Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Batuk Asti
“Asti nggak masuk lagi, kasian.” Rani mengeluhh, mereka ada di perpustakaan sepi itu.
“Oh iya ya, sudah tiga hari, aku tidak sadar, terima kasih Rani sudah khawatir.” Lira jadi paham kenapa dia suka sekali Rani, karena dia tulus dan selalu menarik Lira yang mampu membaca energi secara alami tanpa sihir.
“Iya Lira, tapi aku jujur merasa kasihan, karena dia itu batuk sudah beberapa lama ini, sudah dua bulan sepertinya, dia juga mengeluh lelah sekali. Katanya sudah ke Dokter, tapi tidak sembuh juga. Kasihan, apa dia diguna-guna sama saudaranya ya?”
“Guna-guna? Apa ini maksudnya ilmu hitam gitu, Rani?” Lira bertanya.
“Aku tidak percaya hal seperti itu, dia sakit TBC kali, kau tau kan, penyakit itu susah sembuh kalau tidak minum obat satu atau dua tahun tanpa putus, kita malah harus hati-hati, jangan dekat-dekat nanti tertular.”
Apa yang dikatakan Dani soal pengobatan TBC selama satu sampai dua tahun itu benar, tidak seperti saat-saat ini di mana pengobatan menggunakan obat Rifampisin, obat utama TBC modern. Rifampisin, baru disintesis di laboratorium pada tahun 1965 dan baru mulai dipakai secara global pada tahun 1970-an. Sebelum ada Rifampisin, pengobatan TBC tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat atau 6 bulan seperti sekarang.
Jadi apa yang dikatakan Dani benar, butuh waktu satu hingga dua tahun minum obat tanpa putus agar sembuh dari TBC.
“Ih, apa sih, jangan ngomong sembaranganlah, lagian dia itu kan omnya dokter, katanya sudah ke banyak rumah sakit besar tahu, Dan. Aku sih yakin ini masalah yang nggak bisa diselesaikan dengan obat sih.”
“Kalau kamu Lira?”
“Aku? Aku kenapa?” Lira bingung kenapa Dani bertanya.
“Ya, kamu lebih percaya yang mana? Teoriku atau teori Rani?”
“Hmm, ada baiknya kita datang menjenguk, lalu mendoakan yang terbaik, jangan menerka-nerka, itu tidak baik, jadi, kapan kita ke sana?” Lira bertanya.
“Aku bisa pulan sekolah nanti, kau bagaimana Lira?”
“Aku nggak bisa, mamaku tidak akan mengizinkan, apalagi dia batuk lama, takut ketularan, kalian sajalah.” Yang ditanya Lira, malah Dani yang menjawab, Rani mendegus, karena dia merasa ditolak, padahal tak bertanya juga.
“Aku ikut Rani, tapi paling diantar papa atau mamaku, kan kau tahu aku selalu dijemput pulang sekolah.”
“Oh iya, yaudah, aku ikut ya, nebeng dibecakmu, boleh?”
“Ya boleh dong, kamu tahu rumahnya?” Lira bertanya.
“Lupa-lupa ingat, waktu kelas 2 kami pernah belajar bersama di rumahnya, tapi nanti kalau sudah di gangnya kita bisa tanya orang sekitar, yang penting aku tahu gang besarnya.”
“Yasudah Rani, nanti pulang sekolah kita ke sana ya.”
“Nah gitu dong, itu baru namanya sahabat, nggak kayak ini nih, penakut!” Rani mengejek Dani, Dani hanya melengos dan pergi dari perpustakaan karena sudah waktunya masuk kelas. Lira tertawa dan menaruh bukunya di rak mengikuti Rani, lalu pergi meninggalkan perpustakaan seperti Dani dan juga menuju kelas.
...
“Maaf ya tante, karena menyusahkan.” Rani berkata pada mamanya Lira yang menjemput hari itu.
“Iya, tidak apa-apa Rani, bagus malah, karena bisa tante antar. Dari pada kalian pergi sendiri, nanti bahaya.”
“Iya tante, ini sebentar lagi kita sampai ya.”
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Asti, rumahnya tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, rumah sederhana khas pertengahan tahun 1960-an itu berdiri di atas halaman tanah yang cukup luas, dengan bagian depan yang masih dibiarkan terbuka tanpa pagar tinggi. Sebuah pagar pendek dari kayu mengelilingi sebagian halaman, beberapa bagiannya sudah tampak kusam karena terkena hujan dan panas selama bertahun-tahun. Di depan rumah terdapat jalan setapak dari tanah yang menghubungkan teras dengan jalan kampung.
Bangunan rumahnya masih menggunakan bentuk sederhana yang umum pada masa itu. Dindingnya terbuat dari tembok yang dicat warna krem pucat, meskipun catnya sudah tidak lagi terlihat merata. Beberapa bagian dinding tampak sedikit menguning dan kusam. Atap rumah menggunakan genteng tanah liat berwarna cokelat kemerahan yang tersusun rapi, dengan bagian ujungnya terlihat lebih gelap karena usia.
Di bagian depan terdapat teras kecil dengan lantai semen yang halus tanpa banyak hiasan. Dua tiang sederhana menopang bagian atap teras. Pintu utama terbuat dari kayu jati dengan warna cokelat tua, lengkap dengan gagang pintu logam yang sederhana. Di kedua sisi pintu terdapat jendela kayu berdaun dua dengan kaca bening. Jendelanya cukup lebar sehingga cahaya matahari dapat masuk ke ruang depan pada siang hari.
Ruang tamunya berada tepat setelah pintu utama. Tidak ada banyak perabotan mewah di dalamnya. Hanya terdapat seperangkat kursi kayu dengan bantalan tipis, sebuah meja kecil, dan lemari kayu yang digunakan untuk menyimpan beberapa barang keluarga. Lantainya masih berupa ubin semen bermotif sederhana. Di belakang ruang tamu terdapat ruang keluarga dan beberapa kamar, sementara dapur berada di bagian belakang rumah. Keseluruhan rumah itu terasa sederhana, tenang, dan cukup nyaman untuk sebuah keluarga kecil, dengan suasana khas rumah kampung pada masa ketika perabotan dan dekorasi belum menjadi sesuatu yang diharuskan.
“Permisi, permisi ….” Ibunya Lira mengetuk pintu rumah.
“Oh iya, cari siapa ya?” Seorang ibu keluar dari rumah sederhana itu dengan wajah lelah dan rambut berantakan, lelah benar-benar terpancar dari raut dan gesturnya, mungkin kedatangan tamu adalah situasi yang tidak sedang ingin dia hadapi.
“Ini saya ibunya Lira teman anak ibu, Lira dan Rani ingin menjenguk Asti, apakah boleh?” Nyonya Yelak berkata sambil menyerahkan buah jeruk yang besar-besar dan berwarna kuning yang terlihat menyegarkan, tadi saat ke rumah itu mereka melewati pasar dan Nyonya Yelak langsung minta berhenti saat melewati tukang buah, dia membeli jeruk sebagai buah tangan.
“Duh, terima kasih ya, ini tuh merepotkan sebenarnya, apalagi … anu … kalian yakin mau menjenguk Asti?” Ibuhnya berkata dengan sedikit ragu.
“Memang kenapa bu? Kan Lira dan Rani temannya, kenapa tidak yakin menjenguk?” Mamanya Lira bertanya.
“Duduk dulu saja yuk.” Ibunya Asti mengajak mereka masuk ke ruang tamu, Lira dan Rani mengikuti Nyonya Yelak masuk ke ruang tamu rumah Asti.
“Begini bu, anak saya sudah lama sekali sakit, batuk … tidak sembuh-sembuh, terutama malam hari, pagi dan siang ya batuk juga, tapi tidak sesering malam hari.
Badannya sudah kurus kering, tidak nafsu makan, kelelahan karena batuk terus dan kurang tidur. Semua tetangga bahkan gurunya di sekolah juga tak mau menjenguk karena takut, takut ketularan.”
“Ketularan?” Ibunya Lira bingung.
“Iya, makanya saya tadi tanya, apa kalian yakin mau jenguk, saya takut, kalau anak-anak nanti jadi sakit karena anak saya. Anak saya saja belum sembuh, gimana saya nanggungnya kalau ada anak lain sakit juga.”
“Memang sudah pasti sakit yang menular bu?” Ibunya Lira bertanya.
“Tidak tahu bu, saya sudah ke dokter, tidak terhitung obat dan juga biaya rumah sakit yang kami keluarkan, apalagi di saat keadaan negeri sedang genting gini, meski bapaknya pegawai negara, tetap saja, zaman lagi begini, semua serba mahal, jujur ini berat banget.
Makanya saya nggak mau anak lain ketularan lalu kami harus ikut bertanggung jawab. Mengurus anak kami saja berat, apalagi harus mengurus anak lain.”
“Oh begitu, baiklah bu, terima kasih ya karena sudah memberitahu kami, jujur saya tidak takut, tapi karena untuk menghormati ibu, kami tidak akan memaksa melihat Asti.
Tapi, kondisi Asti sekarang gimana bu? Apakah masih bisa beraktifitas? Misalnya berjalan dan makan sendiri?” Nyonya Yelak bertanya algi.
“Asti sudah kesulitan bangun dari tempat tidur, kami bahkan harus membantunya duduk untuk makan bu, saya pasrah saja, saya hanya akan terus merawatnya tanpa mengeluh, sudah itu saja.”
“Baiklah bu, kalau begitu saya dan anak-anak pamit, maaf ya bu, semoga Asti cepat sembuh.”
Nyonya Yelak dan dua anak itu lalu keluar dari rumah dan naik becak untuk pulang.
Tapi dalam hati Nyonya Yelak, dia akan ke rumah itu lagi malam nanti, dia harus melihat Asti, dia ingin melihat apakah ada yang bisa dibantu, tapi dia takkan bilang Lira, karena Lira itu suka penasaran dan ingin ikut, sebagai Dekekuoi penyembuh, Nyonya Yelak paling tak bisa melihat orang yagn sakit lama seperti ini, apalagi Asti seumuran dengan Lira, anaknya.