Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Sejak pertemuannya dengan Neil, Rendra terlihat lebih bersemangat lagi. Bahkan dia melupakan bagaimana keadaan wanita itu di rumahnya sana.
"Bagaimana?" tanya Rendra ketika anak buahnya datang.
"Semuanya berjalan dengan baik, Pak. Nyonya -maksud saya..."
"Dia memang nyonya kalian. Jaga dia jangan sampai lepas. Biarkan dia bekerja, dan setelah pekerjaan ku selesai, aku akan membawanya kembali!" ucap Rendra.
Dia akan membawa Alice kembali. Terserah dengan penolakan wanita itu bagaimana nantinya, yang jelas dia tidak akan lepaskan Alice lagi. Tidak akan!
"Baik, Pak. Laksanakan." pamit anak buahnya.
Mereka langsung pergi meninggalkan kamar hotel tempat dimana Rendra menginap.
Dia kembali mendapatkan foto terbaru keadaan Alice saat ini.
"Kau tumbuh dengan baik, Alice." ucap Rendra melihat foto Alice yang terlihat jauh lebih baik.
Andai saja waktu itu dia lebih berani menentang ayahnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Masih teringat jelas di ingatannya, bagaimana laki-laki otoriter itu memaksanya.
Flashback
Rendra masih berdiri di tempatnya. Dia ingin melihat apalagi yang ingin di lakukan laki-laki ini padanya.
Bahkan dia menyeret paksa dirinya untuk kembali ke Amerika dengan sengaja menculiknya.
"Kau lebih menyukai hidupmu di luar sana dari pada harus kembali, Devano." ucap ayahnya saat melihat sang putra berdiri di hadapannya.
"Ya, aku lebih suka hidupku di luar sana dari pada hidup di rumah ini!" jawabnya berani.
Sedangkan sang ayah hanya menatap remeh pada anaknya itu. Dia tau jika Devano Garendra ini tidak akan bisa melakukan apapun.
"Apa yang kau banggakan dengan usaha kecil mu itu? Kau bisa duduk di perusahaan tanpa harus bersusah payah memanjat. Kau hanya tinggal duduk, dan menikmati semuanya." ucap ayahnya pada Rendra yang saat itu berusia 30 tahun.
"Alana, apa kurangnya Alana hingga kau mencari kepuasan di luar sana? Apa jalang mu itu terlalu hebat hingga bisa menahan mu untuk tidak pulang?" tanya ayahnya yang semakin meremehkan Rendra.
"Jangan menyalahkan ku dengan apa yang ku lakukan saat ini. Bukankah darah lebih kental dari pada air?" jawabnya berani membuat rahang ayahnya mengeras sempurna.
Rendra sudah mulai berani melawannya. Hebat sekali anaknya ini. "Kau tidak tau apa yang ku lakukan dulu. Aku melakukan itu semua karena ibumu yang tidak bisa memuaskan ku! Ibumu sakit, dan-"
"Ya! Begitu juga dengan ku! Aku tidak merasa paus dengan Alana, jadi jangan bicarakan apapun lagi soal ibuku. Aku rasa kematian lebih baik untuknya dari pada harus hidup dengan laki-laki bajingan seperti mu!"
Plak!
Rendra terdiam saat menerima tamparan untuk yang kesekian kalinya dari sang ayah. Bukannya menyesal, dia malah semakin tersenyum untuk itu dan membiarkan sudut bibirnya terluka.
"Kembali ke kamarmu dan urus perusahaan jika tidak ingin aku menyakiti gadis itu. Atau kau mau melihatnya berakhir di rumah bordir?" ucapnya penuh ancaman membuat Rendra langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan kerja ayahnya.
Saat dia keluar dari ruangan itu, dia melihat ibu tirinya disana. Wanita yang sangat di bencinya bersama dengan anak laki-lakinya itu.
Mereka saling menatap, sampai Rendra mengatakan sesuatu yang langsung membuat wanita itu terkejut.
"Baik, jika ini yang kalian inginkan. Aku tidak akan mengalah, dan aku pastikan jika kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun dari apa yang di milikinya! Aku bersumpah untuk itu!" ucapnya sebelum pergi meninggalkan mereka disana.
Flashback end
Setelah mengingat hal itu, Rendra kembali merasa bersalah terhadap Alice. Dia melakukan semuanya pada saat itu hanya untuk melindungi Alice.
Agar hidup gadis itu baik-baik saja tanpa gangguan dari ayahnya.
Hingga dia berhasil melakukan segalanya, dan ayahnya meninggal dan dia menguasai seluruh harta.
Prang!
Tiba-tiba saja gelas di tangannya jatuh tanpa dia sadari. Perasaannya merasa tidak tenang. Entah apa yang terjadi di luar sana. Tapi seperti ada sesuatu yang membuat hatinya gundah.
"Ada apa, ini?" gumam Rendra merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Pikirannya berkelana. Apa yang membuatnya seperti ini?
***