NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Stik Golf

"Baik. Kalau tidak ada yang mau bicara, aku akan membuat seluruh Rumah Besar ini bicara."

Suara Darren belum hilang dari ruang makan ketika bunyi tongkat menghantam lantai terdengar dari arah pintu utama.

Sekali.

Dua kali.

Semua orang menoleh.

Engkong berdiri di ambang pintu dengan dua perawat di belakangnya. Tubuhnya kurus, rambutnya putih seluruhnya, tetapi matanya masih tajam. Ia memakai jaket rumah berwarna gelap dan memegang tongkat kayu hitam. Wajahnya pucat karena sakit, namun kehadirannya saja cukup membuat para pelayan menunduk sampai hampir tidak terlihat.

"Siapa yang membuat Rumah Besar ribut seperti pasar subuh?" suaranya serak, tetapi masih berwibawa.

Helena langsung berdiri. "Engkong, lihat apa yang Darren lakukan. Dia membawa orang luar mengepung rumah, mengancam keluarga sendiri, memecahkan botol seperti preman."

Darren tidak menunduk. Ia masih memegang stik golf, berdiri di samping meja yang basah oleh wine merah.

"Istriku hampir dibunuh di danau belakang," katanya. "Kalau Rumah Besar tidak ingin terdengar seperti pasar, seharusnya Rumah Besar tidak menyimpan pembunuh."

Ruangan menarik napas bersamaan.

Engkong menatap Naomi.

Naomi ingin berdiri, tetapi Darren menekan bahunya pelan. Ia tetap duduk, syal di lehernya sedikit bergeser hingga bekas merah terlihat jelas. Mata Engkong berhenti di sana.

Sesuatu di wajah tua itu berubah.

"Dokter sudah memeriksa?" tanya Engkong.

"Sudah," jawab Darren. "Laporannya disimpan. Pengacara sudah menerima salinan."

Helena tampak semakin panik. "Engkong, laporan bisa saja dibesar-besarkan. Anak-anak muda sekarang..."

"Diam, Helena."

Dua kata dari Engkong membuat Helena membeku.

Naomi melihat untuk pertama kalinya, di rumah ini, ada seseorang yang bisa membuat Helena menutup mulut.

Engkong berjalan perlahan ke kursi ujung meja. Perawat ingin membantunya, tetapi ia mengangkat tangan. Setelah duduk, ia menatap Darren.

"Kau menuduh siapa?"

Mata Darren bergeser ke Ethan.

Semua orang mengikuti pandangannya.

Ethan meletakkan cangkir tehnya dengan tenang. "Aku mengerti kenapa Darren mencurigaiku. Naomi melihatku di balkon."

Naomi menegang.

Ethan mengakui bagian itu lebih dulu.

"Aku memang berada di balkon," lanjut Ethan. "Aku mendengar suara dari taman dan keluar untuk melihat. Dari jarak itu, aku melihat keributan, tapi tidak jelas siapa yang jatuh. Saat aku hendak turun, pelayan sudah berlari memanggil bantuan."

Giselle mendengus keras. "Cepat banget ceritanya rapi."

Helena memelototinya. "Giselle."

"Apa? Gue cuma bilang."

Ethan menatap Giselle dengan senyum sabar. "Kau menyelamatkan Naomi. Terima kasih. Tapi kau juga tahu taman belakang gelap. Dari posisi danau, sulit memastikan apa yang kulakukan di balkon."

Giselle membuka mulut, lalu terdiam. Ia marah, tetapi tidak punya bukti untuk memukul balik.

Darren tersenyum dingin. "Kau sudah menyiapkan jawaban."

"Aku menjawab tuduhan."

"Sebelum aku menuduh."

Ethan tidak berubah wajah. "Kau menatapku sejak tadi, Darren. Aku tidak bodoh."

Engkong mengetukkan tongkat sekali. "Cukup."

Ia menatap Billy. "Bukti."

Billy maju, menampilkan tablet: laporan CCTV mati, akses Lila, pengakuan awal, foto bekas leher Naomi, foto memar Arman, dan lokasi sinyal darurat.

Engkong melihat semuanya tanpa bicara. Semakin lama ia melihat, semakin berat udara di ruangan.

"Cari pelakunya," kata Engkong akhirnya. "Kalau ada orang di Rumah Besar yang berani melakukan ini, dia tidak lagi dilindungi nama Wijaya."

Helena tampak tersentak. "Engkong..."

"Aku bilang cari." Tatapan Engkong memotongnya. "Bukan tutupi."

Naomi mengangkat wajah. Suaranya masih serak, tetapi cukup jelas. "Engkong."

Semua mata beralih padanya.

Darren langsung menunduk. "Nao, jangan paksa suaramu."

"Sebentar." Naomi menyentuh tangannya, lalu menatap lelaki tua di ujung meja. "Saya tidak datang ke rumah ini untuk merusak nama Wijaya. Saya juga tidak meminta semua orang menyukai saya."

Engkong tidak memotong.

"Tapi semalam saya tidak hampir mati sebagai isu keluarga. Saya hampir mati sebagai manusia." Naomi menahan sakit di tenggorokannya. "Kalau nama keluarga lebih penting dari hidup orang yang duduk di meja ini, maka saya ingin tahu sejak sekarang, supaya saya tidak salah berharap."

Ruangan sunyi.

Untuk pertama kalinya, tatapan Engkong pada Naomi bukan sekadar menilai. Ada sesuatu yang lebih rumit di sana, mungkin ingatan, mungkin rasa malu.

"Kau bicara berani untuk orang yang baru masuk," katanya.

"Saya baru masuk," jawab Naomi. "Tapi saya sudah hampir keluar dari dunia ini di danau belakang."

Giselle berbisik, "Gila. Keren."

Helena menatap putrinya tajam, tetapi tidak ada lagi yang berani menyuruh Naomi diam.

Ethan meletakkan cangkir teh. "Tidak ada yang menganggap hidupmu tidak penting, adik ipar. Justru karena itu kita perlu berhati-hati agar tuduhan tidak salah sasaran."

Naomi menatapnya. "Di mana kamu selama sebelas menit kamera mati?"

Senyum Ethan tidak retak. "Di balkon, seperti yang kukatakan. Sebelumnya aku di ruang kerja. Natalia bisa memastikan aku sempat menemaninya minum obat sebelum aku keluar."

"Sempat," ulang Darren. "Kata yang bagus."

"Karena memang hanya sebentar." Ethan menatapnya tenang. "Aku tidak akan menyeret istriku yang sedang hamil besar ke ruang makan pukul lima pagi hanya untuk membuktikan aku tidak berlari ke taman."

Kalimat itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal. Bahkan Engkong menatapnya beberapa detik lebih lama lagi.

Darren menurunkan stik golf sedikit, tetapi kemarahannya tidak hilang. "Aku akan cari. Dengan caraku."

"Jangan membuat polisi masuk sebelum kita tahu siapa di dalam rumah yang berkhianat," kata Engkong.

Naomi menatap lelaki tua itu. Kalimatnya terdengar seperti melindungi nama keluarga, bukan melindungi dirinya. Namun setidaknya, ia tidak menolak bahwa ada kejahatan.

Darren jelas memikirkan hal yang sama. "Aku tidak peduli nama keluarga."

"Aku tahu," jawab Engkong. "Itu sebabnya kau berbahaya saat marah."

Darren mengangkat stik golf lagi, ujungnya menunjuk ke lantai, bukan orang. "Aku akan lebih berbahaya kalau ada yang menyentuh Naomi lagi."

Ethan menatapnya, tenang.

Helena mengepalkan tangan. Felicia pucat. Bryan tampak ingin menghilang dari kursinya. Giselle menatap Darren dengan ekspresi baru, mungkin untuk pertama kalinya mengerti kenapa seluruh rumah takut pada sepupunya itu.

Darren berjalan perlahan mengitari meja. Pecahan kaca berderak di bawah sepatunya. Ia berhenti tidak jauh dari Ethan, cukup dekat untuk membuat beberapa pengawal bergerak siaga.

"Dengar baik-baik," kata Darren, suaranya pelan.

Ruangan diam.

"Siapa yang berani menyentuh istriku," lanjutnya, mata rubahnya gelap, "akan kehilangan tangannya."

Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang mengira itu hanya kiasan.

Ethan menatap Darren beberapa detik, lalu tersenyum lembut.

"Semoga kau menemukan orangnya," katanya.

Darren membalas senyum itu tanpa hangat. "Aku pasti menemukan."

Naomi memegang syalnya, merasakan tubuhnya kembali gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena ia tahu perang di Rumah Besar baru saja resmi dimulai.

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!