Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Preman yang Datang Mencari Masalah
"Aku akan kembali."
Kalimat itu belum hilang dari kepala Meilan ketika ia kembali ke Griya Asri dengan dua anak yang sudah memakai baju baru.
Lala berjalan lebih hati-hati dari biasanya, sesekali memegang ujung gaun kuningnya seperti takut kain lembut itu tiba-tiba menghilang. Bobo memakai kemeja putih kecil dengan wajah serius, seolah baju itu bukan pakaian baru, melainkan seragam tempur.
Darto menurunkan mereka di depan rumah. "Wah, anak-anak jadi seperti mau kondangan."
Lala tersipu. "Baju Lala lembut."
Yuni yang sedang menjemur kain langsung mendekat. "Masya Allah, cantik sekali. Bobo juga tampan."
Bobo hanya mengangguk kecil. "Terima kasih, Bu Yuni."
Meilan tersenyum, tetapi pikirannya sudah bergerak ke hal lain. Uang pertama sudah didapat. Namun uang sekali tidak cukup. Ia perlu usaha berulang, sumber bahan, jalur distribusi, dan tempat kerja.
Keesokan paginya, ia mengajak Dedi ke pasar tradisional.
Dedi membawa keranjang dengan wajah masih setengah kesal, tetapi setelah dua hari menjadi pesuruh, ia sudah belajar bahwa mengeluh hanya memperpanjang pekerjaan.
"Catat harga cabai, bawang, ayam, telur, minyak," kata Meilan.
"Saya?"
"Kamu bisa membaca angka, kan?"
Dedi mengangguk cepat dan mulai mencatat di kertas.
Meilan berjalan dari lapak ke lapak, bertanya tanpa terlihat terlalu ingin. Ia membeli sedikit bahan, mencium kualitas minyak, memeriksa beras, memperhatikan ibu-ibu yang menawar. Di dekat pasar ada tanah kosong milik warga yang belum terpakai. Di pinggirnya tumbuh kangkung liar.
Sebuah ide muncul.
Makanan rumahan. Produk sederhana. Bahan lokal. Kalau Pangesto membuka pintu restoran, Griya Asri bisa menjadi dapur kecilnya.
Ketika ia pulang menjelang sore, halaman rumahnya sudah ramai.
Tujuh pria berdiri di depan pagar. Bapaknya Dimas ada di tengah, lengannya masih dibebat. Wajahnya bengkak karena amarah dan malu. Enam pria lain, mungkin saudara atau teman, membawa kayu, besi pendek, dan tatapan orang yang merasa jumlah bisa menggantikan otak.
Darto berdiri di depan rumah Meilan, berusaha menahan mereka. Yuni memegang Lala di teras. Bobo berdiri di samping adiknya, wajahnya dingin.
"Mbak Mei!" Yuni berteriak lega saat melihatnya.
Bapaknya Dimas menoleh. Senyumnya miring.
"Akhirnya pulang. Sekarang minta maaf, bayar biaya pengobatan anakku, lalu sujud di depan kami."
Meilan memberikan kantong belanja kepada Dedi.
"Bawa masuk."
Dedi ragu. "Tapi..."
"Masuk."
Nada itu membuat Dedi patuh. Ia berlari ke teras dan ikut berdiri di dekat Bobo, tetapi kali ini tidak mengejek. Ia malah berbisik, "Jangan maju. Mereka bawa besi."
Bobo menatapnya sebentar. Untuk pertama kalinya, Dedi tampak berada di sisi yang benar.
Meilan melangkah ke halaman.
"Gang Pelita masih belum belajar?"
Salah satu pria tertawa. "Perempuan ini sombong sekali."
Bapaknya Dimas maju. "Kemarin kamu menang karena aku lengah."
"Hari ini kamu membawa enam orang karena takut kalah lagi?"
Wajah pria itu menggelap.
Ia menyerang lebih dulu.
Gerakannya kasar dan mudah dibaca. Meilan menggeser tubuh, menangkap pergelangan tangannya yang sehat, lalu memutar. Pria itu terjatuh dengan lutut menghantam tanah.
Pria kedua mengayunkan kayu. Meilan menunduk, siku kirinya mengenai perut orang itu. Pria ketiga maju dari belakang, tetapi Darto tiba-tiba berteriak, "Belakang!"
Meilan sudah tahu. Ia berputar dan menendang tulang kering penyerang itu. Bukan tendangan tinggi yang indah, melainkan tendangan pendek yang praktis. Orang itu jatuh memaki.
Dalam tiga menit, halaman Griya Asri berubah menjadi tempat tujuh pria dewasa berguling kesakitan.
Tetangga yang tadinya mengintip kini keluar sepenuhnya.
Bu Tuti berdiri di balik tirai, ponsel di tangannya. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.
Meilan menarik napas pelan. Ia tidak terlihat seperti baru berkelahi. Rambutnya tetap rapi, hanya ujung bajunya terkena debu.
"Darto," katanya.
"Iya?"
"Bantu buka gerbang kompleks."
Darto menelan ludah, lalu mengangguk cepat.
Satu per satu pria itu diseret atau dipaksa berjalan keluar. Meilan tidak memukul lebih dari perlu. Ia cukup membuat mereka paham bahwa datang lagi berarti pulang lebih buruk.
Di tengah jalan, salah satu dari mereka masih mencoba menyelamatkan muka.
"Kami bisa lapor polisi!"
Meilan berhenti. "Silakan. Saya punya saksi satu kompleks, dan mereka masuk membawa besi ke rumah ibu dengan dua anak kecil. Mau saya bantu telepon?"
Pria itu langsung menutup mulut.
Darto, yang biasanya paling menghindari masalah, berdiri lebih tegak di samping Meilan. "Saya saksi. Mereka datang cari masalah duluan."
Yuni dari teras ikut bersuara, suaranya gemetar tetapi jelas. "Saya juga lihat."
Satu per satu tetangga mengangguk. Tidak semuanya berani bicara, tetapi anggukan itu cukup. Untuk pertama kalinya, Meilan tidak berdiri sendirian di depan kerumunan.
Di depan gerbang Griya Asri, ia melempar batang besi terakhir ke tanah.
"Bawa malu kalian pulang. Kalau kembali lagi, kali berikutnya saya tidak hanya mengantar sampai gerbang."
Bapaknya Dimas menatapnya dengan kebencian, tetapi tidak berani menjawab.
Setelah mereka pergi, kompleks sunyi.
Lalu seorang anak kecil dari rumah seberang bertepuk tangan.
Ibunya buru-buru menutup mulutnya, tetapi terlambat. Beberapa orang tertawa gugup. Ketegangan pecah.
Yuni berlari memeluk Lala yang masih gemetar. Darto menatap Meilan seolah baru melihat orang yang berbeda.
"Mbak Mei," katanya pelan, "sebenarnya dulu kerja apa?"
Meilan membersihkan debu dari telapak tangannya. "Konsultan keamanan."
Darto berkedip. "Oh. Pantas."
Bobo berjalan mendekat. Matanya bersinar, tetapi suaranya tetap kecil.
"Mama kuat."
Meilan berjongkok. "Kuat itu untuk melindungi, bukan untuk menindas."
Bobo mengangguk, seolah menyimpan kalimat itu.
Lala yang sejak tadi dipeluk Yuni akhirnya turun dan berjalan ke arah Meilan. Ia menyentuh ujung jari ibunya.
"Mama tidak sakit?"
"Tidak."
Lala memeriksa tangan Meilan dengan sangat serius. Ada sedikit goresan di buku jarinya. Mata anak itu langsung berkaca-kaca.
"Ada darah."
"Sedikit."
Bobo melihat goresan itu, lalu menatap tujuh pria yang sudah jauh. "Mereka bikin Mama berdarah."
Meilan menangkap nada gelap di suaranya. Ia segera menyentuh dagunya agar anak itu melihatnya.
"Bobo, lihat Mama. Marah boleh. Tapi jangan biarkan marah mengatur tanganmu. Mengerti?"
Bobo diam, lalu mengangguk pelan.
"Mengerti."
Pelajaran itu lebih penting daripada semua tepuk tangan tetangga.
Di rumah sebelah, Bu Tuti masih berdiri memegang ponsel. Jarinya menggantung di atas layar WhatsApp grup. Tadinya ia hendak menulis bahwa janda baru itu membuat keributan. Sekarang ia menatap tujuh pria yang pergi terpincang-pincang, lalu menghapus semua kata.
Ia malah menulis satu kalimat lain, lalu menghapusnya juga: Jangan ganggu Bu Meilan.
Untuk pertama kalinya sejak Meilan pindah ke Griya Asri, tidak ada satu pun gosip yang berani keluar malam itu.