Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Raja rimba
Sorot mata perwira itu menusuk tajam, menyapu penampakan Jayengrana dari ujung kepala hingga kaki.
"Siapa namamu?"
"Jaka," sahut Jayengrana lambat, suaranya terdengar datar dan parau.
"Dari mana?"
"Lereng Merapi."
"Tujuanmu ke mana?"
"Mencari kerja di kota."
Perwira itu tak lantas berlalu. Manik matanya bergulir turun, tertuju pada senjata berbalut kain kusam yang bersandar di bahu Jayengrana.
"Apa yang kau bawa itu?"
"Pusaka peninggalan almarhum ayah."
"Buka kainnya. Aku ingin lihat."
Jayengrana mengurai ikatan kain itu tanpa rasa tergesa. Yang teraba kemudian hanyalah bilah tombak kusam yang penuh goresan—ia telah sengaja membalurinya dengan endapan lumpur kering sejak bertolak dari gubuk Ki Jagabaya.
Perwira tersebut mendengus sinis, kehilangan minat. "Hanya bilah tua tak terawat."
"Belum sempat saya jual ke pasar," timpal Jayengrana tenang.
Prajurit Mataram itu mengibaskan tangannya, mengalihkan perhatian kepada para pengembara lain. "Pariksa yang di sudut sana!"
Tak berselang lama, keenam prajurit berkuda itu memacu kembali tunggangan mereka. Derap teracak kuda bergemuruh, meninggalkan pekatnya debu jalanan yang membumbung di udara.
Jayengrana baru menghembuskan napas panjang begitu riuh suara kuda benar-benar menghilang di balik bukit.
"Nyaris saja keberuntunganmu habis," celetuk sebuah suara dari bangku sebelah.
Seorang lelaki tua berikat kepala lurik sederhana sedang menyeruput wedang hangatnya seraya tersenyum tipis. Di sisinya tergeletak dua keranjang anyaman bambu yang tergantung pada sebatang kayu pikulan.
Jayengrana tidak langsung menyahut. "Apa maksud ucapan Bapak?"
Lelaki tua itu terkekeh pelan. "Hanya merasa heran saja... bagaimana seorang pria yang sedang diburu oleh seluruh pasokan keraton sanggup duduk secangkir wedang tanpa sedikit pun riak panik."
Jemari Jayengrana berhenti mengusap tepi cangkir tanah liatnya. Sorot matanya menyipit di balik bayang-bayang caping. "Memangnya... siapa yang Bapak kira sedang duduk di sini?"
"Tenanglah," lelaki tua itu mengibaskan tangan. "Jika tujuanku untuk mengantongi lima puluh keping perak, sudah sejak tadi berteriak memanggil para prajurit itu."
Ia mengamati raut wajah Jayengrana dengan tatapan penuh kenangan. "Mataku boleh saja sudah kabur oleh usia, tapi ingatan tentang Perang Kedu tak pernah luntur. Anak bujangku ikut menembus medan laga hari itu, dan ia pulang dengan raga utuh. Dia bercerita bahwa Senopati Jayengrana memilih berdiri paling belakang, menahan gempuran musuh seorang diri agar para prajurit muda bisa mundur selamat."
Lelaki tua itu bangkit berdiri, menyelaraskan kayu pikulan di atas bahunya yang ringkih.
"Pria yang mempertaruhkan nyawa demi anak-anak muda..." bisiknya mantap, "...tak akan pernah pantas dicap sebagai pengkhianat."
"Kenapa Bapak begitu yakin?"
"Sebab saya lebih percaya pada tetesan keringat dan darah daripada selembar lontar pengumuman pasar."
Kalimat bersahaja itu hinggap begitu dalam di dada Jayengrana—sebuah pengakuan jujur yang terasa jauh lebih berharga daripada ratusan puji-pujian keraton.
Pedagang tua itu melangkah meninggalkan gardu, namun sempat menghentikan ayunan kakinya sejenak untuk menoleh. "Jika tujuanmu memang menuju Kotaraja... hindari alur jalan raya. Prajurit telah membangun pos pemeriksaan ketat di Jembatan Kali Opak."
Jayengrana mengangguk samar. "Terima kasih atas petunjuknya."
Menjelang sore hari, Jayengrana memilih menyusuri jalan setapak di pematang persawahan. Meski memakan waktu lebih lama, jalur alternatif ini jauh lebih aman dari jangkauan patroli kerajaan.
Saat melintasi batas pemukiman, langkahnya terhenti tatkala mendapati beberapa petani berlarian panik menuju ke satu arah.
"Ada apa, Saudara?" tanya Jayengrana pada seorang pemuda yang berlari terengah-engah.
"Macan!" serunya panik. "Ada macan kelaparan masuk ke kandang ternak desa!"
Jayengrana memutuskan untuk mengekor. Tak jauh dari sana, belasan warga telah mengepung sebuah bangunan kandang bambu sederhana di pinggir hutan.
Di dalamnya, seekor harimau jantan bertubuh kurus tampak berdiri menyudut. Salah satu kaki depannya berdarah hebat, terjepit rahang besi bergerigi yang menembus daging. Hewan itu melengkingkan geraman keras setiap kali obor atau tombak bambu warga teracung ke arahnya.
"Jangan dibunuh!" teriak seorang nenek dari barisan belakang. "Itu macan penunggu hutan Merapi!"
"Tapi kalau dibiarkan, ternak kita habis diserapnya!" balas warga lain sengit.
Di tengah riuh perselisihan warga, Jayengrana melangkah maju menembus kerumunan. Tatapan harimau itu sama sekali tak memancarkan hawa pembunuh, tapi sorot mata mengerikan dari makhluk yang menahan penderitaan luar biasa.
"Hei, orang asing! Jangan mendekat! Bahaya!" teriak beberapa warga memperingatkan.
Jayengrana menulikan telinga. Ia menurunkan tombaknya perlahan ke atas tanah, lalu membuka kedua telapak tangannya di udara untuk menunjukkan niat damai.
Geraman sang raja hutan kembali menggelegar, namun tak ada gerakan menerkam.
Begitu jarak mereka tersisa dua rentangan lengan, Jayengrana mengamati luka di kaki sang pemangsa lebih cermat. Itu bukan luka akibat sabetan senjata atau gigitan hewan lain, tapi jebakan besi buatan manusia yang sengaja disebar di dalam rimbunnya hutan.
Di bawah napas berat sang pemangsa dan ketakutan warga yang membeku, Jayengrana perlahan menekuk lututnya, bersiap menanggalkan rahang besi yang menyiksa raja rimba tersebut.
Jarak antara Jayengrana dan pemangsa itu kini tersisa dua rentangan tombak.
Angin sore berembus pelan, mengibaskan bulu lebat sang raja rimba yang kusam berdebu. Dengar-dengaran, geraman garang yang semula memenuhi ruang kandang perlahan meluruh menjadi deru napas berat yang menahan nyeri.
Raja hutan tak pernah menundukkan kepala di hadapan manusia, dan Jayengrana tidak berniat menundukkannya. Manik matanya hanya terpaku pada luka menganga di kaki depan hewan tersebut, tempat darah segar menetes sedikit demi sedikit membasahi tanah.
"Tenanglah," bisik Jayengrana lambat, suaranya mengalun rendah tanpa getar panik. "Aku di sini bukan untuk merenggut nyawamu."
Hewan itu tak memahami bahasa manusia, namun getaran intonasi dan gestur tubuh Jayengrana yang tanpa ancaman sanggup menembus naluri liarnya.
Jayengrana mengambil satu langkah penuh perhitungan. Harimau itu menggeram pendek, menyiagakan taring. Jayengrana menghentikan gerakan seketika, memberi jeda hingga riak emosi sang pemangsa kembali reda, sebelum kembali mengikis jarak.
Di barisan belakang, kepanikan warga memuncak. "Siapkan tombak! Jika pemangsa itu melompat, kita serang bersama!" seru seorang warga berbisik gencar.
"Tahan!" pangkas Pak Lurah tegas. "Jangan ada yang membuat gerakan mendadak!"
Jayengrana kini menekuk lutut tepat di hadapan sang raja rimba. Rahang besi bergerigi itu telah menggigit dalam, mengoyak daging dan nyaris menjepit remuk tulang pergelangan kaki.
"Tahan sebentar," guman Jayengrana.
Dengan gerakan kilat yang terlatih, jemarinya mencengkeram tuas pengunci jebakan besi lalu menekan engselnya kuat-kuat.
Cklik!
Jebakan terlepas seketika. Bersamaan dengan meletupnya rasa sakit saat rahang besi terbuka, harimau itu menggelegarkan raungan dahsyat yang menggetarkan dada.
"AUUUMMM!"
Gema raungan itu menghentakkan seisi desa. Warga spontan tersentak mundur dengan wajah pucat pasi, mengacungkan bambu runcing ke udara.
Harimau itu melompat keluar dari kandang, memicu pusaran debu yang membubung. Namun alih-alih menyerang kerumunan warga yang panik, hewan itu hanya mendarat beberapa langkah di hadapan Jayengrana.
Kakinya masih gemetar dan pincang. Darah merah terus menetes ke pematang, tetapi pasang matanya terpaku lurus pada pria yang baru saja membebaskannya dari belenggu besi.
Sesaat, kedua makhluk itu saling menatap dalam hening. Sang raja rimba menundukkan kepalanya sejenak—sebuah gestur samar penghormatan—sebelum berbalik dan melangkah tertatih menembus rimbunnya semak belukar. Tak butuh waktu lama hingga bayangannya lenyap ditelan kegelapan hutan Merapi.
Keheningan yang mencekam perlahan mencair tatkala seorang anak kecil berbisik pelan, "Dia... sudah pergi."
Hembusan napas lega membahana di antara warga desa. Pak Lurah melangkah maju menghampiri Jayengrana dengan tatapan takjub.
"Keberanian Tuan luar biasa," ujar Pak Lurah tulus. "Desa kami berutang budi atas keselamatan ternak dan warga."
"Saya hanya kebetulan lewat dan melepaskan engselnya," sahut Jayengrana rendah seraya memungut jebakan besi yang tergeletak di tanah.
Pak Lurah mengamati perkakas besi bergerigi tersebut, dan seketika raut wajahnya berubah masam.
"Ini bukan jebakan buatan pandai besi desa kami," gumam Pak Lurah seraya membolak-balikkan pelat logam yang berat itu. "Pemerintah Mataram melarang keras warga sipil menyimpan jebakan berburu berukuran besar seperti ini."
Perhatian Jayengrana tertuju pada sebuah stempel kecil yang terpateri di sudut lekukan besi—cap bersimbol burung garuda yang amat ia kenali. Itu adalah lambang resmi dari gudang persenjataan militer Mataram.
Jebakan ini milik pasokan perang kerajaan.
"Aneh sekali," cetus Pak Lurah heran. "Untuk apa prajurit keraton repot-repot menyebar jebakan pemburu di kawasan pedalaman seperti ini?"
Jayengrana membisu, namun benaknya langsung berputar cepat. Pasukan terampil tidak mungkin membuang energi dan logistik hanya untuk memburu binatang liar di lereng gunung. Jebakan seberat ini dipasang untuk melumpuhkan target berukuran besar—atau mengamankan perimeter tertentu dari penyusup.
Ia menatap jauh ke dalam kegelapan vegetasi hutan tempat harimau tadi menghilang.
Satu pertanyaan baru muncul di kepalanya: apa sebenarnya yang sedang diburu atau disembunyikan oleh pasukan Mataram di wilayah terpencil ini?
Firasat keprajuritan Jayengrana membisikkan peringatan tajam. Perjalanannya menuju Kotaraja bukan sekadar persinggahan untuk merebut kembali nama baiknya, melainkan jalan menembus konspirasi yang jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan.