NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 Titik Terlemah

Ponsel di dalam tas Liora terasa seperti sebongkah es yang tiba-tiba meledak, membekukan aliran darah di sekujur tubuhnya.

Kalimat beracun dari nomor asing itu terus berputar-putar di kepalanya, menari di balik kelopak mata yang terasa berat.

'...ibu kandungmu di kampung halaman akan menerima salinan video CCTV itu. Kita lihat berapa lama ibumu sanggup menahan malu.'

Ibu.

Di hadapan satu kata itu, keteguhan Liora melebur bagai lilin di pelukan api.

Wanita paruh baya dengan penyakit jantung bawaan yang selama ini menggantungkan hidup pada kue-kue kering buatannya di Yogyakarta. Wanita yang setiap pagi bangun sebelum matahari, menyiapkan adonan dengan jemari yang mulai renta, lalu tersenyum bangga setiap kali menceritakan kepada tetangga bahwa putri tunggalnya sedang menempuh pendidikan di Jakarta melalui beasiswa penuh.

Bagi Liora, ibunya adalah satu-satunya pemberhentian tempat ia pulang. Namun kini, di gelapan malam, belati musuh-musuhnya telah berganti menjadi obor api yang siap membakar runtuh tempatnya bernaung.

Jika ibunya melihat potongan video manipulatif tersebut, mendengar tuduhan-tuduhan keji yang mungkin menyertainya, lalu menanggung rasa malu dan keterkejutan yang tak semestinya menjadi miliknya...

Liora tahu persis jantung rapuh itu mungkin tidak akan sanggup menanggungnya.

"Liora?" Suara bariton Ravian memecah kabut keputusasaan yang sejak tadi membelenggu dada gadis itu.

Jemari pria itu masih menyusuri punggung tangannya dengan lembut. Tetapi waktu yang merayap pergi segera menyadarkan Ravian bahwa telapak tangan Liora telah kehilangan kehangatan, menjelma dingin dan basah oleh keringat.

Liora bagaikan tersengat realitas.

Dengan gerakan refleks, ia menarik tangannya dengan cepat dan menyembunyikan tas kecilnya di balik lipatan gaun malam, seolah benda itu adalah sebuah rahasia kelam yang harus dikuburnya dalam-dalam.

"I-iya, Pak?"

Ravian menyipitkan mata.

Sepasang netra kelamnya merekam setiap patahan ekspresi pada wajah Liora. Pucat yang menyergap, bibir yang mendadak kelu tanpa warna, dan helaan napas yang terputus-putus. Pria itu tahu benar rupa ketakutan, tetapi yang terpampang di hadapannya kini bukan sekadar kecemasan seorang mahasiswi yang takut kehilangan masa depannya di kampus.

Ini adalah kepanikan seseorang yang merasa dunianya sedang direnggut sejengkal demi sejengkal.

"Ada apa?" tanyanya pelan. Suara itu terdengar tenang, tetapi menyimpan tuntutan yang tak memberi ruang bagi kebohongan.

"Apa yang terjadi?"

"Nggak... nggak ada apa-apa, Pak Ravian," kebohongan itu keluar dengan susah payah.

Liora berusaha tersenyum, tetapi bibirnya hanya mampu membentuk lengkungan tipis yang justru membuat luka di wajahnya semakin kentara.

"Saya... cuma lelah banget. Boleh saya istirahat sekarang?"

Ravian tidak menjawab.

Ia bangkit perlahan. Bayangannya jatuh di hadapan Liora, membuat gadis itu semakin merasa kecil di tengah luasnya ruangan penthouse yang sunyi.

"Telepon dari siapa tadi?" tanya Ravian. "Atau pesan dari siapa?"

"Bukan siapa-siapa, Pak! Cuma pesan promosi dari operator..."

"Jangan berbohong kepada saya," potongan kalimat itu jatuh seperti bilah pisau.

Ravian maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka. "Kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun ketika matamu sudah mengatakan semuanya."

Bendungan di pelupuk matanya tak lagi sanggup menahan beban jiwanya, menyerah pada takdir dan luruh perlahan.

Satu tetes jatuh memecah sunyi.

Lalu tetesan kedua.

Detik berikutnya, air mata itu mengalir deras, membasahi pipi Liora tanpa mampu lagi dihentikan. Tembok pertahanan jiwa yang ia jaga mati-matian, kini luluh lantak ke tanah.

Ia memeluk tasnya erat-erat di dada, menggenggamnya seperti seseorang yang sedang memeluk sisa terakhir dari dunianya.

"Tolong, Pak Ravian..." suaranya pecah. "Jangan paksa saya."

Liora menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan isak yang semakin sulit dikendalikan.

"Biarkan saya menyelesaikan ini sendiri. Ini... ini urusan keluarga saya."

Kata terakhir itu bergema bagai hantaman badai di dada Ravian, meremukkan keteguhannya.

Keluarga.

Dalam sekejap, pria itu memahami permainan yang sedang dimainkan musuh-musuhnya.

Mereka tidak bisa menjatuhkan Ravian dengan uang.

Tidak dengan ancaman hukum.

Tidak pula dengan tekanan yang selama ini biasa digunakan untuk menundukkan orang-orang seperti dirinya.

Maka mereka mencari celah lain.

Mereka tidak menyerang bentengnya.

Mereka menyerang seseorang yang berdiri di belakang benteng itu. Seseorang yang jauh lebih rapuh. Seseorang yang dicintai Liora dengan segenap hidupnya.

Ibunya.

Ravian membuang napas kasar.

Tanpa mengatakan apa pun, ia merunduk dan meraih tas yang didekap erat oleh Liora. Sebuah gerakan yang lembut, tetapi diselimuti ketegasan tak kasat mata yang melumpuhkan seluruh daya Liora untuk menolak.

Layar ponsel di dalamnya masih menyala, seolah menolak untuk mati.

Liora hanya mampu mengatupkan kedua matanya rapat-rapat.

Di balik pejamnya, suara jemari yang menyentuh kaca layar terdengar begitu nyata.

Setelah itu, sepi.

Kesunyian itu menjelma hantu yang jauh lebih menakutkan daripada suara paling bising sekalipun.

Beberapa detik kemudian, hening itu pecah oleh helaan napas Ravian.

Tapi itu bukan lagi helaan napas seorang pria yang sedang mencoba memahami masalah.

Itu adalah embusan dingin penuh ancaman dari seseorang yang baru saja menyadari ada tangan asing yang berani menyentuh dan menggores titik terlemah orang yang ingin dilindunginya.

Ravian menatap dalam-dalam pesan di layar itu. Kata demi kata dibacanya tanpa melewatkan satu pun spasi.

Setiap untaian kalimat di sana bagaikan menyulut badai api yang memaksa rahangnya mengunci rapat dengan gurat yang mengeras.

Ketegangan menjalar cepat, membuat otot-otot di lehernya mengetat seiring dengan amarah yang mulai memuncak.

Manik sewarna tanah basah yang biasanya tenang kini berubah pekat, seolah bara api telah dinyalakan jauh di dasar sana.

"Elara..." nama itu keluar dari bibirnya sebagai desis rendah.

Bukan panggilan.

Melainkan peringatan.

Tanpa pikir panjang, jemarinya menekan tombol panggil. Hanya saja sambungan terputus bahkan sebelum sempat berdering.

Nomor sekali pakai.

Seseorang di ujung sana sudah memastikan jejaknya menghilang.

Ravian membiarkan pandangannya tertambat pada layar beberapa detik, lalu mengembalikannya pada Liora.

Ia merendahkan diri, berlutut tepat di hadapan gadis itu. Di titik itu, sepasang manik mata mereka saling bertatap dalam garis lurus yang sejajar.

Ravian menumpukan kedua telapak tangannya di bahu Liora, mencengkeramnya dengan sebuah kepastian yang kokoh. Pegangan yang tanpa rasa sakit, tetapi cukup kuat untuk menghela gadis itu pulang dari palung kepanikan yang sedang menjeratnya.

"Dengar saya baik-baik, Liora Valeska."

Suara itu meluncur rendah dan tenang. Sebuah ketenangan semu yang justru terasa janggal bagi seorang pria yang jiwanya baru saja dihempas badai murka sebesar itu.

"Ibumu tidak akan menerima apa pun," Ravian menatap lurus ke dalam mata Liora, menghancurkan jarak di antara mereka.

"Tidak malam ini."

Bersamaan dengan ucapan itu, jemarinya mengetat perlahan di bahu sang gadis.

"Tidak besok," sorot matanya menelusur kian dalam, mengunci seluruh ketakutan di hadapannya. "Dan tidak akan pernah."

"Tapi mereka punya alamat Ibu..." kalimat Liora terlontar bersama getar pilu yang pecah di udara. "Mereka tahu rumah Ibu di Yogya..."

"Dan saya punya seluruh akses keamanan yang saya perlukan," Ravian menyela kalimat gadis itu, tegas dan mutlak bagai titah yang tak terbantahkan.

Ia merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel pribadi. Layar hitam yang sempat mati itu kini berkedip menyala kembali dalam beberapa detik.

Tanpa membuang waktu, Ravian menekan sebaris nomor di atas layar kaca.

"Suryo."

Sambungan terhubung.

"Kirim dua tim pengamanan tertutup ke Yogyakarta sekarang juga," kalimat Ravian terdengar dingin, tegas, dan berwibawa.

"Jaga rumah Ibu Rahayu di Sleman selama dua puluh empat jam. Pastikan tidak ada orang asing, surat, paket, atau siapa pun yang mendekati rumah itu tanpa izin langsung dari saya."

Pria itu menahan napasnya satu ketukan. Bersamaan dengan itu, tatapannya menajam kian pekat

"Jika ada sesuatu yang mencurigakan, amankan situasinya. Saya tidak mau ada celah."

"Baik, Pak Evander. Tim meluncur sekarang."

Sambungan terputus.

Ravian menyimpan kembali ponselnya ke balik kain jas. Di hadapannya, Liora hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang mengabur oleh air mata. Jiwanya masih tertinggal di belakang, belum sanggup mengeja betapa cepatnya takdir membalikkan keadaan.

Beberapa menit lalu, ia merasa terasing. Merasa seluruh dunia sedang menutup pintu di hadapannya.

Namun kini, sebelum jurang ketakutan itu sempat menelan habis sisa pertahanannya, Ravian telah berdiri di antara dirinya dan ancaman yang mengarah kepadanya.

"Tim saya sudah bergerak," nada bicara Ravian kembali melembut.

Perlahan, tangannya terangkat menepis jarak di antara mereka. Dengan sapuan ibu jarinya, ia menyeka jejak-jejak bening yang masih menganak sungai di pipi Liora.

Sentuhan itu begitu halus dan meneduhkan, seolah bertolak belakang dengan aura sepekat badai yang baru saja merajai seluruh sudut ruangan.

"Ibumu berada dalam perlindungan penuh Evander Corp mulai detik ini."

Jemarinya berhenti di garis rahang Liora.

"Tidak ada dokumen beracun, ancaman, ataupun tangan siapa pun yang akan sampai kepadanya."

Ada riak yang membuncah di dada Liora. Di detik itu, ia akhirnya mampu mengisi paru-parunya dengan udara yang lebih lega.

Ketakutan yang sejak tadi mencengkeram jantungnya perlahan mengendur.

Bukan karena badai di hadapannya telah benar-benar reda, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ia tidak dipaksa berdiri tegak menantang badai itu seorang diri.

Di balik sosoknya yang sedingin malam, penuh kuasa, dan mustahil dijangkau sebagai CEO serta dosen, Ravian Adhikara Evander rupanya menyimpan satu sisi tersembunyi yang menjungkirbalikkan seluruh prasangka Liora.

Ia menjelma sebuah benteng perlindungan.

Bukan benteng mati yang sekadar berdiri kokoh menunggu badai mereda dalam diam.

Melainkan benteng yang akan bergerak memotong jalur badai, menantang arah angin, dan berdiri di hadapannya sebelum badai itu sempat menyentuh orang yang ingin dilindunginya.

Dan malam ini, benteng itu berdiri untuk Liora.

Rintik hujan di pelupuk matanya kembali luruh membasahi parasnya. Kali ini duka dan kepanikan tak lagi menjadi dalang di balik jatuhnya bulir-bulir itu.

Ada sesuatu yang lain di dalamnya.

Rasa lega yang meruntuhkan sesak, rasa syukur yang membumbung tanpa suara, dan kehangatan yang perlahan tumbuh di tempat yang selama ini ia jaga rapat-rapat.

Mengabaikan segala akibat yang mungkin menanti di ujung jalan, Liora maju menghapus sekat di antara mereka.

Kedua lengannya melingkar di leher Ravian. Ia menenggelamkan diri dalam dekap pria itu, memeluknya dengan segenap daya yang tersisa.

Seolah-olah seluruh ketakutan yang sejak tadi menghancurkan dadanya ingin ia titipkan pada pelukan tersebut.

Keheningan menyergap Ravian, mengunci seluruh geraknya.

Di balik sunyi yang mengepung penthouse, hanya detak waktu dan luluh isak Liora yang patah di bahunya.

Malam itu, Ravian menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman apa pun yang dikirimkan musuhnya.

Ia bukan lagi sekadar ingin melindungi Liora.

Ia sudah mulai terlalu peduli.

Dan mungkin, tanpa mereka sadari, titik terlemah mereka perlahan mulai menjadi orang yang sama.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!