Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Kevin mengangkat ponsel itu perlahan. Suaranya nyaris pecah saat ia bertanya, "Keira... katakan padaku. Gadis kecil di livestream yang memanggilku Daddy... dia putriku?"
Hujan tipis jatuh di belakangnya. Cahaya teras membuat tetes air di bahu jas Kevin berkilau sebentar sebelum menghilang ke kain gelap. Keira berdiri di ambang pintu, satu tangan masih memegang gagang, jari-jarinya dingin.
Ia pernah membayangkan momen ini.
Dalam bayangannya, ia akan marah. Ia akan menyebut semua rasa sakit lima tahun lalu satu per satu. Ia akan mengatakan bahwa Kevin tidak berhak datang terlambat lalu menuntut tempat di hidup anak-anaknya.
Namun ketika melihat mata Kevin yang merah, semua kalimat yang tajam itu tertahan di belakang gigi.
"Masuk," katanya akhirnya.
Kevin tidak langsung bergerak. "Jawab dulu."
"Kalau kita bicara di depan pintu, semua pengawal akan mendengar."
Ia menyingkir. Kevin melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya, memotong suara hujan, tetapi tidak memotong gemuruh di dada mereka.
Ruang tamu masih menyimpan sisa kekacauan kecil. Tripod pink belum sempat dilipat. Lampu ring light mati di lantai. Boneka kelinci Tiffany tertinggal di sofa, salah satu telinganya tertekuk.
Kevin menatap semua benda itu seperti menatap jejak seorang anak yang baru saja berlari melewati hidupnya.
"Tiga anak," katanya pelan.
Keira tidak menjawab.
Kevin berbalik menghadapnya. "Darren. Ethan. Tiffany." Setiap nama keluar seperti luka baru yang akhirnya disebut dengan benar. "Mereka semua anakku, kan?"
Keira menatap ponsel di tangannya, lalu ke wajah Kevin. Di luar, sebuah mobil lewat pelan, lampunya menyapu tirai ruang tamu. Sejenak wajah Kevin terlihat lebih pucat.
"Kamu terlalu lama baru menanyakan itu," ucap Keira.
Kalimat itu tidak keras.
Justru karena tidak keras, Kevin merasa dadanya hancur.
Ia menunduk. Tangan yang memegang ponsel bergetar sampai layar ikut bergetar. Selama bertahun-tahun ia mengira hidupnya hanya kehilangan satu malam, satu perempuan, satu kebenaran yang kabur. Malam ini ia baru sadar, yang hilang darinya adalah tiga anak, tiga panggilan Daddy, tiga masa kecil yang tidak pernah ia dampingi.
"Keira..."
"Aku hamil setelah malam itu," lanjut Keira, suaranya tetap tenang, tetapi matanya mulai basah. "Aku diusir. Aku dikejar. Aku hampir kehilangan mereka sebelum sempat mendengar detak jantung mereka. Saat aku tahu ada tiga bayi, aku hanya punya satu pikiran."
Kevin mengangkat kepala.
"Apa?"
"Mereka tidak boleh direbut dariku."
Kevin seperti dipukul tepat di bagian yang paling ia sembunyikan. Ia pernah marah karena Keira menyembunyikan anak-anak. Ia pernah merasa ditipu, ditinggalkan, dijauhkan. Namun di balik kalimat itu ada gambaran yang lebih kejam: Keira muda, sendirian, terluka, memegang perutnya di tengah dunia yang ingin mengambil apa pun yang tersisa.
"Aku tidak tahu," katanya serak.
"Aku tahu kamu tidak tahu." Keira tersenyum kecil, pahit. "Tapi tidak tahu bukan berarti luka itu tidak terjadi."
Kevin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu punya jawaban tidak punya satu pun kalimat yang pantas.
Air mata jatuh dari matanya.
Keira terpaku.
Jakarta mengenal Kevin Hartono sebagai pria yang tidak menunduk pada siapa pun. Para direktur takut pada tatapan dinginnya. Lawan bisnis mundur sebelum ia bicara dua kalimat. Bahkan saat Darren kecil sakit, Kevin tetap tampak tenang di depan semua orang.
Namun malam ini, di ruang tamu Keira, pria itu menangis tanpa suara.
"Maaf," katanya. "Aku terlambat."
Keira memalingkan wajah. Ia tidak ingin melihat. Ia takut jika melihat terlalu lama, dinding yang ia bangun selama lima tahun akan retak bukan karena paksaan, melainkan karena penyesalan yang nyata.
Langkah kecil terdengar dari tangga.
"Mommy?"
Keira cepat menghapus air mata. "Tiffi, kenapa turun?"
Tiffany berdiri di anak tangga ketiga, memakai piyama kuning, rambutnya sedikit berantakan. Pengasuh di belakangnya tampak cemas, tetapi Tiffany sudah melihat Kevin.
Dunia kecil anak itu berhenti.
"Daddy?"
Kevin menoleh.
Ia pernah dipanggil Daddy oleh Darren sejak anak itu kecil. Ia pernah mendengar Ethan mengucapkannya dengan nada menantang, seperti anak yang ingin mengetes seberapa jauh orang dewasa bisa dipercaya. Tetapi suara Tiffany berbeda. Suara itu penuh rindu yang belum pernah diberi tempat.
Tiffany memegang pegangan tangga dengan kedua tangan. Untuk satu detik ia ragu. Mungkin karena tadi ia dimarahi pelan. Mungkin karena ia takut Daddy datang hanya karena livestream dan akan pergi lagi.
Kevin berlutut di tengah ruang tamu.
"Tiffi."
Satu panggilan itu cukup.
Tiffany berlari menuruni tangga. Pengasuh terkesiap. Keira maju setengah langkah, tetapi Kevin sudah membuka kedua tangan.
Anak perempuan kecil itu menabrak dadanya dan memeluk lehernya sekuat tenaga.
"Daddy!" Tiffany menangis keras. "Daddy benar-benar datang!"
Kevin memeluknya dengan hati-hati, seperti takut tubuh kecil itu pecah jika ia terlalu kuat, tetapi juga takut ia menghilang jika ia terlalu longgar. Tangannya gemetar di punggung Tiffany.
"Maaf," bisiknya di rambut anak itu. "Daddy terlambat. Maaf, Tiffi. Daddy terlambat sekali."
Tiffany menggeleng cepat di bahunya. "Tidak apa-apa. Daddy sudah datang."
Kalimat polos itu membuat Kevin semakin tidak bisa bernapas. Anak ini tidak menuntut lima tahun. Ia hanya menerima satu malam kedatangannya seolah itu hadiah paling besar.
Keira berbalik ke arah jendela. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, menahan isak agar Tiffany tidak mendengar.
Terlalu sakit.
Terlalu hangat.
Ia tidak tahu bagian mana yang lebih sulit ditanggung.
Ponsel di meja tiba-tiba bergetar. Nama Ethan muncul di layar dengan panggilan video.
Keira menghapus air mata cepat-cepat dan menerima panggilan. Wajah Ethan muncul, rambutnya rapi seperti Darren, tetapi matanya terlalu hidup untuk bisa ditipu siapa pun yang benar-benar mengenalnya.
"Mommy," katanya, "Tiffi membuat internet heboh?"
Tiffany mendongak dari pelukan Kevin. "Koko Eth! Daddy datang!"
Ethan melihat Kevin yang masih berlutut memeluk Tiffany. Anak itu diam dua detik. Lalu ia menghela napas seperti orang dewasa kecil yang baru menyelesaikan masalah rumit.
"Akhirnya."
Kevin menatap layar. Untuk pertama kalinya ia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis.
"Ethan."
"Daddy," Ethan menjawab, datar tetapi matanya sedikit merah. "Mulai sekarang harus baik sama Mommy."
"Aku akan."
"Kalau tidak, aku hack rekeningmu."
Keira hampir tertawa di tengah tangis. "Eth."
"Aku cuma kasih tahu opsi," jawab Ethan serius. "Koko Ren juga setuju, tapi dia lagi tidur. Pak Hadi bilang tidak boleh bangunin karena besok sekolah."
Kevin menunduk sedikit, menerima ancaman lima tahun itu dengan wajah sangat sungguh-sungguh. "Aku mengerti."
Ethan menyipit. "Jangan cuma mengerti. Lakukan."
"Aku akan lakukan."
Tiffany mengusap pipinya sendiri. "Koko Eth, Daddy peluknya hangat."
Wajah Ethan melunak. "Bagus. Tapi jangan lupa sikat gigi habis nangis."
"Ih, Koko!"
Panggilan video yang seharusnya canggung berubah menjadi sesuatu yang hampir seperti keluarga. Tidak utuh, belum rapi, penuh luka dan rahasia, tetapi untuk pertama kalinya semua orang berada di satu ruang yang sama, meski Ethan hanya lewat layar.
Setelah Ethan menutup panggilan dengan pesan singkat "lapor besok", Tiffany mulai mengantuk di pelukan Kevin. Tangis membuat kelopak matanya berat. Keira mendekat.
"Tiffi harus tidur."
Tiffany langsung memeluk Kevin lebih erat. "Daddy jangan pergi."
Kevin menatap Keira, meminta izin tanpa suara.
Keira mengerti tatapan itu. Dulu, Kevin mungkin akan langsung mengambil keputusan. Sekarang ia menunggu. Hal kecil itu membuat dada Keira terasa penuh oleh sesuatu yang rumit.
"Kamu boleh antar dia sampai kamar," kata Keira. "Tapi setelah itu kita bicara."
Kevin mengangguk. "Terima kasih."
Ia menggendong Tiffany naik ke lantai dua. Anak itu menyandarkan kepala di bahunya, satu tangan kecil menggenggam kerah kemejanya seolah takut ia lenyap. Kevin berjalan pelan, setiap langkah seperti membayar hutang yang tidak akan pernah lunas.
Di kamar Tiffany, dinding dipenuhi gambar bintang dan awan. Ada tiga bingkai kecil di meja: Tiffany dengan Keira, Tiffany dengan Ethan, dan satu gambar krayon keluarga yang belum pernah Keira perlihatkan pada Kevin. Di gambar itu ada Mommy, tiga anak, dan seorang pria tinggi tanpa wajah.
Kevin menatap gambar itu lama.
"Itu Daddy," gumam Tiffany setengah tidur. "Dulu Tiffi belum tahu muka Daddy, jadi kosong."
Kevin menutup mata.
"Sekarang Daddy sudah ada," bisiknya.
Setelah Tiffany tidur, Kevin kembali ke ruang tamu. Keira berdiri di dekat sofa, tangan terlipat di depan dada. Wajahnya sudah tenang lagi, tetapi matanya masih menyimpan bekas tangis.
Kevin berhenti beberapa langkah darinya. Ia tidak menyentuh sebelum diberi izin.
"Lima tahun," katanya. "Aku berutang terlalu banyak pada kalian."
Keira menatapnya. "Utang seperti itu tidak bisa dibayar dengan uang, Kevin."
"Aku tahu." Kevin menarik napas dalam. "Aku tidak akan meminta kau langsung percaya. Aku juga tidak akan mengambil anak-anak darimu. Mereka hidup karena kau. Mereka aman karena kau. Aku hanya..."
Suaranya tertahan.
Keira menunggu.
"Aku hanya minta kesempatan untuk menjadi Daddy mereka. Benar-benar Daddy. Bukan tamu yang datang saat sudah terlambat."
Keira memalingkan pandangan ke tripod pink yang masih tergeletak di lantai. Benda kecil itu membuat semua rahasia berantakan, tetapi mungkin juga membuka pintu yang selama ini terlalu berat ia dorong sendiri.
"Kesempatan itu bukan dariku saja," katanya pelan. "Kamu harus mendapatkannya dari mereka."
"Aku akan."
"Dari Darren juga. Dia yang paling terluka tanpa tahu kenapa."
Wajah Kevin mengeras oleh rasa sakit. "Aku tahu."
"Dan dari aku."
Kevin menatapnya.
Keira akhirnya mengangkat mata. "Aku tidak menjanjikan apa pun malam ini."
"Aku tidak meminta janji."
"Bagus."
Keira mengambil tripod dari lantai, melipatnya, lalu menaruhnya di meja. Gerakan sederhana itu terasa seperti menutup satu bab dari kebohongan lama, bukan menghapusnya, hanya mengakui bahwa ia pernah ada.
Kevin berdiri diam, memberi jarak.
Saat Keira lewat di sampingnya, ia mengulurkan tangan, lalu berhenti sebelum menyentuh. "Keira."
Ia berhenti.
"Boleh aku datang besok pagi? Untuk sarapan dengan Tiffany. Dan nanti, kalau kau izinkan, aku akan bicara dengan Darren dan Ethan satu per satu."
Keira tidak langsung menjawab. Di lantai atas, suara AC kamar Tiffany berdengung pelan. Di luar, hujan mulai reda.
Akhirnya ia berkata, "Jam tujuh. Jangan terlambat."
Kevin mengangguk, matanya kembali basah, tetapi kali ini ada cahaya kecil di dalamnya.
"Aku tidak akan terlambat lagi."
Keira tidak membalas. Namun saat Kevin berjalan ke pintu, ia tidak menyuruhnya pergi dengan dingin seperti dulu.
Malam itu, untuk pertama kalinya, pintu keluarga kecil mereka tidak tertutup sepenuhnya.