"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Kuis Cinta
Ia yakin setelah `Wen`, yang hendak keluar dari bibir pria itu bukan `ny`.
Kalimat itu masih mengganggu Wenny sampai keesokan paginya.
Ia tidur tidak nyenyak. Setiap kali matanya hampir terpejam, suara REYN di tangga kembali terdengar. `Kamu Wen...` Lalu berhenti. Lalu berubah menjadi Wenny dengan terlalu rapi, seolah ia sengaja menutup sesuatu yang hampir lolos.
Karena itu, ketika Koko mengumumkan permainan pertama hari itu bernama Kuis Cinta, Wenny merasa seluruh semesta sedang bekerja sama untuk membuat hidupnya semakin sulit.
Area taman vila sudah diubah menjadi set terbuka. Kursi-kursi putih disusun setengah lingkaran menghadap laut. Di tengah ada meja kecil berisi kartu pertanyaan berwarna merah muda. Kamera berdiri di tiga sisi, sementara layar besar di sudut menampilkan komentar live yang terus bergerak.
"Hari ini kita mulai dari pertanyaan ringan," kata Koko dengan senyum yang sama sekali tidak ringan. "Setiap peserta mengambil satu kartu, lalu menjawab jujur. Ingat, acara ini tentang cinta. Penonton bisa mencium jawaban palsu lebih cepat daripada kru mencium drama."
Kevin mengangkat tangan. "Kalau jawabannya terlalu jujur, boleh minta sensor?"
"Tidak."
"Baik, aku mulai takut."
Tawa menyebar di antara peserta. Wenny ikut tersenyum, tetapi matanya tanpa sadar melirik kursi di seberangnya.
REYN duduk di sana.
Kaos hitam sederhana, jaket tipis, rambut sedikit berantakan tertiup angin laut. Ia tampak seperti tidak berusaha menarik perhatian, tetapi justru semua kamera paling sering kembali kepadanya.
Saat mata mereka bertemu, REYN tidak mengalihkan pandangan.
Wenny yang lebih dulu menunduk.
"Kita mulai dari Kevin," kata Koko.
Kevin mengambil kartu pertama dan membacanya keras-keras. "`Apa kualitas terpenting dari pasanganmu?` Wah, mudah. Dia harus kuat menahan malu karena aku sering melakukan hal bodoh."
Natasha tertawa. "Itu bukan kualitas, itu penderitaan."
"Cinta memang penderitaan yang dikemas cantik."
Stella menatapnya datar. "Kamu pasti membaca itu dari caption orang."
"Aku merasa diserang."
Komentar live langsung penuh tawa.
Giliran Natasha, ia menjawab ingin pasangan yang bisa membuatnya merasa aman. Rosa mengambil kartu setelahnya. Pertanyaannya tentang tipe orang yang mudah membuat jatuh cinta.
Rosa tersenyum ke kamera. "Orang yang fokus padaku. Aku suka laki-laki yang bisa membuat perempuan merasa dia satu-satunya di ruangan."
Kalimat itu manis, tetapi tatapannya sempat menyentuh REYN.
REYN tidak melihatnya.
Wenny melihat itu. Rosa juga.
Stella mendapat pertanyaan tentang kencan ideal. Ia hanya menjawab, "Tempat sepi, makanan enak, tidak ada kamera."
Koko tertawa. "Kamu sadar ini acara dengan kamera?"
"Makanya itu kencan ideal, bukan kenyataan."
Felix yang duduk dua kursi darinya tersenyum kecil. Ketika gilirannya tiba, ia membuka kartu dan membaca, "`Apa yang membuatmu bertahan dalam hubungan?` Keputusan. Perasaan bisa naik turun, tapi kalau sudah memilih, saya bertahan."
Stella menoleh padanya.
Wenny menangkap tatapan singkat itu lagi. Terlalu dalam untuk dua orang yang baru saling mengenal di acara kencan.
Sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, Koko memanggil namanya.
"Wenny."
Ia mengambil kartu dari meja.
`Apa hal pertama yang kamu lihat dari seseorang?`
Pertanyaan itu seharusnya mudah.
Wenny bisa menjawab senyum, cara bicara, atau sikap pada orang sekitar. Jawaban aman yang tidak akan menjadi bahan potongan video.
Tetapi matanya bergerak sendiri ke arah REYN.
Pria itu menunggu.
"Cara dia memperhatikan orang lain," jawab Wenny akhirnya. "Bukan saat semua orang melihat. Justru saat dia pikir tidak ada yang melihat."
Koko langsung menyeringai. "Jawaban yang spesifik."
"Pertanyaannya juga spesifik."
Kevin mencondongkan tubuh. "Aku merasa ada cerita di balik jawaban itu."
"Kamu merasa terlalu banyak hal," kata Wenny.
Semua orang tertawa.
Di ruang observasi, Chelsea mengguncang bahu Jay. "Dia kepikiran REYN, kan? Bilang iya."
Jay menatap layar, khususnya wajah REYN yang tidak menunjukkan banyak ekspresi, tetapi matanya jelas berubah lebih lembut. "Dia tidak perlu bilang. Lihat saja yang duduk di sana."
"Aku auto baper."
"Baru juga pertanyaan pertama."
"Kalau awalnya begini, aku butuh oksigen untuk episode selanjutnya."
Kembali ke taman, Koko sengaja menahan jeda sebelum memanggil peserta terakhir.
"REYN."
Komentar live langsung bergerak lebih cepat.
REYN mengambil kartu. Ia membukanya, membaca dalam diam, lalu mengangkat mata.
"Apa tipe idealmu?" tanya Koko, pura-pura tidak tahu bahwa seluruh Indonesia sedang menunggu jawaban itu.
Kevin bersandar. "Ini dia. Jawaban nasional."
Rosa duduk lebih tegak.
Wenny meremas ujung lengan bajunya.
REYN tidak langsung menjawab. Ia memutar kartu sekali di antara jarinya, lalu berkata, "Punya lesung pipi."
Taman mendadak ribut.
Kevin memukul sandaran kursinya sendiri. Natasha menutup mulut. Stella akhirnya tersenyum jelas. Rosa membeku selama satu detik sebelum memaksa tertawa.
Wenny merasa panas naik dari leher ke pipinya.
"Itu sangat spesifik," kata Koko, suaranya nyaris tertawa.
"Aku tahu."
"Ada alasan?"
REYN melihat Wenny.
Tidak lama. Hanya cukup untuk membuat semua kamera menangkapnya.
"Kalau dia tersenyum, orang yang melihatnya ingin pulang."
Wenny mengerjap.
"Pulang?" tanya Kevin.
"Ke tempat yang terasa hangat."
Rosa tertawa pelan, terlalu cepat. "Banyak perempuan punya lesung pipi."
"Benar," kata Koko, langsung menangkap peluang. "Jadi ini masih misterius."
Kevin mengangkat tangan. "Misterius untuk siapa? Kursi kita semua menghadap orang yang sama."
Tawa pecah. Beberapa peserta refleks melihat Wenny. Wenny ingin menutupi pipinya, tetapi justru tindakan itu akan membuat semuanya semakin jelas. Ia hanya bisa menegakkan punggung, pura-pura tidak merasa suhu tubuhnya naik.
REYN tidak ikut tertawa.
Ia hanya berkata, "Aku tidak bilang banyak orang."
Kalimat itu pendek.
Efeknya panjang.
Bahkan Stella yang sejak pagi paling hemat ekspresi ikut melirik Wenny, sementara Felix menunduk menahan senyum seperti sudah tahu acara ini baru saja menemukan porosnya.
Komentar live meledak.
`AKU PINGSAN.`
`Lesung pipi siapa lagi kalau bukan Wenny?`
`REYN baru saja menulis puisi di acara kencan.`
Di ruang observasi, Chelsea sudah berdiri. "Jay, dia tidak sedang menggoda. Dia sedang menyerahkan hidup."
Jay tertawa pelan. "Kurang lebih."
Koko tidak membiarkan suasana turun. Ia mengambil kartu cadangan dari meja. "Karena jawaban REYN terlalu menarik, kita beri satu pertanyaan tambahan. Kamu paling ingin berkencan dengan siapa di sini?"
"Wah!" Kevin langsung berseru. "Ini bukan kuis, ini jebakan hukum."
Rosa menatap REYN.
Natasha ikut menahan napas.
Wenny ingin terlihat santai, tetapi tubuhnya gagal bekerja sama. Ia menatap meja, lalu mendengar suara kartu diletakkan.
REYN diam tiga detik.
Tiga detik yang terasa terlalu panjang.
Kemudian ia melihat ke arah Wenny.
"Aku tidak menyebut nama," katanya.
Koko mencondongkan tubuh. "Kenapa?"
Sudut bibir REYN naik sedikit.
"Tapi dia sekarang..." Tatapannya tidak berpindah dari Wenny. "Duduk tidak jauh dariku."