"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 26
Amerta mengira ia sudah bermain aman dengan bersembunyi di balik pilar beton Namun, ia lupa satu hal: Bu Endang adalah tipe sekretaris jurusan yang sangat patuh pada perintah atasan, terutama jika atasan itu adalah seorang Mahesa Dirgantara yang memiliki aura intimidasi setingkat dewa.
Baru saja Amerta hendak memutar tubuh untuk benar-benar kabur dari area koridor, langkahnya mendadak terkunci. Pintu ruang dosen tamu kembali terbuka. Bukan Bu Endang yang keluar, melainkan sosok tinggi Mahesa yang berdiri di ambang pintu. Tangannya memegang kantong plastik obat dan sterofoam bubur yang baru saja Amerta titipkan.
"Amerta," panggil
Mahesa. Suaranya masih terdengar parau dan agak lemah, namun getaran perintah di dalamnya tidak bisa dibantah. "Kembali ke sini. Sekarang."
Bu Endang yang melihat itu hanya memberikan senyum penuh arti dari balik meja kerjanya, mengisyaratkan agar Amerta patuh. Amerta menggigit bibir bawahnya pasrah. Gengsinya runtuh seketika. Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, ia berjalan mendekati Mahesa.
Begitu Amerta melangkah masuk ke dalam ruangan, Mahesa langsung menutup pintu kayu jati itu rapat-rapat, bahkan memutar kunci dari dalam dengan bunyi klik yang membuat jantung Amerta mencelos. Ruangan AC yang dingin itu mendadak terasa begitu menyesakkan.
"Bukannya kamu bilang punya kelas praktikum di gedung sebelah?" Mahesa membalikkan tubuhnya, bersandar pada pintu yang tertutup. Ia meletakkan kantong bubur itu di atas meja kecil di dekat pintu, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
Wajah pria itu masih pucat, dan Amerta bisa melihat keringat dingin masih basah di pelipisnya. Namun, sorot mata birunya yang tajam kini tampak dipenuhi oleh kilat jenaka yang sangat menyebalkan.
"Itu... anuu... praktikumnya mendadak dibatalkan, Pak," bohong Amerta, matanya bergerak liar ke segala arah asal tidak menatap mata kakak tirinya itu. Ya, kakak tiri. Status rahasia yang sengaja mereka kubur dalam-dalam selama berada di lingkungan kampus agar tidak menimbulkan skandal besar.
Mahesa melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Aroma parfum wood and amber miliknya berbaur dengan aroma hangat dari bubur ayam murni di sudut ruangan. "Sejak kapan seorang mahasiswi bimbingan yang 'sangat patuh' berubah menjadi peri penolong yang membelikan obat lambung dosis tinggi dan bubur polos tanpa merica?"
"Aku cuma... merasa tidak enak melihat dosenku pucat di kelas. Aku tidak mau dituduh tidak punya empati," kilah Amerta, mencoba mundur satu langkah. Namun, punggungnya justru menabrak pinggiran meja kerja Mahesa. Ia terperangkap.
Mahesa tidak berhenti. Pria itu terus maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung tubuh mungil Amerta dengan kedua lengannya yang bertumpu pada meja di kanan dan kiri pinggang gadis itu. Amerta bisa merasakan embusan napas hangat Mahesa yang agak memburu di permukaan wajahnya.
"Hanya karena empati?" bisik Mahesa tepat di depan wajah Amerta. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum miring yang sangat seksi sekaligus mengintimidasi. "Atau karena kamu sadar kalau racun kimia yang kamu masukkan ke dalam nasi gorengku kemarin hampir membuat kakak tirimu ini mati muda di apartemennya?"
Wajah Amerta langsung memerah sempurna, panasnya menjalar hingga ke ujung telinga. "Ka—kamu tahu?!"
"Tentu saja aku tahu, Ta," suara Mahesa berubah, tidak lagi memakai nada formal seorang dosen, melainkan nada rendah nan dalam yang biasa ia gunakan saat mereka berada di rumah. "Kamu pikir aku tidak hafal dengan rasa susu kental manis stroberi yang biasa kamu pakai untuk membuat croffle di rumah? Kamu mencampurnya dengan bumbu instan murni. Perutku rasanya seperti diaduk besi panas semalaman."
"Kalau tahu itu racun, kenapa tetap dimakan sampai habis, dasar bodoh?!" pekik Amerta frustrasi, melupakan sopan santun saking kesalnya.
Mahesa justru terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya bergetar di dada, begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Amerta meremang. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, menatap bibir Amerta yang merengut masam sebelum kembali mengunci manik mata gadis itu.
"Karena itu buatan adik tiriku tersayang," goda Mahesa dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu, sangat sensual. Ia mengulurkan satu tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk menyentuh dagu Amerta dengan lembut, memaksanya untuk terus menatapnya. "Dan sebagai kakak yang baik, aku tidak boleh membuang makanan yang sudah dibuat dengan 'penuh cinta', bukan? Meskipun taruhannya adalah dinding lambungku yang robek."
Amerta menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya bergedup begitu kencang hingga ia takut Mahesa bisa mendengarnya. Sisi Mahesa yang seperti ini—yang manipulatif, dominan, dan suka menggoda—selalu berhasil membuat pertahanan Amerta runtuh berkeping-keping.
"Jangan bercanda, Mahesa! Kamu sedang sakit!" Amerta mencoba mendorong dada pria itu dengan kedua telapak tangannya. Namun, bukannya menjauh, Mahesa justru sengaja melepaskan berat tubuhnya sedikit bersandar pada tangan Amerta, membuat gadis itu bisa merasakan detak jantung Mahesa yang juga beritme cepat di balik kemeja hitamnya.
"Memang sakit," bisik Mahesa lagi, wajahnya semakin merapat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Makanya, sekarang kamu harus bertanggung jawab."
"Aku kan sudah membelikan bubur dan obat!"
"Itu tidak cukup untuk membayar rasa sakit semalaman, Amerta," Mahesa menurunkan pandangannya ke arah bibir Amerta lagi, membuat atmosfer di dalam ruangan itu terasa semakin panas dan sarat akan ketegangan yang intim. "Suapi aku."
"Apa?!"
"Suapi aku buburnya. Tanganku lemas, tidak bisa memegang sendok," Mahesa memberikan alasan yang sangat mengada-ada, mengingat beberapa detik lalu ia masih bisa mengunci pintu ruangan dengan sangat cekatan. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, memamerkan tatapan menantang yang manja namun mutlak. "Atau... kamu mau aku pingsan di sini dan membuat Bu Endang curiga kenapa kita mengunci pintu selama itu?"
Amerta mendengus pasrah, menyadari bahwa dalam permainan ini, Mahesa selalu memegang kendali penuh. "Lepaskan dulu tanganmu! Bagaimana aku bisa mengambil buburnya kalau kamu mengurungku seperti ini?!"
Mahesa tersenyum kemenangan, sebuah senyuman tampan yang sanggup melumerkan hati wanita mana pun. Ia menarik kembali tubuhnya, memberikan ruang bagi Amerta untuk bernapas lega. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa adrenalin dan rasa gugup, Amerta mengambil wadah sterofoam bubur dan membukanya di atas meja.
Mahesa duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya dengan lemas, namun matanya tidak pernah sedetik pun lepas dari gerak-gerik Amerta.
Amerta menarik sebuah kursi kecil, duduk di dekat Mahesa, lalu menyendok sedikit bubur polos yang masih mengepulkan asap tipis. Ia meniupnya dengan perlahan sebelum mengarahkannya ke depan mulut Mahesa.
"Ayo, buka mulutmu, Monster gila," ucap Amerta ketus, mencoba menutupi debaran jantungnya yang belum juga reda.
Mahesa menerima suapan itu dengan patuh. Ekspresi wajahnya yang semula menahan nyeri perlahan tampak lebih rileks saat kehangatan bubur itu menyentuh lambungnya yang kosong. Namun, dasar Mahesa, ia tidak membiarkan momen itu berlalu dengan tenang begitu saja.
Saat Amerta hendak menarik kembali sendoknya setelah suapan ketiga, Mahesa tiba-tiba memegang pergelangan tangan Amerta. Jarinya yang panjang dan hangat melingkar pas di kulit pergelangan tangan gadis itu, menghentikan gerakannya.
"Buburnya hambar," protes Mahesa dengan suara rendah, matanya menatap Amerta dengan dalam, penuh dengan daya pikat yang berbahaya. "Tapi... karena yang menyuapinya manis, rasanya jadi jauh lebih baik."
Amerta membeku, merasa seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu kembali menguap. "Mahesa, demi tuhan, berhenti menggodaku atau aku akan mencampur obat lambungmu dengan ulekkan cabai!"
Mahesa hanya terkekeh renyah, melepaskan pegangan tangannya perlahan sambil membiarkan Amerta melanjutkan suapan berikutnya. Di balik dinding ruang dosen FISIP UI yang kaku, rahasia di antara sepasang kakak adik tiri itu kian mengendap bersama rasa yang perlahan mulai berubah wujud.