"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Kalung Berlian Biru
Suara langkah kaki kecil terdengar dari arah lorong.
Bastian dan Serly spontan menoleh.
Azzam muncul sambil menyeret sebuah koper mungil. Di pundaknya tergantung tas kecil yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya.
“Azzam mau ke mana?” tanya Bastian begitu menyadari putranya hendak pergi.
Bastian segera menurunkan Azzura dari gendongannya dan menghampiri Azzam.
Tangannya menahan koper tersebut.
“Kenapa membawa koper? Kamu mau pergi ke mana?”
“Azzam mau pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Azzam mau cari Mommy.”
Bastian terdiam. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Daddy juga sedang mencari Mommy. Sebentar lagi Daddy akan membawa Mommy pulang. Kamu nggak perlu pergi. Tunggu saja di rumah.”
Azzam menggeleng kuat.
“Azzam nggak mau Mommy pulang ke sini.”
Bastian menatap putranya.
“Kenapa?”
“Karena Mommy selalu nangis kalau ada di sini.”
Suara Azzam mulai bergetar.
“Semua itu gara-gara Daddy. Azzam juga nggak mau tinggal serumah sama Daddy dan Mama Serly.”
Serly yang mendengar perkataan itu hanya terdiam.
“Di rumah ini nggak ada yang sayang sama Azzam seperti Mommy. Mama Serly cuma sayang sama Azzura. Daddy sibuk terus. Nggak ada yang peduli sama Azzam.”
Mata Azzam mulai berkaca-kaca.
“Cuma Mommy yang selalu peduli sama Azzam. Tapi Daddy malah bikin Mommy sedih sampai Mommy pergi.”
Air mata akhirnya jatuh di pipi kecilnya.
“Azzam mau cari Mommy. Azzam mau tinggal sama Mommy aja.”
Azzam menepis tangan Bastian dan kembali menarik kopernya.
“Azzam!”
Bocah itu terus berjalan sambil menangis. Tangannya buru-buru mengusap air mata dengan ujung kaus.
Bastian merasa dadanya sesak melihat putranya seperti itu.
“Jangan begini, Sayang. Jangan bikin Daddy semakin pusing. Mommy saja belum ditemukan. Kamu mau pergi sendirian kemana?”
Bastian meraih koper Azzam.
“Sini. Kita cari Mommy sama-sama nanti.”
“Azzam mau cari sekarang!”
Azzam menarik kembali kopernya.
“Azzam mau ikut Mommy!”
Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.
Bastian tidak sanggup melihatnya. Ia langsung mengangkat tubuh kecil Azzam ke dalam gendongannya.
Namun, bukannya tenang, Azzam justru menangis semakin keras.
“Azzam benci Daddy!”
Tangan kecilnya memukul dada Bastian berkali-kali.
“Gara-gara Daddy, Mommy pergi!”
Bastian tidak menghindar sedikit pun.
Ia membiarkan putranya melampiaskan seluruh kekecewaan yang selama ini dipendam.
Setiap pukulan kecil itu terasa seperti hukuman yang memang pantas diterimanya.
Setelah lelah menangis, Azzam akhirnya memeluk leher ayahnya.
“Hiks... Mommy. Azzam mau Mommy.”
Bastian mengusap punggungnya.
“Iya, Sayang. Daddy akan membawa Mommy pulang.”
Namun, suara Azzura tiba-tiba terdengar nyaring.
“AZZURA NGGAK MAU MOMMY PULANG!”
Bastian menoleh.
Azzura sudah menangis di dalam pelukan Serly.
Serly segera mengusap rambut gadis kecil itu.
“Sudah, Sayang. Jangan menangis.”
“Mas Bastian, kamu tenangkan Azzam. Biar Azzura aku yang urus.”
Bastian hanya mengangguk.
Namun Azzam tiba-tiba berteriak dari pelukannya.
“ MAMA SERLY JANGAN TINGGAL DI SINI!”
Azzura langsung membalas.
“JANGAN SURUH MAMA SERLY PERGI! INI RUMAH MAMA SERLY! Azzura mau Mama Serly tetap di sini!”
“Ini rumah Mommy!”
“Bukan! Ini rumah Mama Serly!”
Perdebatan kedua anak itu semakin keras.
Azzam yang sudah emosi akhirnya memberontak turun dari gendongan Bastian.
“Azzam!”
Namun bocah itu sudah berlari menghampiri Azzura.
Tangannya spontan menarik rambut adiknya.
“Aduh! Daddy, sakit!”
Azzura menjerit dan langsung membalas dengan mencakar wajah Azzam.
Azzam semakin marah dan kembali menarik rambutnya.
Selama ini ia berusaha menahan diri setiap kali mendengar Azzura mengatakan hal buruk tentang Diandra.
Tapi kali ini kesabarannya benar-benar habis.
“AZZAM! AZZURA!”
Bastian segera menerobos di antara keduanya dan memisahkan mereka.
“Sudah! Jangan berkelahi!”
Serly ikut menarik Azzura menjauh.
Namun ketika Bastian berusaha mengamankan Azzam, gerakan mereka membuat Azzura kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Tubuh kecil Azzura tersungkur ke lantai.
“Aww... Daddy!”
Bibirnya terbentur lantai dan tangisnya langsung pecah.
Bastian menoleh tajam kepada Azzam.
“AZZAM!”
Bocah itu terlonjak mendengar bentakan ayahnya.
“Apa!”
“Masuk kamar sekarang!”
“Azzam nggak mau!”
Azzam kembali meraih koper kecilnya.
“Azzam mau pergi. Azzam mau cari Mommy!”
Ia berlari menuju pintu.
Namun baru beberapa langkah, Bastian berhasil mengejarnya.
Tubuh kecil Azzam langsung diangkat dan dipanggul di bahu ayahnya.
“Lepasin Azzam!”
Bocah itu meronta-ronta.
“Daddy, lepas! Azzam mau cari Mommy!”
“Tidak!”
Bastian mempererat pegangannya.
“Kamu nggak akan pergi sendirian. Selama Daddy masih ada, Daddy akan menjaga kamu.”
Azzam terus menangis dan memukul punggung ayahnya.
“Azzam cuma mau Mommy!”
Bastian terdiam.
Kalimat itu kembali menghantam hatinya.
Di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi kedua anaknya, kini mereka justru terpecah karena satu nama yang sama.
Diandra.
“Daddy yang akan mencari Mommy.”
“Daddy nggak perlu cari Mommy,” bantah Azzam dengan suara bergetar. “Mommy nggak mau ketemu Daddy. Biar Azzam sendiri yang cari Mommy.”
Bastian menghela napas panjang.
Ia membawa Azzam menuju kamarnya. Setelah sampai, Bastian menurunkan putranya dan mengarahkannya masuk.
“Di kamar dulu, ya.”
Pintu kemudian ditutup dan dikunci dari luar.
“Daddy! Buka pintunya!”
Azzam langsung menggedor-gedor pintu.
“Daddy!”
Bastian berdiri di balik pintu. Dahinya bersandar pada daun pintu, matanya terpejam rapat.
Kepalanya terasa penuh.
Perselisihan kedua anaknya, kepergian Diandra, serta ketidakjelasan keberadaan istrinya membuat emosinya berada di ujung batas.
Namun, Bastian tahu satu hal.
Anak-anaknya tidak bersalah.
Ia tidak boleh menjadikan mereka pelampiasan atas kesalahan yang telah ia buat sendiri.
“Azzam, dengarkan Daddy.”
Bastian berusaha menenangkan suaranya.
“Untuk sekarang, kamu tetap di kamar. Daddy janji akan mencari Mommy dan membawanya pulang. Jadi tolong bersabar sebentar.”
“Buka pintunya, Daddy!”
Suara Azzam perlahan berubah menjadi isakan.
Bastian tetap berdiri di sana sampai suara dari dalam kamar mulai mereda.
“Anak pintar. Istirahat dulu, ya. Nanti Daddy kembali lagi.”
Bastian menarik napas lega ketika keadaan mulai tenang.
Sekarang ia harus memastikan Azzura baik-baik saja.
Bastian berjalan menuju ruang tengah, tetapi tidak menemukan Azzura maupun Serly di sana.
“Bi,” panggilnya kepada salah seorang pembantu. “Azzura sama Serly di mana?”
“Tadi Bu Serly membawa Non Azzura ke kamar Tuan Bastian dan Nyonya Diandra.”
Bastian langsung mengernyit.
“Ke kamar saya?”
“Iya, Tuan.”
Bastian mendengus pelan.
Tanpa banyak bicara, ia melangkah menuju kamar tersebut.
Begitu pintu dibuka, pemandangan di dalam membuatnya menghela napas.
Serly sedang duduk di sisi ranjang, sementara Azzura sudah tertidur pulas.
“Mas Bastian,” bisik Serly.
Bastian menatapnya.
“Kenapa kamu membawa Azzura ke sini?”
“Aku cuma ingin menenangkannya. Dia terus menangis.”
“Bukan berarti kamu boleh masuk ke kamar ini.”
Nada suara Bastian terdengar rendah, tetapi tegas.
“Ini kamar aku dan Diandra.”
Ia sengaja menahan volume suaranya agar tidak membangunkan Azzura.
Serly perlahan melepaskan tangan Azzura yang masih menggenggam jemarinya.
“Ayo keluar.”
Serly mengikuti Bastian sampai ke luar kamar.
Bastian menutup pintu perlahan.
Begitu pintu tertutup, Serly mengusap pergelangan tangannya.
“Tadi tangan aku sakit waktu kamu menarikku.”
Bastian langsung melepaskan tangannya.
“Maaf.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku sudah pernah bilang, kan? Kamu boleh datang ke rumah ini. Tapi aku ingin kamu menghormati batasan yang sudah aku buat.”
Serly terdiam.
“Jangan masuk ke kamar aku dan Diandra tanpa izin. Jangan menyentuh barang-barang pribadi kami.”
“Iya, Mas. Maaf.”
Serly menunduk.
“Tadi aku benar-benar bingung. Azzura terus menangis dan aku nggak tahu harus membawanya ke mana.”
Bastian memijat pelipisnya.
Kepalanya semakin berat.
“Lebih baik kamu pulang dulu.”
Serly langsung mengangkat wajah.
“Mas, aku boleh tetap di sini?”
“Untuk apa?”
“Aku ingin menemani Azzura. Aku takut dia bangun dan mencariku. Kalau aku nggak ada, dia mungkin akan menangis lagi.”
Serly berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Diandra juga pergi. Anak-anak sekarang nggak ada yang mengurus.”
“Aku bisa mengurus anak-anakku sendiri.”
Serly menatap Bastian.
“Mereka juga anakku, Mas.”
Bastian diam.
“Aku ibu mereka. Aku juga punya hak untuk merawat mereka.”
Bastian menghela napas panjang.
Hari ini rasanya semua orang meminta sesuatu darinya.
Azzam ingin mencari Diandra.
Azzura menolak Diandra.
Serly ingin tetap tinggal.
Sementara Diandra sendiri entah berada di mana.
Akhirnya Bastian menyerah.
“Terserah kamu.”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Bastian berbalik dan meninggalkan Serly.
Namun, baru beberapa langkah, pikirannya kembali tertuju pada satu nama.
Diandra.
Ia tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Ia akan menemukannya.
Bagaimanapun caranya.
“Kamu mau pergi ke mana, Mas?”
“Aku mau mencari istriku. Memangnya mau ke mana lagi?”
“Harus sekarang?”
Serly menatap Bastian dengan cemas.
“Kamu nggak lihat keadaan Azzam dan Azzura? Mereka masih membutuhkan kamu. Lagi pula, kenapa kamu masih terus mempertahankan Diandra? Dia sendiri sudah pergi meninggalkanmu. Bahkan dia pergi bersama laki-laki lain.”
Serly berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada yang sengaja dibuat ragu.
“Mungkin sekarang Diandra dan Sean sedang—”
“Cukup!”
Bastian tiba-tiba mencengkeram kerah Serly dan mendorongnya hingga punggung perempuan itu membentur dinding.
“Jangan pernah bicara sembarangan tentang istriku.”
Serly terkejut melihat kemarahan Bastian yang begitu besar.
“Aku tahu Diandra bukan perempuan seperti itu. Dia nggak akan membiarkan dirinya disentuh laki-laki lain.”
“Tapi, Mas—”
“Aku nggak mau mendengar tuduhan seperti itu lagi.”
Serly menelan ludah.
“I-iya... maaf.”
Bastian akhirnya melepaskan pegangannya dan mundur beberapa langkah.
“Aku sudah pernah menjelaskan semuanya kepadamu.”
Suaranya masih terdengar tegas.
“Hubungan kita berakhir ketika kita resmi bercerai. Aku memang masih peduli kepadamu, tapi itu bukan berarti perasaanku kembali seperti dulu.”
Serly terdiam.
“Aku pernah meninggalkanmu ketika kamu sedang sakit. Aku juga pernah menuduhmu melakukan sesuatu yang ternyata tidak kamu lakukan. Itu kesalahanku. Karena itu aku ingin bertanggung jawab dan menebus semuanya dengan membantumu sampai keadaanmu membaik.”
Bastian menatap Serly serius.
“Tapi jangan gunakan semua itu untuk melewati batas.”
Air mata mulai menggenang di mata Serly.
“Iya, Mas.”
Suaranya bergetar.
“Aku mengerti.”
Bastian menghela napas.
“Aku menghargaimu sebagai seseorang yang sudah lama kukenal. Aku percaya kepadamu karena kita sudah melewati banyak hal bersama.”
Serly mengangguk kecil.
“Aku juga nggak pernah bermaksud merusak kepercayaan Mas.”
“Kalau begitu, jangan pernah membuatku meragukan kepercayaan itu.”
Serly menunduk.
“Iya.”
Bastian kemudian berbalik.
Di belakangnya, Serly mengusap lehernya sambil menahan air mata. Tatapannya berubah ketika Bastian tidak lagi melihat ke arahnya.
Rasa takut yang tadi muncul perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Ia tahu Bastian sedang sangat kacau karena kepergian Diandra.
Namun, Serly juga tahu dirinya sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur begitu saja terasa sulit.
Ia hanya perlu menunggu.
Selama Diandra belum kembali, masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan tempat di sisi Bastian.
“Maaf, Mas,” ucap Serly sambil menghapus air matanya. “Aku benar-benar nggak bermaksud membuat Mas marah.”
Bastian mengusap wajahnya kasar.
“Maaf. Aku tadi terbawa emosi.”
“Nggak apa-apa.”
Serly memaksakan senyum.
“Aku mengerti. Mas pasti panik karena Diandra pergi.”
Bastian tidak menjawab.
Pikirannya hanya tertuju pada istrinya.
Ia sama sekali tidak menyangka Diandra akan meninggalkan rumah tanpa memberitahunya.
“Aku titip Azzam dan Azzura kepadamu.”
Serly langsung menatapnya.
“Mas mau pergi?”
“Aku harus mencari Diandra.”
Bastian mengambil kunci mobilnya.
“Aku nggak akan tenang sebelum memastikan dia baik-baik saja.”
“Iya, Mas. Hati-hati.”
Bastian mengangguk singkat lalu pergi.
Serly tetap berdiri di tempatnya.
Senyum yang tadi ia tunjukkan perlahan menghilang.
Ia benci mendengar Bastian terus menyebut Diandra sebagai istrinya.
Bahkan setelah perempuan itu pergi, hati Bastian masih sepenuhnya tertuju kepadanya.
Serly mengepalkan tangan.
Dalam hatinya, ia semakin membenci Diandra.
Karena ternyata kepergian perempuan itu justru membuat Bastian semakin sadar betapa pentingnya Diandra dalam hidupnya.
Jam menunjukkan pukul tiga sore ketika Sean akhirnya kembali ke apartemennya.
Sebenarnya ia berniat pergi ke kantor Abian. Namun, kondisi tubuhnya yang masih lemas setelah pertengkarannya dengan Bastian membuatnya memilih pulang.
Begitu sampai, Sean langsung merebahkan diri di atas kasur.
Tubuhnya benar-benar terasa remuk.
Pertarungan dengan Bastian semalam masih menyisakan banyak rasa nyeri di tubuhnya. Wajahnya pun dihiasi beberapa lebam.
Baru sekitar lima menit memejamkan mata, pintu apartemennya tiba-tiba terbuka.
“Sean! Kamu di mana?”
Sean yang masih membelakangi pintu menjawab malas.
“Di kamar, Pa.”
Abian memang mengetahui kode akses apartemen putranya.
Langkah kaki Abian terdengar semakin mendekat.
“Katanya siang ini mau ke kantor. Papa sudah menunggu, tapi kamu nggak muncul-muncul. Ternyata malah tidur-tiduran.”
Sean terkekeh.
“Ya mau jadi orang kaya, Pa. Kerja sedikit, hidup nyaman, mati masuk surga.”
Abian mendengus.
“Papa sedang serius. Lihat Papa kalau diajak bicara!”
Abian menarik tubuh putranya agar menghadap kepadanya.
Namun, ekspresinya langsung berubah ketika melihat wajah Sean.
“Ya ampun. Wajah kamu kenapa?”
Sean malah menyeringai.
“Kenapa memangnya? Masih ganteng, kan?”
“Jangan bercanda!”
Abian menatap lebam di wajah putranya dengan kesal.
“Kamu habis berkelahi dengan siapa sampai babak belur begini?”
“Biasa, Pa. Namanya juga cowok.”
Abian memejamkan mata sebentar.
Berurusan dengan Sean memang selalu membutuhkan kesabaran ekstra.
“Sean, kamu sudah dewasa. Bukan waktunya lagi berkelahi sampai seperti ini. Siapa yang memukul kamu?”
Sean akhirnya duduk sambil meringis menahan nyeri.
“Bang Bastian.”
Abian langsung mengerutkan dahi.
“Bastian?”
“Iya.”
“Kenapa dia sampai memukulmu?”
Sean mengembuskan napas.
“Aku membantu istrinya pergi.”
“Diandra?”
Sean mengangguk.
Abian langsung menghela napas.
“Pantas saja. Suami mana yang nggak marah kalau istrinya dibawa pergi orang lain?”
Sean terkekeh.
“Ya habisnya Bang Bastian menyebalkan. Dia sudah punya istri, tapi masih terlalu dekat dengan Serly.”
Abian menatap putranya.
“Jangan sembarangan menuduh. Hubungan Bastian dan Serly punya cerita sendiri. Lagipula, kamu jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang.”
Sean mengangkat bahu.
“Entahlah, Pa. Tapi menurutku, Bang Bastian justru kelihatannya benar-benar mencintai Diandra, tapi terkadang terlihat masih punya perasaan pada Serly.”
Abian menghela napas.
“Sudahlah. Itu bukan urusan kita.”
Ia berdiri dan merapikan jasnya.
“Sekarang periksa luka-luka kamu. Jangan sampai semakin parah. Kalau sudah sembuh, baru kembali bekerja.”
Abian berbalik hendak meninggalkan kamar.
Namun, langkahnya mendadak terhenti.
Matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil.
Sebuah kalung dengan liontin berlian biru.
Abian mendekat dan mengambil benda tersebut.
Wajahnya seketika berubah.
“Ini...”
Sean menoleh.
“Kenapa, Pa?”
Abian menggenggam kalung itu dengan tangan yang mulai bergetar.
“Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?”
Sean mengernyit.
“Memangnya kenapa dengan kalung itu?”
Abian tidak langsung menjawab.
Tatapannya terpaku pada liontin tersebut seolah baru saja melihat sesuatu dari masa lalu yang selama bertahun-tahun ia coba lupakan.
“Sean... kalung ini milik Ayunda.”
Sean langsung terdiam.
“Ayunda?”
Abian mengangguk perlahan.
“Dulu, Papa memberikan kalung ini kepada Ayunda. Kalung tersebut dibuat secara khusus oleh Aretha, Mama kamu, untuk sahabatnya.”
Abian menatap liontin itu semakin lekat.
“Kalung ini hanya dibuat satu.”
Sean mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Apa hubungannya dengan Ayunda?”
Abian menarik napas panjang.
“Di hari Papa memberikan kalung ini kepada Ayunda... dia diculik.”
Sean membelalakkan mata.
“Apa?”
“Sejak hari itu, Ayunda menghilang. Kalung ini juga ikut hilang.”
Abian mengangkat kalung tersebut.
“Papa nggak pernah melihatnya lagi sampai sekarang.”
Tatapan Abian berubah tajam.
“Jadi Papa mau tahu satu hal.”
Ia menatap putranya.
“Dari mana kamu mendapatkan kalung ini, Sean?”
Sean terdiam.
Pikirannya langsung tertuju pada Diandra.
Kalung yang memiliki ciri persis seperti yang diceritakan Diandra.
Kalung yang selama ini diyakini hilang.
Kalung yang ternyata memiliki hubungan dengan seorang perempuan bernama Ayunda.
Sean mulai merasa bahwa semua ini bukan kebetulan.
Mungkin selama ini, identitas Diandra menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.