Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 - KAU BENAR-BENAR INGIN MENIKAH DENGANNYA?
Keduanya sedang mengobrol santai, namun tiba-tiba terdengar suara berisik di luar pintu. Wulan tiba-tiba membuka matanya. Apakah Nalendra datang? Hatinya berdebar, menunggu langkah yang ia kenal baik, tetapi ada sesuatu dalam keramaian itu yang terasa aneh. Para pelayan yang tadi berdiri hening di depan pintu tiba-tiba tampak gelisah, dan bisik-bisik yang tidak jelas terdengar saling bersahutan.
Intan segera mengambil kerudung merah yang ia lemparkan ke atas tempat tidur, buru-buru menariknya dan menutupi kepala Wulan dengan kerudung merah itu. Tepat setelah menyelesaikan semua ini, pintu dibuka dengan suara berderit. Keduanya menghentikan napas, menunggu sosok yang masuk.
"Intan telah melihat Paduka... eh?" Intan tercengang setelah melihat penampilan orang tersebut. Kata-katanya terhenti di tengah jalan, dan ada nada heran yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menelan ludah, seolah tidak percaya dengan sosok yang kini berdiri di depan pintu kamar pengantin.
Wulan merasa sedikit aneh saat mendengar nada bicara Intan, tetapi ia tidak menunjukkannya. Ia hanya berpikir bahwa Nalendra meminta Intan pergi keluar, dan Intan tidak bisa mengkhawatirkannya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya waspada.
Intan melirik orang yang datang, dan tanpa sadar mundur selangkah ke arah Wulan, menghalangi jalannya. Tubuhnya menegang seperti kawat yang siap putus, dan matanya tidak mau lepas dari sosok di depan pintu.
Pria itu sedikit tidak senang saat melihat tindakannya, tetapi ia tidak menunjukkannya. Ia hanya melambaikan tangannya kepada Intan dan memberi isyarat agar ia keluar. Gerakannya anggun, tetapi mengandung perintah yang tidak bisa ditawar.
Intan ragu-ragu sejenak, lalu kembali menatap nona mudanya, tetapi tetap tidak menuruti instruksinya. Ia menggenggam erat ujung kainnya sendiri, mencari keberanian untuk tetap berdiri di tempatnya.
Wajah pria itu tiba-tiba menjadi gelap. Keheningan mengisi ruangan selama beberapa detik, dan udara di antara mereka terasa semakin pekat.
Intan mengertakkan gigi, mundur selangkah lagi, menarik lengan baju Wulan, dan berbisik di telinganya, "Nona, bukan pangeran, tetapi Pangeran Cendana yang ada di sini." Suaranya nyaris tidak terdengar, tetapi cukup untuk membuat Wulan tersentak.
Wulan tertegun sejenak. Apa? Pangeran Cendana ada di sini? Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan muncul di tempat seperti ini, dan pikirannya bekerja cepat menyusun kemungkinan yang ada. Mengapa pria yang selalu tampak tenang dan penuh perhitungan itu tiba-tiba bertindak begitu gegabah di hari yang paling penting dalam hidupnya?
Benar saja, detik berikutnya, Wulan mendengar suara yang datang dari depan. "Wulan." Panggilan itu lembut, akrab, dan penuh dengan kerinduan yang tidak ia inginkan.
Alis Wulan mulai berdetak tanpa disadari. Ia benar-benar tidak ingin memperhatikan masalah ini di hari besarnya. Pangeran Cendana tampaknya bukan orang yang impulsif. Kenapa ia datang ke sini begitu tak terkendali? Setiap langkah pria itu sekarang terasa seperti ancaman bagi ketenangan yang baru ia bangun.
Ia mengulurkan tangannya dan melepas kerudung sutra di kepalanya. Ia menyipitkan matanya dan menatap orang di depannya dengan dingin, tidak lagi menyembunyikan ketidaksukaannya.
Pangeran Cendana sedikit terkejut saat melihat ekspresi wajahnya, tetapi ia segera menyingkirkan keterkejutannya dan tersenyum seperti biasa. "Wulan, aku..." Namun, senyum itu tidak berhasil mencairkan kebekuan di mata Wulan. Ia tahu betul senyum itu — senyum yang dulu membuatnya rela membuang seluruh martabatnya hanya untuk mengejar satu tatapan. Tetapi sekarang, senyum itu tidak lagi memiliki kekuatan apa pun atas dirinya.
Begitu Pangeran Cendana hendak berbicara, Wulan menyelanya tanpa basa-basi, "Paduka Pangeran Cendana, saya ingin tahu apa yang Anda lakukan di sini saat ini?" Kata-katanya tegas dan dingin, tidak memberi ruang untuk basa-basi.
Tiba-tiba dipotong olehnya, kata-kata yang telah disiapkan Pangeran Cendana tercekat di tenggorokannya, dan ia tidak bisa mengucapkan atau menekannya lagi. Untuk sesaat, wajah tampan itu kehilangan ketenangannya.
Wulan menatapnya dengan cemberut, dan tiba-tiba berdiri sambil membawa kain pengantin di tangannya. Tatapannya melewatinya dan tertuju pada wajah mak comblang dan para pelayan yang menundukkan kepala serta tetap diam di depan pintu. Ia menyadari sesuatu yang menyebalkan — jika Pangeran Cendana ingin masuk, bagaimana mungkin para pelayan itu berani menghentikannya? Sebagai seorang pangeran kerajaan, tidak ada satu pun rakyat biasa yang berani menghalangi langkahnya, sekalipun itu di ruang pengantin.
"Wulan, dengarkan apa yang dikatakan kakakmu..." Pangeran Cendana mencoba melunakkan suasana, mengulurkan tangan seolah ingin meraihnya. Ada kerinduan di balik gerakannya yang sederhana itu, tetapi Wulan tidak lagi tertarik untuk membacanya. Baginya, pria ini hanyalah bayangan dari masa lalu yang ia tinggalkan jauh di belakang.
"Berhenti." Wulan mengangkat tangannya sedikit dengan tidak sabar, menghentikan kata-katanya. Gerakannya tegas, dan untuk sesaat Pangeran Cendana membeku.
Ia tidak punya waktu untuk mengobrol dengannya sekarang, dan ia tidak ingin mencocokkan topeng kasih sayang itu. Sekarang Wulan lebih khawatir jika Nalendra kebetulan masuk saat ini, ia pasti akan salah paham ketika melihat adegan ini. Maka, semua kemajuan kecil yang selama ini ia dan Nalendra bangun akan sia-sia belaka, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Paduka Pangeran Cendana, meskipun Anda seorang pangeran dari keluarga kerajaan, bukankah melanggar aturan jika masuk ke ruang pernikahan pasangan tanpa izin pada hari pernikahan?" Wulan menatapnya, lalu menghentikan Intan dengan tatapan tenang yang seakan memberi isyarat untuk bersiap memanggil seseorang.
"Wulan, aku hanya ingin datang dan menemuimu." Ekspresi Pangeran Cendana melembut, tetapi matanya tiba-tiba meredup setelah menyentuh gaun pengantin merah di tubuhnya, dan senyuman pahit muncul di bibirnya. "Kau benar-benar ingin menikah dengannya?" Ada nada getir yang tidak bisa ia sembunyikan, seolah ia sedang menyaksikan sesuatu yang paling ia takuti menjadi kenyataan. Kata-kata itu jatuh pelan, tetapi setiap suku katanya terasa berat, seperti orang yang tengah menyaksikan dunianya runtuh sedikit demi sedikit.
Wulan benar-benar ingin memutar matanya, tetapi tiba-tiba melihat penampilannya yang sedih itu hampir membuatnya berpikir bahwa ia telah melakukan sesuatu yang tidak berperasaan. Untuk sesaat, ia seperti melihat Pangeran Cendana yang dulu — pria yang ia kejar bertahun-tahun di kehidupan lampau — tetapi sekarang ia hanya merasakan kelelahan, bukan getaran yang dulu ia rasakan. Perasaannya terhadap pria itu telah mati lama bersamaan dengan kehidupan lamanya, dan tidak ada satu pun kata-kata pilu yang mampu menghidupkannya kembali.
"Siapa yang ingin saya nikahi seharusnya bukan urusan Anda, Paduka, bukan?" Ia mendengus pelan, menyilangkan tangan, dan melirik ke arahnya dengan dingin. Kata-kata itu sederhana, tetapi menutup seluruh kemungkinan yang Pangeran Cendana harapkan. Ia berdiri tegak di balik meja kayu, menjaga jarak yang tidak akan Lagi ia biarkan siapa pun mendekat tanpa seizinnya.