NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Balik Niat

Raffi akhirnya pulang ke rumah dengan tubuh yang terasa begitu lelah. Seharian pikirannya dipenuhi satu hal yang sama—mencari keberadaan Tante Siska dan Putri. Meski tubuhnya meminta untuk beristirahat, hatinya belum mampu berhenti mencari.

Sesampainya di kamar, Raffi kembali mengambil ponselnya. Ia mencoba mencari nama Siska dan Putri melalui berbagai media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, hingga TikTok. Satu per satu akun ia periksa dengan teliti, berharap menemukan wajah yang terasa familiar atau sekadar petunjuk kecil tentang keberadaan mereka.

Ia bahkan menghubungi beberapa teman lama di Kalimantan. Setiap nama yang disebutkan membuatnya kembali berharap, tetapi jawaban yang diterima hampir selalu sama. Tidak ada yang benar-benar tahu keberadaan mereka sekarang.

Raffi menghela napas panjang. Rasa kecewa perlahan memenuhi dadanya. Setelah bertahun-tahun kehilangan kabar, ternyata menemukan seseorang tidak semudah yang ia bayangkan. Nama yang sama bisa dimiliki banyak orang, sementara orang yang benar-benar ia cari seolah menghilang tanpa jejak.

Meski begitu, Raffi tidak ingin menyerah. Ia menatap layar ponselnya dengan mata lelah, lalu kembali mengetik nama mereka di kolom pencarian. Bagaimanapun juga, ia harus menemukan Tante Siska dan Putri. Ada terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia jawab, dan terlalu banyak hal dari masa lalu yang belum ia pahami.

Malam semakin larut, tetapi Raffi masih terjaga. Di antara rasa lelah dan putus asa, ia menyimpan sedikit harapan bahwa suatu hari nanti pencariannya akan membawa dirinya pada sebuah jawaban.

Dua tahun lalu, Raffi sebenarnya pernah kembali ke Kalimantan untuk mencari jejak masa lalunya. Ia masih mengingat jelas tempat yang dulu pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Namun, ketika tiba di sana, langkahnya justru terhenti karena pemandangan yang ada sudah jauh berbeda.

Tempat yang dulu ia kenal sebagai rumah kini sudah tidak seperti dalam ingatannya. Jalan tanah yang dulu sering ia lewati telah berubah menjadi jalan beraspal. Rumah-rumah lama pun sudah berganti dengan bangunan baru. Tidak ada lagi sudut yang benar-benar terasa familiar baginya.

Raffi berdiri cukup lama di sana, mencoba mencocokkan tempat itu dengan ingatan masa kecilnya. Namun semakin ia mencoba mengingat, semakin terasa jelas bahwa waktu telah menghapus hampir seluruh jejak yang pernah ia miliki.

Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya. Ia berharap kepulangannya ke Kalimantan bisa membawanya menemukan Tante Siska dan Putri, tetapi kenyataan justru membuatnya semakin kehilangan arah.

Saat itu Raffi baru menyadari, bukan hanya orang-orang dari masa lalunya yang telah berubah. Tempat yang menjadi saksi hidupnya pun sudah tidak lagi sama.

Meski kecewa, Raffi tidak ingin menyerah. Ia percaya jika memang masih ada kesempatan untuk menemukan mereka, suatu hari nanti jalan akan membawanya kembali pada orang-orang yang selama ini ia cari. Hanya saja, kali ini ia harus memulai semuanya dari jejak yang hampir tidak tersisa.

Tanpa sengaja, Raffi menemukan sebuah halaman yang membuat langkahnya seolah terhenti. Ia melihat nama sekolah lamanya muncul di media sosial. Rasa penasaran membuatnya membuka satu per satu postingan lama yang masih tersimpan di Facebook.

Matanya membesar ketika menemukan beberapa foto kelas dari sepuluh tahun lalu. Di antara wajah-wajah yang terlihat lebih muda, Raffi melihat dirinya sendiri. Foto itu membawa kembali begitu banyak kenangan yang selama ini hampir terlupakan.

Ia terus menggulir layar, berharap menemukan sesuatu yang bisa membawanya kembali pada masa lalu. Hingga akhirnya, ia menemukan komentar dari salah satu gurunya dulu. Komentar itu memang sudah beberapa tahun lalu, tetapi akun tersebut tampaknya masih aktif.

Jantung Raffi berdegup lebih cepat. Mungkin ini bisa menjadi jalan untuk menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka pesan pribadi dan mengirimkan pesan kepada gurunya.

"Pak, apakah Bapak masih ingat saya? Saya Raffi, dulu pernah menjadi murid Bapak."

Setelah mengirim pesan tersebut, Raffi menatap layar ponselnya dengan penuh harap. Ia tahu belum tentu pesan itu akan segera dibalas. Bahkan mungkin saja gurunya sudah tidak pernah membuka akun tersebut.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama mencari, Raffi merasa menemukan sebuah titik terang. Ia meletakkan ponselnya di samping, tetapi beberapa detik kemudian kembali mengambilnya untuk memeriksa notifikasi.

Malam itu, Raffi hanya bisa menunggu. Di dalam hatinya muncul harapan kecil bahwa satu balasan dari gurunya mungkin akan membuka kembali pintu menuju masa lalu yang selama ini tertutup.

..... ........

Keesokan paginya, Dewi duduk sarapan bersama Bibi dan Putri. Suasana meja makan terasa hangat dan sederhana. Bibi sesekali menatap Dewi dengan penuh perhatian, seolah ingin memastikan keponakannya benar-benar siap menjalani kehidupan barunya.

"Bekerjalah yang rajin, Dewi. Ini kesempatan bagus untuk masa depanmu. Jangan mudah menyerah, apa pun yang nanti kamu hadapi," pesan Bibi dengan lembut.

Dewi hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Dari luar, ia tampak seperti seseorang yang sedang mendengarkan nasihat dengan baik. Namun, di dalam hatinya, perkataan Bibi justru terasa begitu berbeda maknanya.

Bekerja keras untuk masa depan? Dewi tahu betul apa yang sedang ia perjuangkan. Arunika Food Group bukan sekadar tempat untuk membangun karier. Ia sudah memiliki tujuan lain yang jauh lebih besar.

Tatapannya sesaat tertuju pada meja makan, lalu senyum kecil muncul di wajahnya. Tidak ada seorang pun di sana yang mengetahui isi pikirannya.

Dalam hati, Dewi kembali menguatkan tekadnya. Suatu hari nanti, ia akan menghancurkan keluarga itu satu per satu. Tidak dengan terburu-buru, tetapi perlahan, tepat, dan tanpa memberi mereka kesempatan untuk melawan.

Ia tahu rencananya membutuhkan waktu. Karena itu, Dewi tidak keberatan menunggu. Baginya, kepuasan terbesar bukan sekadar membalas dendam, melainkan melihat orang-orang yang pernah menghancurkan hidup keluarganya kehilangan semuanya dengan tangannya sendiri.

Dewi kembali menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tenang. Di hadapan Bibi dan Putri, ia tetap menjadi Dewi yang sama. Namun jauh di dalam dirinya, sebuah rencana besar telah dimulai.

Setelah sarapan selesai, Putri tiba-tiba menarik tangan Dewi dan membawanya kembali ke kamar. Wajahnya terlihat serius, jauh berbeda dari biasanya. Ia menutup pintu kamar perlahan sebelum berbalik menatap Dewi.

"Dewi, kamu harus berhenti," ucap Putri pelan. "Jangan teruskan rencana balas dendam itu."

Dewi hanya terdiam. Ia tahu apa yang ingin dibicarakan Putri. Namun, mendengar permintaan itu justru membuat hatinya kembali dipenuhi luka lama yang selama ini ia pendam.

"Bagaimana aku bisa berhenti setelah semua yang terjadi?" jawab Dewi dengan suara tertahan.

Putri mendekat dan menggenggam tangan Dewi. Ia tahu sahabatnya telah membawa luka itu terlalu lama. Namun, ia juga takut dendam tersebut justru akan menghancurkan kehidupan Dewi sendiri.

"Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga Julian," kata Putri lembut. "Kalau kamu benar-benar masih menyayangi Julian, pikirkan apa yang akan dia rasakan kalau keluarganya hancur karena kamu."

Nama Julian membuat Dewi terdiam cukup lama. Ada bagian dalam dirinya yang masih menyimpan perasaan untuk laki-laki itu. Kenangan tentang masa mereka bersama di Amerika kembali bermunculan, tetapi kemudian tertutup oleh bayangan masa lalu yang membuatnya memilih jalan balas dendam.

Dewi menarik tangannya perlahan. "Aku sudah terlalu jauh, Putri."

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi sorotnya tetap keras. "Aku tidak tahu apakah aku masih bisa kembali seperti dulu."

Putri hanya bisa menatapnya dengan sedih. Ia sadar, semakin Dewi melangkah ke dalam rencana itu, semakin sulit baginya untuk berhenti. Dan yang paling Putri takutkan adalah suatu hari nanti Dewi akan menyadari bahwa dendam yang ia perjuangkan justru membuatnya kehilangan orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Dewi justru tersenyum tipis mendengar perkataan Putri. Baginya, keberadaan Julian bukanlah alasan untuk menghentikan rencana balas dendamnya. Justru karena Julian adalah bagian dari keluarga itu, semuanya akan menjadi jauh lebih mudah.

"Justru karena Julian ada di bersamaku, rencanaku akan lebih mudah," ucap Dewi tenang.

Putri langsung terdiam. Ia menatap Dewi dengan khawatir, seolah baru menyadari bahwa perasaan Dewi terhadap Julian sudah bercampur dengan dendam yang begitu dalam.

Dewi tidak merasa bersalah. Ia masih menyimpan perasaan terhadap Julian, tetapi kali ini perasaan itu memiliki tujuan yang berbeda. Ia tahu Julian pernah menyayanginya dan masih memiliki kenangan tentang hubungan mereka. Itulah yang membuatnya yakin bisa kembali mendekati Julian.

Di dalam pikirannya, Julian bukan hanya seseorang dari masa lalu. Ia adalah jalan menuju keluarga yang ingin ia hancurkan. Jika dirinya kembali mendapatkan kepercayaan Julian, ia bisa masuk lebih jauh ke dalam kehidupan keluarga tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan.

"Aku tidak akan menyakiti Julian," ujar Dewi seolah menenangkan Putri. "Tapi aku akan menggunakan apa yang dia berikan kepadaku untuk mencapai tujuanku."

Putri semakin gelisah. Ia tahu kalimat itu terdengar jauh lebih berbahaya daripada sekadar balas dendam. Dewi sudah tidak lagi berpikir untuk melupakan masa lalu. Ia justru mulai menyusun cara agar Julian menjadi bagian penting dari rencananya.

Sementara itu, Dewi kembali tersenyum dalam diam. Ia yakin pertemuan mereka kembali bukan sebuah kebetulan. Jika dulu Julian adalah seseorang yang pernah ia cintai, kini laki-laki itu bisa menjadi kunci untuk membuka pintu keluarga yang selama ini ingin ia masuki.

Dewi berdiri beberapa saat di depan gedung Arunika Food Group. Tatapannya tertuju pada bangunan besar yang menjulang di hadapannya. Hari itu menjadi langkah pertama dari rencana yang sudah lama ia susun.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk dengan wajah tenang. Tidak ada lagi keraguan dalam dirinya. Setelah semua yang dipersiapkannya, Dewi yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana.

Setiap langkahnya terasa mantap. Ia tahu dirinya harus berhati-hati, menyembunyikan niat sebenarnya di balik sikap profesional dan senyum yang meyakinkan. Tidak seorang pun boleh mengetahui alasan sesungguhnya mengapa ia ingin bekerja di tempat itu.

Sesaat sebelum memasuki pintu utama, Dewi kembali menatap logo Arunika Food Group. Ada senyum tipis di wajahnya.

"Ini baru permulaan," batinnya.

Ia kemudian melangkah masuk tanpa menoleh ke belakang. Baginya, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Rencana balas dendam yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam pikirannya kini mulai berubah menjadi kenyataan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!