Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 22 — Jatuh Miskin
Huo Li hanya mengangguk pelan sebagai tanda ia mengerti untuk tidak bertanya lebih jauh.
Pei Hubong berdeham, menyingkirkan atmosfer suram tersebut. "Ekhem. Nah, tentang pedangmu. Proses penyatuan gading itu dengan Inti Baja Hitam memakan bahan jauh lebih banyak dari perkiraanku karena kepadatan gading itu sangat luar biasa."
Pei Hubong menengadahkan tangannya. "Jadi, ada biaya tambahan. 50 Kristal Spiritual Tingkat 2."
Mata Huo Li sedikit terbelalak. Wajah datarnya nyaris retak.
'Apa?! Kemarin dia sudah mengambil 20 kristal spiritual tingkat 2 milikku, dan sekarang dia meminta 50 lagi?!' batin Huo Li menjerit.
Ia tahu Pei Hubong sedang memerasnya secara halus memanfaatkan kualitas senjata tersebut, tetapi ia tidak bisa protes. Kualitas pedang di tangannya memang sepadan, dan menyinggung Kepala Pandai Besi bukanlah langkah cerdas.
Dengan tangan sedikit gemetar menahan perih di hatinya, Huo Li mengeluarkan 50 Kristal Spiritual Tingkat 2 terakhir dari kantong spasial. Setelah menyerahkannya, kantong spasial Huo Li benar-benar bersih tak bersisa dari kristal spiritual. Ia bangkrut total!
Beberapa saat kemudian, Huo Li berjalan mendaki anak tangga menuju Puncak Pedang Kedua. Langkahnya yang biasanya ringan kini terasa berat. Wajah tampannya terlihat sangat lesu dan suram. Dia saat ini benar-benar miskin. Bagaimana bisa Pei Hubong menguras seluruh kristal spiritual yang ia miliki hanya untuk satu senjata ini? Rencananya untuk menimbun Kristal Surgawi hancur berantakan.
Saat ia tiba di pelataran puncak, Yun Bing kebetulan sedang berjalan keluar dari paviliunnya.
Melihat wajah suram pemuda yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan itu, Yun Bing mengerutkan kening.
"Ada apa denganmu, Saudara Junior? Kau terlihat tampak lesu," tegur Yun Bing, nada suaranya sedikit mencair dibanding biasanya.
Huo Li berhenti melangkah. Ia menatap Yun Bing sejenak, lalu melirik pedang barunya. Ia tidak membalas pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum kecut, mencoba mencari cara untuk melampiaskan kekesalan dan rasa frustrasi karena dompetnya baru saja diperas habis-habisan.
Mata Huo Li mendadak berkilat.
"Saudari Senior Yun," panggil Huo Li tiba-tiba, suaranya tak lagi lesu.
"Ya?"
"Ayo berlatih tanding!"
"Ha?!" Yun Bing tersentak, matanya membelalak kaget. Belum sempat ia menolak atau mencerna ajakan tiba-tiba itu, Huo Li sudah melesat ke arahnya.
WUSHH!
Menggunakan Langkah Ilusi Hantu yang dipadukan dengan Langkah Pemutus Nadi, Huo Li bergerak dengan sangat cepat. Tubuhnya berkedip meninggalkan bayangan. Tentu saja, ia tidak menggunakan segenap kekuatannya atau mengalirkan Energi Surgawi murni. Ia hanya menggunakan kekuatan fisik dan sedikit teknik gerakan untuk melampiaskan rasa pegal di hatinya.
Yun Bing buru-buru melangkah mundur, mencabut pedangnya dengan panik untuk menangkis serangan tangan kosong Huo Li.
BAM! TRANG!
"Kau sialan! Apakah kau sudah mulai jadi gila?!" maki Yun Bing sambil menahan hantaman telapak tangan Huo Li yang menggetarkan pedangnya.
"Maaf, Saudari Senior! Aku butuh pelampiasan yang sehat!" balas Huo Li sambil tertawa kecil, kembali melancarkan serangan beruntun.
Pertarungan singkat itu terjadi dengan berat sebelah. Meski Huo Li menahan diri, perbedaan ketahanan fisik dan kecepatan mereka terlalu jauh.
Beberapa saat kemudian...
BRAK!
"Ughh!"
Yun Bing terkapar di atas lantai batu pelataran. Ia tidak pingsan, dan Huo Li sama sekali tidak melukainya secara fatal, namun terlihat jelas bahwa gadis sedingin es itu kini tampak compang-camping setelah latih tanding sepihak itu selesai. Rambutnya berantakan, dan napasnya tersengal-sengal menatap langit, dadanya naik turun menahan amarah dan kelelahan.
"Kau..." desis Yun Bing.
Huo Li berdiri beberapa langkah darinya, napasnya juga sedikit memburu, namun wajah lesunya telah menguap sepenuhnya. Rasa kesalnya pada Pei Hubong lenyap seiring keringat yang menetes.
Melihat Kakak Seperguruannya terbaring tak berdaya dengan tatapan membunuh ke arahnya, Huo Li tertawa canggung. Ia sedikit merasa bersalah karena telah menjadikan gadis itu sansak pelampiasannya.
"Ahaha... maafkan aku, Saudari Senior Yun," ucap Huo Li sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
Ia berjalan mendekat, membungkuk sedikit, dan meminta maaf dengan cara mengulurkan tangan kanannya. Senyumnya kini terlihat tulus, jauh dari seringai perhitungannya yang biasa.
"Sini, biar kubantu, Saudari Senior Yun."