Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bapak Pasti Cuma Menggertak
Setelah itu, Aira masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu depan. Ia berdiri terpaku di ruang tengah yang megah, sunyi langsung menyergap. Rumah berlantai dua ini mendadak terasa terlampau luas tanpa kehadiran Arsen yang mendominasi atmosfer dengan suara baritonnya yang hangat.
Aira mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa canggung yang sesekali masih menggelitik hatinya. Ia melirik jam dinding berlapis krom perak di ruang tengah, baru pukul setengah delapan pagi. Untuk seorang gadis desa yang terbiasa memotong rumput atau bersiap ke pasar sejak subuh, jam segini terasa sangat kosong jika hanya dilewatkan dengan berdiam diri.
"Bu Aira?"
Panggilan lembut dari arah belakang membuat Aira menoleh, Bu Sumi berdiri di sana dengan celemek yang sudah terpasang rapi di tubuhnya, tersenyum santun sembari memegang kain lap bersih.
"Eh, iya, Bu Sumi. Ada apa?" jawab Aira, buru-buru mengulas senyum terbaiknya.
"Begini, Bu. Saya mau bertanya untuk menu makan siang dan malam nanti, apa ada masakan khusus yang ingin Ibu siapkan atau biar saya yang atur seperti biasa?" tanya Bu Sumi penuh hormat.
Aira terdiam sejenak, pikirannya langsung melayang pada raut lelah Arsen kemarin siang saat pria itu menyantap sayur asem buatan Bu Sumi. Suaminya itu sangat menyukai masakan rumahan yang segar dan pedas untuk meluruhkan penatnya bekerja, sebuah ide mendadak terlintas di kepala Aira.
"Bu Sumi, kalau... kalau siang ini biar saya saja yang masak bagaimana? Tapi, saya minta tolong dibantu ya, Bu. Terutama untuk menyalakan kompor dan alat-alat digital di dapur itu, saya masih bingung soalnya," ucap Aira jujur, sedikit malu mengakui kegaptekannya.
Meskipun Aira pernah tinggal di Bandung saat kuliah, namun kehidupannya sama seperti kehidupannya di desa. Peralatan dapur yang ia gunakan sangat sederhana, berbeda dengan peralatan dapur di rumah Arsen yang serba canggih.
Mata Bu Sumi berbinar senang mendengar penuturan nyonya mudanya, "Tentu saja boleh, Bu Aira! Pak Arsen pasti akan sangat senang kalau tahu Ibu yang memasak sendiri. Mari, Bu, saya antarkan ke dapur bersih. Kita cek bahan-bahan apa saja yang ada di dalam kulkas," ucap Bu Sumi.
Di dapur modern yang didominasi marmer hitam mengilat itu, Aira mulai menyingsingkan lengan bajunya. Dipandu dengan telaten oleh Bu Sumi, Aira belajar memahami cara kerja kompor induksi yang hanya perlu disentuh permukaannya untuk memunculkan panas.
Aira memutuskan untuk membuat ayam suwir pedas kemangi dan sup bening bayam. Jemarinya yang luwes dengan cepat mengupas bawang, mengulek cabai di atas cobek batu yang sengaja diminta Bu Sumi dari dapur kotor, hingga aroma wangi tumisan bumbu seketika memenuhi seisi ruangan.
"Wah, ulekan bumbu Bu Aira mantap sekali. Pantas saja Pak Arsen sampai kepincut, sudah cantik, pinter masak lagi," goda Bu Sumi melihat ketangkasan Aira.
Aira hanya bisa tersenyum simpul, menyembunyikan pipinya yang kembali menghangat. Di tengah kesibukan memotong daun kemangi, ponsel Aira yang diletakkan di atas meja konter dapur tiba-tiba bergetar di atas permukaan marmer.
Dengan perlahan, ia meletakkan pisau dapur lalu meraih ponsel tersebut. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor tidak dikenal dan ia pun menggeser layar untuk membaca pesan tersebut.
[Aira! Jangan pikir kamu bisa sembunyi ya! Bapak tahu kamu blokir nomor Bapak. Dasar anak durhaka, lari dari orang tua! Dengar ya, kalau suamimu yang kaya itu tidak mentransfer uang 50 juta minggu ini ke rekening Bapak, Bapak tidak akan segan-segan datang ke Jakarta menemui suamimu! Bapak tahu alamat kantornya di sana! Kita lihat apa suamimu masih mau punya istri dari keluarga miskin sepertimu]
Deg!
Pandangan Aira mendadak kabur, ponsel di genggamannya terasa begitu berat hingga hampir terlepas dan membuat seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas laksana jeli.
"Bu Aira? Ibu tidak apa-apa? Kok wajahnya mendadak pucat?" tanya Bu Sumi panik saat menyadari perubahan drastis pada raut wajah majikannya yang kini berdiri mematung dengan napas memburu.
Aira tersentak, dengan cepat menyembunyikan ponselnya di balik saku celana dan menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga mengendalikan suaranya yang bergetar hebat.
"Sa-saya nggak apa-apa, Bu. Cuma... cuma tiba-tiba agak pusing sedikit, mungkin karena aroma cabainya terlalu menyengat," jawab Aira.
"Ya Allah, kalau begitu Ibu istirahat saja dan sisanya biar saya yang teruskan," ucap Bu Sumi khawatir.
"Nggak usah, Bu. Ini tinggal memasukkan kemanginya saja kok, saya selesaikan dulu," tolak Aira lembut.
Aira memaksakan tangannya yang bergetar untuk memasukkan sisa daun kemangi ke dalam wajan, aroma harum yang menguar sedap sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Setelah memastikan masakan matang dan tersaji rapi, Aira berpamitan kepada Bu Sumi dengan alasan ingin membersihkan diri di kamar, langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.
Sesampainya di kamar, Aira duduk bersandar di kepala ranjang dan berusaha meredakan gemuruh di dadanya yang sempat membuncah, ia menatap layar ponselnya yang kini sepi lalu mengembuskan napas panjang.
"Bapak pasti cuma menggertak, nggak mungkin Bapak bisa ke Jakarta," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan hatinya yang sempat gamang.
Jakarta adalah kota yang sangat luas, kota yang padat dengan jutaan kepala. Bagaimana mungkin seorang Bapak Hilman yang bahkan jarang menginjakkan kaki di ibu kota bisa melacak kantor atau rumah Arsen dengan begitu mudah tanpa detail informasi yang jelas? Aira yakin, pesan penuh amarah itu hanyalah luapan rasa frustrasi sang Ayah karena kehilangan akses untuk memanfaatkan kekayaan menantunya.
.
Dua hari pun berlalu begitu saja tanpa ada satu pun teror lanjutan dan hal itu semakin membuat Aira yakin jika Bapak Hilman hanya menggertaknya saja.
Selama empat puluh delapan jam terakhir, tidak ada pesan singkat dari nomor asing, tidak ada panggilan tak dikenal dan ponsel Aira benar-benar bersih dari bayang-bayang Bapak Hilman.
Sore ini, cuaca di kawasan Jakarta Selatan terasa cukup bersahabat, semburat cahaya oranye di ufuk barat berpadu indah dengan rindangnya pepohonan di halaman rumah mewah Arsen.
Aira sedang berada di halaman, berjalan santai menikmati udara sore yang sejuk sembari sesekali merapikan daun-daun tanaman hias yang tertata rapi di dekat pagar dalam. Ibu Astri sedang tidur siang di kamarnya, sementara Arsen belum memberikan kabar karena jadwal rapat yang padat, semuanya terasa begitu damai dan sempurna.
Namun, kedamaian itu mendadak terusik ketika derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah teras rumah. Aira membalikkan badannya dan mendapati Bu Sumi berjalan mendekatinya dengan raut wajah yang tampak diliputi kebingungan sekaligus sedikit kecemasan.
"Bu Aira...," panggil Bu Sumi, napasnya sedikit terengah-engah.
Aira menurunkan tangannya dari daun tanaman hias dan menatap Bu Sumi dengan kening berkerut halus.
"Ada apa, Bu Sumi?" tanya Aira.
.
.
.
Bersambung.....
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
🤣🤣🤣🤣🤣
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆