Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 - Misteri Keluarga Pak Tejo
Keheningan malam kembali mencengkeram ruang tamu rumah Dimas. Cahaya lampu neon yang sempat berkedip-kedip kini kembali menyala stabil, memantulkan bayangan tiga sosok yang berdiri di sana: seorang pemuda penakut berbalut debu, seorang wanita anggun bergaun misterius, dan sesosok arwah bapak-bapak yang membeku di udara.
"Me-Merindukan?" ulang Pak Tejo dengan suara serak yang bergetar. Tangannya yang melayang mengusap-usap kemeja batiknya yang lusuh. "Nggak mungkin, Mas Damar. Dimas itu ... waktu saya masih hidup, dia benci banget sama saya."
Damar merapikan kemejanya yang kusut, lalu menatap hantu berkumis tebal itu dengan kening berkerut.
"Benci? Masa sih, Pak? Waktu dia meluk radio tua Bapak tadi, matanya berembun. Orang yang benci nggak bakal natap peninggalan orang tuanya kayak gitu."
Pak Tejo menunduk lesu, tubuhnya melayang turun hingga kakinya hampir menyentuh marmer.
"Sebelum saya meninggal, kami bertengkar hebat, Mas. Dimas mau merantau ke luar kota untuk kerja di perusahaan swasta, tapi saya larang keras. Saya maunya dia tetap di sini, kerja jadi PNS seperti saya supaya hidupnya aman. Saya ... saya membentaknya. Saya bilang dia anak yang nggak tau terima kasih."
Pak Tejo mengusap wajahnya yang pucat. "Sejak hari itu, Dimas nggak pernah ngomong lagi sama saya. Tiga hari kemudian, saya kena serangan jantung dan meninggal di kamar sendirian. Dimas pulang cuma buat urus pemakaman, dan wajahnya datar banget. Nggak ada air mata sedikit pun. Saya pikir ... dia lega saya udah nggak ada."
Damar menghela napas panjang. Rasa empati yang mengalir hangat di dadanya membuat rasa takutnya pada tempat gelap mendadak sirna.
Sebagai sesama laki-laki yang tumbuh dengan komunikasi yang kaku dengan figur ayah, Damar sangat paham dinamika ini.
"Pak Tejo ...." Damar berkata pelan, langkah kakinya mendekati sosok arwah itu. "Laki-laki itu kalau gengsi, sukanya mendam rasa. Bapak tau nggak kenapa Dimas matanya sembap malam-malam begini?"
Pak Tejo menggeleng pelan.
"Coba Bapak perhatikan meja di sudut ruang tamu itu!" Damar menunjuk sebuah meja kecil di sebelah televisi.
Di sana berdiri sebuah bingkai foto kayu yang diikat pita hitam tipis—foto Pak Tejo yang tersenyum kaku memakai seragam dinas, dan di sampingnya ada secangkir kopi hitam yang asapnya baru saja menghilang.
"Dimas masih nyediain kopi hitam buat Bapak setiap malam," bisik Damar lembut. "Radio tua Bapak disimpen di tempat paling atas, dibersihin dari debu. Kalau dia benci sama Bapak, semua barang peninggalan Bapak udah dijual atau dibuang ke tempat sampah waktu rumah lama dijual."
Pak Tejo terpaku. Matanya yang cekung membelalak menatap cangkir kopi di dekat fotonya. Pendar kebiruan di sekujur tubuhnya bergejolak pelan—bukan karena amarah, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat.
"D-Dimas ...," bisik Pak Tejo dengan suara tercekat.
"Kalian berdua itu cuma korban kesalahpahaman dan gengsi," tambah Damar, memasukkan kunci kuningan kecil yang tadi ditemukannya ke dalam saku kemejanya. "Bapak gengsi minta maaf gara-gara udah mengekang impiannya, dan Dimas gengsi ngerasa belum bisa bikin Bapak bangga sebelum Bapak pergi."
Madam Helga yang bersedekap di dekat pintu hanya memperhatikan dari jauh. Manik matanya yang tajam mengamati bagaimana Damar—pemuda introvert yang tadi menangis ketakutan saat melihat hantu—kini justru menjadi jembatan emosi antara dua alam.
"Analisis yang cukup sentimental, Damar," potong Madam Helga dengan nada dingin yang khas, meski tatapannya sedikit melunak. "Tapi kita tidak punya waktu sampai subuh. Kalau pemilik rumah terbangun lagi dan memanggil polisi, saya pastikan kamu yang mendekam di sel, sementara saya dan Pak Tejo pulang naik bus."
"Eh, jahat banget Madam!" protes Damar panik, mengusap lehernya yang mendadak dingin.
"Kunci brankas sudah di tanganmu," lanjut Madam Helga tanpa menghiraukan protes Damar. "Sekarang masalah utamanya adalah, bagaimana caranya kunci ini sampai ke tangan Dimas tanpa membuat dia jantungan atau memanggil dukun?"
Pak Tejo menatap Damar penuh harap.
"Iya, Mas Damar. Gimana caranya? Kalau ditaruh di meja gitu aja, Dimas pasti bingung ini kunci apa. Dia bahkan nggak tahu kalau di bawah ubin kamar tua saya ada brankas rahasia!"
Damar mengusap dagunya, berpikir keras. Otaknya berputar mencari ide paling logis yang tidak terkesan mistis. Menyampaikan pesan dari alam ghaib ke dunia nyata butuh cara yang sangat halus, seolah-olah semua terjadi karena 'kebetulan'.
Tiba-tiba, mata Damar tertuju pada radio tua yang masih tergeletak di atas meja kaca. Kompartemen kasetnya masih terbuka lebar.
"Pak Tejo," kata Damar dengan mata berbinar. "Waktu Bapak nyimpen kunci ini di dalam kompartemen radio, Bapak ada nyimpen kertas atau catatan apa gitu nggak di dalam sana?"
Pak Tejo terkejut, lalu menepuk jidatnya lagi. "Aduh! Ada, Mas! Di balik gabus speaker radio itu ... saya sempet nyelipin lembaran kertas buku tabungan lama sama surat wasiat pendek waktu dada saya mulai sakit! Tapi ... apa kertas itu masih ada?"
Damar tidak membuang waktu. Dengan hati-hati, dia meraih kembali radio tua tersebut. Jarinya menggeledah bagian bawah celah kaset, meraba-raba rongga sempit di balik speaker kayu.
Sret ....
Jemari Damar menyentuh permukaan kertas tipis yang sudah agak rapuh dan menguning. Dengan perlahan, dia menarik kertas terlipat itu keluar. Di atas kertas bergaris tersebut, tergores tulisan tangan yang agak bergetar berbunyi:
> Untuk Dimas, anakku ... maafkan Bapak. Kunci brankas di ubin kamar bawah meja kerja.
> ....
"Ini dia!" bisik Damar girang, menunjukkan kertas rapuh itu kepada Pak Tejo dan Madam Helga.
Pak Tejo menutupi mulutnya, air mata gaib kembali menetes dari pelupuk matanya.
"I-Iya! Itu tulisan tangan saya malam itu!"
"Bagus," ulas Madam Helga datar. "Sekarang, tinggal bagaimana kamu merangkai 'skenario kebetulan' itu, Damar. Ingat Aturan Nomor Tiga Agen Last Trip Express: Dilarang menampakkan wujud asli atau menggunakan sihir tingkat tinggi yang dapat merusak tatanan kesadaran manusia hidup."
"Siap, Madam," ujar Damar mantap. Keberaniannya kini benar-benar telah bangkit. Dia tau apa yang harus dilakukan.
Damar meletakkan radio tua itu di tengah meja kaca, mengatur posisinya agar sedikit miring ke arah sofa. Dia memasukkan kembali kunci kuningan dan kertas wasiat rapuh itu ke dalam celah kaset, namun membiarkan pintunya sedikit terbuka dan menonjolkan ujung kertasnya—seolah-olah kertas itu mencuat keluar akibat benturan saat radio jatuh tadi.
"Dengan begini ...," gumam Damar seraya memoles posisinya. "Besok pagi waktu Dimas merapikan radio ini, dia pasti bakal ngeliat kertas yang mencuat ini secara alami. Dia bakal baca suratnya, nemuin kuncinya, dan akhirnya tahu lokasi brankas itu."
Pak Tejo memperhatikan susunan itu dengan napas tertahan. Keharuan yang membuncah di dadanya membuat aura merah membara yang sebelumnya sempat bergejolak kini sepenuhnya sirna, berganti menjadi pendar cahaya putih keemasan yang sangat lembut dan menenangkan.
"Mas Damar ... Madam Helga ...," bisik Pak Tejo dengan suara yang bergetar penuh rasa syukur. "Saya ... saya nggak tahu harus bilang apa. Beban berat di dada saya rasa-rasanya mendadak terangkat."
"Belum selesai, Pak Tejo," potong Madam Helga tenang seraya melirik jam tangan berantai emasnya. "Kita harus menyaksikan dari luar sampai fajar menyingsing untuk memastikan Dimas menemukan pesan itu. Setelah itu, baru perjalananmu benar-benar selesai."
Madam Helga berbalik menuju pintu depan yang masih terbuka sedikit.
"Ayo, Damar. Kembali ke armada sebelum ada warga yang ronda menjelang subuh."
Damar mengangguk, melirik foto Pak Tejo di dekat cangkir kopi sekali lagi, lalu melangkah keluar menyusul Madam Helga dan Pak Tejo ke arah jalanan komplek yang sunyi.
Di dalam hatinya, Damar merasakan sebuah sensasi aneh yang tak pernah dia rasakan selama menganggur: sebuah rasa puas karena telah berguna bagi jiwa lain.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt