalkan keheningan mendalam yang menyentuh ulu hati setiap orang di dalam ruangan.
Zass berdiri terpaku di depan landasan tempaan. Kalimat ayahnya meresap dalam ke sanubarinya. Selama bertahun-tahun sejak hari pengusiran pahit di Kerajaan Imperial, dadanya selalu dipenuhi oleh amarah, kekecewaan, dan rasa dingin atas perlakuan tidak adil Raja David. Rasa amarah itulah yang sering membuat aliran Petir Ungu di tubuhnya menjadi liar dan tidak stabil.
Pemuda 17 tahun itu menarik napas panjang. Ia memejamkan matanya, membiarkan ingatan tentang penderitaan, caci maki, serta rasa sakitnya menguap perlahan di dalam keheningan ruangan. Ia menggantinya dengan ingatan tentang kehangatan teman-teman party-nya, kenangan indah bersama almarhum ayahnya, dan janji tulus yang pernah ia buat untuk Putri Celestia.
Aku bertarung bukan untuk membalas dendam... tapi untuk melindungi dan membuktikan kebenaran hatiku, batin Zass penuh tekad.
Zass meletakkan kedua telapak tangannya di atas landasan kristal hitam, menyentuh Inti Mahakarya Petir Ungu.
BZZZZZZZZZT!
Cahaya ungu yang amat terang meledak menyinari seluruh ruangan! Namun kali ini, tidak ada raungan kesakitan dari mulut Zass, tidak ada pula ledakan liar yang merusak sekitarnya. Aliran Petir Ungu Legendaris mengalir sangat tenang, halus, dan menyatu sempurna ke dalam setiap inci pembuluh darah, tulang, dan jiwa Zass.
Pedang besi sederhana di pinggangnya ikut merespons, menyerap pendar petir murni tersebut hingga permukaan bilahnya berubah warna menjadi hitam pekat berhiaskan ukiran garis-garis petir ungu yang memancar indah.
Ryu, Ken, Okta, dan Kayla menatap kejadian itu dengan rasa takjub yang tak terlukiskan. Mereka bisa merasakan perubahan aura pada diri Zass—ia tidak lagi memancarkan hawa dingin yang mengancam, melainkan wibawa yang amat kuat, tenang, dan tak tertandingi bagaikan gunung batu yang kokoh.
Zass membuka matanya. Iris matanya kini bersinar dalam warna ungu murni yang sempurna. Penguasaan atas teknik pemungkas Petir Ungu telah berada sepenuhnya di dalam genggamannya.
Ia berbalik badan, menatap keempat rekannya yang tersenyum bangga di ujung ruangan.
"Latihan di tempat ini sudah selesai," kata Zass dengan suara tenang yang dipenuhi wibawa baru. "Kekuatan ini... kini telah utuh."
Ryu melangkah maju seraya menepuk bahu Zass dengan mantap. "Selamat, Zass. Kau telah resmi melampaui legendaris ayahmu."
Kayla mengacungkan jempolnya penuh antusias. "Sekarang, dengan kekuatan barumu ini, tidak akan ada satu pun pahlawan atau raja di Magical World yang berani meremehkan party kita lagi!"
Zass menyarungkan kembali pedang hitam terbarunya ke dalam sarung kayu di pinggang. Ia melirik liontin belah ketupat di dadanya yang kini bersinar terang selaras dengan jiwanya. Perjalanannya menembus Lembah Petir Kuno telah memberikan jawaban atas pencarian dirinya selama bertahun-tahun.
Dengan tekad yang telah teruji dan kekuatan teragung yang kini menyatu di dalam dadanya, sang penempa pedang muda bersama party petualang Tier SSS melangkah keluar dari dasar altar, siap menyongsong babak baru yang akan mengguncang seluruh daratan Magical World.