NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Di Samping Ranjang

Lalu suara sirene mulai terdengar dari gerbang klub.

Felicia tidak pingsan sepenuhnya.

Itu lebih menyebalkan daripada pingsan.

Ia masih mendengar potongan suara: roda tandu di atas rumput, napas Jayden yang terlalu kasar, Nathan berbicara cepat dengan petugas medis, Calvin memanggil "Ci" berkali-kali dengan nada yang semakin kosong, dan Sebastian menyebut gejala dengan urutan yang terlalu rapi.

"Trauma bahu kiri, kemungkinan memar rusuk, benturan kepala ringan, jangan gerakkan leher sebelum collar terpasang."

Petugas medis sempat menatap Sebastian. "Kamu keluarga?"

"Tidak," jawab Sebastian.

"Dia benar," kata Nathan cepat. "Ikuti dulu."

Collar leher dipasang. Bahu kiri Felicia terbakar setiap kali tandu bergerak. Ia ingin memaki tubuh baru ini karena terlalu mudah rusak, tetapi bibirnya hanya bergerak sedikit.

Jayden melihat itu. "Sayang? Lo sadar?"

Nathan menoleh tajam.

Jayden mengoreksi dengan rahang kaku, "Sayang. Dengar gue?"

Felicia ingin tertawa.

Tidak ada suara yang keluar.

Sis menangis dalam bentuk notifikasi berantakan di kepalanya. "Tuan Rumah, jangan bercanda dalam kondisi begini. Data nyeri tinggi. Detak jantung tidak stabil. Sis tidak suka ini."

"Aku juga tidak suka," jawab Felicia dalam hati.

"Tuan Rumah masih bisa menjawab. Bagus. Bagus. Tetap sadar."

Di ambulans, hanya satu orang diizinkan ikut. Empat pria itu nyaris saling menatap seperti hendak memulai perang baru di depan pintu kendaraan.

Nathan yang bergerak lebih dulu. "Aku ikut. Aku yang memegang kontak sekolah dan rumah sakit."

Jayden langsung membantah, "Gue bisa nyetir lebih cepat dari ambulans."

"Itu bukan kualifikasi medis," kata Sebastian dingin.

Calvin menatap Felicia di atas tandu. "Ci pilih."

Semua berhenti.

Felicia membuka mata setengah. Cahaya terlalu terang, wajah mereka terlalu dekat.

"Nathan," bisiknya.

Jayden tampak seperti baru ditinju.

Calvin menunduk.

Sebastian mengangguk satu kali, seolah keputusan itu masuk akal karena Nathan memang paling berguna untuk administrasi.

Nathan naik ke ambulans dengan wajah pucat yang ia paksa tenang. Saat pintu ditutup, tangannya menggenggam besi sisi tandu, bukan tangan Felicia, patuh pada aturan bahkan dalam panik.

"Feli," katanya rendah. "Aku di sini."

Felicia memejamkan mata. "Berisik."

Napas Nathan pecah menjadi sesuatu yang hampir tertawa dan hampir menangis.

Rumah sakit swasta yang dituju sudah menerima kabar sebelum ambulans tiba. Guru pendamping dan staf klub mengikuti dengan mobil lain. Jayden benar-benar mengemudi di belakang ambulans, cukup dekat untuk membuat petugas keamanan rumah sakit menahan napas saat mobil sport merahnya berhenti mendadak di depan IGD.

Calvin turun dari mobil lain dengan sketchbook masih di tangan, tetapi kali ini ia tidak menggambar. Sebastian langsung mencari dokter jaga dan menyebut kronologi dengan ketepatan yang membuat perawat berhenti meremehkannya.

Felicia dibawa masuk untuk pemeriksaan.

CT kepala.

Rontgen bahu dan rusuk.

Pemeriksaan leher.

Pembersihan luka di pelipis dan telapak tangan.

Waktu bergerak dalam lampu putih dan bau antiseptik.

Di luar ruang pemeriksaan, empat pria itu menunggu dengan cara yang sama sekali berbeda.

Nathan berdiri di depan meja administrasi, mengurus data asuransi kegiatan, surat pengantar sekolah, dan izin observasi tanpa menaikkan suara. Namun setiap kali pintu ruang pemeriksaan terbuka, kalimatnya berhenti di tengah. Perawat harus mengulang pertanyaan dua kali sebelum ia kembali fokus.

Jayden tidak bisa duduk. Ia berjalan dari ujung koridor ke ujung lain, jaketnya sudah dilepas, buku jarinya masih menyimpan pasir. Setiap suara roda brankar membuatnya menoleh seperti siap menerjang siapa pun yang membawa kabar buruk.

Calvin duduk di kursi plastik dekat dinding. Sketchbook terbuka di pangkuannya, tetapi kertasnya kosong. Ujung pensilnya patah karena terlalu ditekan. Matanya menatap satu titik di lantai, wajahnya manis kosong seperti boneka yang lupa cara tersenyum.

Sebastian berdiri paling dekat pintu pemeriksaan. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli ketika bahunya tersenggol keluarga pasien lain yang lewat terburu-buru. Ia hanya membersihkan tangannya sekali, lalu berhenti, seolah otaknya tidak punya ruang untuk ritual lebih banyak. Semua ruangnya dipakai untuk menghitung kemungkinan cedera Felicia.

Guru pendamping mencoba menenangkan mereka. "Dokter sedang menangani. Kalian sebaiknya duduk dulu."

"Tidak," jawab empat suara hampir bersamaan.

Guru itu langsung diam.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dengan tablet di tangan. "Keluarga pasien?"

Keempatnya maju.

Dokter menatap mereka, sedikit bingung.

Nathan bicara lebih dulu. "Dia tidak punya wali yang bisa datang cepat. Sekolah bertanggung jawab atas kegiatan. Kami teman dekatnya. Tolong jelaskan kondisinya."

"Aku butuh satu orang untuk menerima informasi utama."

Jayden langsung menunjuk Nathan, meski wajahnya jelas tidak rela. "Dia."

Calvin tidak membantah.

Sebastian hanya berkata, "Kami mendengar."

Dokter akhirnya memberi ringkasan awal: tidak ada tanda perdarahan otak pada pemeriksaan pertama, tetapi gegar ringan tetap perlu observasi; bahu kiri bergeser dan sudah ditangani; rusuk memar, tidak patah; luka telapak dan pelipis dibersihkan. Pemeriksaan lanjutan menunggu hasil akhir radiologi.

Jayden menutup wajah dengan kedua tangan.

Calvin menunduk sampai rambutnya menutupi mata.

Nathan berkata, "Terima kasih," dengan suara yang terlalu pelan.

Sebastian bertanya tiga hal teknis tentang observasi neurologis, interval pemeriksaan pupil, dan batas penggunaan analgesik. Dokter menjawab satu per satu, lalu menatapnya lebih serius.

"Kamu mahasiswa kedokteran?"

"Belum."

"Kalau begitu jangan mengganggu perawat."

"Tidak akan."

Jayden bergumam, "Dia pasti akan."

Untuk pertama kalinya sejak ambulans datang, Calvin tertawa kecil. Suaranya pecah, tetapi setidaknya ruangan tidak lagi terasa seperti menunggu vonis mati.

Saat akhirnya ia dipindahkan ke ruang observasi VIP, diagnosisnya cukup jelas: bahu kiri dislokasi ringan dan sudah direposisi, memar rusuk tanpa patah, gegar otak ringan, luka gesek di telapak dan pelipis, observasi minimal dua puluh empat jam. Tidak ada cedera leher serius, tetapi ia dilarang banyak bergerak.

"Tubuh ini payah," gumam Felicia.

Dokter perempuan yang sedang memeriksa infus menatapnya. "Tubuh kamu baru saja jatuh dari kuda yang sedang panik dan tidak patah tulang besar. Itu bukan payah. Itu beruntung."

Felicia tidak berdebat. Dokter itu tidak tahu standar tubuh lamanya.

Ketika dokter keluar, empat pria masuk hampir bersamaan.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak ribut.

Nathan berdiri paling dekat kepala ranjang, membawa map administrasi rumah sakit. Jayden berdiri di sisi kaki ranjang, tangan masuk saku jaket, rahangnya masih tegang. Calvin duduk di kursi samping kanan, terlalu diam. Sebastian berdiri dekat monitor, membaca angka detak jantung dan saturasi seperti ingin menghafal semuanya.

"Aku belum mati," kata Felicia.

Jayden mengumpat pelan dan menutup wajah dengan satu tangan. "Jangan ngomong gitu."

Calvin tertawa tanpa suara, tetapi matanya merah. "Ci jahat."

Sebastian menatap monitor. "Secara medis, kalimat itu benar. Secara emosional, sebaiknya tidak diulang."

Nathan tidak berkata apa-apa.

Felicia menoleh sedikit. "Nathan."

Ia langsung mendekat. "Sakit?"

"Kamu terlihat lebih sakit."

Kalimat itu menghancurkan sisa ketenangannya.

Nathan duduk di kursi dekat ranjang. Untuk beberapa detik, ia hanya menunduk, kedua tangan saling menggenggam terlalu erat. Saat ia mengangkat wajah, matanya masih kering, tetapi keringnya seperti kaca yang hampir retak.

"Aku takut," katanya.

Ruangan diam.

Jayden tidak mengejek.

Calvin tidak tersenyum.

Sebastian tidak mengoreksi istilah.

Nathan menatap Felicia. "Aku tahu kamu kuat. Aku tahu kamu membuat keputusan paling tepat di lintasan. Aku tahu kalau bukan kamu, mungkin ada siswa yang terinjak. Tapi saat melihatmu tidak bisa bernapas..."

Suaranya berhenti.

Felicia menunggu.

Nathan menarik napas. "Aku tidak mau berdiri sebagai orang luar lagi."

Jayden mengangkat kepala.

Calvin menatap Nathan.

Sebastian akhirnya melepaskan pandangan dari monitor.

Nathan tetap melihat Felicia. "Aku tidak akan memintamu memilih hanya aku. Aku juga tidak akan berpura-pura tidak melihat yang lain. Tapi aku ingin status yang jelas darimu. Kalau kamu mengizinkan, aku ingin menjadi orangmu. Secara resmi."

Sis langsung sunyi.

Untuk sistem yang biasanya berisik, sunyi itu berarti data terlalu besar untuk dikomentari cepat.

Felicia menatap Nathan.

Ini bukan permintaan lemah.

Ini juga bukan tuntutan.

Nathan sedang memberikan dirinya ke meja permainan dengan sadar, di depan tiga pesaingnya, tanpa meminta meja itu dikosongkan untuknya.

Menarik.

"Kamu tahu artinya?" tanya Felicia.

"Aku tahu aku tidak tahu semuanya," jawab Nathan. "Tapi aku tahu aku ingin tetap di sini."

Felicia mengangkat tangan kanan yang tidak diinfus. Nathan langsung condong mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuh.

Masih menunggu izin.

Felicia menyentuh ujung jarinya.

"Baik," katanya. "Mulai sekarang, kamu orangku."

Napas Nathan bergetar.

Jayden memalingkan wajah, tetapi telinganya merah karena marah atau cemburu.

Calvin menutup mata sebentar, senyumnya muncul lagi dengan bentuk yang lebih gelap. "Selamat, Ketua."

Sebastian berkata datar, "Status baru tercatat."

Nathan menunduk dan mencium punggung jari Felicia dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang menandatangani kontrak yang tidak boleh rusak.

Sis akhirnya bersuara, pelan sekali. "Data emosi Nathan naik tajam. Bintang tetap 3%, tapi warnanya lebih stabil."

Pintu ruang observasi diketuk.

Guru pendamping masuk dengan wajah tegang. "Maaf. Pihak klub ingin bicara. Ada masalah dengan daftar kuda."

"Di luar juga sudah ada beberapa orang tua sponsor utama yang meminta penjelasan resmi," lanjutnya. "Video insiden mulai menyebar sangat cepat sekali. Sekolah ingin memastikan kronologi lengkap sebelum membuat pernyataan."

Empat pria itu menoleh bersamaan.

Felicia tersenyum tipis meski bahunya sakit.

Akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!