NovelToon NovelToon
Menjinakkan Tuan Kaku

Menjinakkan Tuan Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.

Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Hangus

Hanya butuh waktu tiga puluh menit bagi rombongan mobil taktis Adrian untuk membelah jalanan kota dan tiba di lokasi penyerbuan.

"Arahkan senter ke sisi kanan ruangan, Pak Teguh! Periksa kelembaban udaranya," perintah Adrian dingin, suara baritonnya memecah kegelapan ruang bawah tanah gedung tua terbengkalai itu.

Langkah kaki tegapnya menghentak kaku di atas lantai semen yang retak dan berdebu. Bau hangus sisa pembakaran sirkuit elektronik tercium sangat menyengat di udara, bertubrukan dengan hawa dingin pagi hari yang menusuk kulit. Jam tangan mewahnya baru saja menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.

Pak Teguh melangkah taktis sembari menurunkan posisi pistol laras pendeknya ke arah lantai setelah memastikan area aman. "Steril, Tuan Muda. Namun, target sudah melakukan pembersihan sistem total beberapa saat sebelum kita mendobrak pintu baja luar pagi ini."

"Sialan! Kita terlambat lagi, Tuan Adrian," umpat Bram dengan napas memburu lelah sembari menyorotkan senter tabletnya ke arah meja kayu yang hancur.

Di atas meja tersebut, tumpukan tiga monitor komputer tampak meleleh hancur, mengeluarkan asap tipis sisa pembakaran otomatis. Peretas misterius itu sengaja memicu self-destruction atau penghancuran diri otomatis pada perangkat kerasnya begitu mendeteksi pergerakan fisik tim sekuritas Valerick Group yang bergerak cepat pasca-panggilan Zen tadi.

Adrian mendekat, tubuh tingginya condong menatap puing-puing sirkuit yang hangus. Rahang tegasnya mengeras. "Dia melarikan diri menggunakan protokol pemutus asimetris. Pembersihan ini digerakkan secara nirkabel dari jauh."

"Artinya, peretas ini tahu posisi kita bergerak dari mansion, Tuan Muda?" tanya Pak Teguh dengan raut wajah tegang.

"Benar, transponder mikro di interkom luar malam lalu hanyalah salah satu jalurnya," analisis Adrian dingin, matanya yang tajam menyisipkan kilat kemarahan yang membakar.

Ia berjongkok, jemari kokohnya memungut sepotong sobekan kertas kecil berwarna merah yang luput dari kobaran api di bawah kolong meja. Di atas kertas tersebut, tercetak sisa huruf cetak tebal berformula teka-teki: "...M-A-T-A..."

"Permata," desis Adrian serak, jakunnya naik turun dengan cepat menahan dongkol sekaligus ego protektif yang terusik hebat.

"Dia sengaja meninggalkan ini untuk memprovokasi saya. Dia pikir sistem pertahanan saya bisa dipermainkan dengan mudah."

"Tapi, Tuan Adrian," sela Bram ragu-ragu sembari berlutut di dekat tumpukan kabel yang gosong.

"Jika dia menggunakan protokol asimetris, berarti ada server bayangan sekunder yang menampung data curiannya sebelum perangkat di sini meledak. Lihat lampu indikator di balik sasis komputer ini, masih ada sisa daya cadangan yang berkedip."

Adrian menyipitkan mata, menatap titik merah kecil yang berkedip lemah di balik celah sasis logam yang menghitam. "Bram, lakukan ekstraksi memori statis pada sisa modul flashdisk yang tersisa. Jangan biarkan satu pun kluster data lolos."

"Baik, Tuan! Beri saya waktu dua menit," jawab Bram cepat, jemarinya bergerak taktis menghubungkan kabel dekoder darurat dari tabletnya ke sisa sirkuit yang menghitam.

"Tuan, apa kita harus meminta bantuan Zen lagi untuk melacak alamat IP bayangannya?" tanya Bram gugup, menyeka keringat dingin di pelipisnya setelah beberapa kali menemui jalan buntu pada enkripsi server sekunder tersebut.

"Tidak perlu, Bram. Saya tidak akan bergantung pada belas kasihan orang asing yang tidak jelas motifnya," ketus Adrian dingin, berdiri tegak kembali dengan wibawa yang menekan.

"Pak Teguh, kumpulkan sisa komponen hangus ini. Serahkan pada divisi forensik digital internal di kantor pusat siang ini juga."

"Siap, laksanakan, Tuan Muda!" jawab Pak Teguh membungkuk hormat.

Adrian membetulkan letak jam tangan mewahnya dengan satu gerakan kaku yang formal, lalu berbalik tegap membelakangi ruangan yang hancur tersebut. "Bram, siapkan mobil. Kita kembali ke kantor pusat sekarang. Kita harus meningkatkan penguncian siber total sebelum tengah hari."

Langkah kaki mereka bergema menjauh meninggalkan ruang bawah tanah yang sunyi. Pendar lampu senter memudar perlahan, menyisakan debu yang beterbangan di dalam ruangan yang kini mati total tanpa menyisakan aliran data digital apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!