NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

"Dare-nya: lepas rok lu. Sekarang."

Suara Rio jatuh di ruang VIP seperti puntung rokok yang diinjak di lantai marmer.

Untuk satu detik, tidak ada yang bergerak.

Dadu di meja kaca berbisik panik, "Waduh. Aku cuma alat permainan, bukan alat kejahatan."

Keira menatap Rio tanpa berkedip.

Ia tidak marah dengan cara yang panas. Tidak ada teriakan di kepalanya, tidak ada tangan gemetar yang tidak terkendali. Yang muncul justru dingin yang sangat jernih, seperti air es dituangkan langsung ke tulang belakangnya.

Tiga langkah ke pintu.

Botol whiskey di kanan.

Botol bir di kiri.

Ko Kevin di luar.

Dan empat pria di ruangan yang terlalu percaya bahwa uang bisa membuat semua pintu tertutup.

Gilbert mengerutkan dahi. "Rio, jangan keterlaluan."

Rio tertawa tanpa melihatnya. "Apa? Ini kan game. Tadi dia yang ngajak main. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan, Gil."

"Aku bilang jangan."

"Kalau lu peduli banget, dari tadi kenapa cuma duduk?" Rio menoleh padanya dengan senyum miring. "Atau jangan-jangan lu pengen lihat juga, tapi mau tetap kelihatan baik?"

Gilbert diam.

Keira melihat diam itu lebih jelas daripada kata apa pun.

Dulu, Keira lama mungkin akan mencari alasan untuknya. Mungkin Gilbert canggung. Mungkin Gilbert takut teman-temannya. Mungkin Gilbert hanya butuh waktu untuk berdiri.

Keira yang sekarang hanya mencatat satu fakta.

Ketika seorang perempuan dipermalukan di depan matanya, Gilbert memilih kursi.

Kelvin bersandar sambil tertawa kecil. "Udah, Yo. Jangan bikin drama. Kalau dia berani main, dia harus berani kalah."

Zeno tidak tertawa. Ia hanya mengamati Keira dengan mata dingin, seolah menimbang berapa banyak reaksi yang bisa dipakai sebagai data.

Di earbud, suara Ko Kevin terdengar tertahan. "Keira, jawab."

Keira tidak menjawab.

Rio berdiri. Ia berjalan mendekat, satu tangan di saku, satu tangan lain terulur ke arah pinggang Keira.

"Ayo. Jangan sok polos. Lu pikir masuk ruang VIP jam segini buat apa?"

Jari Rio baru menyentuh ujung kain rok Keira.

Keira bergerak.

Gerakannya cepat, bersih, tanpa ragu.

Tangan kanannya meraih botol whiskey dari meja. Botol itu sempat berteriak, "Akhirnya aku punya tujuan hidup!"

Lalu Keira menghantamkannya ke kepala Rio.

Prang!

Kaca pecah. Whiskey menyembur bersama serpihan bening. Rio terhuyung ke samping, mata membelalak, darah langsung mengalir dari pelipisnya dan melewati pipi.

"Anjing!" Rio jatuh menghantam pinggir sofa.

Ruangan meledak.

Kelvin melompat berdiri. "Lu gila?"

Tangannya bergerak hendak meraih pergelangan Keira.

Keira mengambil botol bir dengan tangan kiri.

Botol bir itu menjerit penuh semangat, "Giliran gue! Giliran gue!"

Keira menghantamkannya ke dahi Kelvin.

Prak!

Kelvin mundur dua langkah, memegang dahinya. Darah muncul di antara jari-jarinya. Ia jatuh terduduk di lantai, setengah sadar, mulutnya masih terbuka karena makian yang tidak sempat selesai.

Keira berdiri di antara pecahan kaca dan tumpahan alkohol, napasnya teratur.

Gilbert memucat.

Zeno tidak bergerak.

Pintu bertirai tebal di belakang mereka tiba-tiba tersibak keras.

Ko Kevin masuk seperti angin malam yang membawa pisau.

Di belakangnya ada dua petugas keamanan Grand Orchid yang wajahnya tegang, tetapi Kevin bergerak paling depan. Jaket jeans lusuhnya masih sama seperti di warung mie, hanya sekarang tangan kanannya memegang lencana polisi terbuka.

"Jangan bergerak."

Suaranya tidak keras.

Justru karena tidak keras, seluruh ruangan membeku.

"Polisi."

Rio yang masih tersungkur mengangkat kepala. "Apa-apaan ini?"

Kevin menatapnya. "Kalian dicurigai melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan dan menghalangi penyelidikan."

Kelvin mengerang. "Dia yang mukul kami!"

"Dan kamu yang mencoba menahan korban setelah temanmu melakukan pelecehan." Kevin melirik pecahan kaca, tangan Rio yang masih dekat kain rok Keira, lalu wajah Keira. Matanya yang tajam melunak hanya sepersekian detik. "Keira."

Saat mendengar namanya dari suara kakak yang percaya, sesuatu di dada Keira akhirnya retak.

Ia berjalan cepat melewati meja dan pecahan kaca, lalu masuk ke pelukan Ko Kevin.

"Ko Kevin!" Suaranya sengaja dibuat lebih tinggi, lebih rapuh, lebih seperti korban yang baru berhasil lari dari bahaya. "Mereka jahat semua!"

Kevin merangkul bahunya dengan satu tangan. Tangan satunya tetap memegang lencana.

Di belakang punggung Kevin, Keira menutup mata sebentar.

Ia tidak benar-benar runtuh.

Tetapi pelukan itu hangat.

Dan untuk sesaat, ia membiarkan dirinya menjadi adik yang dilindungi.

Kevin menepuk bahunya pelan. "Aman. Aku di sini."

Gilbert berdiri dengan wajah kaku. "Pak polisi, ini salah paham. Kami hanya main."

Keira melepaskan diri dari pelukan Kevin, lalu menoleh padanya.

"Main?"

Gilbert menelan ludah. "Aku tidak melakukan apa-apa."

"Benar," kata Keira. "Kamu tidak melakukan apa-apa."

Kalimat itu membuat wajah Gilbert berubah.

"Saat Rio menyuruhku melepas rok, kamu tidak melakukan apa-apa. Saat dia mendekat dan menyentuh pakaianku, kamu tidak melakukan apa-apa. Saat Kelvin membela dia, kamu tidak melakukan apa-apa."

"Aku sudah bilang jangan keterlaluan."

"Lalu kamu berhenti di sana."

Ruang VIP menjadi sangat sunyi, kecuali napas Rio yang kasar dan keluhan kecil gelas yang tergeletak miring di lantai.

"Aku dulu pernah berpikir diam bisa berarti bingung," lanjut Keira. "Sekarang aku tahu, diam juga bisa berarti setuju selama tanganmu tidak ikut kotor."

Gilbert seperti ditampar.

Kevin mengangkat lencana sedikit lebih tinggi. "Semua ponsel di meja. Sekarang."

Rio mengutuk. "Lu nggak punya surat perintah."

"Aku punya dugaan tindak pidana yang sedang berlangsung, korban di tempat, saksi, dan rekaman dari area luar." Kevin mengeluarkan ponselnya. "Rekanku sudah menuju sini. Mau tambah pasal melawan petugas?"

Rio menutup mulut.

Kelvin, yang lebih pucat dari sebelumnya, menyerahkan ponselnya dengan tangan gemetar.

Gilbert juga meletakkan ponsel di meja.

Zeno paling terakhir.

Ia mengangkat ponselnya dengan santai, menaruhnya di sisi meja, lalu mengangkat kedua tangan.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Keira memperhatikannya.

Di luar, mungkin ia terlihat seperti orang yang hanya terjebak dalam kekacauan teman-temannya. Tidak ikut tertawa keras, tidak ikut menyentuh, tidak ikut memaki. Ia bisa mengaku hanya hadir sebagai saksi yang salah tempat.

Tetapi Keira ingat caranya membatasi lemparan dadu.

Orang itu bukan pasif.

Ia menghitung.

Zeno menunduk sedikit, seolah menyesal, tetapi di balik mata yang rendah itu, pikirannya berjalan dengan rapi.

Tidak masalah.

Wulan punya prosopagnosia. Dia tidak akan pernah bisa mengenali wajahku.

Tidak ada bukti fisik. Sidik jari sudah kubersihkan. Rekaman? Kamera rusak.

Jovan akan tetap pura-pura marah. Keluarga Tjandra akan mengurus sisanya.

Aku aman.

Pikiran itu tidak terdengar oleh siapa pun di ruangan.

Tetapi pembaca tahu.

Dan di sudut meja, ponsel Zeno yang layar hitamnya menghadap plafon tiba-tiba bergetar sangat pelan.

"Bos sok aman," bisik ponsel itu dengan nada malas. "Padahal memori gue penuh dosa."

Keira menoleh sedikit.

Kevin menangkap perubahan kecil itu.

"Ada apa?" tanyanya pelan, hanya untuknya.

"Nanti," jawab Keira sama pelannya. "Ponsel Zeno jangan lepas dari tanganmu."

Kevin tidak bertanya. Ia hanya bergerak satu langkah, mengambil ponsel Zeno lebih dulu, lalu memasukkannya ke kantong jaket bagian dalam.

Zeno melihat gerakan itu.

Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak tipis.

"Itu barang pribadi," katanya.

Kevin menatapnya. "Bagus. Berarti pemiliknya jelas."

Tirai kembali terbuka. Dua polisi berpakaian sipil masuk bersama petugas keamanan. Salah satu membawa kotak bukti kecil dan sarung tangan. Yang lain langsung mengamankan Rio dan Kelvin agar luka mereka diperiksa tetapi tangan tetap diawasi.

Rio berteriak, "Gue korban! Kepala gue dipukul!"

Keira mengangkat tangan yang masih ada percikan whiskey. "Aku membela diri."

"Lu sengaja!"

"Iya," kata Keira. "Sengaja membela diri."

Kevin hampir tersenyum, tetapi matanya tetap dingin.

Gilbert mencoba mendekati Keira. "Keira, dengar dulu. Aku sungguh tidak tahu Rio akan sampai begitu."

Kevin langsung mengangkat tangan, menahan jarak. "Jangan dekati korban."

"Dia bukan korban bagiku. Dia..."

"Berhenti," kata Keira.

Gilbert terdiam.

Keira menatap pria yang dulu pernah menjadi pusat dunia kecil Keira lama. Sekarang, di bawah lampu VIP yang redup, ia hanya terlihat seperti anak orang kaya yang kehilangan naskah peran baiknya.

"Mulai malam ini, Gilbert Hartanto, tidak ada hubungan apa pun di antara kita. Tidak ada perjodohan lama. Tidak ada kenangan keluarga. Tidak ada alasan untuk menyebut namaku seolah kamu punya hak."

Bibir Gilbert bergerak, tetapi tidak ada suara keluar.

"Kalau kamu masih memakai masa lalu itu untuk mendekatiku, aku akan laporkan sebagai gangguan."

Rio mencibir dari lantai. "Sok banget lu."

Kevin menoleh padanya.

Rio langsung diam.

Salah satu polisi menyebutkan hak-hak dasar mereka dan meminta mereka ikut ke kantor polisi untuk pemeriksaan awal. Rio memaki. Kelvin meringis. Gilbert mencoba menelepon pengacara keluarga, tetapi ponselnya sudah masuk kotak bukti.

Zeno berdiri paling rapi.

Ia masih tampak yakin.

Seolah seluruh malam ini hanya kesalahan kecil sebelum ia terbang pukul empat.

Namun ketika Kevin menggiring mereka keluar ruang VIP, Keira mendengar ponsel di kantong jaket Kevin bersenandung pelan.

"Password-ku gampang banget, Kak. Mau kuberi tahu nanti?"

Keira menatap punggung Zeno.

Di luar tirai, musik klub masih berdentum, orang-orang masih tertawa, dan lift privat di ujung koridor masih tertutup rapat seperti rahasia.

Keira mengingat satu detik sunyi dari pria berkacamata hitam.

Lalu ia kembali pada suara ponsel Zeno.

Zeno merasa aman karena tidak ada bukti.

Sayangnya, benda-benda tidak pernah diajari cara berbohong.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!