NovelToon NovelToon
Kelas Tambahan Untuk CEO

Kelas Tambahan Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO

Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.

Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.

Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Seroja di Atas Surat Kaleng

Keheningan di dalam perpustakaan itu mendadak terasa mencekam. Uap hangat dari martabak manis yang dibawa Kian di lantai bawah seolah tak lagi mampu menembus dinginnya aura yang melingkupi mereka berdua.

Kian melangkah perlahan menuju Maya. Setiap pijakan kakinya di atas lantai kayu terdengar berat. Pria itu merebut pelan foto hitam-putih dan kotak musik dari jemari Maya yang dingin, lalu menutup kompartemen rahasia itu kembali.

"Maya, dengarkan Mas," bisik Kian, suaranya dalam dan penuh tekanan emosi. Tangannya memegang kedua bahu Maya, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang gemetar. "Ada hal-hal dari masa lalu sebelum kita lahir yang sebaiknya tetap terkubur. Ibu dan ayahmu... juga ayahku, mereka punya ikatan rahasia yang teramat kelam."

"Ikatan apa, Mas?" desak Maya, air mata kebingungan mulai menggenang di sudut matanya. "Kenapa wanita di telepon tadi bilang kalau lahan Yayasan Utama adalah utang darah masa lalu? Dan kenapa pria di foto itu memakai jam tangan persis milik almarhum Ayah?!"

Kian menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Pria itu... memang ayahmu, Maya."

Maya tersentak mundur, napasnya tertahan di dada.

"Dulu, sebelum tanaya menjadi imperium bisnis," lanjut Kian dengan nada sarat duka, "ayahmu dan ibuku adalah pasangan kekasih. Namun, sebuah pengkhianatan di antara dua keluarga besar menghancurkan segalanya. Ayahmu dituduh mencuri dokumen Yayasan Utama yang dulu merupakan aset bersama, sementara ibuku diasingkan hingga depresi berat dan mengakhiri hidupnya. Kotak musik itu... adalah satu-satunya peninggalan ibuku sebelum beliau berpulang."

Maya mematung. Kenyataan itu menghantam dadanya bagaikan godam berat. Jadi, yayasan yang selama ini ia kelola dengan penuh rasa bangga... berdiri di atas puing-puing tragedi dan pengkhianatan orang tua mereka?

Sebelum Maya sempat bersuara, suara pecahan kaca yang nyaring mengejutkan mereka dari lantai bawah!

PRANG!

"ARKA!" jerit Maya seketika.

Kian menarik Maya ke belakang punggungnya dan langsung berlari menuruni tangga. Di ruang tamu, Mbak Sum menjerit ketakutan sambil memeluk Arka yang menangis sesenggukan. Di atas karpet, sebuah batu besar terbungkus kain hitam telah memecahkan kaca jendela utama.

Kian mendekati batu itu dengan kewaspadaan penuh. Di dekat pecahan kaca, tergeletak seangkut bunga seroja putih yang sudah layu—simbol duka dan pembalasan dendam klasik—beserta sebuah amplop hitam bertinta merah darah.

Dengan tangan yang mengepal tegap, Kian membuka surat kaleng tersebut. Maya menyusul di sampingnya, membaca tulisan tangan yang miring dan tajam:

"Pernikahan kalian adalah penistaan atas darah yang tumpah di masa lalu. tanaya telah merebut nyawa ibuku, dan keluarga Adriana telah mencuri masa depanku. Sekarang, anak di dalam kandunganmu, Maya... akan menjadi harga terakhir untuk melunasi utang dendam ini."

— Clarissa Valentina

Mata Kian berkilat tajam. Nama itu... Clarissa. Putri tunggal dari cabang keluarga lama yang diyakini telah hancur dan menghilang puluhan tahun lalu akibat perselisihan tanah yayasan tersebut.

"Clarissa masih hidup..." gumam Kian, rahangnya mengeras ketat. Aura dominasi dingin yang dulu pernah padam kini kembali menyala dengan kepenuhan amarah seorang suami yang bahaya terbesarnya menyentuh keluarga kecilnya.

Maya meremas kemeja Kian erat-erat, memegangi perutnya yang kini menjadi sasaran dendam kesumat dari wanita misterius itu.

"Mas... dia mengincar anak kita," bisik Maya dengan suara pecah yang dipenuhi ketakutan dan keputusasaan.

Kian merengkuh Maya ke dalam pelukannya yang protektif, menepuk punggung istrinya dengan kehangatan yang kontras dengan tatapan matanya yang tajam bak pisau.

"Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu atau anak kita, Maya," desis Kian tepat di dekat telinga Maya dengan nada ancaman yang mengerikan bagi siapa pun musuhnya. "Jika Clarissa mau bermain dengan bayangan masa lalu... maka aku akan menyeretnya keluar dari kegelapan dan memastikan dia berlutut memohon ampun di depanmu."

Genderang perang pembalasan dendam masa lalu resmi ditabuh. Misteri kelam keluarga mereka yang tersembunyi berpuluh tahun kini bangkit kembali, mengancam untuk merenggut kebahagiaan dan nyawa calon buah hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!