Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Berhasil Pergi
Angin malam yang dingin menyapa wajah Adnan begitu dirinya melangkah keluar dari pintu belakang hotel. Udara segar itu terasa begitu langka dan berharga, seolah dia baru saja lolos dari kuburan yang masih terbuka. Ia tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Kakinya melangkah cepat, lalu berubah menjadi lari, menjauh dari gedung megah yang menyimpan rahasia kelam di balik dinding-dindingnya. Jalanan di jam dini hari itu sepi, hanya sesekali terlihat kendaraan lewat, dan lampu jalan yang temaram memancarkan cahaya kuning pucat di atas aspal basah.
Tas kamera di pundaknya terasa berat, namun itulah satu-satunya beban yang tidak akan ia tinggalkan. Di dalamnya tersimpan bukti, bukti kengerian yang bahkan dia sendiri sulit percaya benar-benar terjadi.
Perjalanan pulang terasa memakan waktu berjam-jam, padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Setiap kali ada bayangan bergerak di sudut jalan, jantungnya kembali berpacu. Ia terus menengok ke belakang, memastikan tidak ada mobil yang mengikutinya. Namun jalanan tetap sepi. Tidak ada pengejaran. Tidak ada suara langkah kaki yang mengancam. Keheningan itu justru membuat bulu kuduknya merinding, terlalu tenang untuk sebuah perburuan yang sempat begitu gencar.
Saat akhirnya dia sampai di depan rumahnya yang sederhana, pagar kayu yang sudah mulai lapuk itu tampak seperti benteng terkuat di dunia. Adnan masuk, mengunci pintu utama dengan gembok tambahan, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu itu sambil menghela napas panjang yang tercekat di tenggorokan. Ia aman, setidaknya untuk saat ini.
Malam itu ia mencoba beristirahat. Tubuhnya kelelahan luar biasa, namun matanya tak mau terpejam. Bayangan sosok bertanduk itu terus berputar di kepalanya, mata merah yang menyala, senyum yang menampakkan gigi tajam seperti jarum. Di samping itu, wajah Sherly yang penuh kepasrahan juga tak mau pergi dari ingatannya. Wanita itu masih di sana, di dalam kamar bernomor 307. Adnan tak akan melupakan rayuan dan desahannya yang tentu cukup menggoda.
Adnan bangkit dari kasur, meraih ponselnya yang sedari tadi diam. Sebelum sempat berpikir dua kali, dia langsung mematikan alat komunikasi itu sepenuhnya. Jika Gladys mencoba menghubunginya, dirinya tidak akan memberi mereka celah sedikit pun. Biarkan mereka mengira dia lenyap ditelan bumi.
Sisa malam itu berlalu dalam kebisuan yang mencekam. Adnan terbaring menatap langit-langit kamar, matanya terbuka lebar, mendengarkan setiap suara angin yang berdesir di luar jendela. Setiap derit pintu, setiap bunyi daun yang bergesekan, membuatnya tersentak kaget. Rasa lelah akhirnya kalah oleh rasa cemas yang terus meluap, hingga fajar menyingsing tanpa ia sadari.
Cahaya matahari pagi yang lembut menembus celah tirai jendela, namun tak mampu menghangatkan tubuhnya yang masih terasa dingin. Adnan duduk di tepi kasur, rambutnya berantakan, matanya sembab dan sayu, bukti sempurna bahwa ia tidak menutup mata sedetik pun semalam.
Tepat saat dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya sudah berlalu, terdengar ketukan pelan di pintu depan.
Tok... tok... tok...
Adnan menegang. Napasnya tertahan. Perlahan ia melangkah mendekat, mengintip melalui celah tirai jendela. Hela napasnya kembali terdengar lega. Di luar sana berdiri sosok yang dia kenal baik, Tari, tetangganya yang tinggal di rumah sebelah.
Ia membuka pintu pelan. "Selamat pagi, Adnan."
Suara Tari terdengar lembut dan ceria, kontras sekali dengan suasana hati Adnan yang masih gelap dan bergejolak. Wanita itu berdiri dengan senyum manis di bibirnya, tangan kanannya mengulurkan sebuah piring berisi kue putu yang masih mengepul hangat.
"Aku baru saja membuat kue putu," ucapnya sambil tersenyum malu-malu. "Kebetulan masih banyak, jadi aku bawakan untukmu. Siapa tahu bisa untuk sarapan."
Adnan tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Ah... terima kasih, Mbak Tari. Kamu sangat baik."
Saat dia menerima piring itu, pandangan Tari tak lepas dari wajahnya. Alisnya perlahan berkerut. Tatapannya menyisir wajah Adnan dari dahi yang berkerut hingga mata yang panda dan lesu.
"Adnan..." suaranya melembut, penuh perhatian. "Kamu... tidak apa-apa? Wajahmu terlihat sangat pucat dan lelah. Seperti belum tidur semalaman."
Adnan tersentak sedikit, lalu segera mengatur ekspresinya agar terlihat lebih tenang. Ia menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Mbak. Terima kasih sudah perhatian. Semalam... hanya sedikit kurang tidur karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Itu saja."
Tari menatapnya sejenak, seolah ingin memastikan apakah ucapan itu jujur atau tidak. Namun akhirnya dia hanya mengangguk pelan, meski kekhawatiran masih tersisa di matanya.
"Syukurlah kalau begitu," katanya pelan. "Kalau sedang banyak pekerjaan, jangan lupa tetap jaga kesehatan ya."
Saat berbicara, Adnan tanpa sengaja menyadari penampilan Tari pagi itu. Wanita itu mengenakan pakaian yang jauh lebih terbuka dan seksi dibanding biasanya. Baju tidur tipis yang dia kenakan memiliki belahan dada yang cukup rendah, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Kain itu juga pendek, hingga memperlihatkan pangkal paha yang mulus dan pucat saat ia berdiri di sana.
Adnan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa tidak sopan jika terus menatapnya. Namun ia tidak menyadari makna di balik penampilan itu. Baginya, Tari mungkin saja kebetulan belum sempat berganti pakaian, atau memang kebetulan mengenakan pakaian seperti itu di rumah.
Ia sama sekali tidak menyadari betapa lama wanita itu mungkin berdiri di depan cermin sebelum datang ke sini, merapikan rambutnya berkali-kali, dan memilih pakaian yang paling dua sukai, berharap pria yang dirinya kagumi akan memperhatikannya. Tatapan mata Tari yang berbinar lembut, senyum yang selalu tersungging setiap kali melihatnya, serta cara dia berdiri sedikit memajukan tubuh ke depan seolah ingin didekati, semua tanda itu terabaikan begitu saja oleh Adnan.
Pikirannya masih terlalu penuh dengan sosok bertanduk, kamera tua, dan ketakutan akan pengejaran. Ia terlalu sibuk bertahan hidup untuk menyadari bahwa di hadapannya berdiri seseorang yang diam-diam menyimpan perasaan kepadanya, seseorang yang datang membawa kue bukan sekadar untuk berbagi, melainkan karena ingin melihat wajahnya, memastikan ia ada di sana, dan memastikan ia baik-baik saja.
"Makasih kuenya ya, Mbak," ucap Adnan sopan, namun matanya masih melirik ke arah jalan sepi di depan rumah, seolah ada hal lain yang mengganggunya. "Aku masuk dulu ya."
Tari mengangguk pelan, senyumnya sedikit luntur namun tetap ramah. "Iya, Ad. Selamat sarapan. Kalau butuh apa-apa, panggil saja aku di sebelah."
"Baik."
Adnan menutup pintu kembali, menguncinya rapat-rapat, dan kembali bersandar di baliknya. Ia tidak menyadari bahwa Tari masih berdiri sejenak di depan pintunya, menatap daun pintu kayu itu.