Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029
Jam yang Pernah Ingin Ia Beli
Bubur: ayam suwir agak banyak, jangan pakai daun bawang, tambah kacang.
Louisa membaca satu baris itu tanpa bergerak.
Di dapur, Nathanael membuka lemari atas. Suara gelas bergeser terdengar pelan, sangat dekat, terlalu dekat untuk rahasia yang baru saja tidak sengaja ia lihat.
Ponsel di meja makan masih menyala.
Catatan itu masih terbuka.
Louisa cepat-cepat memalingkan wajah tepat ketika Nathanael kembali dengan botol air. Ia tidak cukup cepat untuk menyembunyikan ketegangan di tangannya.
Nathanael berhenti di sisi meja.
"Kenapa?"
"Ponselmu menyala," kata Louisa.
Ia menunjuk layar tanpa menyentuhnya.
Mata Nathanael turun. Dalam satu detik, ia melihat aplikasi Catatan, judul Louisa, dan baris yang terpampang terlalu jelas. Wajahnya tidak banyak berubah, tetapi jari yang memegang botol air menegang tipis.
"Maaf," katanya.
Louisa justru yang panik. "Aku yang harusnya minta maaf. Aku tidak sengaja lihat. Ponselmu getar, layarnya menyala, aku..."
"Tidak apa-apa."
"Aku tidak menggulir."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Louisa berhenti.
Nathanael mengambil ponsel, menekan tombol samping, lalu meletakkannya terbalik di meja. Tidak ada marah. Tidak ada tuduhan. Tidak ada gerakan buru-buru seperti orang yang ketahuan menyimpan sesuatu memalukan.
Justru ketenangannya membuat dada Louisa terasa lebih kacau.
"Kamu mencatat semuanya?" tanyanya pelan.
"Tidak semuanya."
"Itu bukan jawaban yang menenangkan."
Sudut bibir Nathanael bergerak sedikit. "Yang penting saja."
Louisa menunduk.
Yang penting saja.
Di daftar penting Nathanael, ada bunga yang tidak boleh terlalu banyak filler, teh yang jangan terlalu manis, mata yang perlu diingatkan, dan bubur ayam tanpa daun bawang.
Hal-hal kecil yang selama ini bahkan tidak pernah ia minta.
"Terima kasih," katanya.
"Untuk apa?"
"Untuk... mencatat."
Nathanael diam sebentar. "Kalau kamu tidak nyaman, aku hapus."
"Jangan."
Kata itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Louisa sendiri terkejut. Nathanael juga.
Ia menggenggam paper bag obat tetes mata lebih erat. "Maksudku, tidak perlu. Aku cuma kaget."
"Baik."
Malam itu, setelah Nathanael masuk ke ruang kerja, Louisa duduk lama di depan meja sketsanya. Mawar putih melati masih berdiri di dalam vas. Di halaman buku gambarnya, kelopak yang ia gambar tampak jauh lebih lembut daripada garis-garisnya biasa.
Ia ingin membalas sesuatu.
Masalahnya, Louisa tidak tahu bagaimana cara membalas perhatian yang tidak menuntut balasan.
Keesokan siang, ia pergi ke Pacific Place dengan alasan membeli kertas cat air dan frame kecil. Alasan itu tidak sepenuhnya bohong. Ia memang butuh kertas baru. Tetapi setelah keluar dari toko art supplies, langkahnya melambat di depan deretan butik jam tangan.
Kaca etalase memantulkan wajahnya.
Di balik kaca, beberapa jam dipajang di atas bantalan beludru. Logam dingin, jarum halus, harga yang membuat orang biasa harus berpikir berkali-kali sebelum menyentuh pintu. Louisa dulu pernah berdiri di depan butik seperti ini dengan perasaan yang berbeda.
Waktu itu Kevin baru diangkat menjadi Direktur Utama Tanuwijaya Group.
Louisa ingin membeli hadiah.
Bukan hadiah yang terlalu personal, pikirnya saat itu. Bukan sesuatu yang akan membuat Kevin tidak nyaman. Jam tangan terdengar aman. Elegan. Berguna. Bisa ia berikan sebagai ucapan selamat atas jabatan baru, bukan sebagai pengakuan bahwa selama bertahun-tahun, dadanya selalu berdebar setiap kali Kevin memanggil namanya.
Ia menabung dari bonus proyek, mengurangi belanja pribadi, bahkan menunda membeli tablet gambar baru.
Lalu ia menemukan Coisíní.
Nama itu dijelaskan oleh sales sebagai kata lama yang berarti jantung berdebar lebih cepat. Desainnya tidak terlalu mencolok. Dial putih gading, jarum tipis berwarna rose gold, angka kecil di sisi kanan seperti detak yang disembunyikan. Louisa menyukainya karena artinya. Ia membayangkan Kevin memakainya di ruang rapat, tanpa pernah tahu bahwa jam itu dipilih oleh seseorang yang selalu berdebar untuknya.
Ia tidak sempat membeli.
Saat datang lagi dengan uang yang cukup, model itu sudah dipesan orang lain.
Louisa berdiri di depan etalase Pacific Place dan tanpa sadar mencari bentuk yang sama.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Seorang staf perempuan menghampirinya dengan senyum profesional.
Louisa ragu, lalu masuk.
Udara butik dingin dan wangi kulit baru. Musik piano pelan terdengar dari langit-langit. Ia merasa sedikit aneh datang ke sini bukan untuk Kevin, tetapi ingatan tentang Coisíní sudah terlanjur bangun.
"Saya mau tanya," katanya. "Dulu ada model Coisíní. Masih ada?"
Senyum staf itu berubah menjadi senyum orang yang mengenali nama lama.
"Coisíní yang limited edition, Bu?"
"Iya. Dial putih gading, jarum rose gold."
"Wah, model itu sudah lama sekali tidak masuk display."
"Sudah discontinued?"
"Setahu saya iya, Bu. Unitnya sangat terbatas."
Louisa mengangguk pelan. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa kosong. Ia bahkan tidak datang untuk membeli jam itu. Tidak benar-benar. Namun mendengar model itu tidak ada lagi membuat masa lalu terasa seperti pintu yang tertutup dua kali.
"Dulu saya pernah mau beli," katanya tanpa sadar.
Staf itu tersenyum sopan. "Banyak yang cari, Bu. Tapi unit terakhir sudah diambil lama sekali."
Louisa menatap etalase kosong tempat ia berharap melihat bentuk yang sama.
"Diambil?"
"Iya, Bu. Sudah ada yang pesan lebih dulu."
Kaca etalase memantulkan wajah Louisa yang lebih tenang daripada perasaannya.
Sekali lagi, sesuatu yang pernah ia siapkan untuk Kevin sudah pergi sebelum sampai ke tangannya.
Staf itu menambahkan, "Kalau Ibu mau, saya bisa cek apakah ada catatan waiting list lama."
Louisa hampir menolak.
Namun nama Coisíní tetap berdetak kecil di kepalanya.
Akhirnya ia berkata, "Boleh."